UNTUNGNYA, CINTA BERSAMBUT DARI TUAN LU

UNTUNGNYA, CINTA BERSAMBUT DARI TUAN LU
Bab 229 Aku Tidak Menikah


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Masakah Bibi Wu sangat enak, sampai Tang Ruochu menghabiskan 2 mangkok nasi dan 1 mangkok sup.


Sangking kenyangnya, dia pun sampai merasa mau muntah.


Hello! Im an artic!


Dengan langkah yang berat, dia pun melangkah keluar dari ruang makan, Lu Shijin pun merasa lucu dan menggeleng kepala ketika melihat dia sambil melangkah sambil menopang pinggang, kelihatannya seperti gaya ibu hamil.


Lu Shijin masuk ke dapur, beberapa waktu kemudian, baru keluar dengan membawa cangkir mug.


Di ruang tamu, Tang Ruochu sudah tepar di sofa dengan ekspresi yang malas hidup.


Perutnya sudah mau pecah, sangat tidak nyaman, dia pun tidak menjaga kesan dirinya lagi, dia hanya ingin tepar di sofa hingga dunia kiamat.


Hello! Im an artic!


Lu Shijin yang melihat pun tertawa pelan, kemudian mendekat dan memberikan gelas di tangannya, “Minum air shanza dulu, buat cerna makanan.”


Tang Ruochu menerimanya, lalu melihat dia dengan terharu, “Shijin, kamu sangat baik.”


Pria ini selalu begitu perhatian, mana mungkin kalau dia tidak semakin cinta.


Lu Shijin tersenyum lembut, tidak menjawab.


Dengan perasaan terharu, dia pun menghabiskan semua air shanzanya, sebenarnya dia sudah kekenyangan, sudah tidak muat lagi, tetapi dia tidak mau membuat Lu Shijin kecewa.


Jadi, dia pun menerimanya, karena shanza memang bisa membantu pencernaan makanan.


Usai minum, Lu Shijin mengambil gelasnya kembali, lalu berkata, “Istirahat sebentar dulu, nanti kita pergi jalan santai.”


Tang Ruochu menjawab dengan pelan, “Baik.”


Lu Shijin mengosok-gosok rambutnya, kemudian membawa gelasnya dan masuk ke dapur.


Tubuh yang tinggi dan perkasa itu membuat pandangan mata Tang Ruochu menjadi lembut.


Tang Ruochu pun berpikir, setelah mereka tua, keadaan mereka akan menjadi seperti apa? Apakah Lu Shijin masih akan membuat air shanza untuk dia?


Tiba-tiba, Tang Ruochu pun tertawa, karena kejadian itu masih sangat jauh. Yang paling penting adalah saat ini, menyayangi apa yang dia punya pada saat ini.

__ADS_1


……


Pada malam berikutnya, Lu Shengyao memberikan laporan Tuan Chen sepanjang hari kepada kakak iparnya.


Tang Ruochu melihat sekilas, lalu berkata, “Hanya ini aktivitas dia dalam sehari? Setiap hari sama?”


“Aku sudah tanya dengan orang-orang tua di kompleknya, kata mereka, kalau cuaca baik, inilah aktivitas sehari-hari Tuan Chen.”


Begitu teringat dengan kejadian pada saat bertanya-tanya dengan orang-orang tua itu, Lu Shengyao pun masih merasa trauma, lalu berkata, “Kakak Ipar, mulai sekarang, jangan kasih tugas seperti ini lagi kepada aku.”


“Kenapa?”


Tang Ruochu yang mau membaca laporan pun menjadi mengangkat kepala.


“Karena… sangat mengerikan.”


Mengerikan! Tang Ruochu merasa heran, “Kenapa bisa mengerikan?”


Hanya mengawas aktivitas sehari-hari Tuan Chen saja, apanya yang mengerikan?


“Yaitu… yaitu…” Lu Shengyao tidak bisa menjelasnnya, dia hanya yaitu-yaitu, kemudian menarik kesimpulan yang sederhana, “Pokoknya mengerikan.”


Tang Ruochu pun tidak tahu harus menangis atau tertawa, “Jawaban kamu sangat ambigu.”


Tang Ruochu langsung paham, “Kenapa? Kamu ditanya latar belakang keluarga ya? Atau ditanya warna ****** *****?”


“Kakak Ipar, kenapa kamu begitu hebat?” mulut Lu Shengyao cemberut, “Kakak Ipar, kamu tidak tahu seberapa mengerikan, jadi begini, ada belasan orang-orang tua mengeliling aku, ada yang tanya nama aku, tanya masalah orang tua, punya saudara atau tidak. Bukan itu saja, Kakak Ipar, ada lagi…”


Sangking menggebu-gebu, Lu Shengyao pun sampai berdiri, “Mereka jumlahnya belasan, suaranya pun berngiang-ngiang mengeliling di telinga aku. Waktu itu, aku merasa aku sedang berada di pakan itik, rasanya seperti ratusan hingga ribuan itik yang sedang berkoak-koak, bisa gila aku.”


Dari gaya bicaranya sekarang, sepertinya memang cukup trauma.


Tang Ruochu menaikkan alis, “Sebenarnya ada cara untuk menyelesaikan masalah ini.”


“Apa caranya?”


“Bilang saja kamu sudah menikah.”


Lu Shengyao, “…”


Begitu melihat ekspresi Lu Shengyao yang terbengong, Tang Ruochu pun mencoba bertanya, “Mereka tanya kamu sudah menikah belum, kamu pasti jawab belum kan?”

__ADS_1


Lu Shengyao tertawa kering, “Kakak Ipar, kamu pintar sekali.”


Kepala Tang Ruochu pun garis hitam, “Bukan aku yang pintar, kamu yang terlalu bodoh.”


“Aku bukan bodoh, aku hanya tidak menyangka kalau mereka bisa begitu gigih,” Lu Shengyao berusaha membela diri.


Kemudian menambah lagi, “Dan aku memang tampan, makanya bapak-bapak dan ibu-ibu itu suka padaku.”


Tang Ruochu memonyongkan bibir, barusan bilang mereka mengerikan, kenapa tiba-tiba menjadi munafik?


“Kalau begitu, kamu besok ikut aku pergi cari Tuan Chen.”


Eksprsesi Lu Shengyao langsung membatu, “Kakak Ipar, serius kamu?”


Tang Ruochu mengangguk, “Tentu saja, kamu begitu tampan, kalau Tuan Chen punya anak perempuan yang belum menikah, kamu harus mengorbankan diri untuk membantu Kakak Ipar.”


Dia menaikkan alis sambil menatap Lu Shengyao sambil tersenyum.


Lu Shengyao sadar bahwa senyuman Tang Ruochu adalah menertawakan dia, dan dia memang takut untuk berhadapan dengan situasi yang lepas kendali lagi.


Tang Ruochu sadar akan kekhawatirannya, lalu berkata dengan sedikit tidak senang, “Tenang saja, besok ada aku, bapak-bapak dan ibu-ibu itu tidak akan mengganggu kamu.”


Begitu di sampingnya ada wanita, tentu saja orang-orang tua itu akan mengurungkan niat mereka.


“Kakak Ipar, kamu yakin?” Lu Shengyao masih tidak bisa tenang.


“Serius, yang penting besok kamu jangan panggil aku kakak ipar, dijamin aman-aman saja.”


Kakak Ipar sudah menjamin, Lu Shengyao pun tidak menolak lagi, dengan mengangguk, “Baik, besok aku ikut.”


Tang Ruochu tersenyum gembira, “Besok aku sudah izin, kamu datang rumah jemput aku.”


“Baik,” sahut Lu Shengyao.


“Masalah sudah diselesaikan, kita pergi makan dulu,” sambil berkata, Tang Ruochu pun sudah melangkah menuju ruang makan.


Lu Shengyao segera menyusul.


“Kakak tidak pulang makan malam?”


“Shijin masih ada rapat, tidak begitu cepat pulang.”

__ADS_1


“Kakak begitu sibuk, bagaimana kalau setelah kita makan, Kakak Ipar, kita pergi antarkan makanan.”


__ADS_2