Untuk istriku

Untuk istriku
Bonus dari Atasan


__ADS_3

Sinar matahari masuk dari sela-sela


ranting pohon yang tumbuh subur diluar candela. Jam bekerpun berbunyi nyaring


sontak saja yang masih terlelap disebelah jam itu langsung kaget dibuatnya


“Astaga! Kok bisa sich gue tidur kayak


kebo gak denger apa-apa” gerutu Intan yang sadar dirinya terlambat bangun, dia


langsung berlari kekamar mandi dan bersiap-siap ke kantor, setelan maroon


dengan rok selutut dikenakannya membuat dia terlihat manis.


“hey sayang, sarapan dulu” suara mama Intan


yang bingung melihat putrinya itu tergesa-gesa


“gak usah mam, sarapan ini aj di mobil,


udah terlambat” bantah Intan sambil menunjukkan roti dan apel yang di bawanya,


dia bergegas menuju pintu Nissan Juke merah miliknya, mobilnya pun meluncur


menuju tempat tujuannya, sesekali dia melirik kearah jam tangan mungilnya.


“mati gue, pake acara macet segala”


gerutunya ketika jalan yang dilewatinya tiba-tiba macet. Setelah 10 menit


terdampar di tengah kemacetan mobil Intan masuk ke halaman parkir sebuah gedung


tinggi.


“pagi pak” sapanya pada satpam pintu


masuk sembari berlari kecil


“tan tan tan, Mr Nicholas nanyain kamu


tuch” kata vina receptionis gedung tinggi tempat Intan bekerja yang membuat


langkah Intan terhenti dan menoleh padanya.


“ oh iya, maksih ya” jawabnya singkat


dan cepat-cepat dia menuju lift


"Aduh


kenapa pake acara kesiangan juga, mampus gue kalo sampek Mr Nicholas gak suka


sama desain desain yang sudah gue kirim kemarin” kata


Intan dalam hati


Pintu lift terbuka dan Intan cepat-cepat


meletakkan barang-barangnya di meja atas meja kerja dan langsung menuju ruangan


Mr. Nicholas dia pun mengetuk pintu pelan-pelan dengan gugup dan ketakutan


“come in” kata suara Mr Nicholas dari


dalam ruangan, Intan pun masuk dengan wajah takut menghiasi parasnya yang


manis.


“good morning Mr, sorry I am late” kata Intan


mengawali sapaan paginya


“its ok, I checked your work, but I


don’t like the color. Please kamu desain lagi dengan warna yang lebih glamour


untuk yang ini, and this one berikan sentuhan warna depresi, another one its


fine” kata Nicholas memberitahukan seraya menyodorkan beberapa kertas pada Intan


dan meninggalkan satu kertas berisi gambar didepannya.


“baik Mr, akan saya perbaiki, akan saya


kirim ke surel Mr sebelum makan siang” kata Intan dengan tegas dan tenang meski


hatinya dilanda ketakutan. Dia pun menerima berkas yang disodorkan Nicholas.


“no, its ok itu tidak burur-buru, ini


masih minggu depan setelah ini kamu ikut saya meeting dan melihat bahan interior” kata


Nicholas menambahkan serta menatap pada Intan dengan senyumnya yang meski tidak


muda lagi terlihat jelas dulunya dia adalah laki-laki tampan yang kini tertutup


oleh kewibawaan dan berkarakternya.


“baik Mr, anything else Mr? Tanya Intan


memastikan untuk persiapan meetingnya


“no, Mr samsul already prepare all for


meeting, you just join and check the goods” kata Nicholas lagi dengan berwibawa.


“baik Mr” jawab Intan singkat, dia pun


berpamitan untuk kembali ke meja kerjanya. Ssesampai dimeja kerjanya dia


menyandarkan kepalanya di kursi dan menarik napas panjang


“warna depresi itu yang seperti apa,


bukanya warna depresi itu abu-abu” gerutu Intan dengan bibir manyun yang


membuat dia terlihat lucu.


Jam makan siang pun tiba, meeting dan


survey bahan interior pun sudah selesai, Intan bernapas lega dengan aktivitas


paginya, kembali dia melihat kertas-kertas hasil desainya itu dan memikirkan


apa yang harus di perbarui dengan gambar-gambarnya di atidak menemukan ide sama


sekali.


“Intan” kata Nicholas yang baru saja


keluar dari ruangannya itu, sontak membuat Intan terkejut dan langsung berdiri


dari kursinya


“ yes Mr” jawab Intan dengan ekspresi


terkejutnya


“kerja bagus hari ni, kamu boleh pulang


kalau kamu capek, itu bonus kamu hari ini” kata Nicholas dengan senyum


wibawanya, yang kemudian melangkah kedalam lift


“thanks Mr “ jawab Intan dengan senyum


lebar penuh kemenangan, karyawan yang lainnya pun melongo saling berpandangan


bergantian melihat sikap atasannya yang berbeda tak seperti biasanya.


“yess” kata Intan dengan mengepalkan


tangannya ditariknya siku kebawah dengan girang dia membereskan mejanya. Tak


lupa dia menyimpan beberapa desain yang dikebalikan kepadanya oleh Nicholas


kedalam tas kerjanya.


“masih siang, shopping dulu ah” guman Intan


dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.


“tan kok bisa sich Mr Nicholas baik


banget sama kamu” Tanya karyawan perempuan lainnya yang berada diseberang meja,


“oh tadi itu, pas meeting gue nego sama


pemilih bahan buat dikasih harga lebih murah dari biasanya tapi masih dengan


kualitas yang sama bagus” jelas Intan yang masih merapikan mejanya, sesekali


dia melihat kearah rekan kerjanya yang di seberang meja.


“kok bisa? Bukanya harga yang sebelumnya


sudah miring banget?” Tanya Fajar yang tiba-tiba datang menghampiri Intan


“bisa dong, kan pake mata genit gue” jawab


Intan centil sembari mengedipkan matanya berkali-kali memperagakan kegenitan


yang dia maksudkan, yang lainnya pun tertawa melihat itu.


“ah kamu mah dimana aja selalu genit”

__ADS_1


timpal yang lainnya yang masih tersenyum melihat tingkah Intan


“ini orang udah miring otaknya,


gara-gara desain ditolak” canda rekan lainnya yang membuat semuanya pun tertawa


“loe tau aj otak gue miring” jawab Intan


dengan senyum yang dibuat-buat dan masih mengedipkan matanya berkali-kali


“yah udah gue balik duluan ya, bey bey”


kata Intan dengan gaya sok kecentilan lantaran hari ini dia dapat mandate


langsung dari atasannya boleh pulang sebagai bonus hasi kerjanya.


***


Hari ini matahari bersinat terik, cukup


untuk membuat siapa saja cepat haus, Dita menghentikan langkahnya di taman sebuah


perumahan, dia melihat ada tukang somay langgananya dan beberapa gerobak


penjual minuman. Dita berjalan mendekati mereka dan mengambil tempat duduk yang


masih didalam taman, dia memilih tempat yang rindang untuk melindunginya dari


terik matahari.


“bang es degannya satu ya” kata Dita


pada tukang es degan yang menjawab tanpa menoleh itu, dibuatkannya es degan


pesanan Dita dengan cepat.


“ini mbak es degannya” sambil


menyerahkan segelas es degan segar kedepan Dita


“eh iya makasih bang” jawab Dita sembari


cepat-cepat menerima pesanannya itu. Sambil menikmati es degan disandarkannya


punggung kecilnya pada meja beton yang ada dibelakangnya.


“sudah selesai neng ngajarnya?” Tanya


tukang somay dengan ramah


“iya bang” jawab Dita lembut


“nggak makan somay neng?: Tanya tukang


somay menawarkan.


“nanti dulu bang, angkot juga kan


melintasnya masih lama” jawab Dita yang dengan melihat kanan kiri memastikan


angkutan umum yang biasa dia tumpangi menuju kontrakan kecilnya belum lewat.


“angkot kuning ya neng? Barusan aja


lewat” kata tukang es degan sembari menujuk dengan tangannya arah angkutan itu


berlalu


“heh, sumpah bang” Tanya Dita melotot


lantaran kaget angkutan umum jurusan yang biasa ditumpanginya sudah berlalu.


“gue harus nunggu jam 3 dong” guman dita


dengan raut muka sedih


“iya neng, barusan lewat” kata tukang


somay memberi kepastian keterangan pedagang disebelahnya itu.


“bakal jadi tape gue disini” katanya


pada dua pedagang didepannya itu yang disambut gelak tawa mereka, Dita


menggeser posisi duduknya supaya tetap menghadap pada pedagang-pedagang yang


ada didepannya tetapi bisa menggunakan meja yang digunakannya untuk bersandar.


Dia mengeluarkan pencil dan buku dari dalam tasnya tangannya mulai menggambar


apa yang dialihat didepannya. Terdengar sebuah mobil berhenti Dita menoleh


berharap itu angkutan umum, tetapi bibirnya manyun lantaran itu mobil pribadi yang


“bang somay dong” kata Dita dengan malas


memesan somay, satu jam dia menunggu angkutan umum membuatnya lapar, dua lembar


kertas sudah penuh dengan guratan-guratan cantik yang terbentuk persis seperti


pemandangan didepannya,


“baik neng” kata tukang somay


“kata Fajar ada jual somay dekat disni


itu dimana ya?” Tanya Intan pada dirinya sendiri sambil melihat kesana kemari,


mobil yang dikemudikannya berjalan sangat pelan, bibirnya tersenyum tatkala


melihat sederatan penjual makanan dan minuman.


“nah itu dia, perut gue udah sangat


lapar” katanya lagi, Intan pun meminggirkan mobilnya dan memarkirnya di ujung


taman, yang kemudian berjalan kearah penjual-penjual itu.


“bang somay satu ya” katanya pada


penjual somay


“baik mbak” kata tukang somay, Intan


berdiri dibelakang tukang somay menunggu pesananya


“mbak duduk dulu mbak, mau dibungkus


atau dimakan disini” kata tukang somay memberikan kursi plastik pada Intan yang


langsung disambarnya kursi itu dan ditempelkannya pantat sexynya diatas kursi


itu.


“Makan disini mana mejanya bang?” Tanya Intan,


dia melongok melihat kedepan rombong tak ditemuinya meja sama sekali,


pandangannya pun mengikuti tukang somay yang berjalan kearah Dita membawa


sepiring somay untuk diberikan pada Dita


“bisa disini neng, kalau neng sudah


lapar” kata tukang somay itu dan langsung kembali ke rombongnya menyiapkan


pesanan Intan yang pandangannya masih mengikuti abang tukang somay”


“oh iya boleh deh bang makan ….” Belum


kalimatnya selesai dia memalingkan kembali badannya dengan cepat tanpa beranjak


dari kursi plastik yang didudukinya


“eh gatot bambank … Dita bukan?” suara Intan


pelan yang masih terdengar oleh tukang somay


“mbak kenal?” Tanya tukang somay


“iya bang makan sini” jawab Intan pada


tukang somay yang tidak fokus dengan pertanyaanya tukang somay itu lantaran


memperhatikan Dita yang sedang menikmati somay,  pelan-pelan ia berdiri dan menghampiri Dita


yang asik dengan somay dudepannya


“Dita? Kamu Dita kan?” Tanya Intan


sambil menunjuk Dita dengan telunjuk jarinya, Dita yang tengah asik memakan


somay itu mendongakkan kepalanya melihat pada suara yang memanggilnya sambil


mengangguk mengiyakan


“Dita Ayura” Intan bertanya sekali lagi


meyakinkan yang dijawab anggukan lagi oleh Dita yang bengong mengingat siapa


wanita yang mengenalnya itu.


“ini gue, loe gak inget sama gue” Intan


melanjutkan kalimatnya dengan kegirangan sambil kedua tangannya memegang

__ADS_1


dadanya, Dita hanya menatapnya tajam dengan alis kanan terangkat berusaha


mencari tahu siapa wanita yang berdandan cantik didepannya itu.


“pelari tercepat, tercuek dan jutek


sekampus, itu loe kan?” Intan menambahkan lagi ingatannya tentang Dita semasa


dikampus yang membuat Dita semakin bingung, dia benar-benar tidak mengenali wanita


didepannya itu, Intan pun mendekat pada Dita


“ya ampun Dita loe gak ngenalin Gue,


kampret loe” kata Intan sambil memukul lengan Dita yang masih bengong


“ini gue tantan Ditaaaa” Intan


memperkenalkan diri dengan kegirangan manja berusaha mengingatkan Dita siapa


dirinya Dita pun tersenyum lebar mengingat siapa yang ada dipedannya itu


“tantan?” Tanya Dita dengan wajah


berseri sambil menunjuk Intak yang membuat Intan semakin kegirangan


“Intana Putri duyung?” Tanya Dita lagi


memastikan


“heem” jawab Intan manja sambil mengaggukkan


kepalanya cepat-cepat


“aahhhh” teriak mereka bersama-sama


mengingat masing-masing dengan siapa mereka berhadapan, lalu mereka pun


berpelukan kegirangan membuat penjual yang ada di taman itu melihat kepada mereka dengan heran


“akhirnya, kemana aja loe ta,abis lulus


loe menghilang, gue kan jadi sedih” kata Intan dengan mimk  wajah sedih yang


dibuat-buat dan suara manjanya


“maaf, gue Cuma gak mau ngrepotin loe”


jawab Dita menjelaskan


“mbak ini somay nya” kata tukang somay dengan lembut


itu yang langsung meletakkanya di atas meja beton didepan Dita dan Intan.


“iya bang makasih” jawab Intan dan Dita


bersamaan dan mereka pun duduk menikmati somay dan berbincang-bincang ringan


“eh sorry ya tan gue g ngenalin loe,


abisnya loe beda banget, makin cantik, sumpah” kata Dita memuji sahabatnya


sejak kuliah itu dengan pandangan kagum. Wanita yang didepannya itu dulu dan


sekarang sangat berbeda jauh


“iya, gue kerja di kantor bonafit, jadi


gue kudu dandan dah, yah ginilah gue sekarang kaya ondel-ondel” jawab Intan


dengan senyumnya yang membuat gadis itu terlihat makin catik jika tersenyum.


“busyettt, kayak gini loe bilang


ondel-ondel, tyuz yang disono no apaan?” Tanya Dita sambil menunjuk papan


reklame yang bergambar ondel-ondel dengan dagunya.


Tawa riang mereka terdengar renyah


membuat beberap pembeli di depan rombong somay melihat pada mereka.


“tapi ta, loe kok sekarang kurusan sih?


Loe baik-baik aja kan? Tanya Intan memastikan keadaanya sahabatnya itu sambil


memegangi kedua pipi Dita


“heem gue baik-baik aja kok” Dita


menjawab disertai anggukan, tapi tatapan Intan masih mencari tahu apakah


sahabatnya menyembunyikan sesuatu, lantaran dia kenal betul dengan Dita Ayura


Mahendra yang ada didepannya itu, dia menatap Dita dengan sirat muka sedih


“woi, loe ngliatin gue gitu amat, gue


baik-baik aj tan” kata Dita menenangkan sahabatnya sembari menurunkan tangan


Intan yang memegangi pipinya.


“loe yakin?” Tanya Intan memastikan


“heem” jawab Dita dengan anggukan kepala


dan raut wajah manja


“nah loe ngapain disini?” Tanya Intan


tiba-tiba sambil melihat kanan kiri


“abis ngajar” jawab Dita santai dan


kembali memakan somay yang dia abaikan lantaran pertemuannya dengan Intan,


sahabatnya semasa kuliah, tak hanya itu, mereka bertetangga sejak kecil, tetapi


menginjak SMA Intan pindah rumah. Mereka bertemu lagi saat kuliah dan mereka


pun menjadi sahabat baik.


“masih ngajar Bahasa asing kayak dulu”


Tanya Intan yang juga sambil menikmati somay nya itu


“iya, Cuma itu satu-satunya gue bisa


makan tan” jawab Dita santai tanpa beban membuat Intan melihat kearah


sahabatnya itu dengan tatapan yang penuh tanda Tanya, dia menebak-nebak nasib


sahabatnya lantaran magang kuliah saja dia tidak diterima di perusahaan-perusahaan


besar karena desas desus almarhum ayahnya.


“setiap senin dan rabu gue disini makan


somay jam 1 siang” tambah Dita menerangkan kegiatannya. Acara makan somay pun


selesai dan mereka masih berlanjut mengobrol ditempat mereka bertemu itu. Jam


menunjukkan jam 2:30 mobil pribadi sudah mulai berlalu lalang


“abis ini loe mau kemana?” Tanya Intan


“pulang, kemana lagi buk, entar sore jam


enam gue ngajari bu RT” jawab Dita dengan senyum manja pada Intan


“onde mande bambank, serius loe?” Tanya Intan


meloto keheranan


“bu RT?” Tanya Intan lagi memastikan


yang dijawab anggukan oleh Dita yang disambut pula dengan gelak tawa Intan


“eh kerumah gue yuk, bentar aj, entar


gue anterin deh biar loe gak telat ngajar” pinta Intan sembari merayu manja


“hmm giman ya” jawab Dita sembari


berpikir


“duh jangan lama-lama mikirnya” suara


intan berteriak gemas


“lagian bokap tuh nanyain loe mulu,


nyokap juga kangen sama loe” jelas Intan sambil menepuk pundak Dita


“ya udah, tapi jam setengah lima anterin


gue pulang ya?” jawab Dita pada Intan


“beres bu guru” jawab Intan dengan


senyum lebar, mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan kearah mobil Intan


yang diparkirnya diujung taman. Mobil pun meluncur dan menghilang dari


pandangan.

__ADS_1


__ADS_2