
“Sialan, gimana bisa supir itu tertangkap” umpat Cindy ketika mengetahui orang yang disewanya mati kecelakaan
pagi itu.
“sepertinya istri Rafael pun selamat boss” kata seorang pesuruh Cindy
“kalian boleh pergi, tunggu gue diskusi sama papa” kata Cindy pada pesuruhnya kemudian dia juga pergi dari tempatnya.
Sementara itu di kediaman Deveraux
“sayang kamu kenapa bangun, ada mami ada bi Isa, kamu tinggal panggil saja” kata Febi pada Millan yang menuju ruang makan.
“tidak apa apa mami, saya baik baik saja, besok juga sembuh” kaat Millan berusaha menenangkan
“sini mami suapin” pinta Febi dengan penuh kasih sayang, mereka tak nampak seperti mertua dan menantu
“mami, siang ini bisakah kita menjenguk Dita? Lengan Dita terluka lebih parah” kata Millan dengan wajah sedih
“tapi kamu masih sakit, mami saja yang menjenguk nanti mami video call kamu” jawab Febi dengan tulus, dia tak mau menantunya itu keluar rumah sebelum sembuh
“saya pikir tidak perlu, biarkan Rafael merawatnya, bukankah bagus karena mereka baru saja baikan” kata Nicholas yang menghampiri mereka
“iya tapi aku harus melihat keadaan menantuku” jawab Febi seraya menatap suaminya dengan penuh harap
“ok sebelum sore kita akan menjenguknya” kata Nicholas sambil menatap mesra pada istrinya. Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka, Nicholas berbincang dengan Sean dan Ryan, pembicaraan mereka begitu serius, mereka tak menyangka jika truk yang menabrak Dita dan Millan ditemukan terguling dan keadaan menggenaskan, mereka bertiga bahkan belum melakukan apapun hanya mendapatkan informasi pengemudi sekaligus nomor polis
truk.
Rafael yang melihat istrinya masih tertidur lelap itu mendekat dan membelai rambut istrinya, Dita pun pelan pelan
terbangun
“ah sakit” guman Dita sengan suara parau, dia memegangi lengan kirinya, Rafael membantu Dita untuk bersandar
“jangan beranjak dulu, tetaplah disini saya akan membuatkanmu sarapan” kata Rafael dengan lembut, tatapan matanya begitu teduh, dia pun beranjak dan pergi menuju dapur, sementara Dita bangun dan menuju kamar mandi, beberapa menit kemudian Rafael masuk membawakan sarapan dan susu serta jus untuk Dita, dia mendapati Dita sudah berdiri didepan meja rias yang ada di kamarnya, melihat Rafale membawa nampan Dita pun melangkah
menuju sofa yang ada didalam kamar mereka.
“kayaknya gue perlu sering sering sakit biar dimanjain kayak gini, perlu gue kerjain juga nih suami gue” suara hati Dita berguman di iringi dengan senyum manis pada Rafael, Dita menikmati setiap suapan yang diberikan Rafael, dia benar benar memanjakan Dita
“kamu nggak ke kantor?” tanya Dita polos
“ini weekend, untuk apa saya kekantor” jawab Rafael singkat dan fokus pada apel yang dikupasnya
“eh lupa” kata Dita dengan senyum bersalahnya yang dibuat buat, mereka berbincang santai, Rafael tak bosan melihat pada istrinya, dia begitu senang mendapatkan istrinya kembali, hampir dua minggu mendiamkannya kini Dita kembali seperti sebelumnya.
“Dita” suara Rafael memanggil dengan lembut dan mendekatkan duduknya pada Dita
“saya sangat senang melihatmu tersenyum” kata Rafael sembari memegang dagu Dita, dan berlahan mendekat lalu mencium lembut bibir istrinya, Dita mengusap bibirnya setelah Rafael melepaskan ciumannya, dia tak berani melihat pada Rafael
“gak permisi main nyosor aja nih orang” gerutu Dita dalam hati dengan tatapan tidak suka
“minumlah obatmu” kata Rafael sembari menyodorkan beberapa obat pada mulut Dita, kemudian Dita beranjak tetapi Rafael tiba tiba menganggat tubuh Dita ala bridal style dan membaringkan Dita di
ranjang
“yang sakit bukan kaki gue kali” kata Dita dengan sedikit merasa tidak nyaman
“tidak masalah, sekarang istirahatlah” kata Rafael sembari menarik selimut untuk menyelimuti Dita, dia pun berbalik
dan berjalan menuju sofa dan meraih laptopnya yang berada di atas meja untuk mengerjakan sesuatu, sesekali dia menelpon seseorang.
sepuluh hari sudah Dita hari hanya beristirahat, Rafael benar benar tidak mengizinkannya untuk beraktifitas
apapun, lengan dan lukanya pun sudah sembuh, dan tak ada bekas luka karena Rafael membawanya untuk melakukan beberapa perawatan.
“Raf, akhir pekan nanti mami ngundang buat makan malam keluarga” kata Dita sembari memeriksa beberapa kertas yang harus diserahkan kepada Rafael,
“tentu kita akan datang” jawab Rafael dengan memperhatikan istrinya yang berdiri di sudut meja kerjanya. Semenjak kejadian kecelakaan itu kini Dita bekerja di gedung The Deveraux sebagai penerjemah Millan yang merupakan model untuk iklan perusahaan The Deveraux
__ADS_1
“hello baby” Suara Cindy dengan semangat menyapa Rafael membuat Dita dan Rafael melihat kearahnya, Rafael pun langsung meraih telpon dan memanggil keamanan gedung
“Cindy” sapa Dita datar
“ngapain loe disini, mau ganjen loe?” tanya Cindy dengan suara lantang tak sopan
“sorry ya, gue disini kerja, loe nggak lihat ini tanpa pengenal gue” kata Dita santai dengan menunjukkan tanda pengenal karyawan kepadan Cindy
“loe boleh kerja disni, tapi nggak harus diruangan calon pacar gue” kata Cindy melotot dengan suara keras, Dita langsung merebut telpon yang ada ditangan Rafael
“security, tolong datang ke ruangan Mr Rafael, ada tamu tak diundang yang harus dikeluarkan” kata Dita tegas, tak
selang berapa lama beberapa orang datang dan meminta Cindy keluar, diluar kantor Cindy begitu marah dengan perlakuan Dita.
“wow apa sekarang beralih profesi menjadi boduguard saya?” tanya Rafael yang berjalan kearah Dita dan merangkul pinggang Dita
“gue nikah sama loe adalah untuk menjauhkan dia bukan?” tanya Dita datar dan memalingkan wajahnya, membuat
Rafael tertawa
“dan saya jatuh cinta sama kamu” kata Rafael menjelaskan
“oh ya?” tanya Dita sambil melepaskan tangan Rafael, dalam hatinya tidak yakin bahwa Rafael jatuh cinta padanya.
Beberapa menit kemudian telpon kantor Rafael berdering Dita dan Rafael pun meninggalkan ruangan untuk meeting.
***
“bener bener Dita kurang ajar, berani ngusir gue” gerutu Cindy yang duduk sendiri dicafe disebuah mall, seseorang
menghampirinya
“hallo, boleh gabung?” tanya Marrisa dengan suara yang dibuat buat memperlihatkan betapa seksinya dia
“siapa loe?” tanya Cindy dingin
“kenalin gue Marrisa, teman kencannya Rafael” kata Marrisa dengan mengulurkan tangannya mengajak Cindy bersalaman, tapi tak hiraukan oleh Cindy, Marrisa tetap duduk satu meja dengannya
“Marrisa gue tahu siapa loe, dan loe aja nggak bisa mendekati Rafael bagaimana bisa loe bantu gue” kata Cindy
merendahkan
“iya gue memang nggak bisa dan gue udah punya yang baru, lagi pula Rafael sudah punya istri gue bisa cari yang lain” kata Marrisa santai
“gue nggak khawatir sama istrinya” kata Cindy jengkel tetapi nampak tenang
“loe yakin? Rafael itu nempel kayak perangko, kalau loe mau jadi pelakor loe kudu khawatir karena sepertinya Rafael cinta sama istrinya” kata Marrisa yang bersiap hendak pergi karena Cindy terlihat sangat cuek terhadapanya
“Millan dan Rafael jarang bersama, tentu aja gue nggak khawatir, lagi pula dia model dan setahu gue jadwalnya padat” kata Cindy menjelaskan dengan yakin
“hahahaha Cindy Cindy, loe sering datang ke kantor Rafael tapi loe nggak tahu siapa istrinya Rafael” kata Marrisa sambil menertawakan Cindy
“gue udah tahu istrinya” kata Cindy membantah dengan wajah yang penuh kekesalan
“ternyata loe nggak tahu apa apa, istrinya Rafael itu bukan Millan tapi Dita” kata Marrisa yang berdiri dan
sedikti membungkuk mendekat ke telinga Cindy, dia pun pergi dengan tertawa menertawakan kebodohan Cindy, mendengar itu Cindy mulai mengirim anak buah papanya untuk mengawasi Rafael dan ternyata memang benar. Cindy mencari berbagai cara bagaimana untuk menjatuhkan Dita.
“sialan, gue di tipu mentah mentah” suara Cindy geram setelah menerima laporan dari anak buah papanya, dia pun mencari banyak cara untuk menjatuhkan Dita, tiga hari mencari Dimas dan membuntuti Dita dia mendapatkan dua senjata untuk menjatuhkan Dita. Segera Cindy menghubungi Dimas dan mengajak bertemu
“gue punya informasi penting buat loe” kata Cindy segera setelah Dimas duduk di meja yang mereka jadikan tempat
pertemuan
“informasi apa, katakana cepat, saya tidak punya banyak waktu untuk wanita seperti kamu” kata Dimas memberi jarak pada Cindy, lantaran Dimas tahu betul seperti apa Cindy
“Dita, mantan kesayangan loe itu, hanya sebagai istri kontrak keluarga Deveraux” kata Cindy meyakinkan Dimas, wajahnya pun nampak serius
“jangan bodoh, Dita nggak mungkin bersedia menjadi wanita kontrak” kata Dimas menyela dengan wajah tidak percaya
__ADS_1
“loe boleh tidak percaya, tetapi kehidupan Dita jauh diatas lebih baik setelah menjadi istri kontrak dari Rafael
Deveraux” kata Cindy menjelaskan
“bagaimana kamu bisa tahu mengenai ini, bahkan tidak ada berita pernikahan mereka” kata Dimas berusaha menyelidiki
“loe berlagak bodoh? Tentu saja dirahasiakan karena hanya pernikahan kontrak” kata Cindy dengan suara tegas
berharap Dimas percaya.
“kenapa aku percaya sama wanita seperti kamu” kata Dimas mulai terpancing
“loe harus percaya, karena gue menginginkan Rafael, dan loe menginginkan Dita, jadi impas kalau kita bekerja sama” kata Cindy menawarkan sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan disambut dengan senyum jahat oleh Dimas. Cindy pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Dimas yang mulai menulis novel dalam benaknya akan mendapatkan Dita.
“sekarang giliran tante Febi, Dita kali ini nggak bakal ada lagi yang menjadi penyelamat loe” kata Cindy dengan senyum jahatnya sembari mengemudikan mobilnya menjauhi café dimana dia janji bertemu Dimas menerjang hujan.
“el kalian sudah berangkat? Hujan deras banget loh” kata Febi melalui telpon selurer
“iya kami sudah akan berangkat mami” kata Rafael yang kemudian mengulurkan tangannya untuk menggandeng Dita dan keluar melalui apartemennya, kali ini Dita terlihat sangat berbeda, dia mengenakan gaun malam yang terbuka, tetapi terlihat anggun dan cantik, punggungnya yang putih dan halus itu terlihat jelas. Mereka menuju lift tetapi Dita meghentikan langkahnya karena melihat kearah jalan Raya yang bisa dia lihat dari tempatnya berdiri
“sayang, coba lihat deh” kata Dita yang melihat dari kaca transparan, dia memperhatikan jalanan yang akan mereka lalui itu sudah terendam air
“kenapa sayang?” tanya Febi melalui telpon yang masih terhubung dengan Rafael
“jalanan banjir mami” teriak Dita
“ya ampun, ya sudah kalian baik baik dirumah” kata Febi kemudian menutup telponya
“so?” tanya Rafael pada Dita dengan menaikkan pundaknya
“balik, mau gimana lagi” jawab Dita dengan sedikit kecewa, mereka pun kembali ke dalam apartemen mereka
“kok bisa banjir sih, padahal ini kawasan elit huh, kerumah mami cuma da satu jalan itu” gerutu Dita yang kemudian meletakkan telpon selulernya diatas meja, sedangkan Rafael menyiapkan hidangan makan malam kecil untuk mereka berdua, setelah makan malam pun mereka berbincang dan tawa lepas mereka terdengar sesekali, mereka mengulas pertemuan pertama mereka bhakan pemikiran Dita pada Rafael saat itu, membuat Rafael gemas dan sesekali mencubit lembut pipi istrinya
“aku buatkan kopi dulu ya” kata Dita yang melihat jam menunjukkan pukul delapan itu, dia pun beranjak kedapur, Rafael mengikuti istrinya dan berebut membuat kopi, Rafael hanya tak ingin melewatkan malam dimana dia bisa melihat istrinya dengan gaun malam,
“auh” suara Rafael merintih lantaran dahinya terbentur pintu dari lemari gantung yang ada di atas dapur
“sorry, sakit ya, nah langsung begkak begini sini aku obatin” kata Dita yang kemudian menarik Rafael menjauh dari
dapur dan menuju kamarnya, di pandunya suaminya itu untuk duduk dan bersandar pada meja rias sementara dia mengoleskan salep anti memar pada dahi Rafael yang terlihat manja dan masih meringis merasakan sakit yang tak seberapa di dahinya ketika Dita menyentuhnya, pelan pelan tangan Rafael melingkar diantara pinggang
Dita
“kamu sangat cantik hari ini” kata Rafael merayu istrinya dengan suara lembut dan senyum tipis
“jadi biasanya nggak cantik?” tanya Dita dan membuat Rafael tertawa dan semakin mendekatkan Dita padanya,
“cantik, tapi hari ini menggoda, lebih menggoda” kata Rafael yang memainkan jarinya di lengan Dita, mendengar itu
rayuan suaminya Dita tersipu dan memalingkan pandangannya.
“Dita” suara Rafael memanggil Dita dengan lembut seraya berdiri dengan satu tanganya masih melingkar di pinggang Dita dan menariknya untuk lebih dekat.
“hmm” jawab Dita yang mengarahkan pandangannya menatap Rafael, mereka saling menatap semakin mendekat, Dita membiarkan Rafael menciumnya bahkan dia pun membalas ciuman suaminya itu dan tanpa disadari Dita jari jari Rafael mulai menjatuhkan tali dari gaun Dita yang menggantung di pundaknya, hujan yang semakin deras menghiasi malam mereka seakan memihak mereka untuk malam yang romantis di atas ranjang mereka, malam yang dinantikan Rafael mendapatkan Dita tanpa paksaan.
Rafael memperhatikan istrinya tanpa bosan, dia sendiri berpikir apa yang dimiliki wanita yang ada disampinya itu hingga dia begitu ingin menjaga dan mencintainya, dia tersenyum sendiri jika mengingat kalimat kalimat istrinya dimasa lalu, dibelainya rambut Dita dan membuat Dita terbangun dan menggeliat kecil
“good morning” sapa Rafael yang tersenyum disampingnya
“good morning” jawab Dita dengan wajah yang memerah,
“kenapa ngliatin aku kayak gitu? tanya Dita seraya meraih selimut dan mencoba menutupi wajahnya tetapi di halau oleh Rafael yang kembali memeluknya dan mencium lembut bibir Istrinya dan kembali
menarik selimut mereka.
“Rafael hari kamu terlambat dan bahkan kamu tidak bergabung meeting” sapa Sean yang masuk keruangan Rafael
“saya sudah mendapatkan laporan hasil meeting tidak perlu khawatir” jawab Rafael santai, sementara itu di lokasi
__ADS_1
pengambilan gambar untuk iklan Cindy berdiri tak jauh mengintai
“halo tante Febi, apa kabar? Kalau tante punya waktu, bisa kita ketemu?” sapa Cindy melalui telpon selulernya mencoba mencari perhatian Febi, dia benar benar ingin menjauhkan Dita dari Febi yang begitu menyayanginya, dia yakin kali ini bisa mendapatkan kepercayaan Febi dan membuat Dita dimusuhi bahkan diusir dari keluarga Deveraux, Cindy tidak mengetahui jika Rafael menyiapkan keamanan Dita dengan memberikan supir dan bodyguard untuk menjaganya disaat Dita sedang keluar rumah tanpa dirinya.