Untuk istriku

Untuk istriku
Mengadu Pada Mami


__ADS_3

Dita yang sudah berganti setelan


piyamanya itu berusaha mengingat dimana dia pernah bertemu dengan Xighee, dia


sangat yakin bahwa dia pernah bertemu dengannya tapi dia tidak bisa


mengingatnya kapan dan dimana.


“apa yang kamu pikirkan?” tanya Rafael


yang meraih Dita dan memeluknya.


“Xighee” jawab Dita spontan tanpa


melihat pada Rafael dia terus memikirkannya tetapi dia tidak ingat sama sekali,


jawaban spontan Dita membuat Rafael menatapnya dalam dalam


“Xighee? Ada apa dengan Xighee” tanya


Rafael yang mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan istrinya


“tampan, mata sipit, kulit putih


kayaknya gue pernah ketemu tapi dimana lupa” jawab Dita manja dalam pelukan


Rafael


“jangan terlalu dipikirkan” sahut Rafael


datar, dia merasa tidak senang senang dengan pujian Dita pada Xhigee


“serius aku pernah ketemu, entar deh


kalau ingat aku bakal cerita” jawab Dita dengan serius dan tatapan dalam pada


suaminya yang berlahan melepaskan pelukannya lantaran Dita membantah dan terus


memikirkan Xhigee


“kamu berani memikirkan lelaki  lain selain suami kamu?” tanya Rafael dengan


suara dinginnya serta tatapan tajam pada kedua mata istrinya


“tanya sendiri marah sendiri” jawab DIta


cuek dan kemudian bergegas menaiki kasur empuknya lalu menenggelamkan tubuhnya


dalam selimutnya yang hangat, Rafael yang bingung dnegan jawaban istrinya itu


langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuh istrinya


“apa saya kurang tampan dari Xhigee?”


tanya Rafael yang tidak suka mendengar istrinya memuji lelaki lain


“kamu tampan, punya senyum yang memikat


dan romantis” puji Dita santai membuat jantung Rafael berdetak kencang


“lalu apa lagi?”tanya Rafael dengan


lembut


“apa lagi? Berat tahu, disamping aku


masih luas bisa kan nggak kayak gini” kata Dita kesal sembari mendorong tubuh


suaminya hingga terguling disampingnya membuat Rafael terkekeh


“akan ada hukuman jika kamu memikirkan


lelaki lain” kata Rafael berbisik di telinga Dita serta dengan segera memeluk


istrinya


“aku mikirinnya itu karena pernha ketemu


aja nggak ada apa-apa, udah sana yang jauh nggak boleh peluk-peluk” jawab Dita


santai namun dengan lagak manjanya, dia berusaha melepaskan pelukan suaminya


“setelah Arman sekarang ada Xhigee, kamu


berani melihat lelaki lain?” kata Rafael yang duduk disamping Dita dengan


tatapan tidak suka dan menggenggam pergelangan tangan Dita begitu kencang


membuat Dita bangun dari berbaringnya


“kalau orang itu mencurigakan dan gue


pernah ketemu maka gue bakal mikirin terus sampek gue dapat jawabannya” jawab


Dita santai dan cuek dia tak menangkap kecemburuan Rafael, genggaman Rafael


semakin kuat Dita mulai meringis kesakitan


“kamu tidak boleh memikirkan lelaki lain


karena kamu adalah wanitaku, istriku” kata Rafael dengan tegas


“Rafael sakit” kata Dita dengan berusaha


melepaskan tangannya, melihat mata Dita yang mulai berkaca kaca itu Rafael


langsung melepaskan cengkraman pada pergelangan tangan Dita


“maaf sayang saya tidak sengaja” kata


Rafael menyesali perbuatannya dia pun hendak meraih tubuh istrinya dan


memelukny atetapi di tampis oleh Dita, dengan kesal Dita bangun dari kasurnya


ia meraih ponsel pintarnya dan berjalan kearah sofa kemudian menghubungi


seseorang


“iya sayang, kamu belum tidur kenapa?”


tanya Febi dari seberang telpon


“mami belum tidur kan?” tanya Dita


dengan lembut namun wajah kesalnya itu masih nampak


“belum masih ngobrol sama papi juga


Millan, ada apa?” tanya Febi


“mami Rafael jahat, dia mencengkram


lengan Dita sampai merah” kata Dita mengadu dengan manja melalui ponsel


pintarnya


“oh no, mami akan memberikan ceramah


tanpa henti” guman Rafael sambil menggelengkan kepala dia pun membanting


tubuhnya di atas kasur tak berdaya


“loh kok bisa? Kalian berantem lagi?”


tanya Febi dengan sepontan membuat Sean dan Millan lamgsung melihat kepadanya


“dia yang mulai mi, tanya apa dijawab


apa malah mencengkram lengan aku sampek sakit” jawab Dita


“ya sudah kamu istirahat aja biar mami


telpon Rafael sekarang” jawab Febi menenangkan dan kemudian menutup telponya


“aku heran anak ini ada apa? tidak biasanya


dia mengadu” guman Febi pada dirinya sendiri namun masih bisa didengar oleh


anak dan menatunya yang ada disampingnya


“ada apa mami?” tanya Millan santai dan


sopan


“biasa berantem lagi adik kamu” jawab


Febi dengan menarik napas panjang


“apa mereka tidak bisa hidup tanpa


bertengkar?” tanya Sean datar, dia merasa gemas melihat adik dan adik iparnya


itu bertengkar lagi dan lagi.


“saya dulu sebelum kamu lahir juga


selalu bertengkar, bukan begitu sayang” kata Nicholas yang melangkah mendekati


Febi dan ikut bergabung di ruang tengah dirumah mereka


“serius papi?” tanya Millan bersemangat


“ya, tapi mami kamu selalu menang dan


selalu bisa mengambil hati saya melalui masakannya” jawab Nicholas santai


“wah romantis sekali” puji Millan dengan


senyum lebar membuat wanita itu terlihat cantik


“sebentar ya saya telpon Rafael dulu”


kata Febi berpamitan,dia pun beranjak dari tempatnya dan memilih untuk menjauh


“wanita Deveraux tak terkalahkan” guman


Rafael tatkala melihat ponselnya yang berdering


“ya halo mami” jawab Rafael dengan cepat

__ADS_1


“kamu apain mantuku? Kamu jadi suami


jangan sampai kasar sama istri ya” kata Febi dari seberang telpon dengan


lantang namun tak berniat memarahi anak bungsungnya


“mami, saya hanya bertanya saja” jawab


Rafael singkat


“kalau bertanya kenapa Dita sampai


mengadu el?” tanya Febi lagi dengan tegas


“Xhigee, mami tanya saja pada papi”


jawab Rafael singkat membuat Febi bungkam tak melanjutkan nasehat yang ingin ia


sampaikan


“ya sudah kamu istirahat saja, jangan


lupa minta maaf sama istrimu” kata Febi menasehati lalu menutup telponnya, dia


berjalan berlahan mendekati suaminya sembari berpikir


“apa Dita ingat dengan Xhigee, ah nggak


mungkin ingatan anak setajam itu” guman Febi dalam hatinya


“sudah selesai sayang?” tanya Nicholas


santai


“sudah, oh ya sudah malam kalian segera


istrirahat ya” kata Febi sambil melayangkan pandanganya pada Millan dan Sean,


dia sendiri tanpa menghiraukan suaminya langsung melangkahkan kakinya menuju


runag kerja Nicholas dan mencari sesuatu


“apa yang kamu cari?” tanya Nicholas


“berkas lama mengenai kulaih Dita dulu”


jawab Febi singkat tanpa melihat pada suaminya


“berkasnya kini semua disimpan Rafael”


jawab Nicholas santai namun tatapanya mengandung pertanyaan


“sayang, apa benar kita memanggil


Xhigee?” tanya Febi yang sambil memeluk mesra suaminya


“kenapa? Apa ada masalah?” tanya


Nicholas


“antara Xhigee dan Dita, aku takut Dita


akan ingat waktu itu, anak ini rasa penasarannya sangat tinggi akan kejadian


mengenai orang tuanya” jawab Febi pelan


“kalau Dita ingat akan Xhigee justru itu


lebih bagus, Rafael sudah menyiapkan semuanya, anak kesayangan kamu benar-benar


menjalankan tugasnya sebagai suami” jelas Nicholas, dia pun mencium lembut


bibir istriya


“aku hanya takut dia akan terpukul


dengan kenyataan bahwa orang-orang yang dekat dengannya adalah musuhnya” kata


Febi dengan wajah kecewa


“itu kita pikirkan nanti, sudah larut


sebaiknya kita istirahat” jawab Nicholas menghentikan kekhawatiran istrinya,


mereka pun kembali ke kamar mereka.


Pagi itu Rafael yang sengaja bangun


lebih dulu dan hendak menyipakan menyiapkan sarapan untuk istrinya, keluar dari


kamar mandi dilihatnya Dita masih terlelap dibalik selimut, diciumnya kening


istrinya dengan lembut


“mulai besok tidak akanbanyak pekerjaan


untuk kamu istriku” guman Rafael dengan pelan, dia takut membangunkan istrinya.


Dia pun segera beranjak dan bersiap lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan


lalu membawanya kedalam kamar dimana Dita masih bermalas-malasan diatas tempat


“selamat pagi sayang, hei sudah jam


tujuh masih tidak mau bangun?” tanya Rafael yang sudah duduk di bibir ranjang


sebelah Dita berbaring


“ha jam tujuh?” suara Dita terkejut dan


langsung melompat bangun dari tidurnya


“ya, ini hari minggu tidak masalah”


jawab Rafael dengan senyum manis ia menatap lembut istrinya


“harum banget, masak apa?” tanya Dita


yang mencium aroma nasi goreng yang dibuat suaminya


“hanya nasi goreng” jawab Rafael bangga


“aku cuci muka dulu baru makan” jawab


Dita manja


“tentu, hari ini papi mengundang kita


kerumah, kamu mau berangkat jam berapa?” tanya Rafael santai


“jam sepuluh aja, lagian ini masih pagi”


teriak Dita menjawab suaminya dari dalam kamar mandi, Rafael hanya mengangguk


mengerti


Setiba dirumah kediaman Deveraux, Dita


langsung mencari mertuanya yang berada di dapur dan mengadukan lagi semua


dengan apa yang Rafael lakukan padanya semalam, Sean yang mendengarnya hanya


menggelengkan kepala dan senyum tipis melihat tingkah Dita yang begitu manja


“Dita kenapa kamu tidak mengikat Rafael


saja?” goda Millan dengan terkekeh sementara Rafael yang mendengar omelan Febi


hanya terdiam dan sesekali menarik napas panjang


“semua orang takut dengan Deveraux


tetapi wanita Deveraux lebih berkuasa” guman Rafael pelan namun didengar oleh


Febi


“ngomong apa? kalau mengeluh yang


kencang, salah sendiri kamu mencengkram istri kamu” gerutu Febi sambil mencewer


lembut telinga putra bungsunya itu.


Senin pagi Dita yang sudah bersiap


langsung menuju meja makan di apartemenya


“hmm harum banget” kata Dita dengan


bersemangat dan langsung meraih sepiring sarapan paginya


“hanya steak ayam seperti yang kamu


minta” jawab Rafael menjelaskan


“pelan-pelan sayang, masih terllau pagi


untuk kekantor” kata Rafael yang melihat istrinya begitu lahap memakan


sarapannya


“ini masih pagi dan kamu begitu lahap


seperti orang kelaparan” guman Rafael dalam hatinya dengan tersenyum lembut


memperhatikan istrinya itu.


“sayang aku boleh nambah nggak?” pinta


Dita dengan manja


“tentu, tapi apa kamu tidak takut gemuk?


Ini masih pagi dan kamu makan makanan berat” kata Rafael yang sambil memberikan


piring lainnya pada Dita


“ah apa? Aku gemukan ya?” kata Dita


sedikit terkejut dengan kata kata suaminya itu, tangannya pun berhenti menerima

__ADS_1


piring yang disodorkan kepadanya


“ya sedikit, lagi pula kamu bilang


beberapa baju kamu tidak muat” jawab Rafael santai sembari menikmati kopi


paginya


“nggakjadi nambah” kata Dita dengan


wajah cemberut, Rafael pun tertawa melihat tingkah istrinya itu tetapi justru


mebuat Dita kesal dan meninggalakan meja makan


“apa ada yang salah? Saya bahkan


menyukainya meski dia menjadi gemuk” kata Rafael dengan suara pelan, dia


mencoba mencari letak kesalahnnya. Dilihatnya Dita meraih ponsel pintanya, dia


pun menghubungi sesorang yakni ibu mertuanya, terdengar Dita mengadukannya pada


Febi.


“aku heran sama anak bungsuku, nggak


peka kalau wanita paling tidak suka dikatai gemuk, sudah tahu istrinya gampang


marah akhir-akhir ini masih saja usil” gerutu Febi setelah mematukan telpon


pintarnya, dia pun kembali pada layar ponselnya dan menghubungi Rafael.


Sementara itu Rafael hanya bisa bernapas panjang karena dia tahu istrinya


menghubungi maminya, dan pasti ponselnya akan berdering sebentar lagi.


“tentu saja, mami pasti akan menghubungi


saya sebelum tiga puluh detik” guman Rafael memelas


disisi lain Febi yang juga sedang


sarapan bersama dirumahnya membuat Sean dan Millan tersenyum lebar


 dia melihat istrinya itu menelpon seseorang,


dia tahu dengan benar bahwa istrinya itu mengadu pada maminya dan benar saja


ponselnya berbunyi dia pun meraih ponselnya dan menjawab panggilannya


“ya halo mami selamat pagi” kaat Rafael


dengan santai


“kamu apain lagi mantuku, sampek mengadu


lagi pagi pagi” kata Febi dari balik telpon, Millan dan Sean juga Nicholas yang


bersama Febi di meja makan itu pun saling menatap satu sama lain bergantian


“mami saya tidak melakukan apa apa, saya


hanya menjawab ya dengan pertanyaanya” kata Rafael dengan bingung menjelaskan


pada maminya


“pokoknya ya kalau sampai menantuku itu


mengadu lagi, dia akan ku bawa pulang kesini” kata Febi dengan sedikit kesal


kemudian menutup telponya. Rafael menarik napas dalam dalam untuk membuat


dirinya tidak terpancing dan tetap bersabar menghadapi sikap istrinya itu, dia


pun kembali pada kopi paginya, setelah menghabiskan sandwich sarapanya dia pun


mengajak Dita untuk segera beragkat kekantor. Dan seperti yang dikatakan Rafael


tak memberikan banyak pekerjaan pada Dita, dia tidak ingin istrinya itu


terbebani dengan pekerjaan kantor. Akan tetapi tak begitu dengan Nicholas, dia


ingin Dita belajar semua mengenai perusahaan ayahnya yang masih disembunyikan,


tetapi Rafael tak memberikan izin, dia tidak ingin Dita terlalu terbebani,


karena itu dia hanya memberikan beberapa map saja pada istrinya itu.


Sebelum makan siang pun semua map yang


diberikan oleh Rafael sudha bacanya berkali kali dan di pelajarinya, Intan yang


datang menemuinya itu pun sedikti lega karena sahabatnya sudah bersantai


“hello darling” sapa Intan dengan manja


“iya hayati ada apa?” tanya Dita santai


sambil merapikan map dan menyimpanya dalam laci mejanya


“nanti makan siang bareng siapa? Suami


gue lagi keluar sama Mr boss gue nggak ada temannya” kata Intan mengeluh


“sama gue lah, mau sama siapa lagi”


jawab Dita dengan sigap


“loe nggak sama Mr Rafael?” tanya Intan


penasaran


“nggak, malas aja udah tiap hari ketemu


juga” jawab Dita santai sambil meletakkan punggungnya bersandar pada kursi


kerjanya


“serius loe? Bosen? Bukanya loe dag dig


dug ya pas gue mau merid yang loe cerita waktu itu” guman Intan mengingatkan


“eh gue nggak ngerasa lagi loh, serius


tan” kata Dita yang langsung terperanjat menegakkan punggungnya.


“hah, udah bosen loe?” tanya Intan


terkejut sambil menatap sahabatnya yang menjawab dengan sedikit lama hanya


dengan gelengan kepala


“ini bocah kesambet apa gimana, sebentar


doang perasaannya ke suami” guman Intan dalam hatinya


“loe ngapain kesini bawa map?” tanya


Dita tersadar masih dalam jam kerja


“oh ini buat Mr Nicholas, santai aja


orangnya masih keluar” jawab Intan dengan mengerlinkan mata manja kearah Dita


“iya papi masih belum balik” kata Dita


menambahkan


“hai mbak Dita” sapa Olivia yang


menghampiri Dita dan Intan dengan setumpuk berkas


“ngapain loe kesini? Dan itu apaan?”


tanya Intan penasaran


“nganterin ini, nggak tahu Mr Sean yang


Minta” jawab Olivia memelas


“oh, jadi bener direktur-direktur bakal


dibagi” guman Intan lirih


“mbak Dita bantuin nganter ini ke ruang


Mr Sean dong” pinta Olivia dengan manja dan tatapan jahilnya


“yang disuruh loe kenapa gue yang


nganterin” jawab Dita menolak


“kan mbak Dita dekat sama Mr Sean” jawab


Olivia dengan senyum malu-malu


“idih loe senyum kayak gitu apa loe


naksir sama kakak Sean?” goda Dita yang beranjak dari duduknya


“ah mbak Dita saya mana mungkin dilirik


sama Mr Sean” jawab Olivia dengan pipi yang memerah


“kenapa muka loe? Baper?” seloroh Intan


mencoba menggoda Olivia yang kemudian terkekeh


“ah mbak Intan bisa aja, iya ini mbak


Dita semuanya buat Mr Sean” kata Olivia yang hendak menyerahkan tumpukan berka


syang dibawanya


“gue mau kekantin, bukanya bantuin loe,


sorry ya bye” jawab Dita dengan centil pada Olivia di ikuti Intan membuat


Olivia mengomel sendiri namun dia tak berani marah pada Dita, karena memang dia

__ADS_1


yang ditugaskan untuk mengambil dokumen-dokumen itu.


__ADS_2