Untuk istriku

Untuk istriku
Cerita Intan


__ADS_3

Dita berjalan menyusuri trotoar, dia tahu jalan dari depan kantor The Deveraux hingga tepat dia berdiri tidak akan


dilewati angkutan umum, karena tujuannya agak jauh, dia memilih angkutan umum yang tarifnya lebih murah ketimbang ojek online. Terdengar suara klakson berkali-kali Dita pun menoleh, dan melihat pada mobil tersebut


“Dita, Naiklah” kata Rafael yang sengaja keluar kantor mengejar Dita


“Rafael” sapa Dita dengan sedikit terkejut,


“bukankah ini jam kerja, kenapa dia berkeliaran” gumannya dengan suara lirih


“come on” pinta Rafael dengan menggerakkan kepalanya mengajak Dita uuntuk naik ke mobilnya. Dita tidak punya


pilihan karena mobil yang mengantri dibelakang terlihat sudah menumpuk, akhirnya Dita naik mobil Rafael


“how are you?” Tanya Rafael pada Dita yang masih diam disampingnya


“I am fine” jawab Dita singkat


“gue ngapain tadi mau diajak Rafael, mau ngomong apa coba” guman Dita dalam hati


“kenapa dia ngajakin gue, kata Intan dia sering ketemu Marrisa dikantor, Cindy juga” gerutu Dita dalam hatinya yang semakin menampakkan kekesalan mengingat tatapan Cindy yang merendahkan dan selalu menghinanya itu telpon pintar Dita pun berdering dan membuuyarkan otaknya memikirkan kenapa Rafael mengajaknya


“sorry, saya angkat telpon dulu” kata Dita dengan sopan dan senyum tipis


“halo” sapa Dita pada orang diseberang telpon


“halo Dita sayang” suara Dimas yang setia menerornya itu membuat Dita semakin kesal meski tak menghilangkan rasa takutnya


“mau apa loe?” Tanya Dita ketus


“tenang sayang, aku hanya ingin mendengar suaramu, siapa tahu nanti atau besok kita bertemu” rayu Dimas dengan suara yang seolah merendahkannya.


“gue nggak sudi” kata Dita dengan menekankan pada kata sudi lalu menutup telponnya sepihak


“siapa?” Tanya Rafael penasaran


“mantan pacar waktu SMA” jawab Dita singkat tanpa menoleh pada Rafael yang sesekali melihatnya


“CLBK?” Tanya Rafael mencari tahu


“ogah, better I become jomblo forever” jawab Dita dengan setengah melotot membuat membuat Rafael tergelak,


"kenal kata CLBK juga ni bule" guman hati Dita


“Dita kamu mau makan siang denganku?” Tanya Rafael dengan suara lembut


“boleh tapi kalau tempatnya mahal, loe traktir ya” jawab Dita dengan sok manis, dijawab dengan senyum lebar oleh


Rafael dan anggukan pelan


"of course" kata Rafael dengan senyum lebar kemenangan


Mereka pun masuk kedalam sebuah mall, disana mereka mencari café yang menyediakan makanan Indonesia, sesuai pilihan Dita. Mereka berbincang banyak dan setelah makan siang Rafael mengantarkan Dita menuju tempat dimana dia mengajar privat lalu kembali ke kantornya. Sesampai di ruanggannya dia tersenyum tipis, merasa memenangkan sesuatu, diraihnya ponsel pintarnya dari saku, dia melihat photo Dita yang diambilnya tanpa sepengetahuan Dita ketika gadis itu bediri melangkahkan kakinya untuk memesan sesuatu, dia


menoleh kebelakang karena Rafael memanggilnya dengan sengaja, anggel yang bagus, dia tersadar tatkala melihat Dita memegang ponselnya di gambar yang ada dilayar yang sedang ia pandangi


“oh no, again I forget her number” keluh Rafael, dia pun mengacak-axak rambutnya, meski begitu tak mengurangi


ketampanannya, justru dia terlihat sexy. Dia kesal pada dirinya sendiri kenapa bisa lupa dengan nomor telpon Dita, dia hendak menanyakan itu tapi entah kenapa dia tidak mengingat tujuannya mengejar gadis itu. Sean masuk kedalam ruang kerja Rafael yang sudah kembali pada laptop didepannya, Sean tanpa permisi langsung menyerahkan sebuah berkas, disana isinya semua tentang Cindy


“Jauhi dia kalau kamu tidak ingin menyesal” katanya dengan tatapan tajam pada Rafel seraya meletakkan map yang dibawanya kedepan Rafael kemudian dia meniggalkan ruangan Rafael tanpa kalimat lainnya. Mendapati itu Rafael hanya mengindahkan kata-kata Sean dan menyingkirkan berkas yang baru saja diterimanya, diraihnya telpon yang berada disebelahnya dan menekan tombol menghubungi karyawan


“Intan, kamu keruangan saya sekarang” perintah Rafael melalui telpon, tak selang berapa lama Intan pun mengetuk pintu ruangannya.


“permisi Mr Rafael” suara intan meminta izin untuk masuk.


“come in” kata Rafael mempersilahkan dia beranjak dari kursi kerjanya dan melangkah menuju sofa yang tak jauh dari depan meja kerjanya dia juga mempesilahkan Intan untuk duduk.


“thank you Mr” kata Intan sembari

__ADS_1


memperbaiki duduknya


“Intan sejak kapan kamu mengenal Dita” Tanya Rafael dengan sungguh-sungguh, tentu saja pertanyaan itu membuat Intan mengerutkan dahinya penasaran


“sudah lama Mr, sejak masih SD, dulu kami bertetangga” jawab Intan ragu masih dengan tatapan penasaran, kenapa Rafael menanyakan mengenai sahabatnya


“et dah bener-bener Dita bakal dapat pangeran yak ini” guman Intan dalam hati dengan senyum tipis, tentu saja tanpa sepenglihatan Rafael.


“jadi sudah lama” guman Rafael dengan mengaggukkan kepala pertanda mengerti


“iya Mr” Intan menambahkan dengan tegas. Rafael pun bertanya banyak mengenai Dita, tanpa terasa Intan tak lagi merasakan sesuatu yang aneh atau heran, dia bangga menceritakan sahabatnya, tentu saja tidak seluruhnya, Intan masih menutup rapat-rapat perihal orang tua Dita, Rafael  memperhatikan dengan seksama cerita Intan mengenai Dita, dia pun kagum pada Dita dan membuang jauh-jauh tentang pikiran jahatnya paada Dita. Dua jam Intan berada di ruangan Rafael


“ternyata tak seperti yang di omongkan orang-orang, Mr Rafael baik orangnya” guman Dita dengan tersenyum puas dan masih berdiri diluar pintu ruangan Rafael itu, dia menceritakan sahabatnya dengan menebak-nebak bahwa Rafael memiliki ketertarikan pada Dita.


“ternyata dia bukan gadis yang bisa dibuat main-main” guman Rafael yang sudah kembali kekursi kerjanya


“dia juga tidak pernah berusaha untuk berada pada jarak yang sangat dekat denganku” katanya pada dirinya sendiri kali ini dengan wajah yang sedikit kecewa


“tidak seperti wanita yang lain, yang berusaha untuk bisa bersamaku meski hanya semalam” suaranya lagi memastikan. Dan iya dia mengingat dengan benar, Dita yang sederhana, tidak memikirkan yang tidak mungkin bisa dicapai. Dita yang lebih melihat pada kenyataan, tidak pernah berusaha menggodanya, hanya manja seperti wanita pada umumnya pada teman laki-laki.


“hey honey, sore ini dugem yuk” pesan singkst Cindy pada Rafael, dilihatnya pesan itu dengan senyum sinis dan nampak sebuah niat jahat tersirat dibibirnya, dia pun memutuskan menelpon Cindy


“hello baby” sapa Rafael, membuat Cindy yang diseberang telpon kegirangan


“iya baby, jadi jemput aku jam berapa” Tanya Cindy memastikan agar dia bisa bersiap secantik dan seseksi mungkin


“saya tidak bisa dugem tapi kalau kamu mau menemani saya kedanau itu lebih baik” kata Rafael memberikan penawaran, Cindy yang diseberang telpon pun mengiyakan, dari pada tidak sama sekali lebih


baik ikut kedanau meski tak sampai bermalam.


Jam menunjukkan empat sore, Intan dan Fajar yang merupakan sepasang kekasih itu pulang bersama, dia berpamitan ketika bertemu dengan Sean yang juga sudah akan pulang itu, Rafael yang sudah


meninggalkan kantor dua puluh menit sebelumnya langsung menjemput Cindy loby sebuah mall dan kemudian meluncur menuju sebuah rumah minimalis yang terlihat asri, disana terdapat danau dibelakang rumah. Cindy yang merasa seperti seorang ratu merasa senang berada di dekat Rafael, diperjalanan mereka berbincang-bincang banyak, setiba di rumah danau mereka pun menikmati hidangan mewah yang sudah dipesan Rafael sebelum dia meninggalkan kantornya. Rafael berdiri di pinggir danau dengan tangan berada disaku, Jas hitam yang diletakkan


begitu saja dikursi dia menggulung  lengannya terlihat sangat mempesona, semua wanita tergila-gila padanya,


“honey kita mau apa datang kesini?” Tanya Cindy dengan penuh harap bisa bermalam bersama rafael ditempat itu


“hanya menikmati pemandangan sore”jawab Rafael singkat, lengannya yang sudah melingkar di pinggang gadis itu membuat kepala gadis itu meringsek kedada Rafael yang sexy dan terlihat terlihat ada garis garis sixpack tipis disana yang tentu membuat Cindy sangat ingin tetap berada dipelukan Rafael, dia mengusap dada Rafael dengan tersenyum tipis tetapi cepat-cepat disingkirkannya senyuman itu ketika Rafael meraih dagunya, diciumnya


bibir merah Cindy, dia pun membalas ciuman itu membuat Rafael semakin liar dan kasar tetapi Cindy tidak memperdulikannya, dia menikamati itu, dengan berani gadis itu memandu tangan Rafael untuk masuk kedalam rok  mininya meletakkan telapak tangan Rafael diatas bokongnya yang sexy membuat Rafael semakin liar dari sebelumnya, tak hanya lidahnya yang menari bersama lidah Cindy, Rafael melepaskan ciumannya ketika tangan Cindy berusaha membuka kancing bajunya, Rafael meraih ponselnya dan berjalan menjauhi Cindy


"pak Bam cari semua yang saya kirim melalui pesan singkat" kat Rafael melalui panggilan selulernya, dia pun menutup telponnya sebelum Bam memberikan jawaban, Rafael kembali menemui Cindy dan mengajaknya untuk kembali


***


“hai ta, jum’at loe pulang bareng gue ya, entar kita makan-makan ditraktir ayank Fajar” pesan Intan pada Dita, tapi


tidak dibalas oleh Dita hanya dibaca saja sebab dia sedang didepan murid les privatnya.


“gue ada sesuatu buat loe” pesan singkat Intan lagi, dengan tersenyum lebar kegirangan


Beberapa saat lalu sesudah makan siang


“iya Mr Nicholas, Mr memanggil saya?” Tanya Intan yang berjalan masuk karena mendapat isyarat untuk masuk dari Nicholas dan mempersilahkannya duduk


“ini kartu kredit tanpa limit, kamu berikan pada Dita” kata Nicholas seraya menyerahkan sebuah kartu kredit pada


Intan yang dibuatnya melongo keheranan


“*****, beruntungnya loe Dita, kerja setengah-setengah langsung dapat kartu kredit tanpa batas” komentar Intan dalam hatinya


“Intan” panggil Nicholas yang memperhatikan Intan bengong tak menjawab padanya itu


“i-iya Mr” jawab Intan gelagapan


“apa yang kamu pikirkan?” Tanya Nicholas


“saya.. saya… saya yakin Dita tidak akan menerimanya Mr” jawab Intan Ragu dan dengan raut wajah lemas

__ADS_1


“apa?” Tanya Nicholas dengan tatapan tidak percaya Intan membantahnya, Intan yang ingin menjawab itu tak bisa


mengeluarkan kalimatnya karena Nicholas mencegahnya bicara, dia pun berdir dari kursinya, dan melatkkan kedua tangannya diatas meja sebagai tumpuan badannya mendekat condong pada Intan


“kamu berikan ini kalau sampai ini kamu kembalikan pada saya maka saya akan pecat kamu” ancam Nicholas dengan suara geramnya serta senyuman menakutkan, Intan hanya meringsek lagi-lagi ancmannya dia akan dipecat,


“what? Pecat? Nggak tahu apa Dita itu batu kalau udah menyangkut Mr” kata Intan dalam hati yang masih melihat


pada Nicholas dengan wajah cemasnya.


“et dah zaenab lama pula kau ini” gerutu Intan yang sudah menunggu Dita disebuah gang perumahan. Sudah hari jumat dan mereka pun sudah janjian untuk ketemu, ditemani Fajar yang duduk bersandar pada bagian depan mobil memperhatikan Intan yang mondar mandir tidak sabar


“sabar sayang, mungkin kita yang kecepetan jemput Ditanya” Fajar berusaha menenangkan kekasihnya itu dengan


senyum tipis, dia senang melihat perangai kekasihnya, gerak geriknya kalau tidak sabar atau sedang cemas itulah yang membuat dia suka pada Intan.


“hey, maaf ya nunggu lama” sapa Dita yang dari belakang mobil, dia menghampiri Intan dan menepuk pundaknya lalu memeluk sebentar sahabatnya itu


“kok loe dari sana? Bukannya dari situ?” Tanya Intan sambil menunjuk dua arah yang dimaksud bergantian, Dita hanya tersenyum, mereka pun pegi meninggalkan tempat itu dan menuju sebuah mall, berbelanja sedikit lalu menuju sebuah café untuk makan.


“ta, loe mau nggak kerja jadi penerjemah di the Deveraux?” Tanya Fajar memulai pembicaraan mengenai kantornya, dia tahu bahwa Nicholas memberikan kartu kredit tanpa batas yang dibuat olehnya atas


permintaan Nicholas itu adalah untuk Dita.


“ogah” jawab Dita lantang dengan muka kesal, membuat orang-orang yang dekat dengan meja mereka dicafe meliat pada mereka


“mending gue jadi gembel” Dita menambahkan dengan suara lirih dan membuang muka pada Fajar


“aduh giman ini, mana mau dia menerima kartu kredit dari Mr Nicholas”guman Intan dalam hati, dia menggerakkan bibirnya kekanan dan kekiri mencari ide


“oh iya sayang, kerjaan Dita yang kemarin feenya udah keluar belum?” Tanya Fajar santai sambil melihat Intan dan


tetap memakan makanannya yang sudah dipesannya, Intan hanya terdiam dengan pandangan lurus kedepan memikirkan sesuatu


“woi, zaenudin disini kenapa loe bengong” bentak Dita yang melihat Intan terdiam membuat Fajar tersenyum geli


melihat candaan dua wanita yang bersamanya, iya Fajar selalu dibuat mereka tersenyum ketika mereka bersama dengan candaan-candaan serta panggilan-panggilan yang tak lazim,


“udah” jawab Intan singkat dengan tersenyum lebar, dia kemudian meraih sesuatu didalam tasnya dengan wajah


berseri seri dan senyuman lebar yang masih tertinggal di wajahnya


“aje gile doi gue zaenudiiiin yang manis, ngerti banget gue galau dan bingung, nggak salah gue terima dia jadi cowok gue” kata intan dalam hati


“ini ta, ambil, fee loe ada didalam kartu ini” jawab Intan santai dengan senyum yang masih mengiasi bibirnya itu dia menyododorkan kartu kredit pemberian Nicholas


“apa ini tan?” Tanya Dita menerima kartu kredit dari tangan Intan


"kartu itu fee loe zubaeda, terima aja" jawab intan


“kartu kredit? Buat apa? Gua mana bisa  bayar tagihannya peak” Tanya Dita yang kemudian dengan nada tinggi, tetapi dengan raut muka heran


“kalo gue yang ngasih loe nggak perlu mikirin tagihan” jawab Intan santai dengan senyum lebar, dia pun menyandarkan badannya pada sandaran kursinya,Dita yang masih mengulurkan tangannya memegang


kartu kredit itu langsung menebak


“sialan ini pasti bule tua itu lagi yang ngasih, gue nggak mau punya hutang budi apapun” kata Dita dalam hati


“nggak mau, ini pasti dari orang itu kan? Kata Dita sambil melemparkan kartu kredit kearah Intan dan mendarat di


pangkuannya itu, Dita pun menunjuk pada pada Intan dengan telunjuk jarinnya dengan tatapan tajam yang tak bisa dikalahkan. Intan melihat pada Fajar kemudian meraih kedua tangan Dita dan menggenggamnya


“ta, gue nggak bermaksud nyakitin loe, tapi ini adalah permintaan maaf Mr Nicholas sama loe” jawab Intan pelan dan tenang, berusaha meyakinkan sahabatnya itu tetapi yang diajak bicara membuang muka dengan kesal dan sorot mata kemarahan


"dan kartu kredit itu tidak meski tanpa limit tapi tidak bisa membayar apa yang ada di hati gue" kata Dita dengan tegas dan tatapan matanya penuh dengan ketidaknyamanan


“Mr Nicholas tidak bermaksud nyakitin loe, dia bahkan menyesalinya, waktu loe pingsan dia juga pucat dan ketakutan ta” jelas Intan yang memang melihat itu saat Dita pingsan di ruangan Nicholas. Intan berbicara panjang lebar menjelasakan dan memberi pengetian Dita, dia juga menceritakan sedikit bagaiamana kecemasan Nicholas yang tidak hilang sebelum dia melihat sendiri Dita sudah baik-baik saja.


“sialan dia mata-matain gue” kata Dita dalam hati yang dipenuhi kekesalan

__ADS_1


__ADS_2