Untuk istriku

Untuk istriku
Makan Malam


__ADS_3

Seminggu sudah Dita kekantor tanpa bertemu Rafael bahkan suaminya itu tak menghubunginya sama sekali


“hmm pulang kerumah papi mami lagi, dan mami berubah sama gue nggak kayak dulu” guman Dita dalam hatinya


“non apa perlu mampir ke tempat lain?” tanya Yuda yang berada di belakang kemudi


“nggak usah bang, lansung kerumah mami aja” jawab Dita dengan malas


“Rafael kapan kamu pulang, nggak ada loe gue berasa orang asing dirumah loe. mami nggak kayak dulu lagi, gue beresa jadi orang asing dalam sekejap” guman Dita dalam hatinya, nampak kesedihan pada raut wajahnya. Setiba di rumah Dita langsung menuju kamar Rafael yang kini menjadi kamarnya juga, dia menutup pintu dan merebahkan badannya di atas kasur empuknya dan memejamkan mata, diapun tertidur


“Yuda, apa Dita sudah makan malam diluar?” tanya Nicholas yang sedang duduk diteras bersama Ryan dan dua orang anak buahnya


“belum tuan, non Dita bahkan tidak memakan kiriman tuan tadi sore” jawab Yuda serta menjelaskan apa yang dia lihat


“baiklah, kamu boleh pulang sekarang” kata Nicholas memerintah.


Dita yang bangun dengan terkejut dia melihat kearah jam beker diatas nakasnya, dilihatnya sudah jam lima pagi, dia segera bangun dengan malas, di lihatnya ponsel pintarnya tak didapati pesan ataupun panggilan dari Rafael, dengan malas bersiap dan sengaja memperlambat geraknya sehingga dia tidak perlu ikut sarapan bersama


“sepi amat, bik pada kemana semua orang, kok sepi” tanya Dita yang tak melihat anggota keluarganya di meja makan, bahkan piring bekas sarapan pun tidak ada


“tuan besar dan nyonya serta non Millan pergi piknik non” jawab bi Isa, mendengar jawaban pembantunya Dita hanya berbalik dan menarik kursi di meja makan


“bahkan piknik pun gue nggak di ajak” guman Dita lesu dengan wajah sedih, dia menghabiskan sarapannya dengan malas, lalu beranjak hendak menuju balkon hanya sekedar untuk menghibur dirinya tetapi karena berjalan dengan melamun dia tergelincir dan hampir jatuh


“Dita hati hati” suara Sean setengah berteriak dari belakangnya


“hampir saja” kata Dita pada dirinya sendiri


“Sean nggak ikut piknik?” tanya Dita dengan lesu dan raut wajah tidak senang itu pada Sean yang menghampirinya dan memegangi kedua tangan Dita dari depan


“kemarilah saya akan menuntunmu, dan saya memang tidak ikut karena ingin berbicara dengan adik saya” kata Sean dengan senyum lembut dan suaranya yang halus


“aku bisa sendiri” kata Dita dengan terseyum melihat Sean yang memperlakukannya seperti bayi yang baru belajar


berjalan


“sejak dulu saya suka melakukan ini” kata Sean dengan antusias sembari menuntun Dita menuju balkon


“kenapa bukan kamu yang menikah denganku kenapa Rafael?” tanya Dita tiba tiba dan membuat Sean tertawa


“karena aku hanya ingin kamu menjadi adik saya” jawab Sean yang spontan mencubit dan menggoyangkan pipi Dita dengan pelan, Dita kemudian duduk di kursi yang ada di atas balkon dan berbincang


dengan Sean


“kalau gitu aku panggil kak Sean” kata Dita antusias dan gembira


“Dita sejak tidak ada Rafael kamu terlihat murung, apa kamu merindukannya?” tanya Sean mencari tahu


“tidak juga, hanya saja dirumah ini aku merasa asing” jawab Dita dengan wajah nampak lesu


“apa karena mami? Apa penyebabnya apa kamu tidak tahu?” tanya Sean sembari menatap Dita yang hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Sean


“jangan khawatir, saya akan bicara pada mami dan semua akan baik baik saja” kata Sean menenangkan, Sean menceritakan banyak hal mengenai masa kecilnya juga Rafael, serta pertemuannya dengan Millan, ditengah tengah canda tawa mereka, tak terasa pagi Dita berlalu dengan cepat, dia beruntung karena ada Sean yang menemaninya, Dita melihat pada telpon selulernya yang menerima pesan singkat dari nomor tidak dikenal, nomor itu juga menelpon Dita tanpa diperhatikan nomor itu Dita langsung menerima panggilan itu


“halo” suara Dita santai menjawab telpon

__ADS_1


“kalau ingin melihat suamimu maka datanglah ke alamat yang aku kirimkan melaui pesan singkat barusan” kata seseorang di seberang telpon, suaranya terdengar seperti seseorang yang sangat bengis, wajah Dita seketika pucat, dia buru buru berlari kedalam kamarnya dan meraih tasnya, dia segera turun dan meminta Yuda untuk mengantranya


“Dita ada apa?” tanya Sean kebingungan melihat Dita panik, dan segera memerintahkan Ryan untuk mengikutinya.


“nomor tidak dikenal, jangan jangan Dimas” guman Dita dalam hatinya dengan wajah penuh kecemasan,


“Ryan jangan sampai lengah” kata Sean memerintahkan pada Ryan melalui telpon selulernya


“anak ini bahkan hanya memakai kasos dan jeans pendeknya, ada apa sebenarnya” guman Sean sembari mondar mandir di balkon mencari cari apa yang sedang terjadi.


“non tempatnya agak jauh, mungkin sore kita baru sampai” kata Yuda dengan tenang


“pokoknya cepet bang” kata Dita tegas, dia hanya melihat keluar kaca mobil


“tuan tidak perlu khawatir, Dita menuju rumah di bukit” kata Ryan yang menghubungi Sean melalui ponsel pintarnya


“rumah dibukit? Apa kamu yakin?” tanya Sean


“yakin tuan, anda tidak perlu khawatir” tanya Ryan ssembari mengemudikan mobilnya mengikuti mobil Dita dari kejauhan. Sementara itu Dita mellihat jam dari ponselnya menunjukkan jam lima sore, dia cemas dan takut lantaran tempat yang dituju tak sesuai bayangannya


“gila, tempat ini kayak di film film barat, sepi jauh dari keramaian, dan hanya ada satu jalan” guman Dita dalam hati dan semakin khawatir karena mobil yang di tumpanginya berhenti


“non kita sampai, jalan di depan itu tidak bisa dilalui oleh mobil, dan memang semua mobil hanya bisa sampai disini, untuk masuk kedalam harus jalan kaki dari sini” kata Yuda dengan tenang memberitahukan Dita, dan tanpa berpikir panjang Dita keluar dan berjalan menyusuri jalan yang dibagun seperti taman itu, tempatnya tenang dan sedikit menakutkan bagi Dita karena langit sudah terlihat merah di barat dan suasana di tempati itu gelap.


“loh bang Yuda kok nggak ikut” kata Dita pelan ketika menoleh kebelakang tak melihat bodyguardnya itu bersamanya, Dita membuka pintu villa minimalis itu dengan hati hati, didalam begitu gelap dia berusaha mencari saklar lampu namun tak ditemukan, dia menerangi jalannya dengan sinar ponselnya


“Rafael” suara Dita memanggil dan sedikit terkejut ketika pintu tiba tiba tertutup, Dita hanya mematung tak bergerak berusaha mencari suara yang mungkin akan dia dengar, tiba tiba lampu menyala dan ruangan itu terlihat begitu indah dan mewah, seperti sedang ada pesta


“apa apaan ini? Kenapa tempat ini di hias seperti ini?” guman Dita dalam hatinya, dia berusaha menghubungi Yuda tetapi Yuda tak menjawab telponya lantaran sedang sibuk


“di bukit tuan bersama David” jawab Yuda yang masih tenang


“David? Sejak kapan dia sampai?” tanya Nicholas keheranan, dan memang seharusnya David harus menemuinya


“tadi pagi tuan bersama tuan Rafael” jawab Yuda dengan suara yang meyakinkan


“jadi Rafael sudah kembali, baiklah bawa David kepadaku” kata Nicholas dari seberang telpon dengan suara santai dan terlihat tenang itu. Dia tidak perlu khawatir karena menantunya baik baik saja


“papi, jadi David sudah disini?” tanya Sean heran melihat Nicholas tersenyum tipis


“ya, jangan khawatir Dita baik baik saja bersama suaminya” kata Nicholas yang mengetahui Sean begitu mencemaskan Dita, Sean pun bernapas lega kemudian beranjak dan menemui maminya


“halo, ada orang?” suara Dita yang berada didalam villa yang terhias indah itu, dilihatnya tak jauh dari tempatnya berdiri dia melihat sebuah meja dengan lilin yang menyala, Dita pun naik menyusuri tangga dan berjalan kearah meja itu. Dari atas Dita melihat dua orang laki laki, yang satu sedang menyerahkan sesuatu kemudian pergi, dari tempatnya berdiri Dita juga melihat mobil yang di tumpanginya pergi


“loh loh bang Yuda kok malah pergi” guman Dita yang kemudan berbalik dan hendak keluar villa tetapi niatnya di


urungkan karena lelaki yang dilihatnya itu tak asing baginya sedang menaiki tangga dan berjalan menuju arahnya, Dita langsung berlari dan memeluk Rafael


“menjengkelkan, bikin aku takut tahu nggak” kata Dita dengan suara yang hampir menangis


“maaf, maafkan saya, tapi setidaknya sepadan dengan semua ini” jawab Rafael sembari menunjukkan seluruh ruangan yang dihiasnya.


“I miss you Dita” kata Rafael yang masih memeluk erat istrinya itu, lalu dilepaskannya pelukannya, Dita yang masih


cemberut tapi tak bisa menuntupi senyumnya melihat ruangan yang begitu indah

__ADS_1


“nggak trlpon nggak sms huh, dan ini semua lumayan” kata Dita mencoba menutupi kekagumannya dengan wajah cemberut, tetapi tak sempat melanjutkan kata kata Rafael tiba tiba mencium bibirnya dengan lembut


“kenapa tidak membalas?” tanya Rafael setelah melepaskan ciumannya


“habisnya main nyosor aja” jawab Dita sedikit sewot membuat Rafael tertawa ringan. Rafael pun mengajak Dita menuju meja yang lengkap dengan lilin yang membuat suasana menjadi romantis di teras itu,


“apa ini? Kenapa hanya memakai kaos?” tanya Rafael dengan senyum tipis


“kalau bilang mau ngajak makan malam aku nggak akan pakai ini” jawab Dita spontan sambil menunjuk pada kaosnya.


“maaf saya yang salah” jawab Rafael yang kemudian menarik tangan Dita untuk mendekat padanya.


“kita bermalam disini?” tanya Dita polos yang dijawab anggukan oleh Rafael


“maukah kamu makan malam romantis denganku?” tanya Rafael, mendegar permintaan Rafael itu Dita hanya tersenyum dan mengagguk


“tapi karena aku diculik disini sama kamu, jadi kamu yang siapin makan malamnya, semuanya” jawab Dita manja yang membuat Rafael semakin menyukai sikap manja istrinya itu. Rafael pun menyiapkan makan malam sementara Dita melihat dari meja romantis yang telah disiapkan. Setelah makan malam selesai Dita berkeliling melihat seluruh ruangan yang ada didalam Villa itu, tak disangka Rafael menghias semua ruangan. Di sebuah kamar dia melihat photo pernikahnnya dengan Rafael, juga beberapa photo saat mereka bulan madu,


“ini pasti kamar kita” tanya Dita pada Rafael yang kemudian masuk kedalam kamar lalu kembali pada Rafael yang berdiri di pintu menyandarkan bahunya disana, dia menikmati setiap apa yang dilihatnya dari istrinya. Dia tidak tahu dan tidak ingin tahu sihir apa yang dipakai oleh Dita hingga dia tak berpaling pada yang lain dan hanya menginginkan Dita saja. Dita membuka lemari yang ada di kamar itu disana dia menemukan beberapa baju serta gaun


“kok ini bisa ada disini?” tanya Dita heran lalu melihat pada Rafael yang bediri di bibir pintu, seingatnya dia hanya melihat gaun itu di toko, dia tak mampu membelinya saat itu tetapi kini berada di lemari di kamar mereka, Dita juga melihat beberapa baju laki laki dan itu pasti milik suaminya.


“kamu suka? Kamu boleh memakainya” kata Rafael dengan tersenyum lembut


“keluar dulu tutup pintunya” pinta Dita dengan manja,


“kenapa harus keluar, saya sudah pernah melihatnya, apa tidak boleh saya melihat lagi?” goda Rafael dengan seringai renyah membuat Dita tersipu


“dasar mesum ” jawab Dita dengan bibir manyun


“saya tidak akan tutup mata” kata Rafael lagi denga tawa kecil, Dita hanya menarik napas panjang, Dilihatnya sebuah bilik yang tertutup tirai tipis, Dita mengganti pakainya di balik tirai tipis yang ada di dalam kamarnya dan memang disiapkan untuk berganti pakaian, dari balik tirai Rafael menikmati pemandangan yang ada di balik tirai dengan tersenyum. Dita terlihat sangat cantik dengan gaun yang berwarna peach yang dipakainya. Rafael tak hentinya menatap istrinya itu


“cantik” kata Rafael memuji istrinya, lalu meraih tangan Dita dan diajaknya istrinya itu menuju balkon dari kamarnya, disana pun terdapat meja romantis membuat Dita tercengang


“suami gue ternyata udah mempersiapkan semuanya, disini juga ada meja romantis” guman Dita dalam hatinya.


Dita benar benar terbuai oleh keromantisan Rafael, dia tidak pernah menyangka bahwa sisi romantis Rafael begitu besar malam itu, Rafael menuangakan minuman kedalam gelas Dita, malam itu benar benar malam yang indah bagi Dita setelah hampir satu minggu dia merasa seperti orang asing di rumah mertuanya lantaran Febi yang bersikap aneh tak seperti sebelumnya pada Dita dan kini Rafael memanjakannya.


Setelah menikmati suasana romatis di balkon, mereka melanjutkan perbincangan mereka disebuah sofa di kamar mereka. Rafael benar benar memanjakan Dita yang tentu saja membuat Dita semakin manja dan tanpa ragu untuk membalas pelukan suaminya, Dita menceritakan apa saja yang terjadi selama tak ada Rafael disampingnya, terbawa suasana romantis mereka tanpa sadar Dita membuka dua kancing baju Rafael tentu saja membuat jari jari Rafael nakal bermain di punggung Dita yang tak tertutup oleh gaun yang dipakainya itu, Dita yang berada dalam pelukan suaminya itu mencium mesra bagian bawah pipi suaminya, Rafael membalas ciuman itu dengan memberikan ciuman lembut di leher istrinya dan bergerak turun dengan bebas, kemersaraan mereka mulai dari ciuman ciuman kecil hingga adegan panas tanpa busana menutupi tubuh mereka. Suara desahan dan erangan Dita membuat Rafael begitu haus akan tubuh istrinya, tak peduli sakit yang dirasakan Dita hanya ingin menghabiskan malam itu untuk suaminya, dia ingin menebus malam malam sebelumnya yang sejak menikah belum ia berikan pada suaminya, kedua kalinya menghabiskan malam sebagai istri dia tidak ingin menunggu Rafael yang memintanya seperti sebelumnya. Tengah malam Rafael terbangun begitu juga Dita yang berada di pelukan Rafael keduanya tanpa selembar kain menutupi tubuh mereka, Rafael beranjak dari sofa dan meraih selimut di atas ranjang kemudian menyelimuti tubuh Dita, entah setan apa yang merasuki otak Dita malam itu, dia tidak ingin lepas dari suaminya


“makasih, tapi aku mau dipeluk lagi” kata Dita sembari membuka selimutnya dan menarik Rafael yang hendak meraih celananya.


“Dita ada apa dengan kamu hari ini?” tanya Rafael dengan suara pelan dan senyum lembut, dipeluknya istrinya itu dibalik selimut,


“tidak ada, hanya ingin menjadi milik suamiku seutuhnya” jawab Dita sembari membelai pipi suaminya, lalu mencium bibir Rafael dengan ciuman panjang dan melanjutkan adegan mereka, Rafael nampak sangat bahagia dengan yang terjadi malam itu. Pagi dia terbangun tak mendapati Dita di pelukannya, Rafael pun bangun dan mencari ke seluruh ruangan didapatinya istri tercintanya Dita sedang membuat sesuatu didapur, Rafael memperhatikan Dita dengan menyandarkan pundaknya di pintu, istrinya yang memakai kemejanya semalam itu baginya terlihat seksi


“hei sudah bangun” sapa Dita yang berbalik melihat pada Rafael


“ya, kamu membuat apa untuk saya?” tanya tanya Rafael mendekat dan memeluk Dita dari belakang


“kopi dan omlet untuk sarapan kita” jawab Dita manja


“siapa yang memberi izin memakai kemeja saya?” tanya Rafael dengan senyum yang terlihat dari suaranya tanpa melepaskan pelukannya pada istrinya itu


“tidak ada, lagi pula gaunnya sobek dikit jadi aku pakai aja baju yang ada” kata Dita menjelaskan dengan wajah manja membuat Rafael tertawa, mereka pun sarapan bersama dan bersiap untuk menjelajah area bukit yang menjadi milik pribadi keluarga Deveraux itu.

__ADS_1


__ADS_2