
“mohon maaf pak Anton tetapi saham perusahaan tidak mencukupi, jika kita bisa bekerja sama dengan endra Group mungkin kita bisa mengalahkan The Deveraux” kata Sapto rekan kerja Anton Subrata yang sedang berada di kediaman Anton itu.
“kalau begitu hubungi pemiliknya dan mari kita coba untuk bernegosiasi” kata Anton
“tidak mungkin, karena sulit sekali untuk menemui, mereka hanya berbisnis dengan orang orang tertentu” jawab Sapto, mereka berdua pun mencari cari relasi mereka yang bisa diajak kerja sama.
Sementara itu Dita yang masih di apartemen sedang mempelajari beberapa berkas untuk menyiapkan dirinya sendiri bekerja di kantor The Deveraux
“untung weekend, jadi gue bisa bersitrirahat” guman Dita sambil berjalan berlahan meraih laptop yang ada di
meja depan TV di ruang tengahnya.
“setelah makan siang datanglah kekantor, Anon akan menjemputmu” pesan singkat Rafael pada Dita
“nggak mau, masih sakit, lagian ini weekend ngapain kekantor”jawab Dita singkat melalui pesan singkatnya, melihat
jawaba Dita Rafael buru buru menelponya
“halo” sapa Dita yang tiba tiba mendapatkan panggilan dari Rafael
“kamu sakit? Jangan kemana mana saya akan menjemput kamu dan membawa kamu kerumah sakit” kata Rafael dari seberang telpon dengan suara cemas terdengan pula suara seperti sedang membereskan
sesuatu
“nggak perlu kerumah sakit, yang bikin sakit itu kamu, besok juga udah nggak apa apa” jawab Dita santai
“saya? Dita jangan main main”tanya Rafael kebingungan dan tidak mengerti dengan perkataan Dita
“siapa yang main main, sekarang yang terlambat kekantor siapa? Dan kenapa bisa terlambat?” tanya Dita santai dan membuat Rafael tertawa, dia mengerti maksud Dita
“ini weekend dan hanya mengurus sedikit pekerjaan, dan maafkan saya tidak menemani kamu” jawab Rafael lembut dan di iringi seringai kemenangan, setelah menutup telpon mereka kembali pada kesibukannya masing
masing. Setelah makan Siang Rafael menjemput Dita dan mengajaknya menginap dirumah maminya selama dua hari.
***
“tuan Rafael, anda memanggil saya ada yang bisa saya lakukan untuk tuan?” tanya seseorang yang baru saja datang ke ruangan Rafael
“bang Yuda” sapa Dita heran melihat tukang ojek online langganannya yang memang sudah jarang ia jumpai lantaran lebih sering berangkat bersama Rafael, Dita pun melihat pada Rafael
“sayang, mulai hari ini pak Yuda adalah sopir sekaligus bodyguard kamu” kata Rafael tegas
“jadi dia pengawal kamu?” tanya Dita Dengan sedikit kecewa
“ya, itu saya lakukan untuk menjaga kamu” kata Rafael dengan lembut
“bang Yuda bisa keluar sebentar? Tanya Dita sopan
“baik non Dita” jawab Yuda kemudian keluar dan menutup pintu, Dita pun mendekat dan mencoba merayu Rafael,
dipeluknya suaminya dengan manja
“ada apa?” tanya Rafael lembut dan senyum manis, tak lupa dia membalas pelukan istrinya
“apa aku boleh tahu rahasia yang lainnya, semuanya” tanya Dita dengan manja
“nanti malam” jawab Rafael dengan seringai jahilnya membuat Dita cemberut
“pelit” jawab Dita singkat dan memasang wajah cemberut
“karena saya tidak mau istri tercinta ini dalam bahaya, sebentar lagi ada proyek besar dan saya tidak mau kamu
berkeliaran sendirian tanpa bodyguard” jawab Rafael sambil mencubit manja pipi istrinya
“ya udah, aku pulang dulu aj” kata Dita menyerah
“no no no, papi meminta kamu ikut untuk meeting, dan ini penting” kata Rafael serius
“baiklah, tapi bener ya nanti malam cerita semuanya” pinta Dita dengan manja yang di balas senyum dan anggukan oleh Rafael, mereka berdua pun berjalan keluar bersama menuju ruang meeting.
“zubaedah liat zaenab udah senyum senyum sendiri, membuat hari senin zubaedah berasa gimana gitu” kata Intan yang mempersiapkan duduknya disebelah Dita
“apaan sih loe, biasa aja kali” jawab Dita santai, dilihatnya sahabatnya itu betul betul bahagia dan dia tahu karena
persahabatan mereka sudah lama, Dita juga tahu bahwa Intan sangat menyayanginya seperti adik sendiri. Meeting berjalan dengan baik, dipertengahan meeting Dita diperkenalkan sebagai asisten Asisten Rafael dan semuanya menyambut baik, beberapa karyawan banyak bergosip ada apa apa antara Dita dengan Sean lantaran
sebelumnya lebih sering terlihat dengan Sean. Antara Sean dan Dita memang sangat akrab, tapi rumor yang di bicarakan karyawan tidak sama, mereka lebih terlihat seperti kakak dan adik saja. Hari pertama menjadi asisten Rafael membuat Dita benar benar sibuk, dia belajar banyak hal dari berbagai dokumen yang diberikan Sean maupun Nicholas, selain itu Rafael menyiapkan sesuatu untuknya.
Di ruang kerja Nicholas
“apa kamu tidak terlalu memforsir Dita” tanya Nicholas pada Rafael
__ADS_1
“ya, hanya untuk hari ini, saya ingin dia mengetahui fakta yang ada” kata Rafael tegas
“Rafael kamu tidak bisa memaksa Dita, selama ini papi melindungi Dita dari mereka” kata Sean mengingatkan
“sekarang dia istri saya dan saya tahu apa yang harus saya lakukan” jawab Rafael dengan yakin
“jangan membawanya kedalam masalah” kata Sean mengingatkan
“atau kamu memiliki informasi lebih, bahkan bertindak lebih diluar sepengetahuan kami” tanya Nicholas
“ya, dan saya akan melindunginya, papi tidak perlu khawatir” kata Rafael meyakinkan papinya
“Anton Subrata mengejar saham itu sejak lama, ditambah endra Group, jika kamu butuh bantuan kami jangan sungkan untuk memintanya” kata Nicholas dengan keyakinan menatapa pada Rafael dalam dalam, Rafael hanya mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan ruangan Nicholas
“papi, apa perlu meminta Ryan untuk bersama Rafael?” tanya Sean
“tidak, Rafael yang sekarang lebih berbahaya, dan jika terlewat sedikit saja keselamatan baik Dita maupun Rafael
menjadi taruhannya” kata Nicholas sedikit mencemaskan putra dan menantunya.
“ya, dan sebenarnya bagus Rafael mencintai Dita tetapi saya khawatir Dita tidak menerima Rafael” kata Sean tidak
yakin, Nicholas menatap Sean yang sedang duduk di sofa itu dengan penuh tanda tanya, maksud dari perkataanya
“apa maksudnya?” tanya Nicholas
“sampai saat ini Dita belum sepenuhnya mencitai Rafael, jika dia tahu Rafael adalah Deveraux terdingin dan pembunuh mengelilinginya, saya tidak tahu” jawab Sean menjelaskan dengan ragu ragu
“setidaknya Dita sudah mendapatkan miliknya” jawab Nicholas santai, mereka pun melanjutkan perbincangan mereka dengan topik yang berbeda, sementara itu Dita mulai belajar pada beberepa manager serta memeriksa berbagai dokumen yang berkaitan di ruangan Rafael.
“sayang, ini hari pertama kamu bekerja apa kamu juga ingin lembur?” tanya Rafael memperhatikan Dita yang masih sibuk dengan berkas berkas yang perlu ia pelajari, Dita pun melihat pada Rafael
kemudian jam diding yang berada di atas pintu
“ayo kita pulang, kamu punya janji sama aku” kata Dita dengan manja dan senyum yang berusaha mengingatkan Rafael akan janjinya. Mereka pun meninggalkan kantor, menuju kediaman Deveraux
“mami” suara Dita memanggil Febi di pintu masuk, Febi pun menyambut Dita dengan ramah dan penuh kasih sayang.
“kalian sudah di tunggu papi diruang kerja” kata Febi lembut kemudian membawa Dita beserta Rafael menuju ruang kerja Nicholas
“Dita, saya sudah menunggumu kamu” kata Nicholas yang melihat Dita masuk kedalam ruang kerjanya, Dita melihat ada Sean duduk di sofa kecil Ryan berdiri dibelakang Sean, Rafael menuntun Dita untuk duduk di sebelah sean sementara dirinya duduk di bibir kabinet tak jauh dari pintu. Nicholas menyerahkan dua map kepada Dita dan meminta Dita untuk membacanya baik baik
“itu proyek yang akan dikerjakan oleh perusahaan papa dan mama kamu, yang sekarang dipegang oleh Anton Subrata” kata Nicholas dengan tenang
“dan yang kedua salinan pemilik saham” kata Rafael tegas dan yakin tetapi dengan nada suara santai, Dita pun membuka map yang kedua yang dia terima dari Nicholas
“ini tertulis saham masih milik ayah” suara Dita pelan kemudian menyebarkan pandangannya pada setiap orang yang ada di ruangan itu.
“yes, dan disana juga tertulis saham itu diwariskan kepada putrinya, dan itu kamu” kata Sean meyakinkan Dita.
“dan besok proyek yang ada di tangan kamu yang lain menunggu untuk persetujuan kamu sebagai ahli waris” kata
Nicholas tegas
“jangan menanda tangani apapun” kata Rafael singkat sambil melihat Dita, dengan posisinya duduk bersandar pada cabinet, dia melipat kedua tangannya terlihat serius. Nicholas dan Sean melihat kearah Rafael tidak percaya.
“Rafael ini harus disetujui jika tidak kita tidak bisa mengambil kembali dua anak perusahaan lainnya” kata Sean serius
“saya tahu, tapi saya tidak ingin Dita menanda tangani apapun” kata Rafael tegas
“cukup, jika ini diwariskan ke gue maka gue berhak mengambil keputusan” kata Dita melerai Sean dan Rafael, dia berdiri dan melangkan mendekati Rafael
“sayang, percayalah pada saya” kata Rafael kemudian mengambil map yang ada ditangan istrinya
“Rafael dengan tidak mengikuti proyek itu justru akan menjatuhkan perusahaan yang sudah saya jaga selama sepuluh tahun ini” kata Nicholas dengan nada tinggi
“maish ada Endra group, kita lihat saja besok” kata Rafael kemudian mengambil dua map yang diambil dari Dita kemudian memegang tangan Dita dan menariknya pergi dari ruang kerja Nicholas
“Raf tunggu, aku mau kejelasan, ini semua membingungkan”kata Dita berusaha menghentikan langkanya tetapi Rafael tetap melangkahkan kakinya menuju kamarnya tanpa bicara apapun.
Rafael mengeluarkan sebuah map dari nakasnya kemudian memberikannya kepada Dita
“itu yang ingin kamu tahu semua tentang saya” kata Rafael, Dita membaca kertas yang diterimanya satu persatu, Nicholas dan Sean yang mengikuti mereka berdiri di pintu.
“kami Deveraux juga melakukan bisnis illegal juga menghabisi siapa saja yang mengusik kami” kata Rafael
“dan suamimu yang lebih berbahaya jika sudah melakukan untuk seseorang” kata Sean yang mengikuti Dita dan Rafael menjelaskan, Dita yang mendengarkan tetapi dia masih membaca satu persatu berkas yang ada di tangannya.
“tugas kamu untuk mencegahnya Dita, ini kesalahanku seharusnya aku tidak memintamu untuk menikahi anakku” kata Nicholas yang juga mengikuti emreka kekamar mereka
“apa yang terjadi jika aku tidak menandatangani proyek itu?” tanya Dita
__ADS_1
“kerugian ada di kedua pihak tetapi kerugian terbesar ada di Endra Group” kata Sean
"berapa persen?" tanya Dita memastikan
"bursa saham akan jatuh hingga seratus titik bisa lebih" kata Nicholas menjelaskan
“kalau aku tanda tangan” tanya Dita lagi yang masih melihat pada catatan yang dibacanya
“keuntungannya kamu bisa menaikkan saham yang kamu miliki” kata Nicholas, Dita menutup yang berisi berkas yang barusaja dibacanya, dan menggenggam tangan Rafael
“aku percaya sama kamu” kata Dita menatap suaminya itu dengan senyum tipis
“Sean, jauhkan The Deveraux dari kerja sama yang di ikuti oleh milik ayahku” kata Dita meminta dengan senyum memohon seraya menatap Sean, tatapan yang tegas sekaligus tajam
“ah aku tidak percaya ini” kata Sean berdecak dan di iringin dengan seringai kecil
“Dita jangan melibatkan bahaya pada dirimu sendiri” kata Nicholas memperingatkan
“papi memberikan Rafael untukku, dia akan menjauhkan semua bahaya dariku” jawab Dita sembari menatap pada Rafael dalam dalam dan menggenggam erat tangan Rafael
“aku tidak percaya ini, orang kejam dalam keluarga ini bertambah” kata Sean dia pun berbalik tetapi masih tetap
berdiri di pintu kamar Rafael
“artinya mulai besok kamu bekerja dengan Sean hingga kita mengumumkan Endra Group” kata Nicholas menawarkan, yang dijawab anggukan dan senyum tegas oleh Dita
“seharusnya kita tidak menikahkan mereka papi” kata Sean yang berbalik melihat pada Dita dan Rafael yang duduk di ranjang mereka, kemudian di berbalik meninggalkan kamar Rafael di ikuti oleh Nicholas. Di ruang tengah Nicholas dan Sean juga Ryan masih membicarakan urusan mereka, sementara itu Millan merasa khawatir karena langkah yang diambil oleh Rafael bisa saja membahayakan keluarga mereka.
“good morning” kata Sean dengan senyum yang membuat siapa saja bisa tergoda
“good morning” sapa Dita yang kemudian melangkah bersama menuju ruang kerja Sean.
Didalam ruang kerja itu Dita mempelajari beberapa materi untuk persiapan meeting, jam menunjukan pukul sepuluh mereka pun berangkat.
“halo Mr Sean, senang melihat anda disini” kata Sapto, rekan kantor Anton Subrata yang kemudian menjabat tangan
Sean
“terima kasih” jawab Sean dingin, kemudian mepersilahkan Dita duduk disampingnya, Sapto yang memperhatikan Dita merasa pernah melihta Dita, tetapi tak berkata apapun lantaran Anon juga bersama Sean dan Dita. Meeting pun berjalan dengan panas, detail rancangan dari sekertaris Sapto juga dua orang yang bekerja di bawah perintah Anton Subrata itu terus berusaha meyakinkan diri mereka untuk bisa segera bergabung dengan
The Deveraux. Tetapi Sean menolak semua kerja sama itu atas permintaan Dita malam sebelumnya. Perbincangan mereka masih terus berlanjut, bahkan Sean mengungkit kepemilikan saham dari Anton Subrata, meeting itu benar benar diwarnai adu kekuatan para pemegang saham, benar dugaan Dita, jika sampai dia menanda tangani kerja
sama itu the Deveraux akan mengalami kehancuran sedikit demi sedikit lantaran DM Green dibawah pimpinan Anton subrata pasti akan mengalahkannya.
“nyonya, anak buah saya sudah memastikannya bahwa orang orang Subrata mengikuti Dita” kata Anon memberikan laporan pada Febi yang duduk di kursi yang ada dibalkon rumahnya
“kamu tahu apa yang kamu lakukan Anon, bila perlu tambahkan anak buah kamu untuk mencegah yang tidak di inginkan” perintah Febi pada Anon, kemudian Anon pun keluar rumah berbicara pada beberapa orang lalu pergi meninggalkan kediaman Deveraux
“el, jangan bilang kamu ada main dengan anak Subrata” kata Febi melalui telpon genggamnya mencoba mencari tahu, kenapa Dita kembali di incar oleh pamannya.
“mami, Subrata butuh dana besar untuk proyeknya dan itu hanya bisa jika Dita melepaskan saham setengah saham
miliknya” jawab Rafael santai
“ingat el, mami nggak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Dita” kata Febi tegas
“baik mami” jawab Rafael kemudian menutup telponnya.
“mami bicara dengan Rafael?” tanya Sean yang sudah berada disamping ibunya itu
“ya, mami tidak akan mencegah hanya mengingatkan saja” jawab Febi pelan tetapi tegas
“apa meminta Dita menjadi istri Rafael adalah jalan yang salah?” tanya Sean mencoba mengusir keraguannya
“jika dilihat Dita anak yang baik, lepas dari itu dia berhak mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya” jawab Febi sambil melihat pada Sean, tatapanya mengatakan semua akan baik baik saja
“ya dia anak yang baik, dan apa mami tahu siapa yang menyingkirkan orang orang yang sudah mengusik kita semenjak kedatangan Dita dalam keluarga ini?” kata sean meberikan pertanyaan pada Febi
“tentu saja papi kamu, papi kamu memegang janjinya pada Hendra .. dan” Febi menjawab akan tetapi kalimat yang
belum ia selesaikan dipotong oleh Sean
“Rafael” jawab Sean singkat tanpa menatap ibunya. Febi pun terdiam dia tidak bisa berkata kata, dalam bayangannya dia menghawatirkan anak bungsunya juga menantunya, jika Rafael benar benar kembali pada segala urusan illegal maka tidak menutup kemungkinan bahaya akan selalu didepan mereka.
“apakah adik kamu menemukan sesuatu?” tanya Febi dengan tatapan yang tajam penuh pertanyaan dalam sorot matanya
“jika iya, itu bagus” jawab Sean yang sambil melayangkan pandangannya kearah ibunya.
“papimu sudah tahu?” tanya Febi memastikan
“sepertinya belum, dan pasti sebentar lagi tahu, karena papi memanggil David, mami tahu dengan benar bagai mana kinerja David” jawab Sean membuat Febi bernapas lega, karena David adalah kepercayaan Nicholas, serta keluarga David sudah mengabdi pada keluarga Deveraux sejak lama, sejak David belum lahir, Sean pun meninggalkan balkon dimana maminya sedang melihat temaram lampu kota dari kediamannya.
__ADS_1