
Hana membuka matanya secara perlahan, lalu menatap sekeliling.
"Hana, kau sudah sadar" Ucap Widia yang berada di samping Hana.
"Widia aku dimana? Dan kenapa kau bisa berada di sini?" Tanya Hana yang masih bingung kenapa Widia bisa berada di sampingnya.
"Kau ada di rumah sakit. Tadi aku menelpon no yang dulu kau berikan, dan bilang jika kau ada di sini. Makanya sekarang aku ada di sini."
Lalu Hana kembali mencoba mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya.
"Widia, aku bertemu pria itu. Pria yang bernama Adit itu." Ucap Hana sambil mencoba duduk, dan di bantu oleh Widia.
"Hana lupakan dulu pria itu. Kesehatan mu jauh lebih penting dan juga kesehatan bayimu." Ucap Widia yang sudah mengetahui jika Hana sedang mengandung.
"Widia." Lirih Hana
"Kamu yang kuat. Aku tahu jalan yang kamu ambil tidak muda. Mungkin saja Tuhan menitip bayi di rahimmu karena mungkin kelak bayi ini akan membawa kebahagian untuk mu."
"Terima kasih Widia. Kau selalu ada saat aku membutuhkan sandaran."
__ADS_1
"Oh ya Hana. Besok ada pria yang ingin bertemu dengan mu."
"Pria? Siapa dia." Tanya Hana
"Besok kau akan tahu sendiri siapa pria itu." Jawab Widia.
•••••
Elang merasa sangat hancur saat dokter mengatakan jika Hana sedang mengandung. Baru saja Elang merasakan ketenangan saat berada di dekat Hana, namun kini semua ketenangan yang Elang rasakan berubah menjadi amarah.
Arrrrgggghhhhhh. Elang membanting semua barang yang ada di ruangan kerjanya.
"Dasar wanita. Tidak ada yang pernah mau setia dengan satu pria." Teriak Elang murkah
Atira yang kebetulan sedang membawa nampan yang berisi secangkir kopi, yang siap ia berikan kepada tuannya, kini hanya bisa berdiri tepat di depan pintu ruang kerja. Atira dapat mendengar dengan jelas barang-barang yang jatuh berserakan, dan Atira pun dapat mendengar dengan jelas apa yang tuannya katakan.
"Andai tuan tahu, jika bayi itu adalah bayi tuan." Gumam Atira, lalu kembali ke dapur. Atira mengurungkan niatnya untuk memberikan kopi kepada tuannya.
"Apa aku harus memberitahukan kepada tuan yang sebenarnya?" Gumam Atira dan berjalan mondar mandir di dalam dapur. "Tapi, aku sudah berjanji pada Hana. Tapi! Kenapa tuan tidak tahu jika bayi yang Hana kandung adalah bayinya?"
__ADS_1
Hana terus mondar-mandir, sehingga membuat Roy yang kebetulan datang berkunjung menatap Atira sambil menggelengkan kepala.
"Ada apa dengan Atira?" Batin Roy, lalu Roy melanjutkan langkah ingin menuju ruang kerja Elang, namun langkah Roy terhenti saat Roy mendengar ucapan Atira.
"Apa aku harus menceritakan kebenarannya" ucap Atira.
"Kebenaran apa?" Tanya Roy yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Atira.
"Tu-tuan Roy" Ucap Atira dengan terbata. "Apa tuan Roy mendengar ucapakan ku tadi?" Batin Atira.
"Kebenaran apa Atira?" Tanya ulang Roy sambil menatap tajam pada Atira.
"Tu-uan, sejak kapan anda berada di situ? Apa anda mendengar semua ucapanku?" Jawab Atira dengan sebuah pertanyaan.
Roy menautkan satu alisnya menatap curiga pada Atira yang kelihatan sudah salang tingkah.
"Kebenaran apa yang kau maksud Atira. Ayo ceritakan padaku? Jika tidak maka aku akan..." Roy melangkah mendekati Atira dengan tatapan tajam, sehingga membuat Atira mundur dengan wajah yang ketakutan.
"Tu-tuan."
__ADS_1
"Katakan!"
"Itu. Anu, itu nona Hana hamil."