
Dengan wajah lesu, Millan masuk kedalam kamarnya, disana Sean yang masih berkutat dengan pekerjaanya itu melihat istrinya yang terlihat lesu dan wajah sedih itu menghentikan aktivitasnya, ditutupnya laptop yang ada di depannya dan menghampiri Millan
“ada apa sayang?” tanya Sean sembari memeluk istrinya dari belakang
“Sean untuk pemotretan di Singapura berikan itu untuk saya” kata Millan dengan pelan dan terdengar putus asa
“itu hanya pemotretan kecil, sedangkan kamu model papan atas” jawab Sean santai
“aku hanya ingin bepergian saja” jawab Millan sembari memutar tubuhnya dan mengalungkan kedua tangannya di antara tubuh suaminya
“ada apa? Kamu terlihat mencemaskan sesuatu” kata Sean yang bisa menebak kecemasan istrinya itu
“aku hanya ingin bepergian saja, tidak ada yang lain” kata Millan masih menutupi kegelisahannya
“tidak, saya tahu kamu dengan benar, katakana saja” kata Sean dengan tatapan yakin pada istrinya
“apa kamu keberatan kalau kita mengadopsi anak?” tanya Millan dengan ragu ragu
“ada apa ini? Kenapa tiba tiba kamu berpikir untuk mengadopsi anak?” tanya Sean yang terkejut mendengar pertanyaan
istrinya
“Sean aku hanya ingin keluarga kecil kita sempurna” jawab Millan mengelak, tetapi Sean yakin ada sesuatu yang dia dengar hingga tiba tiba istrinya menanyakan niatnya untuk mengadopsi anak, dia yang tidak pernah ingin seorang anak yang tidak lahir dari rahimnya sendir atau darah dagingnya.
“katakan apa yang membuat kamu ingin mengadopsi anak? Yang aku tahu kamu tidak ingin jika itu bukan darah daging kita atau paling tidak itu adalah anakku” tanya Sean mencoba memastikan serta mencari tahu
“sudahlah lupakan” kata Millan yang putus asa, dia pun memeluk Sean dengan erat, Sean yakin ada sesuatu yang
mengaggu pikiran Millan, dia pun mengantarkan istrinya untuk berbaring dan menyelimutinya. Sean terus memikirkan keinginan Millan yang ingin mengadopsi anak, dia tidak yakin jika pernyataan istrinya itu serius akan tetapi dia juga tidak tahu penyebabnya apa yang membuat Millan mengucapkan kata-kata itu, yang dia ingat Millan bersedia untuk tidak melanjutkan kontraknya dengan agensi papan atas model internasional ketika memutuskan menerima lamaran Sean.
Millan gadis cantik yang tumbuh dan besar di panti asuhan itu benar benar jatuh cinta pada Sean bahkan sebelum dia berkarir didunia model, Sean yang tak pernah menanggapi serius akan perhatian Millan saat mereka masih sama sama di bangku sekolah itu membuat Millan bertekad untuk menjadi seorang model agar bisa sejajar dengan para wanita kaya lainnya untuk bersaing mendapatkan Sean, keinginan dan tekad Millan tak berjalan mulus hingga pada akhirnya salah satu tangan kanan Nicholas melihatnya termenung di sebuah ayunan di taman bermain yang tak jauh dari panti asuhan Millan, orang kepercayaan Nicholas itu mengambil foto-foto Millan dengan apik, foto natural yang membuat siapa saja kagum akan kecantikan yang tersembunyi pada gadis kecil itu, semenjak itu dia mulai mendapatkan pekerjaan sebagai model dan mendapat kontrak eksklusif dari brand ternama dan mampu membiayai pendidikannya sendiri dia pun memutuskan untuk keluar dari panti asuhan dan tinggal di rumahnya sendiri, dengan jeri payahnya dan dibantu oleh kakaknya Xighe dia mendapatkan posisi lima besar top model internasional.
Kehidupan Millan yang berawal dari sorang yatim piatu menjadi top model tanpa ada gosip seputaran hubungannya
dengan laki laki itu menarik perhatian Sean, wanita yang menjadi idola banyak para lelaki itu tak kunjung menampakkan siapa yang mendampinginya, Sean yang sempat mengira Xighe adalah kekasihnya tapi dibantah oleh Xighe, mereka hanya mempunyai hubungan kakak dan adik yang kuat, mereka berdua bertemu dan tumbuh
bersama di panti asuhan yang sama, mereka berdua kerap mendapatkan cemo’oh serta perlakuan kasar dari anak anak panti asuhan lainnya lantaran hanya mereka berdua yang di pungut dari jalanan oleh pengurus panti asuhan disanalah hubungan persaudaraan Millan dan Xighee lelaki berdarah campuran Belanda Jepang
itu, dia sengaja dibuang oleh orang tuanya dan di pungut oleh ketua yayasan panti asuhan.
“halo, kamu siapa aku Xighe, maukah kamu berteman denganku?” tanya Xighee pada Millan yang duduk sendiri karena dikucilkan teman teman panti asuhan lainya
“aku Millan, kita bukan teman, tapi saudara, bukankah itu kata tuan donatur” kata Millan dengan senyum
“iya kamu benar, karena aku lebih tua darimu, maka aku adalah kakakmu, bagaimana?” kata Xighe manawarkan pada Millan, gadis kecil berusia lima tahun itu pun mengangguk dan tersenyum riang. Semenjak itu persaudaraan mereka begitu kuat, Millan mendapatkan dukungan penuh dari Xighee terlebih setelah Xighee menemukan keluarganya di jepang, Xighee yang memiliki kemampuan rata rata itu benar benar melindungi Millan bahkan saat
mendapat ancaman dari para wanita yang berebut perhatian Sean tetapi Millan telah mendapatkan perhatian Sean terlebih dahulu. Berjalanan karir Millan semakin sukses berkat bantuan Xighee. Perjuangan Millan untuk bisa bersama Sean lelaki yang mencuri hatinya sejak lama itu meski tak berjalan dengan mudah tetapi pada akhirnya dia berhasil meluluhkan hati Sean dan menjadi istri Sean dengan mengorbankan karirnya, pernikahan dengan Sean membuatnya menghadapi banyak bahaya terlebih keluarga Deveraux sering berurusan dengan mafia dan
bahkan beberapa bisnis illegal yang dimiliki mereka, Millan beruntung Sean melindunginya dengan sangat ketat, tetapi bencana tak dapat di elakkan ketika Millan harus mengalami keguguran, Millan yang sedari awal tidak mudah untuk bisa hamil itu merasa deperesi dan mengurung diri hingga waktu yang lama, Sean pun dengan penuh perhatian mengembalikan percaya diri Millan dan mengorbitkannya kembali menjadi seorang model dengan bantuan Xighee. Hari-hari Millan kembali seperti sebelumya dia bisa melupakan kepahitan yang dia alami.
Hari-hari Millan yang kembali pada kesibukan pada dunia model itu menjauhkan dia dari berbagai ancaman yang
sebelumnya dia dapatkan, suaminya itu menjauhkan Millan dari berbagai masalah terlebih setelah beberapa musuh bisnisnya mengetahui semau masih dipegang kendali oleh Nicholas dan dan beberpaa pekerjaan dialihkan kepada Rafael. Perjalanan The Deveraux menjadi yang pertama ketika semua beralih pada pekerjaan yang legal di tangan Sean, dia memiliki beberapa orang orang penting dari berbagai kalangan membuat bisnisnya semakin berkembang sementara ayah dan adiknya meneruskan apa yang sudah dimulai di Negara dimana Dita dilahirkan. Millan benar-benar melupakan apa yang membuatnya bersedih, karirnya kembali mencuat setelah beberapa saat hilang dari dunia model, dia kembali menjadi idola banyak orang, dia pun tak lagi mempermasalahkan akan kehadiran anak di tengah tengah hubungannya dengan Sean, dia bahkan memberikan kebebasan kepada Sean jika ingin anak dari wanita lain. Meski kuputusan yang berat tetapi Millan yang menyadari itu nampak tegar. Lima tahun pernikahannya dengan Sean dia lalui dengan bahagia, mereka berkomitmen bahwa saling mendukung adalah kebahagiaan
__ADS_1
mereka untuk saat itu. Millan yang sering mendegar cerita mengenai Dita pun tak terusik bahkan semakin penasaran dengan Dita dan ingin segera menemuinya, menemui wanita yang selalu dibicarakan suaminya sebagai adiknya itu. Hari dimana Millan bertemu dengan Dita pun tiba tetapi tak disangka kini menjadi
ketakutan terbesarnya.
Millan yang sejak kecil tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, tetapi mendapatkan seorang ibu setelah bertemu dengan Febi saat Sean mengenalkan Millan sebagai kekasihnya delapan tahun silam. Millan benar benar beruntung mendapatkan Febi sebagai mertuanya karena Febi tak pernah memperlakukan Millan sebagai menantu tetapi seperti anak sendiri, bahkan Millan yang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak modelnya itu pun disambut baik oleh Febi, sama seperti saran Febi pada suaminya untuk membiarkan Millan kembali pada dunia model setelah mengalami keguguran, Febi benar benar memperlakukan Millan dengan baik. Tetapi kini Millan memiliki ketakutan tersendiri bahwa dia akan dianggap sebelah mata oleh Febi lantaran Febi yang mendambakan cucu telah menemukan wanita lain yang bisa meberikannya, yang tak lain adalah Dita, istri dari anak kedua Febi, Rafael
Meski Sean juga tak mempermasalahkan perihal kehadiran anak ditengah tengah mereka perasaan itu menghantu Millan. Sean tak menuntut Millan untuk melahirkan anak untuknya, dia berbahagia dengan wanita yang tulus mencintainya sejak lama itu. Sedangkan Millan berpikir lain, terlebih setelah mendengar Febi dan pembatunnya berbincang mengenai kehamilan Dita yang belum tentu kebenarannya. Millan yang tertidur pulas pulas itu masih
nampak kecemasan didalam wajahnya, Sean pun menutup laptopnya dan beranjak dari kursi, dia membaringkan tubuhnya didekat istrinya, dipeluknya istrinya itu berharap kekhawatiran di wajah istrinya itu hilang.
Tiga hari Millan membujuk Sean untuk mengambilnya sebagai model pada salah satu produk yang di luncurkan oleh The Deveraux tetapi Sean tak menanggapinya dengan serius, dia hanya meyakinkan Millan bahwa dia harus selalu bersamanya dan jika ingin berlibur saja maka Millan boleh memilih tujuan untuk berlibur. Millan benar benar merasa tak di inginkan dia memilih mengurung diri didalam kamarnya. Melihat Millan yang tak sejak dua hari jarang terlihat itu membuat Febi khawatir dia pun menghampiri Millan dikamarnya
“sayang, kamu kenapa? Sakit? Mami antar kedokter ya?” tanya Febi yang duduk disebelah Millan, nampak mata sembab Millan membuat Febi semakin khawatir
“nggak usah mami, saya baik baik saja” jawab Millan dengan suara parau
“kalau ada apa apa cerita sama mami, lihat mata kamu sembab begini, ada apa?”tanya Febi berusaha mencari tahu dan mencoba memancing Millan untuk bicara
“tidak ada apa apa mami, saya baik baik saja” jawab Millan pada mertuanya
“maafkan saya mami, saya bohong sama mami, saya tahu mami akan lebih menyayangi Dita dari pada saya”kata Millan dalam hatinya sembari melihat pada Febi dengan senyum yang dipaksakan
“ini tidak benar Millan, mami tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu, kalau tidak mana mungkin mata indah kamu sampai sembab seperti ini” kata Febi sembari mengusap air mata Millan yang membekas di pipi Millan
“mami saya hanya ingin mengambil pemotretan di singapura untuk produk yang akan diluncurkan kantor kita tetapi
Sean tidak mengizinkannya” kata Millan berusaha mengalihkan dan mencoba melihat respon Febi
“pasti ada alasannya kenapa tidak di berikan pada kamu, dan juga kalau hanya masalah itu kenapa sampai mata kamu sembab sayang” kata Febi dengan penuh kasih sayang, di peluknya Millan dengan hangat
“ya sudah, nanti mami akan bicara pada Sean” kata Febi menuruti keinginan menantunya itu, Febi pun mengajak Millan untuk keluar kamar selagi tak ada siapa siapa dirumah kecuali para pelayan mereka. Setelah makan malam pun Dita dan Rafael berpamitan untuk kembali ke apartemen mereka, sedangkan Febi berbincang dengan Sean mengenai keinginan Millan yang akhirnya Sean pun pasrah dia sendiri tak ingin istrinya itu bersedih, tetapi Sean tak percaya jika hanya penyebab istrinya itu mengurung diri adalah karena tak diberikan proyek Singapura kepadanya.
“Millan, apa kamu yakin untuk bergabung ke Singapura?” tanya Sean pada istrinya
“ya, saya ingin punya kesibukan lagi, setelah pemotretan yang terakhir saya hanya menghambur hamburkan uang” kata Millan yang kemudian memeluk suaminya itu
“ayolah, aku bekerja untukmu kamu bisa menghabiskan uangku kapanpun kamu mau” kata Sean berusaha membujuk istrinya untuk tidak ikut dalam proyek kecilnya itu kemudian mencium lembut leher istrinya
“Sean saya sudah menggunakan uangmu banyak sekali, saya bosan dan saya ingin melakukan sesuatu untukmu” kata Millan dengan yakin sementara Sean tak menjawab dan masih mencium lembut bagian leher istrinya.
“aku suamimu, ada yang tidak kamu katakan pada saya dan saya bisa merasakan itu” kata Sean yang menghentikan ciumannya, dia melihat pada istrinya dalam dalam
“tidak kusangka dia begitu peka dengan perubahanku tiga hari ini” kata Millan dalam hatinya yang juga menatap lembut pada suaminya itu
“kamu begitu percaya diri dengan apa yang kamu rasakan” kata Millan dengan tersenyum tipis, senyum kebahagiaan dengan pemahaman suaminya mengenai dirinya.
“kalau tidak ada sesuatu kenapa tiba tiba kamu ingin mengadopsi anak? Bukankah kita pernah membahas ini” kata Sean dengan menatap dalam dalam pada istrinya mencoba mencari tahu jawaban melalui mata istrinya, Febi yang tak sengaja mendengar kalimat Sean mengenai adopsi anak ketika melintas di depan kamar Sean dan hendak kekamar Rafael itu menghentikan langkahnya.
“Sean itu – itu “ kata Millan yang tak bisa mencari alasan menghindar dari pertanyaan Sean itu
“Millan, kita sudah pernah membicarakannya, saya tidak mempermasalahkannya meski kita tidak memiliki anak,
mami dan papi pun tak menuntut kita akan ini” kata Sean mengingatkan. Febi yang mendengarkan itu sedikit memahami kecemasan Millan
__ADS_1
“Sean, kalau Dita hamil melahirkan cucu untuk mami dan papi, apa mami akan lebih menyayangi Dita?” tanya Millan dengan tatapan cemas
“jadi itu yang kamu takutkan? Percayalah mami tidak akan memihak dia tetap akan menyayangi kamu seperti menyayangi Dita” kata Sean dengan tersenyum lembut pada Millan
“tidak, pasti berbeda, saya melihat mami begitu bersemangat berbicara pada bi Isa mengenai kehamilan Dita” kata Millan yang tidak percaya diri itu dengan memalingkan pandangannya dari Sean, dia
terlihat begitu cemas
“maksudmu Dita sekarang hamil?” tanya Sean penasaran
“tidak tahu tapi akhir akhir ini Dita sedikit berubah, bisa saja” jelas Millan dengan lesu, sementara Febi yang
mendengarkan pembicaraan didepan pintu kamar mereka itu pun melangkah pelan pelan pelan menjauh dan menuju kamar Rafael
“jadi itu yang ditakutkan Millan, kenapa tidak terpikir olehku” guman febi yang berada didalam kamar Rafael dengan wajahnya penuh dengan penyesalan, bagaimana dia bisa lupa dengan Millan, dia pun memeriksa kamar anaknya itu sejenak dan menyisihkan selimut yang sudah terpakai lalu memanggil pelayan agar mengambilnya untuk dicuci besok pagi.
Setelah sarapan dan semua beraktivitas pada pekerjaan masing masing, Febi mengajak Millan untuk berbelanja
keperluannya saat Millan berada di Singapura
“mami ini terlalu cepat, saya bahkan tidak tahu apakah Sean memberikan saya kesempatan untuk menjadi model di proyek ini” kata Millan yang melihat Febi begitu antusias
“sayang, jangan khawatir mami sudah berbicara pda suamimu dia pasti memberikan ini pada kamu” kata Febi dengan yakin, Millan pun tersenyum, setelah belanja Febi mengajak Millan mampir dicafe miliknya dan berbicara panjang lebar dengan Millan, Febi merasa senang karena Millan tak lagi dirundung kesediahan seperti empat hari sebelumnya.
“Millan, empat hari ini kamu pasti berpikir mami akan lebih menyayangi Dita jika Dita benar benar hamil” kata Febi
dengan senyum lembut dan tutur katanya juga halus
“mami, bagaimana mami bisa tahu dengan apa yang ada di pikiranku” guman Millan dalam hatinya
“mami, tidak seperti itu” jawab Millan berusaha mengalihkan
“Millan mami tahu, dan mami tegaskan sama kamu, mami tidak akan membedakan kalian meskpun kamu tidak memberikan mami cucu, mami menerima kamu apa adanya sebagai menantu sekaligus anak mami” jawab Febi dengan senyum lembut
“mami saya .. “ kata Millan yang tidak meneruskan kata katanya itu lantaran Febi tak menghendaki Millan berkata apa-apa itu
“Millan, dari awal mami sudah tahu bagaiaman kondisi kamu dan mami juga papi menerima semua itu, kami tidak
membedakan menantu kami” kata Febi menegaskan dan meyakinkan Millan, dengan mata berkaca kaca Millan memeluk mertuanya itu, Millan merasa benar benar beruntung, mereka melanjutkan perbincangan mereka dan juga membicarakan Dita, Febi juga menjelaskan Dita juga tidak akan senang jika dia membedakan dua mantunya itu, Dita bukan tipe orang yang ingin menang sendiri Millan pun menyetujui penjelasan maminya itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan Dita dan Intan yang sedang mencari makan siang
“ehem mertua menantu berbelanja hingga makan siang dan nggak ngajakin menantu satunya” gurau Dita dengan ssenyum lebar yang melihat Millan kembali ceria dan tak lagi ada kekalutan serta kecemasan
dalam wajahnya
“cie cie yang waktunya habis untuk bekerja” suara Intan yang menjawabi candaan sahabatnya itu
“Dita, Intan mari duduk” kata Millan dengan senyum manis yang meski masih tertinggal sembab dimatanya
“Millan habis nangis? Ya Ampiun, suami yang nggak ngerti istri ya, untung saja gue datang, gue kasih tau pemotretan di Singapura kontraknya diberikan sama kamu” kata Intan menyampaikan informasi yang dia tahu dengan gaya kocak membuat semua tertawa
“Serius?” Tanya Millan tidak percaya
“iya, gue yang disuruh buat merubah kontrak modelnya” jawab Dita yang sambil meraih buku menu didepannya dan
__ADS_1
memesan makan siangnya dan beberapa camilan. Makan siang mereka di penuhi dengan candaan.