
Rafael yang terlalu lelah dengan aktivitasnya seharian itu tak kuasa menahan kantuknya, dia tertidur disofa
diruang tamu apartemennya, sementara Dita dalam perjalanan pulang dia memikirkan perkataan Intan, dia merasa sebagai Istri dia benar-benar bodoh, kenapa tidak terpikirkan olehnya bagaimana mengambil hati Rafael, bagaimana kalau dia masih melirik kepada Cindy atau tergoad oleh rayuan Cindy terlebih dia tidak pernah sekalipun disentuh oleh Rafael. Pikirannya kacau dia kesal dan kecewa, tapi kenapa Rafael mengirimkan uang sebanyak itu dan memintanya belanja sekaligus bersenang-senang kalau Rafael tidak peduli padanya.
“ah nggak mungkin dia masih melirik Cindy” g~~~~uman Dita dalam hatinya
“gue nggak akan ngebiarin itu, jika yang dikatakan papi adalah benar, dan itu pasti bener, maka gue akan menjauhkan suami gue dari Cindy atau dari om Anton, tidak hanya Rafael, tetapi keluarga Deveraux dan The Deveraux itulah kenapa gue mau menerima lamaran Rafael” guman Dita lagi dalam hatinya lagi dia pun menarik
napas panjang
“anda baik baik saja nona? Tanya Ryan yang duduk dibelakang kemudi
“iya, Cuma capek aja” jawab Dita singkat lalu kembali melihat kearah kaca mobil. Setiba di apartemen Ryan membawakan tas belanjaan Dita hingga di pintu apartemen, Dita pun menerima tas belanjaanya kembali, lalu masuk dan mengunci apartemennya.
“yang bener aja, tidur disini” guman Dita pelan ketika membalikkan badannya dia melihat Rafael tertidur pulas,
dipandanginya wajah suaminya sambil berjalan pelan agar tidak berisik, kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya, dia berganti baju dan kembali ke ruang tamu, dilihatnya lagi suaminya, Dita meraih ponsel yang ada ditangan Rafael, dan mencoba melepaskan dasi yang sudah agak longgar itu, diliriknya ponsel Rafael
“ini kan gue, hmm diam-diam loe merhati-in gue” kata Dita yang duduk disebelah rafael yang berbaring disofa sambil tersenyum tipis, diusapnya rambut suaminya itu
“maafkan aku ya suamiku, aku janji setelah ini aku akan berusaha menjadi istri yang baik, seperti janji kamu yang
selalu menjagaku, mengirimkan bodyguardmu yang selalu siaga menjaga keselamatanku” kata Dita pelan membuat Rafael bergerak tetapi tak membuatnya bangun dari tidurnya. Dita beranjak kedalam kamar Rafael dan mengambil selimut hendak menyelimuti suaminya yang tertidur disofa.
“Dita” igau Rafael dengan tersenyum
“jangan jangan denger gue ngomong apa” guman Dita dalam hati raut muka panik, dia pun melambaikan tangannya di depan wajah Rafael yang masih tertidur untuk memeriksa suaminya terbangun atau tidak, tetapi hanya mengigau dia juga hanya bergerak sedikti tetapi tak ada tanda-tanda bangun atau mendengar apa yang baru saja Dita katakan, dipandanginya wajah suaminya yang tertidur seperti bayi dengan tersenyum,
“baru sadar gue, kalo suami gue ternyata tampan juga” katanya dengan tersenyum lebar. Dita pun menyelimuti suaminya, dia sendiri masuk kedalam selimut dan tidur samping suaminya, pertama kali dia mendekat pada suaminya tanpa ragu, dalam benaknya dia istri yang bodoh dan durhaka, meski tanpa dia ketahui Rafael sendiri tak lagi tertarik dengan Cindy lantaran sudah jatuh cinta padanya. Jam dua pagi Rafael terbangun, dia mendapati
istrinya berada disampingnya didalam pelukannya,
“Dita” katanya pelan dan parau, senyuman tersemat dibibirnya, dia tak ingin melewatkan kesempatan langka yang tak pernah ia dapatkan sejak menikah, dikecupnya dengan lembut bibir istrinya yang tertidur pulas, Rafael pun kembali tidur sembari mendekap erat istrinya.
Sinar matahari pagi mencuri masuk memalui sela sela gorden yang tak tertutup dengan sempurna, Rafael dan Dita
bangun bersamaan.
“good morning sapa Rafael dengan senyum lembut pada Dita yang menggeliat didalam pelukannya itu
“good morning” jawab Dita pelan, dia pun berusaha bangkit, tetapi karena sofa yang tak seluas ranjang itu membutat Dita terjatuh dari sofa
“aduh, sakit tau” kata Dita memelas dengan wajah yang masih setengah sadar itu memengelus pantatnya.
“Sorry honey” kata Rafael yang tak bisa mencegah jatuhnya istrinya karena mendadak Dita terbangun itu berusaha membantu Dita berdiri.
“ih sana jauh jauh-jauh” kata Dita menepis tangan Rafael dan memintanya menjauh, dia pun berdiri lalu berjalan
menuju kamarnya.
“semalam tidur dipelukan saya, sekarang meminta saya menjauh. ahh” kata Rafael menggerutu dengan gemas. Dia pun bangun dan beranjak dari sofa menuju kamarnya, dilihatnya ada sebuah tas belanja diatas nakasnya tanpa dia pedulikan dia menuju kamar mandi dan segera bersiap untuk kekantor. Setelah dia bersiap dan hendak berangkat diraih dan dilihatnya tas yang berada diatas nakas, melihat isinya Rafael pun tersenyum.
“bagaimana dia tahu seleraku, she is my wife of course she knows” gumannya yang hanya bisa didengarnya sendiri lalu menyimpan isi dalam tas itu kedalam lemarinya dengan senyum yang tak menghilang dari bibirnya,
“my lovely wife, boleh saya minta secangkir kopi?” tanya Rafael pada Dita yang sedang berada di dapur
“mampus gue, sejak dibilang nggak usah masak kan gue nggak pernah masak buat dia, selama ini dia bikin sarapan sendiri, nggak jarang dia juga bikinin gue” kata Dita dalam hatinya dengan wajah penyesalan Dita mengingat bahwa selama menjadi istrinya belum pernah sama sekali dia membuatkan sarapan untuk Rafael
“kebangetan loeh Dita, nggak care banget sama suami loe” kata Dita lagi dalam hatinya, dia masih membelakangi Rafael yang berdiri di pintu dapur menanti jawaban istrinya, karena tak kunjung mendapat jawaban Rafael berjalan masuk kedapur dan meraih gelas tetapi tak melanjutkannya karena Dita besuara
“mau ngapain?” tanya Dita seperti sedang mengintrogasi
“coffee” jawab Rafael santai dengan menunjukkan gelas yang dipegangnya.
“terus ngapain minta kopi sama gue?” tanya Dita datar dengan wajah penuh tanda tanya, Rafael hanya bisa diam dan menghela nafas, meski dia sering memperhatikan istrinya tetapi dia masih belum bisa memahami istrinya, terkadang baik, enak diajak ngobrol apa saja terkadang culas dan cuek, tetapi dia terlanjur jatuh cinta dia pun tak membantah istrinya. Diletakkannya kembali gelas yang dipegangnya Rafael melangkah pelan menuju dimeja makan yang hanya berjarak lima langkah, diletakkanya jas yang belum dipakainya itu diatas sandaran kursi, Dita menyuguhkan kopi yang diminta Rafael di atas meja
__ADS_1
“mau aku buatkan sarapan?” tanya Dita pelan pada Rafael yang sedang mencari sesuatu didalam kulkas, mendengar pertanyaan itu dia hanya tertegun dan tersenyum heran, ada apa dengan istrinya, selama ini tidak pernah menawarkannya sarapan atau membuatkan apapun untuknya.
“membuatkan sarapan? Untuk saya?” guman Rafael dalam hatinya masih dengan tatapan heran pada Dita. Rafael berjalan kearah Dita yang tidak melihat pada Rafael lantaran membuat sesautu, dipeluknya Dita dari belakang dengan lembut dan pelukan yang menghangatkan perasaan Dita, dia merasakan cinta yang besar dalam pelukan Rafael.
“thank you Dita” kata Rafael
“thank you untuk apa?” tanya Dita yang seolah tidak peduli dengan pelukan suaminya, tangannya masih bergerak menyiapkan sarapan
“thank you untuk baju dan pelukan semalam juga untuk kopi pagi ini” kata Rafael dengan suara lembut serta senyum yang tercipta dibibirnya
“biasa aja” jawab Dita santai, tangannya terhenti ketika Rafael memegang tangannya dan melepaskan pisau dari tangannya
“hari ini tidak usah memasak untuk saya, kita makan diluar” katanya yang masih memeluk Dita dari belakang
“ini udah terlanjur dipotong” jawab Dita sedikit kecewa
“its ok” kata Rafael lagi menenangkan, lalu dia menarik tangan Dita mengajaknya keluar
“eh kopinya, udah susah susah dibuatin mau di tinggal gitu aja” gerutu Dita membuat gelak tawa Rafael mengisi ruangan apartemennya gemas dengan tingkah istrinya. Mereka berdua pun keluar bersama, Rafael membawa Dita di sebuah restoran mewah
“kamu mau makan apa?” tanya Rafael pada Dita yang masih bingung memilih menu
“et dah suami gue boros banget, buat sarapan aja satu menu ngeluarin duit empat ratus ribu”guman Dita dalam hatinya melihat menu menu yang juga tertera harganya itu. Akhirnya dia menunjuk pada soup yang sering dia makan bersama ayahnya bertahun-tahun lalu.
“mbak saya mau ini, oh iya nasi juga ya mbak porsi kecil” kata Dita pada pelayan seperti dia memesan seperti
sebelumnya, jauh sebelum ayahnya meniggalkannya untuk selamanya, dan Rafael pun memesan yang sama, pagi itu benar-benar pagi yang berbeda untuk Rafael juga untuk Dita, setelah sarapan Rafael mengantarkan Dita kembali ke apartemen
“akan ada beberapa bodyguard yang berjaga, kamu tidak perlu takut” kata Rafael yang memastikan istrinya hingga masuk kedalam apartement itu menjelaskan.
“lagian ini kan apartemen privat, nggak akan ada apa apa, aku aman disini” kata Dita menjelaskan, dalam benaknya pasti sudah mendengar tentang semalam
“ya, saya hanya ingin memastikan keamanan kamu, saya berangkat kekantor” kata Rafael dan mencium lembut pipi istrinya lalu pergi meninggalakan Dita.
“maaf tuan Sean, Anton Subrata semakin menjadi, dia mencari nona Dita, dia juga mengirimkan orang suruhannya untuk mencelakakan nona Dita” kata Ryan memberikan informasi
masalah” kata Sean memerintahkan dengan serius
“baik tuan” jawab Ryan
“Sean saya ingin bertanya tentang ini” tanya Rafael pada Sean yang masuk kedalam ruang kerja Sean tanpa mengetuk pintu sembari menyodorkan sebuah map pada Sean, diterimanya map itu lalu diperiksa
dokumen yang ada didalamnya, nampak wajah yang tidak senang.
“kamu tetap lanjutkan meeting untuk urusan ini, saya akan tangani sisanya” jawab Sean tajam dan mantap
“beraninya dia bermain-main dengan Sean Deveraux” guman Sean geram dengan mengepalkan tangannya.
“kamu sudah meminta pak Bam untuk menghubungi kolega kita yang berada di Australia?” tanya Sean pada Rafael
“semua sudah selesai, hanya tinggal masalah ini, katakan padaku jika kamu mau aku turun tangan” Jawab Rafael
sembari memberikan pengertian pada kakanya itu, dia menepuk bahu Sean lalu meninggalkan ruangan Sean
“jangan lupa hari ini mami memintamu makan malam dan menginap dirumah” kaat Sean mengingatkan Rafael yang sudah sampai di pintu, dia berbalik menatap Sean dengan senyum tipis, begitu pula Sean yang raut mukanya sudah sedikit santai
“bersiaplah, aku akan menjemputmu setelah ini kita akan menginap dirumah mami” pesan singkat Rafael pada Dita.
Mendapat pesan singkat Rafael Dita langsung cepat-cepat bersiap, dia sudah kangen dengan Febi, dia ingin menceritakan semua perjalanannya selama seminggu, hampir sama sekali dia tidak menemui mertuanya itu.
Di kediaman rumah besar The Deveraux Dita merasa ada yang aneh, tidak biasanya ada beberapa pelayan terutama dibagian dapur.
“ada apa ini, kenapa rumah begitu banyak pelayan, biasanya hanya dua sampai empat orang saja” guman Dita dalam hati dan memandang dengan heran.
“mami” panggil Dita yang berjalan masuk kedalam rumah
__ADS_1
“welcome my darling” sapa Nicholas yang begitu gembira melihat kedatangan Dita
“papi”sapa Dita dengan suara yang bersemangat dan langsung memeluk Nicholas, [ jangan heran mereka juga dekat karena Dita selalu kontak Nicholas begitu juga sebaliknya, Nicholas seperti
memiliki anak baru]
“apa saya tidak salah melihat?” tanya Rafael yang heran melihat kedekatan Dita dengan Nicholas, Nicholas hanya tertawa renyah karena gembira berkumpul lagi dengan nya, Nicholas mengangkat tangannya memanggil Rafael untuk mendekat dan memeluk putranya dan menantunya bersamaan.
Febi yang sibuk memngarahakan pelayan dimeja makan itu pun langsung menghampiri Rafael dan Dita.
“mami Dita kangen” kata Dita yang dipeluk Febi erat sekali,
“bagaimana kabar kalian? Apa seminggu ini akur?” tanya Febi menatap Dita dan Rafael bergantian yang kemudian
menggandeng Dita keruang tengah
“kami akur” jawab Rafael singkat dia pun meraih gelas yang disuguhkan pelayan padanya
“hmm anggur prancis” guman Rafael dengan senyum puas sambil memperhatikan gelas yang dipegangnya
“bi Isah. Tolong buatkan jus jeruk dan jus alpukat kesukaan nona Dita ya” kata Febi pada pelayannya dengan lembut
“baik nyonya” jawab bi Isah lalu dia pun berlalu menuju dapur.
Setelah makan malam Dita berbincang-bincang dengan Nicholas serta Sean banyak sekali, dia juga bercerita melihat orang yang mengikutinya, dan mengenal orang itu, Dita yang pandai menggambar itu pun mencoba mengingat sketsa wajah orang itu, Dita tak merasa pebincangan itu adalah perbincangan yang aneh, dia juga mengeluhkan banyak hal pada Nicholas dan Febi yang membuat mereka tertawa.
“sudah malam sayang sebaiknya kamu istirahat” kata Febi yang memperhatikan jam yang melingkar ditangan suaminya, Dita pun mengangguk dan beranjak menuju tangga, naik ke kamar Rafael yang ada dilantai atas.
“sudah selesai sayang?” kata Rafael yang terbaring disofa, membuat Dita terkejut dan terlihat sedikit bingung karena dia tidak menyadari Rafael sudah didalam kamar.
“jadi aku tidur dimana” tanya Dita datar dengan wajah yang masih terlihat bingung
“kamu mau tidur dimana?” tanya Rafael dengan senyum kemenangan, Dita pun memilih, tetapi mendengar jawaban Dita membuat Rafael membatah, perdebatan kecil pun terjadi.
Akhirnya Rafael yang sudah berpindah keranjangnya itu hanya diam ketika Dita merebut selimutnya dan menyiapkan tidurnya dilantai, tiba-tiba Febi yang masih mendengar suara langsung masuk
“Dita kenapa kamu tidur dilantai” kata Febi yang terbelalak melihat Dita menyiapkan selimutnya dilantai, membuat Dita terkejut tak karuan
“mam-mami” kata Dita dengan wajah terkejut, Febi melihat pada Dita dan Rafael bergantian
“el ada apa ini, kenapa kamu biarkan istri kamu tidur dilantai,?” tanya Febi heran
“kami bertengkar mi” kata Dita singkat mencari alasan dengan wajah yang masih panik
“ya ampun kalian ini, menikah baru seumur jagung sudah bertengkar” kata Febi dengan menggelengkan kepala heran
“Dita tidak mau mendengarkan saya” kata Rafael menambahkan dan hendak mengerjai istrinya
“Rafael bikin Dita kesal mi” kata Dita yang tidak mau kalah, mereka pun berdebat didepan maminya beberapa menit, Febi hanya melihat bergantian pada menantu dan anaknya lalu menepuk jidatnya
“sudah sudah sudah, sudah malam kamu Dita nggak boleh tidur dilantai, dan kamu el kamu tidak boleh biarkan istri
kamu tidur dilantai, ini perintah!” bentak Febi pada keduanya yang kemudian membuat mereka diam, lalu Febi pun meninggalkan kamar mereka, dan menutup pintunya. Rafael tersenyum puas dijawab Dita dengan senyum tipis yang dibuat-buat, lalu melangkah menuju sofa
“kata mami nggak boleh tidur dilantai, bukan sofa” kata Dita dengan senyum lebar dan menatap Rafael yang kemudian membanting tubuhnya diatas kasur karena Dita mendapatkan cela menjawabnya.
Tak selang berapa lama pun Dita sudah tertidur pulas, sementara Rafael tidak bisa tidur karena informasi pak Bam
bahwa Dita di ikuti oleh orang-orang Anton dan berniat menghabisi Dita, Rafael pun beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju sofa tempat Dita tertidur, dilihatnya wajah istrinya itu, terlihat sangat lelah, karena seharian dia beraktivitas diluar. Rafael tersenyum tipis melihat sofa yang menjadi tempat tidur istrinya itu
“seberapapun saya menginginkannya saya akan menunggu kamu sampai kamu mencintaiku Dita,, saya tidak ingin memaksamu, saya ingin ada cinta dimatamu” guman Rafael pelan dan membelai rambut istrinya
“saya tahu kamu menerima menjadi istri saya bukan karena cinta, tapi ingin menjauhkan musuh kita yang justru
membahayakan kamu” guman Rafael pelan, dia pun mencium lembut bibir istrinya dan memindahkannya ke atas ranjang, dia sendiri menggantikan Dita di sofa yang pasti membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Pintu kamar yang tidak tertutup rapat membuat Febi yang kebetulan lewat dan mencoba menutup pintu itu melihat kedalam
__ADS_1
“ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana aku bisa cepat punya cucu kalau tidurnya terpisah, besok aku mau lihat ke apartement mereka benar benar pisah ranjang atau bagaiamana” guman Febi yang kemudian menutup pintu kamar Rafael