Untuk istriku

Untuk istriku
Pertengkaran 2


__ADS_3

Rafael hanya termenung di sofa dalam kamarnya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang membuat Dita tak ingin bicara padanya


“Dita, apa yang membuat kamu marah pada saya, kenapa kamu tidak ingin” pesan singkat Rafael yang dikirim pada Dita tetapi hanya dibaca tanpa mendapat jawaban


“el mami sama papi mau bicara” kata Febi yang berdiri didepan pintu bersama suaminya itu, Rafael hanya melihat nya terdiam, Febi dan Nicholas pun masuk


“kamu dan Dita sebenarnya ada masalah apa?” tanya Febi dengan lembut


“tidak tahu mami” jawab Rafael singkat


“kamu memarahinya?” tanya Nicholas dengan wajah penasaran


“tidak sama sekali, saya tidak pernah protes meski dia tidak pernah manis, selalu sesuka hatinya saat dirumah, dan


saya tetap menyukai itu” kata Rafael tulus menjelasakan sembari melihat pada ponselnya, memeriksa kalau kalau pesan singkatnya yang dikirm oleh Dita


“lalu?” tanya Febi


“mami, memang saat menikahinya saya tidak mencintainya, tetapi setelah mengenalnya saya jatuh cinta padanya. saya tidak tahu kenapa dia marah kepada saya” jawab Rafael menjelaskan, mendengar bahwa Rafael sudah jatuh cinta pada Dita membuat Nicholas dan Febi tersenyum.


“kalau kamu mencintainya itu bagus, kamu harus bersamanya dan melindunginya” kata Nicholas dengan tegas


“mami tidak akan ikut campur tapi jika kamu butuh saran mami, kamu bisa cerita sama mami” kata Febi sambil menepuk pundak anaknya, serta memberikan banyak saran kepada anaknya bagaimana bersikap kepada wanita Indonesia


“Sean sudah meminta Intan untuk makan siang dengan Dita besok, coba kamu cari tahu disana, café blue ice” kata Nicholas yang kemudian bangkit dan melangkah keluar kamar diikuti oleh Febi dan menutup pintu.


Pagi itu dengan malas Dita pun beranjak dari kasurnya, suasana paginya nampak berbeda, biasanya ada Rafael yang meski tak di hiraukannya tetap membuatkan sarapan pagi untuknya. Karena tidak ada jadwal mengajar privat Dita hanya menghabiskan paginya dengan menonton TV hingga jam makan siang, dilihatnya jam dinding yang ada di ruangan itu lalu Dita pun beranjak meraih tasnya kemudian pergi.  Sementara itu di ruang kerja Rafael


“saya tidak mau ada masalah, dan jangan terlihat mencolok” kata Rafael pada pak Bam, tangan kanannya, yang sebenarnya tanpa diminta dan hanya dengan tatapan mata Rafael saja pak Bam sudah tahu apa yang diinginkan Rafael.


“baik tuan, akan terjadi seperti yang tuan inginkan” kata pak Bam yang kemudian keluar dari ruangan Rafael.


“Dita, meski saya tidak berada di dekat kamu, saya tidak mau bahaya mengancam kamu” guman Rafael sendiri sembari menatap layar ponselnya.


“Rafael, jika tidak sibuk boleh saya masuk?” tanya Millan yang sudah berdiri didepan pintu


“masuklah, ada apa?” tanya Rafael dengan santai


“ini tentang Dita, apa Dita tidak suka dengan kehadiran saya?” tanya Millan penuh penasaran


“tidak, aku tidak berpikir begitu” jawab Rafael dengan menatap Millan


“kamu terlihat cantik dengan memakai baju warna biru” goda Rafael dengan senyum yang mencoba menghibur diri sendiri


“terima kasih, kau pandai memuji, tapi saya rasa Dita berpikir lain mengenai saya” jawab Millan dengan disertai tawa renyahnya, tak selang lama Cindy masuk ke ruangan


Rafael


“oh sedang ada pasangan yang bermadu kasih disini” kata Cindy yang mencoba berbaur


“untuk apa kamu kesini?” tanya Rafael datar dan langsung berdiri dari tempat duduknya


“Raf aku kangen sama kamu, aku kesini untuk menemui kamu” kata Cindy mesra dan berusaha mendekat pada Rafael


“kamu, saya masih ada meeting dengan Rafael tidak seharusnya kamu masuk tanpa izin” kata Millan dengan suara tinggi dan tatapan tidak suka pada Cindy yang dianggapnya tidak sopan terlebih Millan melihat sendiri Cindy membentak dan ingin mengusir Dita


“maaf nyonya Rafael, tapi saya juga tidak mau tinggal diam, saya bersedia menjadi istri kedua” kata Cindy dengan


bangga dan percaya diri, Millan hanya mengerutkan alisnya karena Cindy memanggilnya sebagai istri Rafael


Jadi dia mau bermain main denganku, kita lihat saja sampai seberapa kemampuanmu” kata Millan dalam hatinya dengan senyum jahat yang muncul dibibirnya. Dia pun mendekat pada Rafael dan menampis tangan Cindy.


“sayang kita masih ada meeting penting, mari kita pergi” kata Millan dengan mesra sambil menggandeng lengan Rafael dan menarik Rafael keluar dari ruangannya menuju ruangan Nicholas


“pak satpam tolong seret dia keluar” kata Millan dengan tegas pada satpam yang berjaga, sementara Rafael hanya


bingung dengan sikap Millan tetapi tidak menolak, Millan yang sambil berjalan menuju ruangan Nicholas hanya tersenyum lebar dan tertawa puas begitu tiba di ruangan Nicholas


“ada apa? Kau terlihat senang Millan sayang” tanya Nicholas yang ada didalam Ruangan, Millan melepaskan tangannya dari lengan Rafael dan menuju sofa dimana Sean tengah duduk disana


“tidak ada papi, hanya mengerjai Cindy, wanita ****** itu berani sekali menggoda Rafael” kata Millan


“Cindy, aku sudah mengusirnya bagaimana dia berani datang” kata Sean dengan santai tetapi tegas

__ADS_1


“aku rasa dia benar-benar tertarik pada adikmu yang tampan ini” kata Millan dengan menunjuk pada Rafael


“seharusnya kamu pergi ke café” kata Nicholas mengingatkan, Rafael pun langsung terkejut dan melihat jam yang ada di tangannya, dia pun segera pergi dan meninggalkan kantor


“seharusnya dia sudah tiba disini” guman Rafael sembari menyebarkan pandangannya kesegela arah diluar café


“Dita!” sapa Intan setengah berteriak, Dita yang melihat Intan yang melambaikan tangan pun menghampiri Intan.


“sorry ya gue telat” jawab Dita dengan senyum manis yang seolah tak ada beban dihatinya, sementara itu dari kejauhan Rafael melihat Dita yang kembali seperti sebelum dia marah dia pun merasa lega, diraihnya ponsel pintarnya dan mengetik pesan pada Dita


“habiskan semua yang saya kirim hari ini, saya tidak suka kamu murung” pesan singkat Rafael pada Dita, sementara itu Dita meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengusik perbincangannya dengan Intan,


dilihatnya layar ponselnya, terdapat dua notifikasi salah satunya pesan Rafael.


“sms dari siapa?” tanya Intan


“Rafael, nggak penting” jawab Dita santai lalu meraih gelas yang ada didepannya.


“hallo Dita sayang” sapa Dimas yang tiba-tiba muncul membuat Dita shock, bagaimana dia bisa ada disini.


“mau ngapain loe?” tanya Dita judes dan tatapan tidak suka, Rafael yang melihat dari jauh tetapi masih mendengar


percakapan mereka itu berdiri


“sayang, jangan seperti itu, aku ini kangen sama kamu” kata Dimas merayu dan berusaha menyentuh pipi Dita tetapi ditampis oleh Dita


“Dimas, loe yang sopan, Dita ini istrinya orang!” bentak Intan dan melotot pada Dimas, belum Dimas mengucapkan kata ada beberapa orang yang mendekatinya dan menyeretnya pergi, tak jauh dari tempat


itu terlihat Sean yang sedang bersama Fajar dan Millan memperingatkan Dimas.


“loe mau kita pergi?” tanya Intan pada Dita, dilihatnya Dita dengan penuh cemas


“nggak usah, disini aj, abis ini kita shopping yuk” kata Dita santai


“hah? loe yakin? Tanya Intan heran dengan sikap santai Dita


“yakin, tenang aja kali ini gue traktir loe” kata Dita dengan senyum lebar


“iya percaya deh yang udah di jatah sama suami” jawab Intan dengan sedikit seringai canda


“ngomong ngomong loe masih marahan sama suami loe, nggak baik loe entar di embat orang” kata Intan menjelaskan seraya melanjutkan makan siangnya


“di embat orah, hmm gue bisa apa, lagian pernikahan gue itu karena gue nggak mau The Deveraux jatuh ketangan nenek lampir” jawab Dita santai


“maksud loe?” tanya Intan bingung


“mami sama papi itu minta sama gue nerima buat nikah sama Rafael, dan antara dia sama gue nggak ada cinta sama sekali” kata Dita masih dengan nada santai, mendengar itu dari kejauhan membuat


Rafael menyadari diamnya Dita beberapa hari ini.


“nggak mungkin, loe yakin suami loe nggak jatuh cinta sama loe?” tanya Intan


“heem, dan gue juga nggak mau berharap ataupun cinta sama dia, karena dia punya yang lain gue nggak mau sakit hati” jawab Dita santai, dia pun menghela napas.


“ta, loe nggak boleh gitu, dia itu suami loe, setidaknya loe nggak perlu marah kan sama dia” kata Intan menasehati. Dita yang cuek dengan nasehat Intan itu meraih ponselnya


“papi, Dita mau ajak Intan belanja, jdi nggak balik kantor boleh ya?” kata Dita melalui telpon


“tentu saja, lakukan sesukamu” jawab Nicholas diseberang telpon


“makasih papi” kata Dita kemudian menutup telponya sembari tersenyum pada Intan


“gue cinta deh sama loe” kata Intan merayu sahabatnya itu dengan senyum puas, akhirnya bisa belanja di jam kerja.


“kapan loe nikah sama Fajar? Tanya Dita penasaran


“baru lamaran belum tahu kapan nikahnya" jawab Intan tersipu dan raut wajah bahagia tersirat dengan jelas


“wah selamat ya tantan” kata Dita girang dan berdiri mencoba memeluk sahabatnya


“makasih, terus kapan loe punya anak, entar biar gue susulin juga” kata Intan dengan riang


“anak? Gue aja nggak tidur satu kamar” tanya Dita dengan senyum terpaksa

__ADS_1


“apa! Loe nggak ...” tanya Intan dengan wajah keheranan seraya isyarat dengan tangannya, Dita menggeleng kepala dengan wajah santai


“loe tetep masih perawan?” tanya Intan penasaran melihat pada Dita yang sedang meneguk minuman didepannya dengan santai


“iya” jawab Dita yang sambil meletakkan gelas


“peak loe Zaenab” bentak Intan sambil memukul kepala Dita


“aduh sakit Zubaedah” jawab Dita yang meringis meski tidak begitu sakit


“loe mau laki loe di embat orang beneran, sadar ta sadar, eh dimana-mana kalau suami nggak dapat jatah dari


istri itu bisa nyari diluar” kata Intan sambil menggoyang nggoyangkan badan Dita, sementara Dita hanya bengong melihat reaksi Intan yang berlebihan


“gue kan udah bilang, kita itu nggak ada dasar cinta” jawab Dita polos


“tapi Rafael itu cinta sama loe, kalo nggakk ngapain loe di kasih dua ratus juta dan sekarang lima puluh juta suruh ngabisin, bener bener loe sahabat gue yang paling bego” kata Intan dengan emosi.


“udah ah belanja yuk” kata Dita mengajak Intan untuk mengalihkan topik


“loe masih pake duitnya?” tanya Intan sambil melambaikan tangannya pada pelayan hendak membayar makanannya


“Duitnya papi, mbak pake ini” jawab Dita sembari menyerahkan kartu kreditnya pada pelayan


“Allah tuhan ampuni aim ya Allah” kata Intan dengan geleng kepala keheranan melihat sahabatnya yang pasrah. Tak lebih dari lima menit mereka pun keluar dari café, sementara Rafael hanya termenung mendengar perbincangan istrinya dengan sahabatnya, dia berusah mencari cara bagaimana mengambil hati Dita, karena dia sudah terlanjur jatuh cinta pada istrinya itu.


Sepulang belanja Dita meletakkan semua belanjaanya di meja ruang tengah, dia memilih beberapa tas yang kemudian dia simpan dikamar Rafael sementara miliknya sendiri dibiarkan di atas meja. Entah dalam kenapa dia merasa sakit dalam hatinya ketika melihat Cindy dan Rafael sebelum meninggalkan mall, terlebih Rafael tahu kalau dia ada disana saat itu


“ngapain tadi gue belanja buat dia” guman Dita, yang tiba tiba menoleh karena seseorang masuk kedalam apartemennya, Rafael datang


“Dita dengarkan penjelasana saya” kata Rafael berusaha membujuk Dita, di rangkulnya istrinya itu dari belakang tetapi Dita berusah memberontak


“lepasin gue” kata Dita seraya berusaha melepaskan pelukan Rafael


“saya tidak sama sekali tertarik pada Cindy, hanya kebetulan bertemu” kata Rafael dengan suara pelan, diletakkanya dagunya di pundak Dita


“lepasin!” kata Dita berteriak dan berontak tapi justru membuat berbalik dan pelukan Rafael semakin erat, Dita mengeluarkan semua keluh kesahnya dalam pelukan suaminya, dia merasa seolah pernikahannya tidak berguna, bahkan karena adanya Millan, perdebatan mereka tak berujung


“tidak ada wanita lain Dita dan saya jatuh cinta sama kamu. hanya kamu istri saya,” kata Rafael pada Dita yang kemudian mencium lembut bibir istrinya tetapi dia melepaskannya dengan paksa.


“mami, sepertinya kita datang diwaktu yang salah” kata Millan pada Febi yang berada di luar pintu dengan suara berbisik, Febi terlihat cemas mendengar pertengkaran Rafael dan Dita


“no Dita, percayalah aku jatuh cinta sama kamu, dan sejak menikah dengan kamu saya tidak pernah berhubungan dengan Cindy” kata Rafael menjelaskan lagi, tetapi Dita masih mengelak, perdebatan mereka tak berhenti, Dita pun mulai terisak, pelan-pelan Rafael melepaskan pelukannya


“gue emang bodoh, nggak seharusnya gue menerima pernikahan ini” kata Dita ditengah isak tangisnya


“hentikan perkataan sepeti itu dan jangan berpikir yang tidak perlu” kata Rafael menenangkan dengan suara tegas


“sebaiknya loe pulang, wanitamu sudah menunggu di rumah mami” kata Dita dengan sedikit berteriak mendorong Rafael untuk keluar dari apartemen mereka. Mendengar kalimat Dita Millan berpikir apakah Dita mengira bahwa dia adalah istrinya Rafael seperti pemikiran Cindy, setidaknya itulah yang dia tangkap dari apa yang didengarkannya dibalik pintu


"wanita saya?" tanya Rafael dengan bingung tetapi dia tersenyum tipis sambil memandang lembut istrinya


“hahahaha Dita, jadi kamu juga berpikir aku ini istrinya Rafael” kata Millan yang muncul dari balik pintu karena tidak


tahan dengan perkataan Dita yang dia pikir itu adalah lucu, Dita dan Rafael pun menoleh pada Millan yang berjalan masuk kedalam apartemen mereka.


“Dita sayang, mami tidak suka kamu berpikiran bodoh dan menyalahkan diri sendiri, dari dulu mami ingin melihat


kamu menjadi menantu mami” kata Febi yang masuk bersamaan dengan Millan dan memeluk Dita


“sudah ada Millan kenapa mami masih mau Dita” kata Dita dengan mengusap air matanya, sementara Rafael hanya tersenyum mendengar kalimat istrinya


“Dita, aku memang sudah menjadi menantu Deveraux sejak lima tahun dan itu sangat lucu jika kamu cemburu kepadaku karena tuan muda Deveraux tidak hanya satu” kata Millan menjelaskan


“oh jadi begitu, kamu cemburu?” tanya Rafael dengan jail sembari meraih Dita dan dipeluknya istrinya itu tetapi di


tampis oleh Dita.


“Dita aku istrinya Sean, bukan Rafael, bagaimana kamu bisa berpikir kalau aku ini istrinya Rafael, hanya kamu satu satunya wanitanya Rafael” kata Millan menjelaskan dengan penuh percaya diri serta senyum yang masih tersemat


dibibirnya itu, dia meresa Dita yang dia tahu berdasarkan cerita sangat jauh berbeda, yang ini masih sangat polos.


“maafin mami yang nggak cerita kalau Millan ini istrinya Sean, mami pikir kamu sudah tahu” kata Febi sambil meraih Dita dan dipeluknya dengan penuh kasih sayang, Dita hanya diam, sementara Rafael tak banyak bicara karena Febi yang selalu protes pada Rafael, Febi sangat menyayangi kedua menantunya seperti anaknya sendiri. Setelah berbincang lama Febi dan Millan pamit untuk pulang, suasana menjadi hening, Dita tak mengatakan apapun dia hanya terdiam dan kemudian masuk kedalam kamar yang dia tempati sebelum Febi memindahkan barang barangnya untuk tinggal satu kamar bersama Rafael, tanpa berkata apa-apa Dia menarik selimutnya Rafael

__ADS_1


menyandarkan bahunya di pintu melihat istrinya yang beranjak tidur itu dan hanya melihatnya hingga Dita terlelap, Rafael tersenyum lembut melihat sikap istrinya yang entah itu cemburu atau kekecewaan dia merasa  dan yakin ada harapan untuk mendapatkan cinta istrinya.


__ADS_2