
Hello! Im an artic!
Dari jendela berkaca penuh, terlihat langit yang dilapis kain hitam dan lampu-lampu yang berkedip.
Di bawah kakinya adalah Kota Beining yang terang-benderang, suasana yang sangat ramai.
Hello! Im an artic!
Tang Ruochu melihat pemandanga ini dengan terpaku, dia tidak pernah melihat pemandangan malam Beining yang begitu indah.
Di belakangnya, Lu Shengyao sedang berbaring di sofa sambil menatap plafon, perutnya terkadang mengeluarkan suara “kruk-kruk”.
Dia sangat lapar! Sudah lapar sekali.
Tetapi Kakak Ipar tercinta ini belum mau makan, katanya mau tunggu Kakak selesai rapat baru makan bersama.
Hello! Im an artic!
Tetapi, hanya setan yang tahu seberapa lama rapat itu akan berlangsung. Mungkin saja, setelah rapat selesai, dia pun sudah mati kelaparan.
Di saat Lu Shengyao menghela-hela nafas, pintu ruang kantor terbuka, seseorang yang bertubuh tinggi perkasa masuk.
Begitu mendengar suara, Lu Shengyao langsung bangun, orang yang datang ini bagaikan penolong dia, dengan wajah ceria, “Kakak, akhirnya rapat kamu selesai. Perut aku sudah mau kempis.”
Lu Shijin melihat perutnya, “Itu belum kempis.”
“Kakak… ini adalah hiperbola, paham?”
Kepala Lu Shengyao pun bergaris hitam.
Lu Shijin melirik dia, kemudian berjalan ke arah orang yang berdiri di dekat jendela.
Lu Shengyao mencemberutkan bibir, kemudian keluar dari ruangan dengan inisiatif karena harus memberikan ruang ini kepada mereka.
“Indah sekali kan?”
Di saat Tang Ruochu terpaku, tiba-tiba, terdengar suara di belakangnya.
Karena terkaget, dia pun membalikkan kepala, wajah yang luar biasa tampan pun masuk ke dalam pandangannya, senyuman ceria memanjat ke wajah yang kecil itu.
“Sudah selesai rapat?” tanya dia dengan pelan.
“Iya, sudah,” Lu Shijin mengangguk, kemudian merapikan rambut yang agak berantakan di bagian pipi dan menatapnya dengan penuh kasih sayang, “Kenapa bisa ke sini?”
“Takut kamu lapar,” ucap Tang Ruochu dengan tersenyum nakal.
Lu Shijin tersenyum dan menggosok kepalanya, pandangan matanya memancarkan sinar yang sangat lembut.
Lalu melihat ke luar jendela, pemandangan malam yang indah itu memantul ke dalam matanya, lengkungan bibir yang tersenyum pun terlihat semakin jelas.
__ADS_1
“Keindahan pemandangan di tempat kamu membuat aku merasa iri,” Tang Ruochu juga menelusur pandangan Lu Shijin untuk meihat pemandangan malam, lalu berkata dengan setengah bercanda setengah serius.
“Kalau gitu, kerja di Huangting saja, supaya bisa melihat pemandangan indah setiap hari.”
Sambil berkata, pandangan mata Lu Shijin sudah beralih ke Tang Ruochu untuk melihat kecantikan Tang Ruochu.
“Memang sangat menggoda, tetapi aku lebih suka Shirui,” ucap Tang Ruochu sambil memalingkan kepala dan tersenyum padanya.
Senyuman yang berseri-seri.
Hati Lu Shijin pun berombak, kemudian merangkul pinggul Tang Ruochu dan memeluknya.
Gerakan mendadak ini membuat Tang Ruochu berteriak dengan suara kecil.
“Direktur Lu, apakah kamu mau menggoda aku?” Tang Ruochu mengangkat kepala dan menatap Lu Shijin dengan penuh tersenyum.
Alis naik, kepala tunduk, bibir hampir menempel di bibir, lalu berkata, “Apakah godaan aku akan berhasil?”
Suara yang rendah dan menggoda ini membuat hati Tang Ruochu bergejolak.
Bola matanya memancarkan cahaya, lalu menjawab dengan suara kecil, “Kamu sudah berhasil sejak awal.”
Kata-katanya belum selesai, kedua bibir sudah menempel dan saling menghisap.
Hati berdeg-degan, Tang Ruochu merangkul leher Lu Shijin untuk merespon ciumannya.
Di luar jendela, pemandangannya masih begitu indah.
……
“Haaa….” Lu Shengyao menguap, dia sedang tiarap di meja sekretaris dengan bosan.
Terkadang dia melihat ke pintu ruangan kantor presdir yang masih tertutup rapat, lalu menghela nafas.
Dia merasa dia adalah adik yang paling kasihan sepanjang sejarah.
Perutnya sudah dari lapar menjadi tidak ada perasaan lapar, tetapi kedua orang yang di dalam kantor masih belum ada rencana untuk makan.
Dia mulai mempertimbangkan masalah makan, mau makan di luar? Atau mengetuk pintu? Kalau mengetuk pintu, kemesraan mereka bisa terganggu tidak?
Pilihan pertama, berarti dia tidak dapat makan udang saus tomat buatan Bibi Wu.
Pilihan kedua, dia bisa ditelan Kakak.
Setelah melakukan pertimbangan, dia pun mengambil keputusan.
Dia segera berdiri dan jalan ke depan pintu ruang kantor presdir, tanpa merasa ragu, dia pun mengangkat tangan dan mau mengetuk.
Tetapi sebelum tangannya menyentuh pintu, ternyata pintunya sudah terbuka.
__ADS_1
Tang Ruochu memang mau keluar panggil Lu Shengyao makan, tetapi begitu membuka pintu, dia pun terkaget ketika melihat orang yang berdiri di depan pintu.
Begitu melihat tangan Lu Shengyao yang berhenti di angkasa, dia pun merasa lucu, “Shengyao, kamu lagi ritual?”
Lu Shengyao menarik tangannya kembali, lalu tertawa kering, “Kakak Ipar, imajinasi kamu sangat kaya.”
Tang Ruochu menaikkan alis, “Tentu saja, sebagai orang yang berprofesi di bidang media, tanpa imajinasi, bagaimana bisa mengarang berita?”
“Kakak Ipar, kenapa ucapan kamu terdengar aneh?”
Mengarang berita berdasarkan imajinasi? Bukankah konyol?
“Tidak aneh,” Tang Ruochu kembali ke dalam ruangan, sambil berjalan sambil berkata, “Wartawan hiburan selalu berharap bisa populer, begitu ada angin berhembus saja, sudah harus bisa mengarangnya menjadi cerita lengkap, bukankah perlu imajinasi?”
“Itu namanya aku pemasaran, bukan wartawan hiburan, Kakak Ipar!”
Tang Ruochu membalikkan kepala dan tersenyuma padanya, “Tidak beda jauh.”
Lu Shengyao menaikkan pundak, memang tidak beda jauh. Wartawan hiburan zaman sekarang sudah jarang mengusut kenyataan, bahkan ada yang memproduksi berita sendiri.
Mereka duduk di sofa, Lu Shijin sudah menghidangkan makanan yang mereka bawa ke meja sofa.
Begitu melihat makanan yang masih mengeluarkan asap, mata Lu Shengyao pun berkaca-kaca, akhirnya sudah bisa makan.
“Shengyao, ini buat kamu,” Tang Ruochu memberikan sumpit padanya, ketika melihat Lu Shengyao yang terus melotot makanan, dia pun merasa bersalah.
“Maaf, Shengyao! Aku telah mengganggu waktu kamu.”
Lu Shengyao geleng kepala, “Tidak apa, lagian aku tidak ada kerjaan lain.”
Usai berkata, dia pun menerima sumpit, mengambil mangkok, tanpa menunggu mereka lagi, dia pun sudah mulai melahap.
Tang Ruochu dan Lu Shijin yang melihat dia pun saling tersenyum, sepertinya memang sudah kelaparan.
“Shijin, makan udang,” Tang Ruochu mencapit udang dan diletakkan ke mangkok di hadapan Lu Shijin.
Lu Shijin baru mau mengatakan sesuatu, terlihat sepasang sumpit datang mencapit udang itu.
Dia pun menelusur sumpit itu, terlihat Lu Shengyao sudah memasukkan udang itu ke dalam mulut, “Udangnya buat aku saja, Kakak, kamu tidak usah makan.”
“Lu Shengyao, kamu anak kecil ya? Tidak tahu berbagi ya?” Tang Ruochu pun tidak tahu harus tertawa atau menangis ketika melihat Lu Shengyao begitu naif.
“Bukan tidak tahu berbagi, tetapi kasih Kakak makan lipstik saja, buat apa makan udang?”
Begitu Lu Shengyao selesai omong, tangan Tang Ruochu bergetar, udang yang dia capit pun terjatuh.
Dia menatap Lu Shengyao dengan mata melebar, “Shengyao, apa yang kamu katakan?”
Lu Shengyao tertawa pada mereka, “Aku bilang, kasih Kakak makan lipstik saja.”
__ADS_1
Sambil berkata, pandangannya yang penuh berarti melirik bibir Tang Ruochu, Tang Ruochu langsung menutup bibirnya dengan tangan, wajahnya pun langsung memerah.