
Febi yang melihat Dita berlari keluar dan menangis itu meminta bodyguardnya untuk mengikuti Dita, dia semakin marah pada Kikan karena dia harus menyebutkan nama keluarganya didepan Dita, Febi sudah tahu pasti Dita akan menghindarinya, selama ini dia tidak mengaatakan itu karena dia ingin selalu bertemu dengan Dita
“panggil bapakmu!” perintah Febi pada Kikan, yang kemudian cepat-cepat menelpon ayahnya dengan tangan gemetar, Ryan yang baru saja datang langsung diminta mendekat dan meminta Ryan untuk mengutus seorang bodyguard yang sekaligus bisa antar jemput Dita,
“harus terlihat sempurna, jangan sampai dia tahu” perintah Feby pada Ryan, dia benar benar menghawatirkan Dita
“yes mam” jawab Ryan dan kemudian keluar dari café, dia berdiri didepan café menghubungi seseorang, yang kemudian seseorang itu datang, berpakaian layaknya sorang tukang ojek online, Ryan memberitahukan posisi Dita, kemudian lelaki yang mengendarai motor itu langsung pergi dari café. Ayah Kikan yang sudah tiba di café itu meminta maaf dan menjelaskan pada Kikan siapa wanita didepannya, seketika Kikan berlutut memohon ampun dengan isakan tangis penyesalan
“maaf kamu akan saya setelah Dita menerima saya sebagai maminya sekaligus mertuanya” jawab Febi geram lalu melangkah meniggalkan café diikuti oleh beberapa orang-orang kepercayaannya
Dita yang berlari menuju sebuah bengkel kecil di pinggi jalan tak jauh dari gang menuju kontrakannya dia tidak peduli pada orang-orang yang melihatnya menangis, dia tetap menangis sejadi-jadinya. Suara bising kendaraan membuat tangisan Dita tak banyak didengar orang yang lalu lalang.
“gue bodoh, bodoh” pekik Dita, dia mengumpat dirinya sendiri, dia pun mengingat masa-masa tiap kali mereka bertemu, dia teringat Intan, dia memaki dirinya sendiri, kenapa dia tidak menyadari bahwa ekpresi Intan pertama kali melihat Febi, ternyata Intan mengenalnya, dia bodoh tidak bertanya pada Intan, seharusnya dia bertanya dan
tidak perlu dekat dengan Febi
“bodoh, gue benar-benar bodoh!, seharusnya gue Tanya sama Intan” keluhnya ditengah-tengah tangisanya
“neng Dita kenapa?” Tanya pemilik bengkel yang kebetulan adalah tetanggan kontrakannya, dia melihat Dita yang
menangis itu kebingungan, tak bisanya Dita menagis, bahkan semenjak menjadi tetangganya tak sedikit pun terlihat kesedihan yang seperti itu. Mendengar pertanyaan pemilik bengkel itu tangis Dita semakin menjadi.
Terlihat sebuah motor dikendarai oleh seorang lelaki menepi, dan meminta menambah angin pada pemilik bengkel, dia juga meminta ganti oli disana. Lelaki itu hendak duduk disebelah Dita, dia memperhatikan Dita, dia mengingat perintah orang yang mempekerjakannya untuk menjadi senatural mungkina agar bisa dekat dan mengawasi dengan Dita
“mbak Dita” sapa laki-laki itu dengan sopan dan senyum
“Dita yang masih terisak cepat-cepat mengusap air matanya, matanya nampak sembab”
“bapak siapa?” Tanya Dita
“saya tetangga salah satu murid mbak Dita, di perumahan anggrek mbak” jawab lelaki itu, Dita mengingat-ingat dan
memang laki-laki itu pernah terlihat didepan rumah murid les nya, Dita hanya diam dia tak mengeluarkan sepatah kata pun
“oh iya mbak Dita kalau mau belajar bahasa mandarin berapa mbak sekali pertemuan?” Tanya lelaki itu mengawali perbincangan
“Sembilan puluh ribu pak, belajar selama dua jam” kata Dita menjawab pertanyaan laki-laki itu, dia nampak sejenak lupa akan kejadian yang membuatnya hancur dan kecewa.
“wah mahal ternyata ya” guman laki-laki itu sambil mengangguk
“jelas aja mahal, kan dulu belajarnya neng Dita juga bayar mahal, bener nggak neng?” kata pemilik bengkel yang sedang mengganti oli pada sebuah motor itu ikut berbincang. Dita hanya tersenyum tipis
“abang tukang ojek online?” Tanya Dita dengan tatapan serius meski masih sembab
“iya mbak” jawab laki-laki itu dengan tersenyum ramah pada Dita
“panggil saja saya Yuda mbak” kata lelaki itu memberitahukan namanya
“bang Yuda bisa ngantar saya? Kalau ke The Deveraux berapa bang?” Tanya Dita dengan mantap tetapi masih dengan suara parau
“sebentar mbak saya cek aplikasi” laki-laki itu pun menlihat pada ponsel pintarnya dan memberitahukan pada Dita
tarif ojeknya. Dita pun menyetujui setelah pengisian oli pada motornya selesai, Yuda orang suruhan Ryan itu mengantar Dita menuju kantor The Deveraux
***
“Dita” sapa Intan dan terkejut melihat mata sembab sahabatnya
“bisa antar saya keruangan Mr Nicholas?” Tanya Dita langsung pada Intan dengan tatapan tajam dan berbeda, kali ini sahabatnya terlihat seperti orang yang berbeda, seperti Dita yang dikenalnya saat masih di perumahan elit dimana Dita dan ayahnya tinggal. Intan Pun memandu Dita setelah memberitahukan Nicholas atas kedatangan Dita, Intan memandunya hingga lift yang terhubung langsung menuju lantai ruangan Nicholas, Dita pergi
sendiri lantaran dia tidak bisa mengantar karena ada meeting. Tanpa permisi Dita masuk kedalam ruangan Nicholas dan membanting tangannya dimeja Nicholas, terlihat dibawah telapak tangan Dita ada sebuah benda, tak lain kartu kredit yang diberikan Nicholas untuk Dita.
“ambil ini saya tidak butuh! Kata Dita geram sambil menatap tajam pada Nicholas
“saya tidak butuh uang anda, yang saya butuh hanya anda dan istri anda menjauh dari kehidupan saya!” kata Dita lagi dengan sorot mata yang penuh amarah serta suara lantang
“jangan mengusik kehidupan saya” katanya lagi dengan suara geram tapi pelan. Nicholas yang terkejut dengan kemarahan Dita itu hanya terdiam tak berkata satu kata pun, hanya melihat pada kedalam mata Dita yang penuh dengan amarah dan kekecewaan, sembab karena menagis pun masih terlihat jelas, Nicholas sudah tahu apa penyebab kemarahn Dita, dia sudah mendapat kabar dari Febi yang menghubunginya melalui telpon, terdengar suara Febi sangat yang panik menghawatirkan Dita, dia takut kalau Dita akan menjauhinya dan itu memang dilakukan Dita. Tanpa menunggu jawaban Nicgolas dia langsung pergi meninggalkan ruangan Nicholas, lelaki paruh baya itu hanya menarik napas panjang, dia berpikir apa yang harus dilakukannya agar Dita mengerti bahwa dia hanya ingin melindungi harta terakhir sahabat sekaligus rekan bisnisnya Evan Mahendra yaitu Dita sesuai dengan pesan terakhir Evan Mahendra. Dita yang melangkahkan kakinya dengan lesu dan menitikkan air mata
itu berjalan menuju lift itu dicegat oleh suara Sean
__ADS_1
“Dita, kamu disini?” tanya Sean yang berada didepan pintu ruangannya itu hendak masuk menghentikan langkahnya dan menghampiri Dita, tatapan mata biru Sean membuat Dita Damai dan hanya menoleh
pada Sean tanpa berkata apa-apa
“hey what happen? You crying? Tanya Sean sembari mengusap air mata Dita, tetapi justru membuat Dita menagis.
“kemarikan tanganmu, biarkan aku membantumu berjalan” pinta Sean sambil mengulurkan kedua tangannya
“Mr Sean” Suara Dita parau dan pelan, dia menatap Sean bingung
“not Mr Sean, but Sean, just Sean” kata Sean sambil tersenyum lembut dan tatapan mata birunya yang meneduhkan, Dita pun tanpa sadar mengulurkan kedua tangannya dan berpegangan pada Sean yang berjalan
mundur menuju ruangannya memandu Dita berjalan, seperti sedang mengajari bayi berjalan, Sean tersenyum bahagia dengan apa yang dia lakukan, dia mengingat saat membantu Dita berjalan ditaman hiburan serta bertahun-tahun yang lalu saat mengajari Dita pertama kali melangkahkan kaki, ingatan ingatan itu masih segar
dibenaknya
“good girl” kata Sean dengan senyum bangga, entah apa yang dibanggakannya dan membaut dita tertawa kecil merasa lucu dengan apa yang dilakukan Sean.
“kau tahu Dita aku suka melakukan ini” kata Sean sambil melebarkan kedua tangannya yang menggenggam tangan Dita
“kenapa?” Tanya Dita dengan tersenyum
“Dita maukah kau menikah dengan Rafael?”
Tanya Sean tiba-tiba
“what? Suara Dita balik bertanya, dia raut muka bingung dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar
“gila nih bule, gue kan nggak ada apa-apa sama Rafael, kirain baik sama gue karena mau PDKT sama gue” kata Dita dalam hati
“PDKT? pede amat gue ngomong” tambahnya lagi dalam hati
“lalu apa makna tatapanya itu? nenangin gue banget tapi nyuruh nikahnya sama orang lain ” Tanya Dita dalam hatinya
“yes, married with Rafael” kata Sean lagi santai memastikan dengan senyum tipis yang manis. Dita masih tak menyadari dia masih berpegangan pada kedua tangan Sean seperti bayi yang sedang belajar berdiri, memalingkan wajahnya dengan wajah kesal, dia kembali melihat pada Sean dan tersadar dia masih berbegangan pada yangan Sean
“ogah” katanya dengan suara lantang dan mantap sambil melemparkan kedua tangan Sean
"Kenapa tidak Dita, dia tampan dan kaya" kata Sean berusaha membujuk dan dengan isyarat Sean melarang Nicholas untuk masuk kedalam ruangnnya, Nicholas yang mendengar percakapan Dita dan Sean
mengurungkan niatnya dia hanya berdiri diluar ruangan, tak ingin terlihat oleh
Dita
"gue nggak mau dan maaf gue harus pergi" kata Dita tegas dia pun berbalik dan hendak berjalan meninggalkan ruangan Sean
“Dita, pertimbangakan permintaan saya, untuk perusahaan ini, kami …” belum selesai Sean dengan kalimatnya Dita memotong kalimat Sean
“kami? Sean Deveraux” tanya Dita, dia dengan pelan dan lamban menyebutkan nama Sean dengan membelakangi Sean, meyakinkan dirinya sediri, seringai kekecewaan terdengar dari mulutnya
“anjir begok banget gue” katanya dengan nada tinggi, suara kesal dan kecewa bercampur, dia merasa dirinya sangat bodoh tidak menyadari kalau lelaki didepannya adalah The Deveraux, berlahan Dita melangkahkan kakinya, dia menarik napas panjang kemudian meninggalakan ruangan tetapi langkahnya dihentikan Sean
"Dita, saya mengenal ayahmu, saya juga yang mengajarimu berjalan saat masih bayi itulah kenapa saya suka menuntunmu berjalan" kata Sean dengan sedikit berteriak, Dita pun berbalik dan melihat pada Sean
"tapi maaf gue tidak tertarik, gue punya dunia gue sendiri sekarang" kat Dita menjawabi pernyataan Sean
"Dita tidak kah kamu ingin memiliki apa yang ditinggalakan ayahmu, om Hendra" kata Sean
"ayah sudah tidak memiliki apa apa, tak ada lagi yang ditinggalakan" jawab Dita
"tidak, ada yang kamu tidak tahu, The Deveraux menyimpan milik om Hendra" jelas Sean yang tak ingin menunda untuk memberitahukan Dita
“thanks, saya tidak menginginkannya mulai sekarang berhentilah mengawasiku” kata Dita ketus, ada rasa penyesalan yang sangat dalam hatinya, dia pun melangkah pergi. Rafael yang melihat mata sembab Dita saat dia
berpapasan dengannya lalu memutuskan masuk kedalam ruangan Sean
“ada apa? Kenapa Dia?” tanya Rafael bingung, Nicholas pun melangkah masuk dibelakang Rafael
“mau kah kau menikah dengannya?” tanya
__ADS_1
Sean pelan dan santai membuat Rafael menaikkan satu alisnya
“what the hell” Suara Rafael memaki dan masih tidak percaya dengannya
“yes, menikahlah dengan dia” suara
Nicholas yang berdiri dibelakangnya mendekatkan bibirnya pada telinga Rafael
“dia bahkan tidak melirik kepadaku,
kalian ingin aku menikahinya” gerutu Rafael dengan menggelengkan kepala
keheranan
“Seriously dad? Dita tidak tertarik padanya?”tanya Sean dan melihat
pada Rafael dan ayahnya bergantian seakan tak percaya
“he don’t even have her phone number”
kata Nicholas dengan terkekeh lalu bergerak melangkahkan kakinya keluar dari
ruangan,
"i dont believe it" kata Sean keheranan
"Sean ini terlalu dini, dia belum memahami apapun" kata Nicholas pada Sean
"sepertinya aku melewatkan sesuatu" kata Rafael penuh pertanyaan diwajahnya
“don’t forget dinner together” kata Nicholas sebelum benar-benar keluar dari pintu melihat kepada dua putranya itu
memastikan
Selama tiga hari Dita tak menghiraukan ponselnya, dia hanya membalas pada murid lesnya saja, dia, bahkan dia berani membentak Dimas yang selama ini selalu menakutinya, terror yang masih dia terima terus menerus, Intan yang cemas hanya bisa datang ke kontrakan Dita tapi tidak bertemu Dita, dia hanya menanyakan keadaan Dita pada mang Tohir tatangganya. Dita beraktivitas seperti biasa, tetapi setelah tiba dikontrakan dia memikirkan baik-baik kata-kata Sean, dia masih tidak percaya jika memang mengenalnya sejak kecil dan kalau memang benar Sean yang mengajarinya berjalan, Dita benar-benar bingung. Dia juga mengingat cerita Intan mengenai penyesalan Mr Nicholas, dan masih banyak lagi. Sementara itu Rafael, dia tidak mengerti harus menikahi Dita atau tidak, dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan, gadis itu sedikitpun tidak melirik kepadanya dan dia bisa merasakan bahwa Dita tidak ada ketertarikan pada dirinya, bagaimana bisa dia menikah dengan seseorang tanpa dasar cinta,
"Dita memang dia tak seperti gadis lain yang berharap untuk bersamaku meski hanya semalam" guman Rafael dalam hatinya
"sangat berbeda dia bahkan tak tertarik untuk meminta barang barang mahal kepada saya" kata Rafael lagi dalam hatinya
dia membaringkan badannya di kasur empuknya, diraihnya ponsel pintarnya dan melihat gambar Dita yang di layar, dia memperhatikan dengan jelas, tanpa menyadari Sean dan Nicholas memperhatikannya daru luar pintu saat
akan menuju balkon, pintu yang masih sedikit terbuka lalu meninggalkan Rafael
yang memandangi gambar Dita
“you said don’t have her number then what about that picture” suara Sean yang berjalan menjauh dari kamar Rafael, mencoba bertanya pada ayahnya degan suara yang tertahan agar tidak didengar
oleh Rafael
“dalam sejarah Rafael, kamu benar-benar membuatku bingung Dita” guman Rafael yang masih melihat gambar Dita.
“bang Tohir bakso satu ya” kata Dita memesan bakso dengan wajah lesu, siang itu Dita pulang lebih awal karena
muridnya sakit dan tidak ada jadwal mengajar, dia menyimpan tasnya kedalam dan kembali lagi membawa botol minuman, mata sembabnya masih kentara.
“neng Ditaaaa” suara mbak Ruminah yang cetar membahana mengalihkan pandangan Dita
“iya mbak Rum” jawab Dita lesu
“lemes amat neng” tanya mbak Ruminah pada Dita yang kemudian melihat pada mang Tohir sambil menujukkan pada matanya sendiri dan menulis huruf O memberi petunjuk pada mang Tohir, dan hanya mengankat kedua pundaknya, dia mengerti dengan isyarat mbak Ruminah, pasti memikirkan pertanyaan yang sama kenapa mata Dita nampak sembab, Dita hanya tersenyum.
“ini neg baksonya” kata mang Tohir dan menyuguhkan bakso di meja plastik diteras Dita, tanpa menjawab Dita langsung meraih baksonya.
“neng nggak beli buah neng, ada nanas juga hari ini” tanya mbak Ruminah ragu
“boleh mbak nanasnya satu” jawab Dita yang langsung disambut senyum dan mbak Ruminah pun menghampiri Dita dan meletakkan buah yang terbungkus plastik itu diatas meja.
“neng Dita kenapa? Tanya mbak Ruminah penasaran tetapi dia bisa melihat dengan jelas ada kebingungan di raut muka Dita.
__ADS_1
“nggak apa-apa mbak Rum, ini uangnya” jawab Dita sembari memberikan lembaran uang lima ribu pada mbak Ruminah, setelah memakan bakso, dan mbak Ruminah juga pergi menjajakan jualannya Dita masuk kedalam kontrakan kecilnya, dia bersandar di kasurnya,air matanya masih mentes tanpa dia sadari, dia bingung harus mengadu kepada siapa, dia benar benar kehilangan tempat untuk mengadu Dita pun akhirnya tertidur.