
Sinar matahari masuk dari sela-sela
ranting pohon yang tumbuh subur diluar candela. Jam bekerpun berbunyi nyaring
sontak saja yang masih terlelap disebelah jam itu langsung kaget dibuatnya
“Astaga! Kok bisa sich gue tidur kayak
kebo gak denger apa-apa” gerutu Intan yang sadar dirinya terlambat bangun, dia
langsung berlari kekamar mandi dan bersiap-siap ke kantor, setelan maroon
dengan rok selutut dikenakannya membuat dia terlihat manis.
“hey sayang, sarapan dulu” suara mama Intan
yang bingung melihat putrinya itu tergesa-gesa
“gak usah mam, sarapan ini aj di mobil,
udah terlambat” bantah Intan sambil menunjukkan roti dan apel yang di bawanya,
dia bergegas menuju pintu Nissan Juke merah miliknya, mobilnya pun meluncur
menuju tempat tujuannya, sesekali dia melirik kearah jam tangan mungilnya.
“mati gue, pake acara macet segala”
gerutunya ketika jalan yang dilewatinya tiba-tiba macet. Setelah 10 menit
terdampar di tengah kemacetan mobil Intan masuk ke halaman parkir sebuah gedung
tinggi.
“pagi pak” sapanya pada satpam pintu
masuk sembari berlari kecil
“tan tan tan, Mr Nicholas nanyain kamu
tuch” kata vina receptionis gedung tinggi tempat Intan bekerja yang membuat
langkah Intan terhenti dan menoleh padanya.
“ oh iya, maksih ya” jawabnya singkat
dan cepat-cepat dia menuju lift
"Aduh
kenapa pake acara kesiangan juga, mampus gue kalo sampek Mr Nicholas gak suka
sama desain desain yang sudah gue kirim kemarin” kata
Intan dalam hati
Pintu lift terbuka dan Intan cepat-cepat
meletakkan barang-barangnya di meja atas meja kerja dan langsung menuju ruangan
Mr. Nicholas dia pun mengetuk pintu pelan-pelan dengan gugup dan ketakutan
“come in” kata suara Mr Nicholas dari
dalam ruangan, Intan pun masuk dengan wajah takut menghiasi parasnya yang
manis.
“good morning Mr, sorry I am late” kata Intan
mengawali sapaan paginya
“its ok, I checked your work, but I
don’t like the color. Please kamu desain lagi dengan warna yang lebih glamour
untuk yang ini, and this one berikan sentuhan warna depresi, another one its
fine” kata Nicholas memberitahukan seraya menyodorkan beberapa kertas pada Intan
dan meninggalkan satu kertas berisi gambar didepannya.
“baik Mr, akan saya perbaiki, akan saya
kirim ke surel Mr sebelum makan siang” kata Intan dengan tegas dan tenang meski
hatinya dilanda ketakutan. Dia pun menerima berkas yang disodorkan Nicholas.
“no, its ok itu tidak burur-buru, ini
masih minggu depan setelah ini kamu ikut saya meeting dan melihat bahan interior” kata
Nicholas menambahkan serta menatap pada Intan dengan senyumnya yang meski tidak
muda lagi terlihat jelas dulunya dia adalah laki-laki tampan yang kini tertutup
oleh kewibawaan dan berkarakternya.
“baik Mr, anything else Mr? Tanya Intan
memastikan untuk persiapan meetingnya
“no, Mr samsul already prepare all for
meeting, you just join and check the goods” kata Nicholas lagi dengan berwibawa.
“baik Mr” jawab Intan singkat, dia pun
berpamitan untuk kembali ke meja kerjanya. Ssesampai dimeja kerjanya dia
menyandarkan kepalanya di kursi dan menarik napas panjang
“warna depresi itu yang seperti apa,
bukanya warna depresi itu abu-abu” gerutu Intan dengan bibir manyun yang
membuat dia terlihat lucu.
Jam makan siang pun tiba, meeting dan
survey bahan interior pun sudah selesai, Intan bernapas lega dengan aktivitas
paginya, kembali dia melihat kertas-kertas hasil desainya itu dan memikirkan
apa yang harus di perbarui dengan gambar-gambarnya di atidak menemukan ide sama
sekali.
“Intan” kata Nicholas yang baru saja
keluar dari ruangannya itu, sontak membuat Intan terkejut dan langsung berdiri
dari kursinya
“ yes Mr” jawab Intan dengan ekspresi
terkejutnya
“kerja bagus hari ni, kamu boleh pulang
kalau kamu capek, itu bonus kamu hari ini” kata Nicholas dengan senyum
wibawanya, yang kemudian melangkah kedalam lift
“thanks Mr “ jawab Intan dengan senyum
lebar penuh kemenangan, karyawan yang lainnya pun melongo saling berpandangan
bergantian melihat sikap atasannya yang berbeda tak seperti biasanya.
“yess” kata Intan dengan mengepalkan
tangannya ditariknya siku kebawah dengan girang dia membereskan mejanya. Tak
lupa dia menyimpan beberapa desain yang dikebalikan kepadanya oleh Nicholas
kedalam tas kerjanya.
“masih siang, shopping dulu ah” guman Intan
dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
“tan kok bisa sich Mr Nicholas baik
banget sama kamu” Tanya karyawan perempuan lainnya yang berada diseberang meja,
“oh tadi itu, pas meeting gue nego sama
pemilih bahan buat dikasih harga lebih murah dari biasanya tapi masih dengan
kualitas yang sama bagus” jelas Intan yang masih merapikan mejanya, sesekali
dia melihat kearah rekan kerjanya yang di seberang meja.
“kok bisa? Bukanya harga yang sebelumnya
sudah miring banget?” Tanya Fajar yang tiba-tiba datang menghampiri Intan
“bisa dong, kan pake mata genit gue” jawab
Intan centil sembari mengedipkan matanya berkali-kali memperagakan kegenitan
yang dia maksudkan, yang lainnya pun tertawa melihat itu.
“ah kamu mah dimana aja selalu genit”
__ADS_1
timpal yang lainnya yang masih tersenyum melihat tingkah Intan
“ini orang udah miring otaknya,
gara-gara desain ditolak” canda rekan lainnya yang membuat semuanya pun tertawa
“loe tau aj otak gue miring” jawab Intan
dengan senyum yang dibuat-buat dan masih mengedipkan matanya berkali-kali
“yah udah gue balik duluan ya, bey bey”
kata Intan dengan gaya sok kecentilan lantaran hari ini dia dapat mandate
langsung dari atasannya boleh pulang sebagai bonus hasi kerjanya.
***
Hari ini matahari bersinat terik, cukup
untuk membuat siapa saja cepat haus, Dita menghentikan langkahnya di taman sebuah
perumahan, dia melihat ada tukang somay langgananya dan beberapa gerobak
penjual minuman. Dita berjalan mendekati mereka dan mengambil tempat duduk yang
masih didalam taman, dia memilih tempat yang rindang untuk melindunginya dari
terik matahari.
“bang es degannya satu ya” kata Dita
pada tukang es degan yang menjawab tanpa menoleh itu, dibuatkannya es degan
pesanan Dita dengan cepat.
“ini mbak es degannya” sambil
menyerahkan segelas es degan segar kedepan Dita
“eh iya makasih bang” jawab Dita sembari
cepat-cepat menerima pesanannya itu. Sambil menikmati es degan disandarkannya
punggung kecilnya pada meja beton yang ada dibelakangnya.
“sudah selesai neng ngajarnya?” Tanya
tukang somay dengan ramah
“iya bang” jawab Dita lembut
“nggak makan somay neng?: Tanya tukang
somay menawarkan.
“nanti dulu bang, angkot juga kan
melintasnya masih lama” jawab Dita yang dengan melihat kanan kiri memastikan
angkutan umum yang biasa dia tumpangi menuju kontrakan kecilnya belum lewat.
“angkot kuning ya neng? Barusan aja
lewat” kata tukang es degan sembari menujuk dengan tangannya arah angkutan itu
berlalu
“heh, sumpah bang” Tanya Dita melotot
lantaran kaget angkutan umum jurusan yang biasa ditumpanginya sudah berlalu.
“gue harus nunggu jam 3 dong” guman dita
dengan raut muka sedih
“iya neng, barusan lewat” kata tukang
somay memberi kepastian keterangan pedagang disebelahnya itu.
“bakal jadi tape gue disini” katanya
pada dua pedagang didepannya itu yang disambut gelak tawa mereka, Dita
menggeser posisi duduknya supaya tetap menghadap pada pedagang-pedagang yang
ada didepannya tetapi bisa menggunakan meja yang digunakannya untuk bersandar.
Dia mengeluarkan pencil dan buku dari dalam tasnya tangannya mulai menggambar
apa yang dialihat didepannya. Terdengar sebuah mobil berhenti Dita menoleh
berharap itu angkutan umum, tetapi bibirnya manyun lantaran itu mobil pribadi yang
“bang somay dong” kata Dita dengan malas
memesan somay, satu jam dia menunggu angkutan umum membuatnya lapar, dua lembar
kertas sudah penuh dengan guratan-guratan cantik yang terbentuk persis seperti
pemandangan didepannya,
“baik neng” kata tukang somay
“kata Fajar ada jual somay dekat disni
itu dimana ya?” Tanya Intan pada dirinya sendiri sambil melihat kesana kemari,
mobil yang dikemudikannya berjalan sangat pelan, bibirnya tersenyum tatkala
melihat sederatan penjual makanan dan minuman.
“nah itu dia, perut gue udah sangat
lapar” katanya lagi, Intan pun meminggirkan mobilnya dan memarkirnya di ujung
taman, yang kemudian berjalan kearah penjual-penjual itu.
“bang somay satu ya” katanya pada
penjual somay
“baik mbak” kata tukang somay, Intan
berdiri dibelakang tukang somay menunggu pesananya
“mbak duduk dulu mbak, mau dibungkus
atau dimakan disini” kata tukang somay memberikan kursi plastik pada Intan yang
langsung disambarnya kursi itu dan ditempelkannya pantat sexynya diatas kursi
itu.
“Makan disini mana mejanya bang?” Tanya Intan,
dia melongok melihat kedepan rombong tak ditemuinya meja sama sekali,
pandangannya pun mengikuti tukang somay yang berjalan kearah Dita membawa
sepiring somay untuk diberikan pada Dita
“bisa disini neng, kalau neng sudah
lapar” kata tukang somay itu dan langsung kembali ke rombongnya menyiapkan
pesanan Intan yang pandangannya masih mengikuti abang tukang somay”
“oh iya boleh deh bang makan ….” Belum
kalimatnya selesai dia memalingkan kembali badannya dengan cepat tanpa beranjak
dari kursi plastik yang didudukinya
“eh gatot bambank … Dita bukan?” suara Intan
pelan yang masih terdengar oleh tukang somay
“mbak kenal?” Tanya tukang somay
“iya bang makan sini” jawab Intan pada
tukang somay yang tidak fokus dengan pertanyaanya tukang somay itu lantaran
memperhatikan Dita yang sedang menikmati somay, pelan-pelan ia berdiri dan menghampiri Dita
yang asik dengan somay dudepannya
“Dita? Kamu Dita kan?” Tanya Intan
sambil menunjuk Dita dengan telunjuk jarinya, Dita yang tengah asik memakan
somay itu mendongakkan kepalanya melihat pada suara yang memanggilnya sambil
mengangguk mengiyakan
“Dita Ayura” Intan bertanya sekali lagi
meyakinkan yang dijawab anggukan lagi oleh Dita yang bengong mengingat siapa
wanita yang mengenalnya itu.
“ini gue, loe gak inget sama gue” Intan
melanjutkan kalimatnya dengan kegirangan sambil kedua tangannya memegang
__ADS_1
dadanya, Dita hanya menatapnya tajam dengan alis kanan terangkat berusaha
mencari tahu siapa wanita yang berdandan cantik didepannya itu.
“pelari tercepat, tercuek dan jutek
sekampus, itu loe kan?” Intan menambahkan lagi ingatannya tentang Dita semasa
dikampus yang membuat Dita semakin bingung, dia benar-benar tidak mengenali wanita
didepannya itu, Intan pun mendekat pada Dita
“ya ampun Dita loe gak ngenalin Gue,
kampret loe” kata Intan sambil memukul lengan Dita yang masih bengong
“ini gue tantan Ditaaaa” Intan
memperkenalkan diri dengan kegirangan manja berusaha mengingatkan Dita siapa
dirinya Dita pun tersenyum lebar mengingat siapa yang ada dipedannya itu
“tantan?” Tanya Dita dengan wajah
berseri sambil menunjuk Intak yang membuat Intan semakin kegirangan
“Intana Putri duyung?” Tanya Dita lagi
memastikan
“heem” jawab Intan manja sambil mengaggukkan
kepalanya cepat-cepat
“aahhhh” teriak mereka bersama-sama
mengingat masing-masing dengan siapa mereka berhadapan, lalu mereka pun
berpelukan kegirangan membuat penjual yang ada di taman itu melihat kepada mereka dengan heran
“akhirnya, kemana aja loe ta,abis lulus
loe menghilang, gue kan jadi sedih” kata Intan dengan mimk wajah sedih yang
dibuat-buat dan suara manjanya
“maaf, gue Cuma gak mau ngrepotin loe”
jawab Dita menjelaskan
“mbak ini somay nya” kata tukang somay dengan lembut
itu yang langsung meletakkanya di atas meja beton didepan Dita dan Intan.
“iya bang makasih” jawab Intan dan Dita
bersamaan dan mereka pun duduk menikmati somay dan berbincang-bincang ringan
“eh sorry ya tan gue g ngenalin loe,
abisnya loe beda banget, makin cantik, sumpah” kata Dita memuji sahabatnya
sejak kuliah itu dengan pandangan kagum. Wanita yang didepannya itu dulu dan
sekarang sangat berbeda jauh
“iya, gue kerja di kantor bonafit, jadi
gue kudu dandan dah, yah ginilah gue sekarang kaya ondel-ondel” jawab Intan
dengan senyumnya yang membuat gadis itu terlihat makin catik jika tersenyum.
“busyettt, kayak gini loe bilang
ondel-ondel, tyuz yang disono no apaan?” Tanya Dita sambil menunjuk papan
reklame yang bergambar ondel-ondel dengan dagunya.
Tawa riang mereka terdengar renyah
membuat beberap pembeli di depan rombong somay melihat pada mereka.
“tapi ta, loe kok sekarang kurusan sih?
Loe baik-baik aja kan? Tanya Intan memastikan keadaanya sahabatnya itu sambil
memegangi kedua pipi Dita
“heem gue baik-baik aja kok” Dita
menjawab disertai anggukan, tapi tatapan Intan masih mencari tahu apakah
sahabatnya menyembunyikan sesuatu, lantaran dia kenal betul dengan Dita Ayura
Mahendra yang ada didepannya itu, dia menatap Dita dengan sirat muka sedih
“woi, loe ngliatin gue gitu amat, gue
baik-baik aj tan” kata Dita menenangkan sahabatnya sembari menurunkan tangan
Intan yang memegangi pipinya.
“loe yakin?” Tanya Intan memastikan
“heem” jawab Dita dengan anggukan kepala
dan raut wajah manja
“nah loe ngapain disini?” Tanya Intan
tiba-tiba sambil melihat kanan kiri
“abis ngajar” jawab Dita santai dan
kembali memakan somay yang dia abaikan lantaran pertemuannya dengan Intan,
sahabatnya semasa kuliah, tak hanya itu, mereka bertetangga sejak kecil, tetapi
menginjak SMA Intan pindah rumah. Mereka bertemu lagi saat kuliah dan mereka
pun menjadi sahabat baik.
“masih ngajar Bahasa asing kayak dulu”
Tanya Intan yang juga sambil menikmati somay nya itu
“iya, Cuma itu satu-satunya gue bisa
makan tan” jawab Dita santai tanpa beban membuat Intan melihat kearah
sahabatnya itu dengan tatapan yang penuh tanda Tanya, dia menebak-nebak nasib
sahabatnya lantaran magang kuliah saja dia tidak diterima di perusahaan-perusahaan
besar karena desas desus almarhum ayahnya.
“setiap senin dan rabu gue disini makan
somay jam 1 siang” tambah Dita menerangkan kegiatannya. Acara makan somay pun
selesai dan mereka masih berlanjut mengobrol ditempat mereka bertemu itu. Jam
menunjukkan jam 2:30 mobil pribadi sudah mulai berlalu lalang
“abis ini loe mau kemana?” Tanya Intan
“pulang, kemana lagi buk, entar sore jam
enam gue ngajari bu RT” jawab Dita dengan senyum manja pada Intan
“onde mande bambank, serius loe?” Tanya Intan
meloto keheranan
“bu RT?” Tanya Intan lagi memastikan
yang dijawab anggukan oleh Dita yang disambut pula dengan gelak tawa Intan
“eh kerumah gue yuk, bentar aj, entar
gue anterin deh biar loe gak telat ngajar” pinta Intan sembari merayu manja
“hmm giman ya” jawab Dita sembari
berpikir
“duh jangan lama-lama mikirnya” suara
intan berteriak gemas
“lagian bokap tuh nanyain loe mulu,
nyokap juga kangen sama loe” jelas Intan sambil menepuk pundak Dita
“ya udah, tapi jam setengah lima anterin
gue pulang ya?” jawab Dita pada Intan
“beres bu guru” jawab Intan dengan
senyum lebar, mereka pun beranjak dari duduknya dan berjalan kearah mobil Intan
yang diparkirnya diujung taman. Mobil pun meluncur dan menghilang dari
pandangan.
__ADS_1