
“hemmm ta loe nggak nginep lagi dong dirumah gue” guman Intan dengan raut muka kecewa dan mengacuhkan piring makanan yang ada didepannya, sementara Dita asik dengan jus alpukat kesukaanya
“siapa bilang?” jawab Dita sigap
“gue besok mau kok nginep” kata Dita dengan senyum lebar dan alis naik turun
“serius loe! Suami loe nggak marah?” tanya Intan penasara, Dita hanya menggelengkan kepala
“wih lagi banyak duit loe?” kata Intan yang melihat Dita mengeluarkan sesuatu dari dompetnya tak sengaja Intan
melihatnya
“bisa shopping bentar dong” kata Intan lagi dengan semringah, dia menerima sesuatu yang diberikan Dita
“itu buat loe, hadiah dari gue” jawab Dita semangat dan senyum bangga
“tumben loe baik sama gue, tu duit jatah?” goda Intan sambil bertanya pada Dita dengan tatapan penasaran dan ekpresi jailnya
“bukan, gue dapat murid yang mau belajar bahasa Indonesia” jawab Dita dengan semangat sambil melanjutkan memakan camilan yang dipesannya
“wah loe hebat ta, udah suami kaya raya masih tetep kerja sengsara” puji Intan
"ya elah Zubaedah, gue bukan istri matre kali tantan" jawab Dita santai
"matre juga boleh diakan udah suami loe dan lagian ya kita ini ditakdirkan jadi matre, cewek kan udah dari sananya matre nab" seloroh Intan dengan semangat tetapi senyumnya berangsur hilang ketika melihat Cindy yang berjalan menuju kearahnya
“ngapain itu nenek lampir jalan kemari”gerutu Intan, Dita pun menoleh pada arah dimana Intan melihat kearah itu yakni Cindy yang berjalan kearah meja mereka
“ta ayo cepetan kita pergi, ayo cepet” Intan yang tidak suka sekaligus pank berusaha menarik Dita tangan Dita, mau tidak mau Dita hanya mengikutinya saja, mereka pun pergi menjauh dan kembali
kekantor karena jam makan siang juga sudah usai.
“sialan si Intan, awas loe ya, nanti kalau gue sudah dapatkan Rafael gue bakal pecat loe” gerutu Cindy yang melihat
Intan segera menarik Dita meninggalkan tempat itu, dia nampak begitu kesal terlebih jika dia mengingat pagi itu dia sangat dipermalukan. Cindy memutuskan untuk tetap menemui Rafael di kanto The Deveraux.
Teman-teman kerja Intan banyak yang meminta bantuan Dita untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan mereka yang berhubungan desain, kedatangan Dita tak membuat mereka cemburu karena Dita tak sungkan membantu jika mereka butuh bantuan, karyawan pun mengenal Dita sebagai pegawai freelance devisi desain, pemandangan itu disaksikan oleh Cindy yang sudah berdiri didepan lift, Cindy bisa melihat jelas dari kaca transparent yang menghalangi lift dengan ruangan karyawan dilantai itu bahkan manager devisi Intan pun begitu akrab dengan Dita, Cindy tidak menerima dengan apa yang dia lihat, dia pun dengan emosi melangkahkan kaki melangkah mendekati
Dita dan menarik tangan Dita
“ngapain loe disini?!” bentak Cindy, tatapan mata cemburunya sangat terlihat sekali.
“loe nggak lihat koe kerja?” jawab Dita santai sembari mengibaskan tangan Cindy yang mencengkram dan menyeretnya itu. Karyawan lain yang melihat itu melihat kepada Cindy dengan tatapan tidak nyaman serta tidak bersahabat, selama ini dia hanya menunjukkan kesombongannya saja pada mereka, sama sekali tidak menghargai
mereka atau bahkan berbincang santai.
“heh kerja? Mana ada kerja pakai baju dan jaket usang sama jeans!” bentak Cindy yang kemudian memalingkan mukanya sinis
“heh menghina gue loe!” bentak salah satu karyawan yang bernama Oliva yang baru saja dibantu oleh Dita, meski bukan untuknya tetapi pada saat itu dia memadukan baju kerjanya dengan baju lama.
“loe disini bukan siapa-siapa, belum jadi jadi pacar udah blagu!” bentak Olivia pada Cindy yang tersinggung dengan perkataan Cindy
“gue bakal pecat loe entar!”jawab Cindy geram dengan suara yang ditahan
“dan loe! Sebaiknya loe pergi dari sini!” bentak Cindy pada Dita
“mbak Dita disini kerja, atas rekomendasi Inta, ngapain loe nyuruh pergi mending loe yang pergi dasar cewek nggak tau malu" kata karyawan lainnya
“loe bener-bener ya bikin gue marah” kata Cindy tangannya terangkat hendak menmpar Dita tapi dicegah oleh manager devisi diruangan itu
“mbak Cindy sebaiknya anda keluar sebelum anda menyesal” kata manager itu dengan tegas yang tahu siapa Dita di The Deveraux, sementara Dita pun mengangkat lengannya untuk melindungi dir itu tak banyak bicara, dia sudah malas meladeni Cindy yang selalu membentak serta menjatuhkannya dimanapun mereka bertemu.
“bapak belain cewek nggak tahu diri ini?” tanya Cindy dengan kesal serta tidak percaya
“mbak Cindy!” bentak manager itu lagi membuat Cindy terbelalak, lelaki yang biasanya sopan itu menatapnya dengan tatapan yang tajam seolah ingin menguburnya hidup-hidup, Dita yang akan melangkah menjauh itu langsung diseret oleh Cindy
“sini loe, biar gue kasih tahu dimana tempat loe” suara geram Cindy yang menuh amarah sembari menyeret Dita menuju lift karyawan hendak mengusir Dita
“lepasin gue” kata Dita dan berusaha melepaskan genggaman Cindy setelah berhasil dia mengibaskan tangan Cindy
“gue bisa keluar sendiri! tapi gue nggak akan keluar!” bentak Dita pada Cindy yang membuat Cindy semakin marah dan iri lantaran tak ada yang mencegah Dita
“mau kemana loe, liftnya sebelah sini” teriak Cindy yang tidak diperdulikan oleh Dita yang kembali keruangan dimana Intan dan lainnya hanya melihat pada mereka berdua
“mbak Dita udah nggak usah didengerin itu lampir sombong” kata seorang karyawan laki-laki yang bernama Wisnu
“mbak Dita sebaiknya mbak Dita keruangan Mr Rafael saja” kata manager dengan sopan, manager yang tahu bahwa Dita adalah istri Rafael, mereka menikah empat hari lalu
“apa? Bapak menyuruh cewek miskin ini keruangan Rafael?” tanya Cindy sembari melangkah mendekat lagi pada Dita dan beberapa karyawan yang berkumpul
“hahahaha loe bilang apa? Dita cewek miskin hahahaha” kata Intan yang kemudian tertawa lepas menertawakan Cindy, melihat Intan menertawakannya Cindy melihat pada Intan dengan tanda Tanya,
"sialan, gue lupa Intan kan tahu sejarah Dita, bodoh amat toh sekarang dia memang miskin" kata Cindy dalam hatinya
"kalau gue mau perusahaan loe udah gue akuisis kali" jawab Dita santai dengan suara yang tak terdengar hingga telinga Cindy tetapi masih didengar beberapa orang di ruangan kerja Intan dan teman temannya.
__ADS_1
“yang ada loe yang miskin, loe apa sudah bisa menghasilkan uang sendiri? Semua milik bapak loe kan? dan siapa tahu juga hasil merebut” seloroh Intan dan memang itu kenyataanya
“eh Cindy dari dulu sampek sekarang loe itu nggaak pernah bisa nandingin Dita, baik untuk kekayaan, loe nggak ada apa-apanya” kata Intan lagi yang masih menertawakan Cindy beberapa orang karyawan yang berkumpul pun ikut tertawa kecil sambil menutup bibir mereka. Kalimat Intan membuat Cindy semakin menjadi, dia memang selalu kalah dari Dita.
“sini loe, keluar nggak loe, pergi nggak loe dari sini” kata Cindy yang marah itu menarik tangan Dita dengan kasar.
“mbak Cindy hentikan” kata manager tetapi tidak digubris oleh Cindy
“gue bakal lempar loe dari sini kejalanan, sama seperti papa nglempar bokap loe” kata Cindy yang penuh amarah
itu, tetapi langkahnya tertahan karena Dita berhenti bergerak dan kali ini Cindy tidak bisa menarik tangan Dita seolah Dita menjadi sebuah tembok yang tidak bia digeser letaknya, Cindy pun berbalik dan melihat ke arah Dita yang seketika menampar Cindy dengan keras. Semua karyawan yang melihat itu pun kaget dibuatnya tetapi mereka mendukung Dita dan tersenyum puas dengan apa yang dilakukan Dita
“jangan berani loe memikirkan apapun tentang ayah dengan otak busuk loe itu, kalau tidak gue bakal nglempar loe dari dari atas sini” teriak Dita dengan nada ancaman sekaligus sorot mata yang penuh amarah
“itu untuk mulut busuk loe ke gue selama ini, harusnya loe diem karena gue masih sabar” kata Dita lagi sambil menujuk pada tangan Cindy yang memegang pipinya, dia benar-benar terkejut karena ini kedua kalinya Dita menamparnya.
“sialan, berani dia sama gue, dulu karena ada papa, tapi disini nggak ada papa”
umpat Cindy dalam hatinya
“keluar” kata Dita tegas sambil menunjuk pada lift karyawan, Sean yang kebetulan turun dari lift itu menghampiri mereka
“heh, gue? Keluar? Tunggu Rafael datang, dia bakal usir loe dari sini! Bentak Cindy
"Rafael tidak akan meolongmu karena papi sendiri yang memberikan perintah untuk melempar loe dari sini" kata Dita dengan geram serta tatapan yang benar benar menakutkan.
"papi? maksudnya Mr Nicholas?" tanya Olivia pada Intan dengan pelan
“enough!” kata Sean menegahi membuat
Cindy semakin terkejut karena Sean menghampiri mereka, Dita hanya Diam saja
melihat Sean
"kita lihat aja, gue bakal panggil Rafael" bentak Cindy
"panggil aja" jawab DIta santai tetapi masih dengan tatapan garangnya yang penuh dengan dendam itu, sementara itu Sean berjalan mendekati Cindy
“don’t you hear what she said? Keluar” kata Sean pelan ditelinga Cindy dengan suara geram, terlihat sekali tidak suka melihat
“before Mr Nicholas not in here she is our boss, do you get that!" kata Sean lagi dengan membentak Cindy dengan menunjuk dirinya dan karyawannya memberitahukan Cindy, dia yang terkejut karena Sean berteriak dekat sekali
padanya
“get out!. satpam" Bentak Sean lagi yang memang tidak suka pada Cindy karena dia mengejar Rafael hanya untuk harta. Cindy pun melangkah meninggalkan mereka sebelum satpam menghampirinya
“yes I am ok” jawab Dita sambil menganggukkan kepalanya dan senyum tipis
“don’t worry Rafael will come back in evening, you can go home together” kata Sean lagi sambil mengusap kepala Dita
“kok bisa kakaknya Rafael peduli banget sama Dita, dan bagaimana bisa Dita pulang bareng Rafael” guman Cindy yang masih memperhatikan mereka didepan lift dan masih mendengar suara Sean
“gue mau nginap dirumah Intan” kata Dita memberitahukan Sean dengan senyum manja berharap Sean tidak berkomentar
“what? kalian bertengkar? Bukankah kalian tinggal bersama?” tanya Sean penasaran
“nggak, Cuma ingin menginap aja” jawab Dita
“what! Dita tinggal bersama Rafael? Ini nggak bener dan nggak mungkin” dengan wajah terbelalak Cindy tidak percaya dengan apa yang dia dengar, dia yakin dia tidak salah dengar, yang lebih membuat dia semakin tidak terima karena dia diusir Sean dan dia tidak bisa mendengarkan perbincangan Dita dan Sean lantaran pintu Lift sudah tertutup
"ok, kalau butuh apa apa datang saja ke ruangan saya" kata Sean sambil mengusap lembut kepala Dita yang membuat semua diruangan itu melongo, Sean pun melangkah menjauh dari ruangan devisi Intan bekerja
"mbak Dita papi itu Mr Nicholas bukan?" tanya Olivia polos dan tatapan lugu
"iya Dita, loe tinggal sama Mr Rafael kok Mr Sean bilang go home together" kata Aldi yang juga team Intan dalam ruangan itu.
"oh, cuma gertak aja" jawab Dita dengan senyum terpaksa
"tapi ya Mr sean itu perhatian banget sama mbak Dita, kayaknya suka deh sama mbak Dita" seloroh Olivia
"tapi kalau dilihat lihat mbak Dita lebih pantes sama Mr Rafael atau pak Fajar" kata Wisnu polos
"eh pak Fajar itu pacar gue" bentak Intan yang mengagetkan Wisnu
"beneran Mbak Dita nggak ada apa apa sama Mr Sean?" tanya Olivia lagi yang semakin mendekatkan duduknya dengan Dita yang sudah duduk di kursi sebelah meja Intan
"gue itu udah kayak adiknya, itu aja sih" jawab Dita santai sementara itu pak menejer yang melihat mereka segera menghentikan perbincangan mereka sebelum semakin panjang.
"kalian mau kerja atau ngobrol?" bentak manajer, semua pun kembali bekerja dengan saling berpandangan
“telpon papa” guman Cindy yang masih didalam lift
“ihh papa! Kenapa nggak bisa ditelpon sih” kata Cindy yang semakin jengkel itu, dia pun meninggalkan The Deveraux
“pa, papa, papa” teriak Cindy dirumahnya
__ADS_1
“bik papa mana?” tanya Cindy pada pembantunya
“ndak tahu non, saya belum lihat tuan pulang” jawab pembatu itu dengan ketakutan
“kok bisa nggal tahu, kerja apa aja dirumah ini” bentak Cindy pada pembantunya lalu meninggalkan pembantunya yang masih berdiri ketakutan karena Cindy membentaknya , Cindy memeriksa seluruh ruangan dirumahnya akhirnya mendapati papanya sedang berdiri di teras ruang kerjanya
“papa” kata Cindy yang mendapati papanya dengan tangis manja
“anak papa kenapa datang-datang kok nangis” jawab Anton lalu memeluk putri semata wayangnya itu
“Dita pa” Dita udah bikin malu gue dia juga nampar gue” cerita Cindy dengan berapi-api wajahnya penuh kekesalan
“gembel itu kenapa? Berulah lagi? Tanya Anton dengan wajah tidak suka mendengar nama Dita
Cindy pun menceritakan semua yang dialaminya sejak pagi, dia tidak terima jika Dita mendapatkan perlakuan baik
sementara dia harus kembali mengalah. Cindy benar-benar cemburu, sejak kecil Dita selalu lebih unggul darinya. Kecemburuan Cindy yang bahkan diluar nalar itu sempat membuat Dita hampir kehilangan nyawanya, tetapi Cindy tidak pernah mau mengakui kesalahnnya.
“pokoknya papa harus melakukan sesuatu” pinta Cindy pada papanya dengan isak tangisannya yang belum berhenti.
“hmm memang papa harus melakukan sesuatu, sekian tahun papa tidak tahu keberadaanya, dan seharusnya papa mebereskan gadis itu bertahun-tahun lalu” kata Anton dengan penuh amarah dan dendam.
Jam sudah menunjukkan jam empat dan Dita masih asik di ruag kantor devisi desain, karyawan yang lain pun tak mau melewatkan kesempatan langka, yakni bergabungnya manager mereka, itu benar-benar langka dan karyawan disana menganggap kehadiran Dita yang membuat itu terjadi. Rafael yang sudah berada diruanganya itu sejenak melihat ponselnya dan mencari photo Dita yang ada masih ia simpan, photo yang sama sekali dia tidak menyangka gadis itu akan menjadi istrinya. Rafael terlihat sangat lelah, dia melihat kearah jam lalu menyandarkan kepalanya dikursi kebesarannya.
“aku minta izin mau nginap dirumah Intan” pesan singkat Dita pada Rafael,dibacany pesan itu tanpa dibalasnya.
“gimana ta?” tanya Intan mencari tahu apakah sahabatnya itu bisa menginap dirumahnya atau tidak
“belum dijawab” kata Dita dengan lesu
“Tuan ada yang ingin bertemu anda di ruang rapat” kata pak Bam
“ok” jawab Rafael yang kemudian bergerak menuju ruang rapat yang berada dilantai yang sama dengan devisi Intan. Sebelum masuk keruang rapat Rafael melihat Dita yang sedang berbincang dan sesekali tertawa lepas Rafael pun menghentikan langkahnya, dia menyandarkan bahunya pada dinding dan melihat istrinya dari kejauhan, entah kenapa dia suka melakukan itu bahkan setelah pertemuan pertamanya, setiap langkahnya terhenti karena Dita dia selalu memperhatikan istrinya itu seperti yang sedang dia lakukan
“tuan kita sudah ditunggu” kata pak Bam yang hanya menggelengkan kepala dan senyum tipis melihat atasanya itu tersenyum melihat Dita, Rafael pun bergerak melanjutkan langkanya mendekati kursi Intan dan Dita
“pak sering-sering bapak ngumpul sama kita begini” kata seorang karyawan pada managernya
“iya bener pak” kata Intan menambahkan dengan senyum lebar
“hari ini karena saya baik jadi saya berkumpul di ruangan kalian” kata manager itu berusaha memberi alasan
“ah bapak selalu begitu, kemarin jawabnya juga karena lagi baik waktu ngasih kita makanan” cibir seorang karyawan lainnya. Mereka semua pun tertawa renyah, sore itu benar-benar berbeda meski jam sudah menunjukkan jam empat lebih dua puluh menit mereka masih malas untuk berkemas. Rafael yang keluar dari ruangan
meeting itu berjalan kearah ruangan dimana Dita berada dan menarik tangan Dita membawanya menuju ruangannya
“hah mbak Dita kenal Rafael?” tanya
seorang karyawan wanita yang bernama Dewi dari devisi personalia yang pernah dibantu Dita untuk menyelesaikan pekerjaanya lantaran Rafael yang memberikan begitu banyak pekerjaan padanya hingga kuwalahan, yang kebetulan menghampiri Olivia untuk emnyerahkan sebuha berkas itu
“et dah, loe kagak tahu ya? tadi siang tuh rame disini gara gara nenek lampir dan semua udah pada tahu kali” ledek Intan dengan gaya kocaknya
“cerita dong tan” pinta Dewi dengan manja
“loe bakal lihat adegan mesra Mr Rafael sama Dita mulai dari sekarang” kata Intan menjelaskan dengan semringah dan gaya yang dibuat genit
“mereka pacaran? Setahu gue mereka nggak pernah ketemu” kata Aldi yang bersebelahan meja dengan Intan
“mereka itu ketemu pertama kali dirumah makan, bukan disini” jawab Intan dengan wajah berseri membayangkan pertemuan sahabatnya dengan atasannya itu
“ditengah hujan huh romantis” kata Intan menambahkan
“terus terus” kata karyawan yang lain
“kalian ini nggak mau pulang?” tanya managernya yang mencoba menutupi pernikahan Dita dan Rafael, dia takut Intan akan membuka pernikahan itu
“tapi mereka cocok kok, gue sih lebih mendukung mbak Dita dari pada Cindy si lampir” kata Olivia, karyawan yang sudah membentak Cindy beberapa saat lalu
“iya pak pulang, saya nunggu Dita” jawab Intan sambil merapikan meja kerjanya
“pokonya kalian bakal sering lihat Mr Rafael bareng Dita, anggap aja mereka pacaran” seloroh Intan, yang lainnya pun sambil merapikan meja mereka berkomentar membandingkan antara Cindy dan Dita.
“kenapa kamu bawa aku kesini” tanya Dita yang melihat Rafael menutup pintu tanpa melepaskan tangannya menggandeng Dita
“just wanna talk to you” jawab Rafael santai, dia menarik Dita mendekati meja, Rafael bersandar pada bibir meja, Dita hanya diam saja karena nasehat Fajar, dia hanya mengikuti arah tangannya membawanya yang tak dilepas oleh Rafael
“how long you will be there?” tanya Rafael yang menatap teduh pada Dita,
“besok pagi pulang” jawab Dita dengan nada ragu, takut Rafael tidak mengizinkannya, Rafael hanya menghela napas,
“nggak boleh ya?” tanya Dita dengan wajah melas, tentu saja itu membuat Rafael reflek menyentuh pipi Dita dengan kedua tangannya
“apapun yang kamu minta aku akan coba mewujudaknnya” jawab Rafael yang masih dengan meenyentuh pipi Dita, dan membuat Dita tersenyum
“et dah napa tangannya nggak pindah sih, kan gue jadi canggung”guman Dita dalam hatinya
__ADS_1
Sementara Rafael yang menatap Dita dalam-dalam, dia tidak berkedip melihat istrinya itu, mereka terhenyak ketika
ponsel Dita berdering.