Untuk istriku

Untuk istriku
Cindy Berulah


__ADS_3

Satu jam sudah berlalu, Dita memandangi orang-orang yang berlalu lalang  dengan santai dan sesekali tertawa melihat kekocakan beberapa orang yang mengambil selfi di tempat taman hiburan itu, wajah Dita benar-benar jauh dari rasa kalut dan sedih, semua hilang hari itu. Senyumnya tiba-tiba menghilang pelan-pelan dan berubah dengan rasa heran dan tertegun bercampur menjadi satu, mobil hitam bersama pengendarainya kembali,


“ajabusyett zaenab mimpi apa dikau semalam, itu orang yang sama, beneran balik” guman Dita pada dirinya sendiri


dengan wajah keheranan.


“ini beneran? Jangan-jangan Cuma mau nyulik gue dengan akal bulus nolingin gue duluan”batin Dita


“iya nolongin gue, terus nyulik gue, dijual” kata Dita lagi meyakinkan dirinya sendiri, ekpresi wajahnya memelas tak


karuan seraya tangis yang dibuat-buat sambil melihat kearah mobil hitam yang di sebelahnya ada Ryan berdiri menunggu Dita, dia pun memalingkan pandangannya dan masih melihat aksi kocak orang-orang yang berselfi. Tiba-tiba seorang pedagang camilan menghampiri Dita dan memberikan telpon seluler kepada Dita, yang


kemudian berbicara pada orang yang memberikannya melalui pedagang itu.


“selamat sore nona Dita” kata lelaki yang memakai setelan hitam disebelah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat


Dita


“saya Ryan, sekertaris sekaligus tangan kanan tuan Sean, apa anda sudah mau pulang? Jangan sungkan nona, saya akan mengantarkan anda kemanapun anda mau” kata Ryan panjang lebar yang di jawab sinis serta tatapan sinis oleh Dita


“iya tapi saya mau naik taksi online saja. Thank you” kata Dita, dia pun  berdiri dan dengan jalan yang masih sedikit pincang dia memanggil pedagang camilan yang sama dan meminta untuk mengembalikan telpon seluler yang


dia terima, dan kemudian menjauh hingga ke pinggir jalan berusaha mencari angkutan umum berharap segera lewat. Kali ini Ryan yang mendekat, dan tanpa Dita sadari sudah berdiri disebelahnya


“maaf nona, ada telpon untuk anda” kata Ryan dengan menyerahkan telpon yang tadinya sudah dipegangnya”


“halo Dita, kalau kakimu masih sakit kamu bisa kedokter” kata Sean dibalik telpon yang sudah berada dikamarnya.


Mendengar suara laki-laki diseberang Dita pun terkejut.


"et dah nih orang sampek bela belain telpon juga, wah beneran ini modus" guman Dita dalam hatinya


“gue udah nggak apa-apa” kata Dita datar sembari melirik tidak suka pada Ryan yang dibalas dengan senyuman.


“up to you, tapi kali ini saya memaksa Dita, paling tidak ada taksi online yang akan mengantar kamu” kata Sean


membujuk


“ogah, mahal” jawab Dita ketus


“kalau begitu terima permintaanku anggap saja sebagai awal persahabatan” kata Sean yang masih membujuk Dita, akhirnya Dita pun mengalah, lagi pula kalau dia naik angkutan umum dia harus tiga kali oper karena sudah sore. Ryan pun bergerak dan mengambil mobilnya kemudian menghampiri Dita, tak lupa sebelum masuk ke kursi belakang Dita mengambil selfie dan mempostingnya di aku social media miliknya yang tak pernah dia buka


untuk siapapun itu.


“kali ini gue sombong, naik mobil mewah cuy, tapi maaf hanya tumpangan” caption Dita di akun social medianya di ikuti emoji yang pasti membuat siapa saja yang membacanya akan tergelak. Mobil pun melaju mengantarkan Dita pulang ke kontrakan sempitnya


Suara notifikasi terdengar dari ponsel Sean, dia pun meraihnya dan memeriksanya, seketika dia tertawa geli melihat aksi Dita di social medianya


“oh my little princes” katanya dengan senyum lebar.


Sinar matahari sudah mengintip, Dita masih malas ditempat tidurnya, rasanya dia tidak ingin beranjak, lututnya masih terasa sakit tetapi dia harus bangkit untuk bekerja mencari sesuap nasi, sementara itu gedung Deveraux Intan sudah berada di ruangan Nicholas dan beberpa staf penting lainnya.


“saya akan pergi beberapa waktu untuk pengembangan anak perusahaan di London, jadi semua akan saya serahkan pada Sean putra sulung saya” kata Nicholas menjelaskan kepada seluruh staf pentingnya


“jadi seminggu ini kita akan banyak melakukan meeting, saya harap kalian tetap bekerja dengan maksimal dan menjaga kesehatan” kata Nicholas menambahkan, berita penggantian sesaat itu telah disebarkan ke semua karyawan. Semua menyambut gembira, memang itulah alasan kedatangan Sean. Meeting pun dimulai, ide desain produk baru pun menjadi kesepakatan meeting itu, Intan sebagai Desainer pun hari itu juga langsung menyerahkan


beberapa rancangan desainnya


“Mr Sean, ini rancangan desainnya”sambil menyerahkan kepada Sean yang duduk disofa, ada Nicholas juga, dia ikut memeriksa desain rancangan Intan


“Intan bisakah kamu sedikit memambahkan aksen gothic untuk yang ini” kata Sean sambil menyerahkan selembar kertas kepada Intan


“baik Mr” kata Intan yakin


“kalau yang ini, bisakah kamu membuat siapa saja yang melihatnya langsung berpikir bahwa ini adalah Leonardo Decaprio” kata Nicholas memberikan selembar kertas yang didapat dari Sean, pernyataan itu membuat Intan bingung, karena selama dia menjadi desain belum pernah dia melakukan itu, memuat sebuah desain interior yang bisa membuat orang langsung memikirkan Leonardo Decaprio atau siapa itu.


“mungkin itu ide bagus” Sean menambahkan dengan yakin.


“aku rasa oke, hanya tiga yang perlu perubahan, kamu boleh kembali, call me if you need my help” kata Sean sambil mengerlin-gkan matanya pada Intan, dengan berpikir Intan meninggalkan ruangan.


“mati guee, kalo gue nggak bisa gimana” gerut Intan diluar ruangan, dia berjalan kemeja kerjanya dengan raut muka kesal dan bingung, sesekali menggerutu.

__ADS_1


“Rafael sudah datang?” tanya Nicholas yang tiba-tiba muncul membuat Intan berbalik.


“belum Mr” jawab Fajar yang sejak dari meeteng mengekor pada Nicholas


“Intan kamu bisa meminta bantuan Dita, kalau kamu sampai gagal dengan desain ini kamu saya pecat” ancam Nicholas dengan senyum jahatnya, dia tidak bermaksud dengan kalimatnya hanya agar Dita kembali dan bersedia datang


“waktu kamu dua minggu” kata Nicholas menambahkan lalu pergi melangkahkan kakinya menuju lift.


Intan pun dalam sehari mengirim pesan berkali-kali pada Dita, bahkan weekend pun Intan merengek pada Dita, alhasil Dita tidak menginap dirumahnya lantaran jengkel. Dia tidak mau lagi datang ke kantor The Deveraux. Sepuluh hari sudah Intan mengejar Dita lantaran desain yang di revisi belum diterima oleh Sean. Nicholas pun membuntuti Intan yang sedang


menemui Dita


“Ditaaa sayangg” suara Intan manja menghampiri Dita, yang tak dibalas dengan suara hanya tatapan kesal


“ta, loe marah sama gue?” Tanya Intan yang dijawab dengan gelengan kepala


“ngomong dong ta” kata Intan lagi, yang hanya dijawab dengan tatapan, Intan pun memasang muka sedih berharap sahabatnya


mau membantunya.


“gue nggak marah tapi sebel sama loe” gerutu Dita tanpa menatap pada Intan dan beranjak dari tempat ia duduk dan melangkahkan kakinya, Intan pun berlari kecil mengikuti langkah kaki Dita


“kasihanilah zubaidah yang manis ini zeanab sayang” kata Intan merajuk dan masih mengikuti Dita, merak tak menyadarijika mereka juga dibuntuti mobil Nicholas.


“gue nggak mau” suara Dita dengan suara tinggi yang bisa didengar dengan jelas oleh Nicholas


“Ditaaa oh zaenab tolonging gue, baim lagi kesusahan ini ya Allah, gue bisa dipecat ta” kata Intan merajuk dan dengan menggoyangkan badannya memohon pada Dita, tangis yang dibuat-buat menghiasi ulahnya dan masih mengikuti Dita yang berusah berlalu darinya, pemandangan itu membuat Nicholas tertawa sebab tingkah Intan yang tak pernah ia lihat dikantor. Akhirnya Dita setuju tetapi dia memberi syarat


“ok gue bakal bantu loe tapi dengan syarat” kata Dita tegas dan tatapan tajam yang tidak bisa ditawar


“syarat apa ta” Tanya Intan dengan senyum manja penu kemenangan”


“gue nggak mau ketemu boss loe yang


kemarin itu, dan kalau sampai dia muncul didepan gue, loe harus resign kedua loe tranktir gue selaman seminggu ini” kata Dita tegas dan bermakna ancaman, semburat kemarahan ada didalam matanya


“itu sama aj loe mecat gue ta kalau …. Iya iya gue terima syarat loe” Intan menyela tetapi tidak meneruskan kata-katanya karna dia akan melaporkannya pada Nicholas,  pada akhirnya dia memeluk Dita kegirangan, Dita memberitahukan besok dia akan datang.


Intan sudah merasa khawatir lantaran dia belum melihat bossnya dan Dita janji datang jam Sembilan, dia takut kalau sahabatnya itu berpapasan dengan Nicholas. Intan yang sudah menuunggu dilobi itu melihat Dita dan langsung menghampirinya, Intan menggandeng lengan Dita dan berjalan menuju meja kerja Intan, tak butuh dua jam desain yang di inginkan sudah dikerjakan oleh Intan yang dibantu Dita dank arena sudah selesai Dita pun


pamit. Diantarkannya Dita hingga pintu masuk, Intan segera cepat-cepat berlari kemeja kerjanya. Rafael yang mengetahui Dita meninggalkan ruangan tanpa disadari dia pun keluar dan mengambil mobinya


“beberapa hari aku tidak bertemu dengannya mungkin aku bisa mengajaknya makan siang” guman Rafael dalam hati


Sean yang baru datang itupun bertemu dengan Dita, dia tersenyum pada Dita yang menuruni anak tangga yang hanya empat didepan kantor


“Mr Sean” sapa Dita dengan senyum manis, terlihat disenang berjumpa lagi dengan Sean.


“Dita” sapa Sean dengan senyum, kali ini Sean tak banyak Bicara karena melihat Rafael turun dari lift yang terlihat


jelas dari luar, lift khusus dari lantai kantor mereka.


“nice to see you again Dita” sambil tersenyum pada Dita, mata birunya begitu menenangkan dan melindungi, itulah


yang dirasakan Dita.


“same here Mr Sean” balas Dita


“but I have to go now, waktunya ngajar” kata Dita sembari menunjukkan jam tangannya, dia hanya mencari alasan untuk segera beranjak dari kantor itu, dan Sean tahu itu karena sejak dia belum tiba ke Indonesia dia sudah sangat mengenal Dita. Gadis itu pun bergerak melangkah tanpa menunggu jawaban Sean


“ and thank you untuk tumpangannya” katanya saat dia bersebalahan persis dengan Sean , itu membuat Sean tertawa. Dita pun bergerak maju, begitu pula Sean, dia menyapa satpam yang menyambutnya


“ckckck tidak tahu malu” kata Cindy yang berpapasan dengan Dita sebelum Dita sampai dipintu gerbang kantor


“ngapain loe kesini” Tanya Cindy dengan muka jutek dan sombongnya, Dita yang dengan santai tetapi tatapanya tajam bak singa yang ingin menerkan Cindy itu mendonggakan kepalanya melihat papan nama perusahaan


“ini bukan kantor loe, juga bukan punya bokap loe, ya suka-suka gue mau kesini apa nggak” jawab Dita ketus dan dengan tatapan tidak sukanya yang tajam


“berani loe sama gue” gertak Cindy


Sean yang masih berdiri dua puluh langka dari Cindy dan Dita mendengar dengan jelas bahwa Cindy sengaja menjatuhkan Dita dan terlihat Cindy berusaha memojokkan Dita.

__ADS_1


“jangan menggunakan kekuasaan bokap loe, berani loe sama gue?” Dita menggertak balik dan membuat Cindy tak mampu berkata-kata karena tahu dia pasti kalah dibanding Dita. Sementara Dita memandang pada Cindy dari atas hingga bawah ditatapnya dengan tatapan jiji. Tanpa disadari Dita tangan Cindy melayang menampar Dita sangat keras


“sebentar lagi ini bakal jadi milik gue, dan loe nggak akan gue izinin masuk, ngeti loe” bentak Cindy, terang saja


pengakuannya itu membuat Sean geram, lelaki blesteran anak dari Nicholas dan Febi itu memahami betul ucapan Cindy, dia naikkan alisnya dan menatap pada Cindy, tatapan yang ingin mengubur hidup-hidup. karena menampar Dita


“bangun dari mimpi loe, Deveraux tidak akan menerima orang kayak loe, kata Dita dengan tatapan sinis serta wajah jutek dia juga memegangi pipinya memar memerah kare abekas tamparan yang tertinggal dan kemudian pergi meninggalkan Cindy dangan menggelengkan kepala, Cindy yang kesal itu pun masuk ke kantor dan di loby dia dengan muka tengilnya bertanya pada resepsionis


“mbak Mr Rafael ada?” Tanya Cindy, dia


mengacuhkan Sean yang sedang berbicara pada resepsionis, dia sengaja mendekati


resepsionis untuk menghentikan wanita yang baru saja masuk kekantornya itu.


"Mr Rafael sedang keluar mbak" kata resepsionis


“yang bener deh mbak, sampaikan saya mau ketemu” katanya memaksa dengan tatapan tidak suka


“beneran mbak, Mr Rafael keluar sekitar sepuluh menit lalu” kata resepsionis.


“eh mbak, tau kan siapa saya, sebentar lagi bakal jadi pacarnya, dan akan menjadi istrinya, mbak tinggal bilang dia


kemana “ kata Cindy dengan nada membentak, sean pun menpuk bahu resepsionis itu


“I don’t like her” kata Sean dengan tatapan dingin pada Cindy


“siapa nih orang, tampan sih tapi karena gue nggak pernah lihat paling juga bawahan”


guman Cindy dalam hati, dia tidak pernah bertemu dengan Sean sebelumnya


“sudah saya mau ke ruangannya,jangan macem-macem sama saya” kata Cindy menggertak dan melangkahkan kakinya, Sean yang berdiri dengan satu tangan didalam saku itu langsung mencegah dengan menarik lengan Cindy


“hey who are you?” Tanya Cindy setengah membentak dan menatap tidak suka pada Sean


“Sean, you not allowed to come” jawab Sean singkat seraya memegang erat pada lengan Cindy dan dengan tatapan tajam serta terdapat amarah didalamnya


“lepasin gue bodoh! Gue ini calon pacarnya Rafael” bentak Cindy dan hanya membuat Sean berseringai pedas, seolah mengejek Cindy, semua yang ada disana hanya diam termasuk Intan yang baru saja


tiba dilobi.


"mati loe nenek lampir" kata Intan yang melihat Cindy dihadang oleh Sean


"iya belum tentu jadi pacar aja blagu" kata karyaan yang lain ynag berdiri disebelah Intan


“you don’t know who I am” Suara Cindy menganjam dengan suara tertahan


“I know you very well” kata Sean yang semakin kencang menggengam lengan Cindy hingga gadis itu meringis kesakitan. Tatapan dan senyum kejam Sean tak terelakkan, disaksikan beberpa karyawannya,


Cindy menatap Sean dengan sedikit gemetar, tatapan mata setan yang seolah siap melenyapkannya detik itu


“I will report you to Rafael he will …”kata Cindy mengancam dan hanya dijawab tawa kejam oleh Sean, membuat Cindy menghentikan kalimatnya.


“you not get any permission to come in my office” bentak Sean yang membuat Cindy tak mau kalah


“do you know who I am?” Tanya Cindy dengan sombongnya dia juga bersuara keras


“yes” jawab Sean singkat dan pelan tapi masih didengar oleh semuanya tatapannya pun terlihat semakin kejam, dan yang melihatnya bisa bergidik dibuatnya, Cindy hanya meringsek bersama


kesombongannya


“Cindy Ayusita Putri Subrata, anak perempuan Anton Subrata, dikirim kemari untuk menjadi wanita ****** menggoda Rafael” kata Sean dengan lancar tanpa memalingakn tatapan kejamnya pada Cindy membuat Cindy


tak bersuara, keringat dingin berasa keluar dari tubuhnya. Sean pun mengibaskan lengan Cindy yang membuat dia hampit terjatuh


“get out from may office” kata Sean yang kemudian berjalan menuju lift dengan satu tangn disimpan disakunya


"tamparan yang kamu berikan akan ada balasannya kelak" kata Sean dingin tanpa melihat pada Cindy


“satpam seret dia keluar” teriak Sean  pada satpam yang berdiri tak jauh dari meja respsionis. Dan satpam itu tak perlu menunggu dia bergerak dan akan menyeret Cindy


“gue bisa keluar sendiri” bentaknya ~~~~dengan wajah malu sekaligus kesal dia meniggalkan kantor

__ADS_1


__ADS_2