
Hello! Im an artic!
Hingga selesai makan, Tang Ruochu pun tidak bilang apa-apa lagi.
Terhadap pertanyaan Lu Shengyao, dia pun hanya merespon dengan kata “iya” ataupun “oh”, jelas sekali, dia tidak mau menyahut Lu Shengyao.
Hello! Im an artic!
Pada awalnya, Lu Shengyao masih merasa heran, kemudian dia baru sadar kalau ada yang salah dengan kata-katanya.
Sejak dia bilang “kasih Kakak makan lipstik saja”, Kakak Ipar pun menjadi pendiam.
Tidak tahu malu-malu atau marah-marah.
Sambil makan, dia pun tidak lupa meliha ekspresi Tang Ruochu, ternyata ekspresi Tang Ruochu sangat tenang, tidak tahu sedang marah atau bukan.
Hello! Im an artic!
“Shengyao,” Lu Shijin memanggil dengan suara pelan.
Lu Shengyao pun mengangkat kepala.
Terlihat bibir Lu Shijin bergerak, “Dari orang tua sudah jadwalkan kamu untuk berkencan buta. Lusa jam 10 pagi, di ‘Yinhe Zhi Hai’, jangan terlambat, kalau tidak…”
Dia sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi dari pandangan matanya sudah bisa dibaca bahwa kalau tidak pergi, akibatnya sangat mengerikan.
Tetapi…
“Kencan buta sangat membosankan, tidak cocok dengan aku. Aku lebih cocok dengan cinta yang spektakuler,” Lu Shengyao langsung menolak kencan buta yang dijadwalkan oleh seseorang itu.
Tang Ruochu yang sedang makan pun menaikkan alis ketika mendengar Lu Shijin menyuruh Lu Shengyao pergi kencan buta. Apakah pemikian ayah Shijin belum ketinggalan zaman? Kenapa selalu menjadwalkan kencan buta kepada anak-anaknya, Shijin seperti itu, apakah Shengyao juga harus begitu?
“Kalau gitu omong sendiri saja, aku hanya menyampaikan pesan dari orang tua saja,” Lu Shijin membebaskan diri dari masalah ini.
Tetapi Lu Shengyao sangat yakin bahwa ini adalah keputusan dari Kakak, dan keputusan ini juga baru diputuskan saja, mengenai orang tua, hanyalah alasan belaka.
Kenapa begitu?
Karena dia salah omong, karena omongan dia membuat Kakak Ipar marah.
Setiap masalah yang berhubungan dengan Kakak Ipar, akan membuat Kakak menjadi orang yang super pelit.
Jika dia tidak menurut, maka akan ada kencan buta yang berikutnya, berikutnya lagi dan lagi… pokoknya dia tidak bisa lepas dari cengkeraman sang Kakak.
Kalau memang begitu, mari selesaikan dalam 1 kali, kencan buta ya kencan buta, dia mempunyai banyak cara untuk membuat Kakak kecewa.
__ADS_1
Bibir Lu Shengyao tersenyum, lalu mengiyakan, “Baik! Lusa, aku akan datang sesuai waktu.”
Persetujuan dia hampir membuat Tang Ruochu memuncratkan makanan di mulutnya, matanya terbuka lebar dan menatap Lu Shengyao.
Tidak salah! Orang yang begitu keren ternyata mau kencan buta?!
Ekspresi Tang Ruochu membuat Lu Shengyao tersenyum, “Kakak Ipar, aku rela berkorban demi kepelitan… seseorang.”
Tang Ruochu mengernyitkan alis, karena dia tidak paham.
Lu Shengyao juga tidak bilang apa-apa lagi, kemudian menunduk dan lanjut makan.
Kemudian pandangan yang penuh pertanyaan itu beralih kepada Lu Shijin, “Jangan peduli dengan dia. Selesai makan, kita pulang bersama.”
Tang Ruochu mengangguk, dia pun tidak memikirkan ucapan Lu Shengyao lagi.
……
Pada hari kedua, di bawah tuntutan Tang Ruochu yang konsisten, Lu Shengyao pun ikut dia untuk berkunjung kepada Tuan Chen.
Kali ini, mereka tidak langsung ke rumah Tuan Chen, melainkan keliling di dalam komplek.
“Tuan Chen suka main catur. Biasanya, dia akan turun setelah sarapan, kemudian bermain catur hingga sepanjang pagi, dia sangat suka main catur.”
Inilah informasi yang Lu Shengyao dapatkan dari mulut orang-orang tua yang lain.
“Bisa,” cetus Lu Shengyao tanpa berpikir.
“Jago tidak?”
“Biasa-biasa saja, tidak sejago Kakak,” sejak bisa main catur hingga sekarang, dia tidak pernah menang dari Lu Shijin. Jadi, teknik bermain catur mereka pun langsung terlihat jelas.
“Kalau tahu gitu, seharusnya aku minta Shijin yang ikut aku datang.”
“Hah?” Lu Shengyao terlihat bimbang.
Tang Ruochu pun tertawa, “Shijin lebih jago main catur daripada kamu, seharusnya bisa seimbang dengan Tuan Chen.”
Lu Shengyao terlengah, “Kakak Ipar, kamu mau suruh aku main catur dengan Tuan Chen?”
Tang Ruochu hanya tersenyum, tetapi jawabannya sudah sangat jelas.
Lu Shengyao pun tidak tahu harus tertawa atau menangis, “Kakak Ipar, kamu terlalu yakin pada kemampuan aku, ternyata kamu mau suruh aku bermain catur dengan Tuan Chen. Darimana kamu mendapatkan ide ini?”
Tang Ruochu menaikkan alis, “Kamu tidak paham ya? Ini namanya strategi membuat orang senang, supaya hubungan kedua belah pihak bisa lebih dekat.”
__ADS_1
“Membuat orang senang?”
“Iya,” Tang Ruochu menepuk pundaknya, “Tuan Chen suka main catur, makanya kita main catur dengan dia, sekalian bahas masalah kerja.”
Inilah alasan kenapa Tang Ruochu begitu percaya diri. Bagi orang tua yang suka main catur dan tidak punya lawan, jika Shengyao bisa menang, maka harapan mereka pun akan bertamah.
Lu Shengyao sudah paham, tetapi masih merasa ragu.
“Kakak Ipar, aku tidak jamin bisa menang ya.”
“Iya, walaupun kalah juga bukan salahmu,” ucap Tang Ruochu dengan tersenyum.
Tang Ruochu sama sekali tidak mempermasalahkan keraguan dia, karena dia memang tidak berharap Shengyao bisa mengalahkan seorang pecinta catur.
……
Tuan Chen masih seperti biasanya, bermain catur di paviliun, dia sama sekali tidak sadar dengan kedatangan Tang Ruochu.
Tang Ruochu dan Lu Shengyao berdiri di samping sambil melihat strategi catur Tuan Chen, tidak lama kemudian, posisi Tuan Chen sudah menyudutkan lawannya sampai kehabisan langkah.
Seiring dengan kata “sekakmat”, Tuan Chen pun menang, kemenangan yang cukup gampang.
“Lao Chen, kamu sudah semakin jago, di sini sudah tidak ada orang yang bisa mengalahkan kamu.”
“Iya, aku sudah tidak berani main dengan kamu lagi. Main 10 kali kalah 10 kali, harga diri aku juga sudah habis.”
“Lao Chen, kamu begitu hebat, bagaimana kalau kamu ajarkan cucu aku?”
“Lao Chen…”
1 orang 1 kalimat, ada yang merasa cemburu, ada yang menyindir, tetapi Tuan Chen tetap tersenyum saja.
Tuan Chen memang merupakan orang yang sangat santun.
Tang Ruochu menaikkan alis, kemudian menyikut Lu Shengyao. Lu Shengyao menatap dia dengan heran, dan dia pun memberikan isyarat mata untuk menyuruh Lu Shengyao bermain catur dengan Tuan Chen.
Dengan perasaan ingin menolak, Lu Shengyao tetap duduk di hadapan Tuan Chen. Begitu dia duduk, suara-suara di sekitar yang berhenti.
Tuan Chen merasa heran ketika melihat anak muda di hadapannya, “Kamu?”
Lu Shengyao pun tertawa, “Dengar-dengar, kamu sangat jago main catur, aku sengaja datang meminta bimbingan.”
Usai dia berkata, langsung ada yang menyambung, “Anak muda, rupanya kemarin kamu datang tanya-tanya masalah Tuan Chen adalah untuk meminta bimbingannya?”
Lu Shengyao menelusur sumber suara, seorang yang nenek sudah berusia di atas 60, seperti kenal, mungkin kemarin sempat bertemu.
__ADS_1
Dia pun tertawa kering, lalu menyahut, “Iya, iya. Aku ingin belajar dengan Tuan Chen.”
Ya ampun, kenapa bisa ada nenek-nenek? Apakah akan datang nenek-nenek yang lain lagi?