
Dita yang sudah berada didalam kamarnya itu memeriksa tas belanjaanya yang sudah diletakkan pelayan dikamarnya, tak lama kemudian ia mengganti bajunya dengan baju tidur. Dita duduk santai di sofa
yang berada didalam kamar menunggu Millan dan Sean datang membawakan susu coklat untuknya.
“Millan, Sean” sapa Rafael saat hendak memasuki kamarnya yang melihat Sean dan Millan juga membawa segelas susu kekamar Dita
“Rafael kamu juga mau?” tanya Millan sembari menujukkan segelas susu coklat pada Rafael
“tidak usah, kemarikan biar saya saja yang membawanya” kata Rafael dan menerima gelas dari tangan Millan.
“sayang ini susu coklat yang kamu minta” kata Rafael dengan senyum manis sembari meletakkan gelas susu diatas nakas serta menatap istrinya yang sedang duduk di sofa
“kak Sean sama Millan mana? Kok bukan mereka” kata Dita dengan tatapan kecewa
“sudah kembali kebawah di ruang keluarga” kata Rafael santai
“udah nggak mau, bawa aja pergi, sekalian keluar sana bawa selimut dan bantal jangan tidur disini” kata Dita
kesal, dia beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjang empuknya
“apa?” tanya Rafael heran dan tidak mengerti. Dita yang melihat Rafael tidak kunjung membawa gelas yang diatas
nakas itu keluar dari kamarnya Dita pun berjalan kearah pintu dan berteriak memanggil Isa
“bi Isa Dita nggak mau susu coklatnya cepetan ambil kembali” kata Dita berteriak membuat Febi Millan dan Sean yang ada di ruang keluarga itu bingung, mereka mendengar teriakan Dita yang menyuruh mengambil kembali susu coklatnya
“Dita, jangan seperti ini” kata Rafael yang sedikit kesal tetapi dia tak berkata banyak karena melihat istrinya
cemberut, dia pun membawa kembali susu coklat yang ia terima dari Millan sebelum pembatu rumahnya datang kekamarnya
“el, kamu bertengkar sama istrimu?” tanya Febi
“tidak mami, tapi akhir akhir ini suasana hati Dita tidak bisa ditebak” jawab Rafael yang sudah duduk di meja
makan, dia meletakkan gelas yang di bawanya begitu saja diatas meja.
“atau mungkin wanita wanita kamu sebelum menikah mengganggunya?” tanya Febi santai
“tidak juga, hanya ada Bella dua minggu ini sering datang kekantor tapi tidak pernah di izinkan Dita untuk masuk” jawab Rafael santai
“ya sudah, ini sudah malam, kamu istirahat saja” kata Febi yang menyerah karena tak mendapatkan apa apa dari
Rafael, dia hanya melihat pada anaknya yang sedang berpikir itu, Rafael pun beranjak dan kembali kekamarnya
“dikunci? Oh no Dita, buka pintunya” suara Rafael pelan sembari mengetuk pintu kamarnya, Dita pun muncul dibalik
pintu dan menyerahkan bantal serta selimut pada Rafael
“tidur diluar” kata Dita datar lalu kembali menutup pintunya
“Dita, tunggu” kata Rafael yang hendak mencegah Dita menutup pintu tetapi terlambat,dia mencoba membuka pintu akan tetapi dikunci dari dalam. Rafael hanya bisa marik napas panjang dan berjalan menuju ruangan untuk bersantai yang ada di lantai dua rumahnya, dia melihat Sean ada di balkon yang sedang minum, Rafael pun menghampiri Sean
“apa yang kamu lakukan disini? Millan juga mengunci pintu kamar kalian?” tanya Rafael yang mengambil tempat duduk di kursi yang ada di sisi lain dengan tersenyum
“sepertinya kita sama, tapi sebabnya saya tidak mengizinkan dia untuk mengambil pemotretan di singapura, kalau kamu?” jawab Sean
“susu coklat” jawab Rafael singkat membuat Sean tertawa lepas
“serius?” tanya Sean yang dijawab anggukan olen Rafael
“itu hal yang bagus, kenapa kamu tidak mengizinkannya ke singapura?” tanya Rafael
“hanya takut saja, Xavier sedang ada acara lelang disana saya tidak mau dia mengganggu istriku” jawab Sean
“minta Ryan datang bersamanya atau David” kata Rafael memberikan ide, mereka pun berbincang panjang kemudian Sean kembali kekamarnya yang ternyata tak di kunci oleh Millan sementara Rafael tertidur di sofa di ruang santai yang tak jauh dari kamarnya. Pagi pagi Febi yang memiliki kebiasaan membuka pintu balkon itu terkejut melihat Rafael yang tertidur di sofa
“el, kok kamu tidur disini” tanya Febi yang suaranya membangunkan Rafael
“mami, saya ketiduran “ jawab Rafael yang masih menggeliat untuk meregangkan otot ototnya
“jangan jangan kamu marahan sama Dita atau pintu kamar kamu dikunci?” tanya Febi menyelidiki setelah melihat selimut yang masih menyelimuti tubuh anak bungsunya itu
“entahlah, kenapa wanita Indonesia suka melakukan ini” jawab Rafael enteng
__ADS_1
“eh mami orang Indonesia tapi nggak gitu juga, pasti ada kesalah pahaman, kamu bisa cerita ke mami atau kamu jelaskan ke istri kamu” jawab Febi santai tetapi juga tegas itu membuat Rafael mengangguk mengerti dan beranjak mencoba memeriksa apakan kamarnya masih terkunci atau tidak, mendapati kamarnya tak lagi dikunci dari dalam itu dia pun bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk kekantor, setelah Sarapan Dita dan Rafael berangkat bersama, selanjutnya setiba dikantor Dita bekerja di ruangan Sean bersama Millan meyelesaikan proyek yang hampir rampung, Millan memperhatikan Dita yang beberapa hari terakhir nafsu makannya bertambah itu hanya tersenyum terlebih Sean memanjakan Dita dengan mengirim beberapa makanan, jam makan siang pun tiba Dita meminta izin Rafel untuk makan bersama dengan Intan yang sudah mulai masuk kantir seminggu sebelumnya itu tak bisa menolak, dia tidak mau melihat istrinya itu kesal.
“ya ampun zaenab, loe pesan segini banyak emangnya habis?” tanya Intan yang melihat pelayan mengantarkan dua porsi pesanan Dita
“kalau nggak habis entar loe yang habisin” jawab Dita dengan senyum manja
“nih bocah, kesambet kamu ta?” kata Fajar yang melihat pada Dita dengan senyum keheranan, yang dia tahu Dita bahkan tidak mampu mengahabiskan dua porsi nasi bakar
“sumpah ini pedas banget ta” kata Intan mencicipi nasi bakar yang dipesan Dita, tetapi Dita yang meski kepedasan itu tak menghiraukannya, dia terlihat sangat asik menikmati nasi bakar yang ada didepannya.
“ah kenyang” kata Dita dengan gaya cuek serta senyum lebar pada Intan dan Fajar
“sumpah bambang, loe habisin semuanya” kata Intan yang juga terkejut melihat porsi makan Dita
“iya, ini udah habis” kata Dita santai
“kamu nggak salah minum obat kan ta?” tanya Fajar penasaran
“nggak, gue nggak sakit kenapa gue mesti minum obat” jawab Dita tegas tetapi dengan nada santainya
“ini nih yang bikin baju baju loe kekecilan” canda Intan sengaja mengingat pesan singkat Dita yang mengeluh
bajunya mulai kekecilan
“udah ah, udah hampir jam kantor lagi, balik yuk” kata Dita menghentikan candaan Intan, mereka pun kembali ke
pekerjaan masing masing.
Persiapan makan malam di rumah keluarga Deveraux telah usai, mereka makan bersama suasana pun santai di iringi candaan serta obrolan santai mereka seperti biasa.
“ini makan yang banyak” kata Rafael pada Dita dengan tersenyum memberikan sayuran pada piring Dita, Rafael yang memperhatikan beberapa hari terakhir nafsu makannya bertambah
“makasih sayang” kata Dita, setelah makan malam Febi yang masih di meja makan itu berbincang dengan Isa
“bi Isa besok pagi buatkan sup jagung juga untuk Dita, dia akhir akhir ini selera makannya banyak, jangan sampai
sakit hanya karena tidak menjaga pola makan” kata Febi santai
“begitu ya? Kalau begitu buatkan juga camilan sehat untuknya, dan untuk Millan kamu tanya dia mau apa” kata Febi pada pembantunya
“kalau non Millan nggak repot nyonya asal tidak telalu berlemak” jawab Isa
“kalau begitu untuk Dita buatkan juga yang tidak terlalu banyak lemak” kata Febi
“baik nyonya, oh iya nyonya apa jangan jangan non Dita hamil nyonya?” tanya Isa pada majikannya
“ah nggak mungkin, Dita nggak ada tanda tanda hamil kok” jawab Febi yang juga langsung memikirkan hal itu, membuat Millan yang hendak menghampiri mertuanya itu menghentikan langkahnya
“akhir akhir ini non Dita juga emosinya berubah ubah, kalau tetangga saya waktu hamil juga begitu nyonya selain mual mual” kata Isa menjelaskan
“setau saya Dita nggak mual mual, tapi kalau memang benar hamil aku akan sangat senang sekali, karena aku akan menjadi nenek” kata Febi besemangat, Isa pun ikut gembira melihat majikannya yang berseri seri itu.
Millan yang mengurungkan niatnya untuk menghampiri mertuanya itu kembali ke kamarnya dengan wajah lesu, dia merasa khawatir akan tersingkirkan oleh kehamilan Dita.
“Rafael” sapa Millan yang melihat Rafael di ruang santai di dekat kamarnya
“hai ya Millan” jawab Rafael
“apa yang kamu lakukan disini, dan kenapa membawa selimut?” tanya Millan heran
“tidak ada hanya masih ada pekerjaan tidak ingin menganggu istirahat Dita di kamar” kata Rafael santai, Febi yang
hendak mencari Millan itu menghampiri mereka
“Millan mami nyari kamu, katanya mau diskusi sama mami mau sekarang atau besok?” tanya Febi pada Millan
“besok saja mami, ini sudah malam mami kan harus istirahat” kata Millan sopan
“ya sudah, kamu juga istrihat ya sayang” kata Febi sembari mengusap lembut pipi menantu sulungnya itu
“dan kamu kenapa masih diluar el?” tanya Febi dengan wajah keheranan terlebih lagi ia masih melihat selimut di sisi Rafael yang masih asik dengan laptopnya
“mami, Rafael tidur diluar karena Dita mengunci pintu kamar mereka, sejak kemarin” kata Millan setengah berbisik dan membuat Febi terkekeh
__ADS_1
“kamu kalau nggak bisa mengambil hati istrimu biar tidak tidur luar kamu bisa curhat sama mami atau Millan” kata Febi yang dengan langsung menebak emosi Dita yang berubah ubah akhir akhir ini adalah sesuai dengan apa yang di bicarakannya dengan Isa, dengan senyum lebar Febi pun menuntun Millan kekamarnya dan ia kembali ke kamarnya sendiri
“hei, wanitaku kenapa cemberut?” tanya Sean yang menghampiri istrinya yang sudah di atas ranjang mereka
“tidak ada apa-apa, oh ya Sean apa kamu tidak mengingingkan seorang anak diantara kita?” tanya Millan ragu-ragu. Mendengar itu Sean meraih istrinya ditariknya dalam pelukannya
“ada atau tidak asalkan ada kamu disamping saya, itu tidak menjadi masalah” suara Sean menenangkan Millan, dia
yakin istrinya yang cantik itu mendengar sesuatu hingga mengungkapkan perihal anak di antara mereka
“itu cukup mebuat saya tenang” suara Millan berusaha mengusir kegundahanya sembari memeluk suaminya
“ada apa? hari ini pelukan kamu berberda” tanya Sean yang merasakan istrinya menyembunyikan sesuatu
“tidak ada apa-apa, kamu tidak suka?” tanya Millan balik
“bukan itu, tetapi ada yang berbeda” jawab Sean singkat membuat Millan melepaskan pelukannya
“apanya yang berbeda? Bilang saja kamu tidak ingin saya memeluk kamu” jawab Millan dengan nada gusarnya, dia meraih bantal sekaligus menarik selimut dan menarik tangan Sean untuk beranjak dari ranjang
mereka
“hei sayang, ada apa? kita mau kemana?” tanya Sean dengan senyum gemas melihat perubahan istrinya
“bukan kita, tapi kamu, ini bantal dan selimut silahkan tidur di luar” kata Millan sambil menyerahkan bantal dan selimut yang ia ambil dari ranjangnya setelah tiba didepan pintu. Dia sendiri kembali kedalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam
“sayang dengarkan dulu…” kata Sean hendak menjelaskan akan tetapi di putus oleh Millan dari salam kamar
“tidak mau mendengar apa-apa” jawab Millan terdengar dari luar pintu, Sean pun dengan lemas berjalan menuju ruang santai dimana Rafael berada
“melihat apa?” tanya Sean saat Rafael menatapnya dengan senyum lebar
“apa istrimu juga sudah berubah kepribadian menjadi warga lokal?” canda Rafael pada kakaknya.
“diamlah, saya rasa wanita kita memakan makanan yang salah” jawab Sean lirih sambil meletakkan bantal di sofa dan menyiapkn dirinya untuk berbaring.
Pagi-pagi seperti biasanya Febi yan hendak membuka pintu balkon melihat kini kedua anak lelakinya tidur diluar
“ini ada apa dengan kedua menantuku, atau anak-anakku yang membuat dua menantuku marah?” guman Febi yang melihat kedua anak masih tertidur di sofa. Rafael yang merasakan kehadiran seseorang itu terbangun
“selamat pagi mami” sapa Rafael dengan suara yang masih terlihat belum sepenuhnya terbangung dari tidurnya
“selamat pagi tampan, kenapa kamu masih tidur diluar? Ada masalah lagi? Dan Sean kamu juga kenapa ikut-ikutan tidur diluar?” tanya Febi yang langsung menghakimi keduanya tatkala melihat Sean juga telah terbangun dari tidurnya
“tidak ada mami, hanya menjadi kakak yang baik menemani adiknya yang sedang dalam masalah” jawab Sean dengan senyum tipis serta tatapan lembut pada maminya itu.
“kalian berdua ini ya, sudah jam enam cepetan bangun dan mandi, mami nggak mau dengar lagi alasan kalian” jawab Febi santai, dia mengerti mengapa kedua anaknya bisa tidur diluar, meskipun begitu dia tidak pernah memarahi kedua menantunya. Dua tuan muda Deveraux itu pun beranjak dari sofa dan kembali ke kamar mereka
masing-masing. Di dalam kamarnya Sean mendapati istrinya masih tertidur, setelah bersiap dan hendak memakai dasinya itu dia berjalan menghampiri istrinya yang masih terlelap, di ciumnya kening istrinya dengan lembut
“sebaiknya aku bekerja dirumah hari ini” guman Sean pelan meskipun begitu membuat Millan mengeliat kecil dan terbangun
“selamat pagi” sapa Sean dengan senyum lembut
“selamat pagi, jam berapa ini?” tanya Millan dengan suara lembutnya
“jam tujuh” jawab Sean singkat serta senyum yang tersemat dibibirnya membuat dia semakin tampan itu mengalihkan perhatian Millan.
“tampan, kamu tidak membangungkan saya, dan apa kamu juga akan kekantor tanpa mencium saya?” tanya Millan dengan manja membuat Sean tersenyum lebar
“hari ini saya tidak kekantor” jawab Sean singkat, Millan pun tersenyum lebar dan segera melompat kekamar mandi, hari itu Millan benar-benar rmenghabiskan waktunya bersama Sean. Bahkan hingga makan malam
tiba.
“mami, besok Dita mau pulang ke apartement” kata Dita berpamitan pada Febi di sela sela makan malam yang hampir selesai membuat Rafael terkejut dengan pernyataan Dita
“kenapa tiba-tiba? Kamu nggak suka tinggal disini?” tanya Febi mencoba menyelidiki
“nggak mi, cuma udah lama Dita ninggalin apartement” jawab Dita singkat
“oh ya sudah, sering-sering aja main kesini” kata Febi santai disambut dengan senyum dan anggukan Dita menjawab permintaan Febi. Makan malam telah usai, di belakang Febi dan yang lainnya Millan nampak gundah,
setelah berpamitan pada Febi dan Dita ia kembali ke kamarnya
__ADS_1