
Dita yang sudah berganti setelan
piyamanya itu berusaha mengingat dimana dia pernah bertemu dengan Xighee, dia
sangat yakin bahwa dia pernah bertemu dengannya tapi dia tidak bisa
mengingatnya kapan dan dimana.
“apa yang kamu pikirkan?” tanya Rafael
yang meraih Dita dan memeluknya.
“Xighee” jawab Dita spontan tanpa
melihat pada Rafael dia terus memikirkannya tetapi dia tidak ingat sama sekali,
jawaban spontan Dita membuat Rafael menatapnya dalam dalam
“Xighee? Ada apa dengan Xighee” tanya
Rafael yang mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan istrinya
“tampan, mata sipit, kulit putih
kayaknya gue pernah ketemu tapi dimana lupa” jawab Dita manja dalam pelukan
Rafael
“jangan terlalu dipikirkan” sahut Rafael
datar, dia merasa tidak senang senang dengan pujian Dita pada Xhigee
“serius aku pernah ketemu, entar deh
kalau ingat aku bakal cerita” jawab Dita dengan serius dan tatapan dalam pada
suaminya yang berlahan melepaskan pelukannya lantaran Dita membantah dan terus
memikirkan Xhigee
“kamu berani memikirkan lelaki lain selain suami kamu?” tanya Rafael dengan
suara dinginnya serta tatapan tajam pada kedua mata istrinya
“tanya sendiri marah sendiri” jawab DIta
cuek dan kemudian bergegas menaiki kasur empuknya lalu menenggelamkan tubuhnya
dalam selimutnya yang hangat, Rafael yang bingung dnegan jawaban istrinya itu
langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuh istrinya
“apa saya kurang tampan dari Xhigee?”
tanya Rafael yang tidak suka mendengar istrinya memuji lelaki lain
“kamu tampan, punya senyum yang memikat
dan romantis” puji Dita santai membuat jantung Rafael berdetak kencang
“lalu apa lagi?”tanya Rafael dengan
lembut
“apa lagi? Berat tahu, disamping aku
masih luas bisa kan nggak kayak gini” kata Dita kesal sembari mendorong tubuh
suaminya hingga terguling disampingnya membuat Rafael terkekeh
“akan ada hukuman jika kamu memikirkan
lelaki lain” kata Rafael berbisik di telinga Dita serta dengan segera memeluk
istrinya
“aku mikirinnya itu karena pernha ketemu
aja nggak ada apa-apa, udah sana yang jauh nggak boleh peluk-peluk” jawab Dita
santai namun dengan lagak manjanya, dia berusaha melepaskan pelukan suaminya
“setelah Arman sekarang ada Xhigee, kamu
berani melihat lelaki lain?” kata Rafael yang duduk disamping Dita dengan
tatapan tidak suka dan menggenggam pergelangan tangan Dita begitu kencang
membuat Dita bangun dari berbaringnya
“kalau orang itu mencurigakan dan gue
pernah ketemu maka gue bakal mikirin terus sampek gue dapat jawabannya” jawab
Dita santai dan cuek dia tak menangkap kecemburuan Rafael, genggaman Rafael
semakin kuat Dita mulai meringis kesakitan
“kamu tidak boleh memikirkan lelaki lain
karena kamu adalah wanitaku, istriku” kata Rafael dengan tegas
“Rafael sakit” kata Dita dengan berusaha
melepaskan tangannya, melihat mata Dita yang mulai berkaca kaca itu Rafael
langsung melepaskan cengkraman pada pergelangan tangan Dita
“maaf sayang saya tidak sengaja” kata
Rafael menyesali perbuatannya dia pun hendak meraih tubuh istrinya dan
memelukny atetapi di tampis oleh Dita, dengan kesal Dita bangun dari kasurnya
ia meraih ponsel pintarnya dan berjalan kearah sofa kemudian menghubungi
seseorang
“iya sayang, kamu belum tidur kenapa?”
tanya Febi dari seberang telpon
“mami belum tidur kan?” tanya Dita
dengan lembut namun wajah kesalnya itu masih nampak
“belum masih ngobrol sama papi juga
Millan, ada apa?” tanya Febi
“mami Rafael jahat, dia mencengkram
lengan Dita sampai merah” kata Dita mengadu dengan manja melalui ponsel
pintarnya
“oh no, mami akan memberikan ceramah
tanpa henti” guman Rafael sambil menggelengkan kepala dia pun membanting
tubuhnya di atas kasur tak berdaya
“loh kok bisa? Kalian berantem lagi?”
tanya Febi dengan sepontan membuat Sean dan Millan lamgsung melihat kepadanya
“dia yang mulai mi, tanya apa dijawab
apa malah mencengkram lengan aku sampek sakit” jawab Dita
“ya sudah kamu istirahat aja biar mami
telpon Rafael sekarang” jawab Febi menenangkan dan kemudian menutup telponya
“aku heran anak ini ada apa? tidak biasanya
dia mengadu” guman Febi pada dirinya sendiri namun masih bisa didengar oleh
anak dan menatunya yang ada disampingnya
“ada apa mami?” tanya Millan santai dan
sopan
“biasa berantem lagi adik kamu” jawab
Febi dengan menarik napas panjang
“apa mereka tidak bisa hidup tanpa
bertengkar?” tanya Sean datar, dia merasa gemas melihat adik dan adik iparnya
itu bertengkar lagi dan lagi.
“saya dulu sebelum kamu lahir juga
selalu bertengkar, bukan begitu sayang” kata Nicholas yang melangkah mendekati
Febi dan ikut bergabung di ruang tengah dirumah mereka
“serius papi?” tanya Millan bersemangat
“ya, tapi mami kamu selalu menang dan
selalu bisa mengambil hati saya melalui masakannya” jawab Nicholas santai
“wah romantis sekali” puji Millan dengan
senyum lebar membuat wanita itu terlihat cantik
“sebentar ya saya telpon Rafael dulu”
kata Febi berpamitan,dia pun beranjak dari tempatnya dan memilih untuk menjauh
“wanita Deveraux tak terkalahkan” guman
Rafael tatkala melihat ponselnya yang berdering
“ya halo mami” jawab Rafael dengan cepat
__ADS_1
“kamu apain mantuku? Kamu jadi suami
jangan sampai kasar sama istri ya” kata Febi dari seberang telpon dengan
lantang namun tak berniat memarahi anak bungsungnya
“mami, saya hanya bertanya saja” jawab
Rafael singkat
“kalau bertanya kenapa Dita sampai
mengadu el?” tanya Febi lagi dengan tegas
“Xhigee, mami tanya saja pada papi”
jawab Rafael singkat membuat Febi bungkam tak melanjutkan nasehat yang ingin ia
sampaikan
“ya sudah kamu istirahat saja, jangan
lupa minta maaf sama istrimu” kata Febi menasehati lalu menutup telponnya, dia
berjalan berlahan mendekati suaminya sembari berpikir
“apa Dita ingat dengan Xhigee, ah nggak
mungkin ingatan anak setajam itu” guman Febi dalam hatinya
“sudah selesai sayang?” tanya Nicholas
santai
“sudah, oh ya sudah malam kalian segera
istrirahat ya” kata Febi sambil melayangkan pandanganya pada Millan dan Sean,
dia sendiri tanpa menghiraukan suaminya langsung melangkahkan kakinya menuju
runag kerja Nicholas dan mencari sesuatu
“apa yang kamu cari?” tanya Nicholas
“berkas lama mengenai kulaih Dita dulu”
jawab Febi singkat tanpa melihat pada suaminya
“berkasnya kini semua disimpan Rafael”
jawab Nicholas santai namun tatapanya mengandung pertanyaan
“sayang, apa benar kita memanggil
Xhigee?” tanya Febi yang sambil memeluk mesra suaminya
“kenapa? Apa ada masalah?” tanya
Nicholas
“antara Xhigee dan Dita, aku takut Dita
akan ingat waktu itu, anak ini rasa penasarannya sangat tinggi akan kejadian
mengenai orang tuanya” jawab Febi pelan
“kalau Dita ingat akan Xhigee justru itu
lebih bagus, Rafael sudah menyiapkan semuanya, anak kesayangan kamu benar-benar
menjalankan tugasnya sebagai suami” jelas Nicholas, dia pun mencium lembut
bibir istriya
“aku hanya takut dia akan terpukul
dengan kenyataan bahwa orang-orang yang dekat dengannya adalah musuhnya” kata
Febi dengan wajah kecewa
“itu kita pikirkan nanti, sudah larut
sebaiknya kita istirahat” jawab Nicholas menghentikan kekhawatiran istrinya,
mereka pun kembali ke kamar mereka.
Pagi itu Rafael yang sengaja bangun
lebih dulu dan hendak menyipakan menyiapkan sarapan untuk istrinya, keluar dari
kamar mandi dilihatnya Dita masih terlelap dibalik selimut, diciumnya kening
istrinya dengan lembut
“mulai besok tidak akanbanyak pekerjaan
untuk kamu istriku” guman Rafael dengan pelan, dia takut membangunkan istrinya.
Dia pun segera beranjak dan bersiap lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan
lalu membawanya kedalam kamar dimana Dita masih bermalas-malasan diatas tempat
“selamat pagi sayang, hei sudah jam
tujuh masih tidak mau bangun?” tanya Rafael yang sudah duduk di bibir ranjang
sebelah Dita berbaring
“ha jam tujuh?” suara Dita terkejut dan
langsung melompat bangun dari tidurnya
“ya, ini hari minggu tidak masalah”
jawab Rafael dengan senyum manis ia menatap lembut istrinya
“harum banget, masak apa?” tanya Dita
yang mencium aroma nasi goreng yang dibuat suaminya
“hanya nasi goreng” jawab Rafael bangga
“aku cuci muka dulu baru makan” jawab
Dita manja
“tentu, hari ini papi mengundang kita
kerumah, kamu mau berangkat jam berapa?” tanya Rafael santai
“jam sepuluh aja, lagian ini masih pagi”
teriak Dita menjawab suaminya dari dalam kamar mandi, Rafael hanya mengangguk
mengerti
Setiba dirumah kediaman Deveraux, Dita
langsung mencari mertuanya yang berada di dapur dan mengadukan lagi semua
dengan apa yang Rafael lakukan padanya semalam, Sean yang mendengarnya hanya
menggelengkan kepala dan senyum tipis melihat tingkah Dita yang begitu manja
“Dita kenapa kamu tidak mengikat Rafael
saja?” goda Millan dengan terkekeh sementara Rafael yang mendengar omelan Febi
hanya terdiam dan sesekali menarik napas panjang
“semua orang takut dengan Deveraux
tetapi wanita Deveraux lebih berkuasa” guman Rafael pelan namun didengar oleh
Febi
“ngomong apa? kalau mengeluh yang
kencang, salah sendiri kamu mencengkram istri kamu” gerutu Febi sambil mencewer
lembut telinga putra bungsunya itu.
Senin pagi Dita yang sudah bersiap
langsung menuju meja makan di apartemenya
“hmm harum banget” kata Dita dengan
bersemangat dan langsung meraih sepiring sarapan paginya
“hanya steak ayam seperti yang kamu
minta” jawab Rafael menjelaskan
“pelan-pelan sayang, masih terllau pagi
untuk kekantor” kata Rafael yang melihat istrinya begitu lahap memakan
sarapannya
“ini masih pagi dan kamu begitu lahap
seperti orang kelaparan” guman Rafael dalam hatinya dengan tersenyum lembut
memperhatikan istrinya itu.
“sayang aku boleh nambah nggak?” pinta
Dita dengan manja
“tentu, tapi apa kamu tidak takut gemuk?
Ini masih pagi dan kamu makan makanan berat” kata Rafael yang sambil memberikan
piring lainnya pada Dita
“ah apa? Aku gemukan ya?” kata Dita
sedikit terkejut dengan kata kata suaminya itu, tangannya pun berhenti menerima
__ADS_1
piring yang disodorkan kepadanya
“ya sedikit, lagi pula kamu bilang
beberapa baju kamu tidak muat” jawab Rafael santai sembari menikmati kopi
paginya
“nggakjadi nambah” kata Dita dengan
wajah cemberut, Rafael pun tertawa melihat tingkah istrinya itu tetapi justru
mebuat Dita kesal dan meninggalakan meja makan
“apa ada yang salah? Saya bahkan
menyukainya meski dia menjadi gemuk” kata Rafael dengan suara pelan, dia
mencoba mencari letak kesalahnnya. Dilihatnya Dita meraih ponsel pintanya, dia
pun menghubungi sesorang yakni ibu mertuanya, terdengar Dita mengadukannya pada
Febi.
“aku heran sama anak bungsuku, nggak
peka kalau wanita paling tidak suka dikatai gemuk, sudah tahu istrinya gampang
marah akhir-akhir ini masih saja usil” gerutu Febi setelah mematukan telpon
pintarnya, dia pun kembali pada layar ponselnya dan menghubungi Rafael.
Sementara itu Rafael hanya bisa bernapas panjang karena dia tahu istrinya
menghubungi maminya, dan pasti ponselnya akan berdering sebentar lagi.
“tentu saja, mami pasti akan menghubungi
saya sebelum tiga puluh detik” guman Rafael memelas
disisi lain Febi yang juga sedang
sarapan bersama dirumahnya membuat Sean dan Millan tersenyum lebar
dia melihat istrinya itu menelpon seseorang,
dia tahu dengan benar bahwa istrinya itu mengadu pada maminya dan benar saja
ponselnya berbunyi dia pun meraih ponselnya dan menjawab panggilannya
“ya halo mami selamat pagi” kaat Rafael
dengan santai
“kamu apain lagi mantuku, sampek mengadu
lagi pagi pagi” kata Febi dari balik telpon, Millan dan Sean juga Nicholas yang
bersama Febi di meja makan itu pun saling menatap satu sama lain bergantian
“mami saya tidak melakukan apa apa, saya
hanya menjawab ya dengan pertanyaanya” kata Rafael dengan bingung menjelaskan
pada maminya
“pokoknya ya kalau sampai menantuku itu
mengadu lagi, dia akan ku bawa pulang kesini” kata Febi dengan sedikit kesal
kemudian menutup telponya. Rafael menarik napas dalam dalam untuk membuat
dirinya tidak terpancing dan tetap bersabar menghadapi sikap istrinya itu, dia
pun kembali pada kopi paginya, setelah menghabiskan sandwich sarapanya dia pun
mengajak Dita untuk segera beragkat kekantor. Dan seperti yang dikatakan Rafael
tak memberikan banyak pekerjaan pada Dita, dia tidak ingin istrinya itu
terbebani dengan pekerjaan kantor. Akan tetapi tak begitu dengan Nicholas, dia
ingin Dita belajar semua mengenai perusahaan ayahnya yang masih disembunyikan,
tetapi Rafael tak memberikan izin, dia tidak ingin Dita terlalu terbebani,
karena itu dia hanya memberikan beberapa map saja pada istrinya itu.
Sebelum makan siang pun semua map yang
diberikan oleh Rafael sudha bacanya berkali kali dan di pelajarinya, Intan yang
datang menemuinya itu pun sedikti lega karena sahabatnya sudah bersantai
“hello darling” sapa Intan dengan manja
“iya hayati ada apa?” tanya Dita santai
sambil merapikan map dan menyimpanya dalam laci mejanya
“nanti makan siang bareng siapa? Suami
gue lagi keluar sama Mr boss gue nggak ada temannya” kata Intan mengeluh
“sama gue lah, mau sama siapa lagi”
jawab Dita dengan sigap
“loe nggak sama Mr Rafael?” tanya Intan
penasaran
“nggak, malas aja udah tiap hari ketemu
juga” jawab Dita santai sambil meletakkan punggungnya bersandar pada kursi
kerjanya
“serius loe? Bosen? Bukanya loe dag dig
dug ya pas gue mau merid yang loe cerita waktu itu” guman Intan mengingatkan
“eh gue nggak ngerasa lagi loh, serius
tan” kata Dita yang langsung terperanjat menegakkan punggungnya.
“hah, udah bosen loe?” tanya Intan
terkejut sambil menatap sahabatnya yang menjawab dengan sedikit lama hanya
dengan gelengan kepala
“ini bocah kesambet apa gimana, sebentar
doang perasaannya ke suami” guman Intan dalam hatinya
“loe ngapain kesini bawa map?” tanya
Dita tersadar masih dalam jam kerja
“oh ini buat Mr Nicholas, santai aja
orangnya masih keluar” jawab Intan dengan mengerlinkan mata manja kearah Dita
“iya papi masih belum balik” kata Dita
menambahkan
“hai mbak Dita” sapa Olivia yang
menghampiri Dita dan Intan dengan setumpuk berkas
“ngapain loe kesini? Dan itu apaan?”
tanya Intan penasaran
“nganterin ini, nggak tahu Mr Sean yang
Minta” jawab Olivia memelas
“oh, jadi bener direktur-direktur bakal
dibagi” guman Intan lirih
“mbak Dita bantuin nganter ini ke ruang
Mr Sean dong” pinta Olivia dengan manja dan tatapan jahilnya
“yang disuruh loe kenapa gue yang
nganterin” jawab Dita menolak
“kan mbak Dita dekat sama Mr Sean” jawab
Olivia dengan senyum malu-malu
“idih loe senyum kayak gitu apa loe
naksir sama kakak Sean?” goda Dita yang beranjak dari duduknya
“ah mbak Dita saya mana mungkin dilirik
sama Mr Sean” jawab Olivia dengan pipi yang memerah
“kenapa muka loe? Baper?” seloroh Intan
mencoba menggoda Olivia yang kemudian terkekeh
“ah mbak Intan bisa aja, iya ini mbak
Dita semuanya buat Mr Sean” kata Olivia yang hendak menyerahkan tumpukan berka
syang dibawanya
“gue mau kekantin, bukanya bantuin loe,
sorry ya bye” jawab Dita dengan centil pada Olivia di ikuti Intan membuat
Olivia mengomel sendiri namun dia tak berani marah pada Dita, karena memang dia
__ADS_1
yang ditugaskan untuk mengambil dokumen-dokumen itu.