Wanita 500jt

Wanita 500jt
Bab 37


__ADS_3

"Ya.. Seandainya aku bisa, maka akan aku bunuh kau sekarang juga." Ucap Hana yang hanya di dalam hati saja. Ingin sekali Hana berteriak mengatakan itu. Ingin sekali Hana menampar wajah yang ada di hadapannya saat ini. Dan ingin sekali Hana menghancurkan pria yang ada di hadapannya itu. Tapi bagaimana bisa? Sungguh Hana tidak dapat melakukan apapun saat ini.


"Woyyy!" Teriak Elang. "Kenapa kau diam? Kau ingin membunuhku?"


"Tidak! Mana bisa aku membunuh pria seperti dirimu." Jawab Hana dengan berbohong.


"Tentu kau tidak bisa membunuhku. Karena kau bukan siapa-siapa."


"Andai kau tahu tuan Elang yang terhormat. Aku sebenarnya ingin sekali membunuhmu. Tapi, aku masih bisa menahan diri." Batin Hana.


"Bersihkan itu, sekarang" titah Elang. "Atira, jangan bantu dia."


"Baik tuan." Jawab Atira hanya bisa mengikuti perkataan tuannya.


"Elang tunggu." Panggil Hana saat Elang sudah mulai melangkah.


"Tunggu." Hana menahan lengan Elang, namun dengan cepat Elang menepis.


"Tunggu." Kata Hana lalu berdiri di depan Elang, membuat Elang menaikkan satu alisnya.


"Minggir!"


"Sebentar saja." Ucap Hana lalu mengalungkan dasi di leher kemeja Elang. "Hanya sebentar." Ucap Hana, dan Elang pun berdiri mematung di hadapan Hana.


"Kalau membunuh tubuhmu aku tidak bisa. Maka aku akan membunuh ragamu." Batin Hana.


Dan! Lagi-lagi detak jantung Elang berdetak tidak normal. Detakan jantungnya berdetak sama seperti hari kemarin. Jantungnya seakan ingin keluar dari dalam tubuhnya.


"Ada apa ini?" Batin Elang.


Beberapa saat kemudian, mata Elang dan juga Hana saling bertemu. Kedua nya sama-sama terdiam dan saling bertatapan hingga beberapa detik.


"Minggir" ucap Elang sambil mendorong tubuh Hana membuat Hana jatuh ke lantai.


"Jangan harap aku akan jatuh cinta dengan mu." Ucap Elang dengan lantang membuat Hana tersenyum, namun senyum Hana tidak dapat di lihat oleh Elang.


"Nyonya anda baik-baik saja." Kata Atira sambil mendekati Hana.


"Aku baik-baik saja Atira." Ucap Hana lalu menoleh ke arah Atira. "Berikan aku alamat kantor Elang." Ucap Hana lalu berjalan menuju dapur


"Untuk apa?" Tanya Atira


"Aku akan membuat makanan yang enak untuk suamiku." Jawab Hana sambil tersenyum penuh arti.


"Tapi nyonya?"

__ADS_1


"Percaya padaku Atira."


•••••••


"Dimana Hana?" Tanya sang ayah, namun Kana hanya diam.


"Widia, dimana Hana nak?" Tanya ayah, saat Widia masuk ke dalam ruangan.


"Hana.." Widia terdiam sesaat. " Hana saat ini sedang bekerja, jadi belum bisa datang."


"Tapi hari ini ayah sudah keluar, kenapa sampai sekarang Hana belum juga datang?"


"Itu karena, Hana bekerja menjadi pembantu dan cuman bisa libur sehari dalam sebulan." Bohong Widia, karena Widia pun tidak tahu apa yang Hana kerjakan di dalam rumah mewah itu.


"Kasihan Hana."


"Ayah." Panggil Kana. "Jangan fikir yang lain-lain. Ayah fokus dengan kesehatan saja." Ucap Kana.


"Betul ayah." Timpal Widia yang juga memanggil ayah Hana sebagai ayahnya. "Ayah harus fokus dengan kesehatan ayah, biar Hana bisa semangat bekerja."


"Baiklah."


Setelah semuanya beres, kini Widia mengantarkan ayah dan juga Kana menuju rumah. Hingga setelah ayah dan Kana tiba, Widia langsung memutuskan untuk pergi. Ya, tujuan Widia kali ini adalah rumah mewah itu. Rumah dimana Hana berada, rumah dimana Hana tidak dapat menerima atau membalas pesan singkat darinya. Dan bagi Widia, rumah itu tidak lain adalah penjara. Karena tidak ada sama sekali cela untuk Widia masuk ke dalam sana. Tidak ada sama sekali cela untuk Widia mencari tahu tentang Hana di dalam sana.


"Hana..." Teriak Widia sama seperti dahulu., namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam sana.


Sedangkan Hana yang berada di dalam sana, sibuk menata menu masakan yang akan ia bawakan untuk Elang.


"Nona yakin?" Tanya Atira untuk ke sekian kalinya. Atira takut dengan keberanian Hana yang ingin mengantarkan makan sian kepada tuannya.


"Atira. Elang adalah suamiku dan sudah sepatutnya aku melayaninya."


"Tapi nyonya."


"Tenang saja Atira. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Elang jika dia marah karena kedatanganku yang mendadak."


Hana mengambil kotak bekalnya dan berjalan keluar.


"Buka pintunya" Ucap Hana.


"Maaf nyonya tapi anda tidak di perbolehkan keluar dari rumah ini. Walau hanya sejengkal saja."


"Hana...." Teriak Widia dari luar sana.


"Kau tidak lihat ini?" Hana memperlihatkan kotak bekal yang ia bawa.

__ADS_1


"Tapi nyonya."


"Begini saja. Kalau kalian tidak percaya padaku. Lebih baik kalian mengawal aku saja. Jadi kalian bisa tahu jika aku kabur."


"Tapi..."


"Ikuti saja apa yang nyonya katakan. Jika terjadi sesuatu maka aku yang akan bertanggung jawab." Timpal Atira.


Para pengawal serentak saling bertatapan. Hingga beberapa detik kemudian.


"Baiklah."


"Terima kasih Atira."


"Ingat nona, kembali lah jangan kabur."


"Tenang saja, aku akan kembali."


Saat pintu pagar di buka, dan Hana yang berada di dalam mobil dapat melihat dengan jelas jika sahabatnya sedang berada di depan gerbang.


"Hana." Teriak Widia.


"Bisa aku bicara dengan teman ku dulu"


"Tapi nyo...." Belum sempat pengawal itu menyelesaikan ucapannya, Hana sudah turub dari atas mobil.


"Hana." Ucap Widia dengan haru sambil memeluk tubuh Hana. "Bagaimana kabarmu? Apa ada bagian tubuhmu yang lecet? Kau baik-baik saja kan? Katakan padaku, apa mereka jahat denganmu?"


"Bagaimana aku bisa menjawab jika kau terus bertanya."


"Maaf. Jadi bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan ayah? Apa ayah sudah sehat?"


"Ayah sudah pulang, di terus mencarimu."


"Hubungi aku di no ini nanti malam. Aku akan menceritakan semua yang terjadi. Aku pergu dulu." Ucap Hana sambil memberikan selembar kertas yang tertuliskan no ponsel Atira


Tadi sebelum Hana pergi, ia sudah meminta no ponsel Atira. Dan tanpa banyak tanya pun Atira langsung memberikan no ponselnya kepada Hana.


"Baiklah."


"Nyonya, tolong jangan bersikap seperti ini." Ucap salah satu pengawal.


"Baiklah" ucap Hana lalu kembali naik di atas mobil...

__ADS_1


"Nyonya?" Gumam Widia.


__ADS_2