
Tiga hari menjelang
pernikahan Intan, dia sudah meminta izin cuti selama seminggu begitu pula
Fajar, sementara Dita yang datang setelah makan siang setiap harinya di temani
oleh Rafael.
“hai hai zaenab, lama bener loe
nyampeknya” sapa Intan yang menyambut Dita dirumahnya
“iya maaf, kan loe tahu sejak habis
sakit kemana-mana ada dia tuh” jawab Dita dengan menunjuk pada Rafael
“pangeran Dita nggak ke kantor? Jam
makan siang udah usai loh” kata Intan yang melihat Rafael bersama Dita masuk
kedalam rumahnya
“saya boss saya bisa datang dan pergi
kekantor kapan saja” jawab Rafael dingin lalu masuk kedalam ruang tamu yang
agak sepi, disana Jaka supir pribadinya memberikan laptonya, Rafael mulai duduk
dan mengerjakan perkejaanya, Intan hanya melihat dengan heran
“lagi? Nungguin loe disini?” tanya
Intan keheranan dan melihat kearah Dita dan Rafael bergantian
“iya, udah ayuk mana kebayanya yang mau
di coba” tanya Dita bersemangat Intan pun tak mempermasalahkan kehadiran Rafael
karena sama sekali tak membatasi Dita bersamannya
“kalo udah cinta nempel kayak perangko”
goda Intan pada Dita, mereka pun tertawa bersama, Intan nampak begitu gembira dia
mengajak Dita kedalam kamarnya. Mereka juga berdiskusi mengenai beberapa kebaya
pernikahan yang dikirim oleh calon mertua Intan. Terlihat Intan dan Dita
menikmati obrolan mereka, banyak candaan candaan yang dilontrakan Intan dan
Dita membuat beberapa orang yang datang kerumah Intan pun tertawa mendengar
candaan mereka bedua.
“ini sesak banget ta, gue nggak bisa
napas” kata Intan yang mencoba kebaya dibantu oleh Dita
“nggak ini ditarik dulu, nanti nggak
bakal sesak” jawab Dita sembari membetulkan posisi kebaya yang dipakai Intan
“ini juga duh ribet amat et dah zaenab”
gerutu Intan yang merasa kwalahan, gerakan gerakan mereka membetulkan kebaya
yang dicoba oleh Intan membuat keduanya tertawa
“bentar ini di benerin dulu ini” kata
Dita mencoba membantu Intan menarik resleting tetapi kebaya yang press bodi itu
membuat intan menggeliat merassa geli
“zaenab geli tau” kata Intan dengan
cekikikan
“zubaedah bentar doang, loe mau cantik
nggak” kata Dita dengan setengah tertawa karena sahabatnya itu tidak bisa diam
dan terus bergerak, mamanya Intan dan calon mertuanya yang memperhatikan dari
jauh diluar kamar Intan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua anak
perempuan yang sedang sibuk dengan kebaya.
“ya Allah bantu Aim ini kebaya kayaknya
kesempitan nggak bisa keluar” kata Intan memelas ketika merasa kebaya yang dipakainya
tak bisa dia lepas
“jangan ditarik tantan. Ini modelnya
beda” suara Dita dengan setengah berteriak
“ini nggak bisa keluar ta. lagian loe
tahu dari mana kalau modelnya beda” jawab Intan yang berusaha menarik kebaya
yang dipakainya
“ya tahu dong, gue kan suka liatin
model-model yang pakai kebaya” jawab Dita dengan masih sibuk membantu Intan
membetulkan kebaya yang dipakai Intan, setelah dilihat cocok Intan pun hendak
mencoba kebaya yang lain
“loe gemukan kali ya” jawab Dita polos
sambil membantu Intan untuk melepaskan kebaya pelan pelan
“anjir loe bilang gue gemuk, gue udah
diet!” teriak Intan pada Dita
“ini buktinya kebaya ini nggak mau
dilepas” kata Dita dengan tersenyum orang orang yang berlalu lalang didepan
kamar Intan pun terkekeh mendengar perdebatan dua sahabat itu
“jangan dulu, kalau gemuk gimana bisa
hayati jadi sexy di hari pernikahan” kata Intan menanggapi senyum Dita
“hayati selalu cantik kok, uh cayang”
kata Dita berusaha mendinginkan Intan yang nampak kesal meski masih dengan gaya
cengengesan
“iya ini hayati kesusahan, oh tidak
hayati sobek!” kata Intan dengan suara lantang dan bergaya seperti dalam sebuah
film itu setengah terkejut karena kebaya yang dia coba lepas dari badannya itu
sedikit sobek
“iya non Intan, non panggil saya?” kata
pembantu Intan yang berlari menuju pintu kamar Intan itu, keduanya Intan dan
Dita tiba tiba diam saling berpandangan kemudian mereka menyadari bi Ati
pembantu Intan yang berdiri di depan pintu kamarnya itu bernama Hayati, mereka
berdua pun tertawa orang orang yang berada di luar kamar Intan yang
mengetahuinya pun juga ikut tertawa membuat pembantu Intan hanya menggaruk
kepala dengan senyum kecut
“nggak bi, maaf tadi itu bukan manggil
bi Ati” kata Dita yang berusaha menahan tawanya
“kirain manggil bibi non” jawab bi Ati
dengan senyum polos.
“kayaknya seru lagi pada ngapain?”tanya
Arman yang muncul tiba tiba
“mas Arman” pekik Intan kegirangan dan
berlari memeluk kakaknya
“kangen nggak sama mas?” Tanya Arman
pada Intan
“ya dong, kalau intan nggak menikah mas
Arman pasti nggak mau pulang” gerutu Intan dengan wajah cemberut
“iya maaf, oh ya ini kado buat kamu”
kata Arman memberikan sebuah bungkusan kado yang besar pada Intan
“yak makasih mas” kata Intan kegirangan
, dia pun meletakkan kotak kado di atas ranjangnya
“halo Dita apa kabar?” tanya Arman
dengan lembut
“baik mas, mas Arman sendiri gimana
kabarnya?” Dita menjawab sekaligus bertanya dengan lembut
“jadi lebih baik setelah melihat kamu”
kata Arman dengan senyum lebar
“jangan mulai deh mas, ini harinya gue”
gerutu Intan yang tidak suka melihat kakaknya itu menggoda Dita dan memang
Intan tidak pernah suka kakaknya itu punya perasaan pada Dita karena sejak
__ADS_1
kecil Intan sudah mendengar bahwa ayahnya tidak ingin melihat Arman dekat
dengan Dita lebih dari kakak adik.
“iya ini hari kamu, dan semuanya buat
kamu” kata Arman mencoba menyenangkan adiknya.
Hari pernikahan pun tiba, Intan bena benar cantik, Dita mendapat izin untuk
menginap dirumah Intan sebelum hari pernikahan dan mengiringi Intan serta
mengantarkannya ke meja akad nikah.
Teman kantor Intan yang akrab dengannya
sebagian besar sudah mengenal Dita juga datang dan berbincang mereka di kamar
rias pengantin wanita, mereka benar benar menghajar Intan dengan beragai
guyonan dewasa yang membuat kamar itu riuh dan semarak, mereka pun keluar dan
duduk di kursi undangan ketika suara pengumuman memberitahukan mempelai laki
laki sudah tiba di rumah Intan
“Intan, udah siap?” tanya Arman yang
berdiri di bibir pintu
“dua menit lagi mas” jawab Intan gugup
“ta, loe kenapa ada muka sedih gitu?”
tanya Intan yang melihat ada kesedihan mata sahabatnya
“nggak, gue seneng kok karena sekarang
gue nemenin loe dan bakal nganterin loe ke meja akad nikah loe” kata Dita
dengan semangat
“sorry ya ta, waktu loe nikahan gue
nggak nggak nemenin loe kayak sekarang nemenin gue” kata Intan yang mengingat
benar bagaimana sahabatnya itu menikah dan bahkan tidak ada resepsi pernikahan
“nggak apa apa” jawab Dita dengan
memeluk sahabatnya itu
“tunggu tadi ngomong apa? Dita sudah
menikah?” tanya Arman yang samar samar mendengar percakapan Intan dan Dita
membuat keduanya melihat kearah Arman dengan wajah terkejut
“ini kapan akad nikahnya penghulu lama
amat” kata Intan yang tak juga mendengar perkataan penghulu, dia merasa gugup
meskipun begitu dia berusaha mengalihkan pembicaraan Arman dan Dita
“ih nggak sabaran deh” goda Dita dengan
mencubit lengan Intan membuat keduanya tertawa cekikikan sementara Arman hanya
geleng geleng kepala melihat keduanya sejak dulu tidak berubah
“kalau Dita suda menikah kenapa tidak
mengabari aku” guman hati Arman, dia hanya tersenyum melihat Dita dan Intan
yang berjalan menuju pintu ruang akad nikah
“gue gugup ta, sumpah nih penghulu
kemana sih” kata Intan lagi dengan melirik pada Arman.
“sialan mas Arman ngliatin Dita gitu
amat, nggak boleh Dita kan jatuh cintanya sama Mr Rafael” guman Intan dalam
hatinya
“sabar zaenab, penghulu masih
persiapan” kata Dita dengan senyum lebar karena melihat kegugupan Intan, tak
kurang dari lima menit Firman menghubungi Dita yang terus mendampingi Intan
untuk membawa mempelai wanita keluar menuju meja akad nikah, Intan pun keluar
dipandu Dita disampingnya
“eh busyet itu siapa ta? gue nikahnya
sama Fajar kan?” tanya Intan dengan suara yang tidak mengenali Fajar dengan
balutan pakain pernikahan, Fajar tampak berubah, wajahnya lebih tampan dan tak
terlihat seperti biasanya
“ya itu calon suami loe yang bakal jadi
menuju ruang akad nikah dia memperhatikan sahabatnya sekaligus calon suaminya
keduanya begitu tegang
“beda banget ta dan sumpah zainudin
tampan banget hari ini” bisik Intan dengan bergurau tetapi tanpa tertawa itu,
dia terlihat tegang
“Intan Dita kenapa berdiri, ayo sayang”
kata Sofia mamanya Fajar sambil berjalan menghampiri mereka berdua yang
mematung
“anu tante, Intan nyari pacarnya” goda
Dita pada Intan dengan senyum tipis membuat beberapa orang saling pandang
mendengar pernyataan Dita
“iya kan sebentar lagi jadi suami kamu
tan, sudah nunggu kamu tuh ayo” kata Sofia menjelaskan dan hendak menarik
tangan Intan untuk menuju meja akad nikah
“masalahnya tante kata Intan yang duduk
disana itu zainudin yang tampan bukanya mas Fajar” seloroh Dita membuat Sofia
terkekeh memahami candaan Dita, beberapa orang yang mendengarnya ikut tertawa,
suasana itu membuat Fajar yang tadinya merasa tegang itu terlihat santai, Dita
pun mengantarkan Intan untuk duduk di sebelah Fajar. Akad nikah dilakukan
dengan khidmad dan tenang hingga berlanjut pada resepsi pernikahan, teman teman
kantor Intan memberi selamat, Febi yang datang bersma Rafael dan juga Millan
serta Sean juga menikmati resepsi pernikahan Fajar dan Intan, Nicholas yang
sedang perjalanan bisnis tak hadir pada resepsi itu.
Rafael yang melihat Dita dalam balutan
kebaya hitam dan berpadu warna gold tak mengalihkan pandangannya. Kemanapun
Dita bergerak pandangan Rafael tak pernah lepas dari Dita yang berdiri dan
berbincang dengan Intan serta beberpa rekan kantornya, Sean, Millan serta
Rafael mendekati Intan dan Fajar
“Intan selamat ya” kata Millan sambil
memeluk dan mencium pipi masing masing
“Fajar Intan selamat atas pernikahan
kalian” kata Sean dengan lembut
“terima kasih Mr” jawab Intan dan Fajar
hampir bersamaan
“Intan ini dari saya dan Dita, hadiah
untuk kalian berdua” kata Rafael memberikan sebuah amplop pada Intan dan
disambut senyum lebar oleh Intan
“kalian bisa bulan madu disana, jangan
khawatir soal libur gue udah minta sama papi buat kalian” kata Dita menambahkan
“makasih ya say” kata Intan lagi lalu
memeluk dan mencium pipi Dita
“oh ya Intan saya minta maaf saya harus
kembali sekarang, tapi mami sama papi dan Dita masih disini, sampai acara
selesai” kata Millan berpamitan
“nggak apa apa Millan, yang penting
udah dateng, gue seneng kok, makasih” kata Intan dengan sopan dan santai,
akhirnya Millan dan Sean pun meninggalkan rumah Intan dimana pernikahan
diadakan. Sementara tamu tamu sudah mulai pulang satu persatu Arman mulai
mendekati Dita
“Dita, kamu terlihat cantik hari ini”
kata Arman dengan tatapan serius, melihat Arman mendekati Dita, Firman mencoba
__ADS_1
mendekati Arman
“makasih mas, biasa aja kok” jawab Dita
yang tak begitu memperhatikan Arman, Dita melambaikan tangang pada Intan yang
menghampirinya
“ta, gue seneng banget” kata Intan
menunjukkan amplop hadiah dari Dita dan Rafael dengan senyum lebar
“wah dapat kado honeymoon nih” god
Arman pada Intan
“iya, plus libur tambahan, awas ya
kalau Intan pulang honeymoon mas Arman sudah balik ke London” kata Intan
mengancam kakanya dengan cengengesan
“tergantung, kalau adiknya mas Arman
yang satu lagi menikah ya mas Arman bakal tinggal lebih lama” jawab Arman pada
Intan sembari melirik Dita
“kok lirikannya gitu mas?” gerutu Dita
yang merasa dihakimi
“oh ya, kalian berdua sebelum akad
nikah ngobrolin Dita sudah menikah, itu benar?” tanya Arman pada Dita dan Intan
serta melayangkan pandangannya pada keduanya bergantian
“ya, itu benar” jawab Rafael yang
mendengar kalimat Arman, dia berjalan menghampiri mereka dan langsung
mengalungkan tangan kanannya di pinggang ramping Dita. Mendengar jawaban Rafael
serta menatap Dita yang tak bisa berkata-kata hanya senyum tipis yang diberikan
membuat Arman kecewa, karena hari yang ia tunggu untuk menyaksikan pernikahan
adiknya, adik yang tidak pernah bisa ia peluk dan tak pernah bisa ia manjakan. Sementara
itu Firman benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar, selama seminggu
terakhir dia berpikir Dita hanya berpacaran dengan Rafael tetapi hubungan merek
sudah sangat jauh hingga pernikahan.
“boleh saya bicara secara pribadi
dengan istrimu, Rafael?” tanya Arman dengan sopan, mendengar permintaan Arman
membuat Dita dan Intan sedikit bingung dan saling berpandangan, sementara
Firman memiliki ketakutan besar, selama ini Firman melihat Arman begitu
perhatian pada Dita, dia tidak ingin Arman punya perasaan terhadap Dita
“boleh nggak Raf? Sebentar aj kok” kata
Dita yang meminta izin pada suaminya
“ok, sebentar saja” jawab Rafael dengan
sedikit tidak senang, Dita dan Arman pun menjauh dari mereka, sementara Rafael
melanjutkan perbincangannya dengan Intan dan Fajar
“Dita menikah kenapa nggak ngabari mas?”
tanya Arman mencari tahu
“maaf mas, om Firman juga nggak tahu
kalau Dita sudah menikah” jawab Dita santai
“kenapa? Apa kamu tahu atau mendengar
sesuatu?” tanya Arman dengan serius
“tahu apa mas?” tanya Dita kebingungan,
dia tidak tahu arah pembicaraan Arman
“mas Arman ngomongin apa sih, gue nggak
nyambung” kata Dita dalam hati disertai raut muka bigung
“kamu ikut ngurusin kantor atau tetap
di kegiatan kamu?” tanya Arman dengan suara dan nada yang berbeda membuat Dita
terkejut
“mas, Dita menghargai mas seperti kakak
Dita sendiri, dan gue berterima kasih dengan perhatian mas selama ini, sekarang
gue udah nikah, jadi apapun yang gue lakuin nggak perlu laporan sama mar Arman”
jawab Dita kesal
“gue mau ngurusin kantor atau nggak
bukan urusan loe” gerutu Dita dalam hatinya serta hendak beranjak meninggalkan
Arman
“udah malam mas, tamu juga sudah pulang
semua, Dita mau pulang, permisi” kata Dita berpamitan dengan suara tinggi
membuat Firman, Rafael, Intan dan juga Febi dan suaminya yang masih di sana
melihat kearah Dita
“Dita tunggu” suara Arman serta tangannya
menarik tangan Dita untuk menghentikan langkah Dita
“apa lagi mas?” tanya Dita yang menoleh
pada Arman
“gawat Rafael ngliat lagi, kalau dia
cemburu bisa gawat” guman Dita dalam hatinya
“mas Arman ngapain sih, duh Mr Rafael
raut mukanya udah nggak seneng nih” guman intan yang hanya bisa didengarnya
sendiri sambil melihat kearah Rafael dan Dita bergantian
“ mulai sekarang kapanpun kamu butuh
dukungan mas, mas akan selalu ada buat kamu, meskipun saat kamu susah mas hanya
bisa melihat dari jauh, saat kamu menikah mas tidak ada buat kamu” kata Arman
dengan tegas
“makasih mas, suami Dita udah melakukan
semua buat Dita” jawab Dita dengan lembut namun santai, Arman pun menarik Dita
dan memeluknya
“andai ibu masih ada, pasti ibu jug
akan sangat bahagia melihat kamu punya suami yang melakukan semuanya buat kamu”
kata Arman yang memeluk Dita dengan hangat dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca
“mas Arman, kok bilang ibu? Ibunya siapa
mas? Dita? Seingat Dita mas Arman hanya beberapa kali ketemu ibunya Dita” kata
Dita menjawab Arman sekaligus menjelaskan yang ia tahu, Rafael yang melihat
istrinya berada dalam pelukan Arman itu hendak melangkah itu di hentikan oleh
Bam
“tuan Rafael jangan khawatir” kata Bam
menghalangi langkah Rafael
“kalau memang selama ini yang aku cari
adalah dia, artinya tugas terakhir saya pada Almarhum Diana selesai” dalam hati
Bam mengingat akan tugas yang diberikan kepadanya
“kamu ini ya, dari kecil sampai sekarang selalu bertanya banyak dalam sekali
tanya” kata Arman dengan tersenyum serta melepaskan pelukannya
“kok mas Arman nangis? Harusnya mas
nagisnya tuh pas meluk Intan bukan Dita” kata Dita yang tidak mengerti dengan
sikap Arman, sementara Intan yang berjalan mendekati merek merasakan ada yang
aneh dengan sikap kakaknya selama ini
“Intan sini dong, mas peluk juga” kata
Arman menegadahkan tangannya agar Intan mendekat padanya, dan Intan pun berlari
kepelukan Arman dengan gembira
“jahat ih, harusnya kan aku yang
adeknya mas Arman yang di peluk, malah si zaenab yang ini” kata Intan yang
cemburu sambil mencubit lengan Dita mereka bertiga pun tertawa bersama, Arman
memeluk dua intan dan Dita.
__ADS_1