
"Kanaya." Lirih Aron saat Kanaya sudah masuk kembali ke dalam rumah.
Aron kembali mengingat masa-masa di mana dirinya dahulu, yang jatuh cinta pada pandangan pertama, dan berusaha merebut hati Kana. Tapi jahatnya Aron, saat Kana benar-benar hancur Aron justru pergi. Pergi meninggalakan Kana seorang diri. Pergi tanpa pesan dan meninggalkan kesan yang amat menyakitkan untuk Kananya. Dan bukan hanya Kananya yang merasakan sakit, tapi Aron pun juga merasa sakit. Ia menyesali perbuatannya. Perbuatan yang membuat keduanya terjebak dalam kesakitan yang mendalam.
"Maafkan aku Kanaya."
"Kau mau maling?" Tanya Widia sambil berdiri tepat di belakang Aron dan melihat arah kemana Aron melihat.
"Tidak." Ucap Aron sambil mengusap air matanya, dan balik badan melihat siapa yang ada di belakangnya.
"Lalu jika bukan maling apa dong?" Tanya Widia kembali dengan ketus lalu Widia menatap tajam Aron.
"Atau jangan-jangan kau pria mes*um?"
"Tidak. Bukan, kau salah paham." Jelas Aron sambil berjalan. Namun langkahnya terhenti kala Widia menarik baju Aron.
"Kau mau kemana? Jelaskan dulu, apa maksudmu melirik ke arah rumah ayah? Dan terus menyebut nama Kanaya?" Tanya Widia yang memang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Aron.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau selalu berucap kata 'maaf'?"
"Aku...." Aron pusing, harus berkata apa di saat ia benar-benar tertangkap basah oleh wanita yang saat ini ada di hadapannya.
"Tunggu! Atau jangan-jangan kau pria yang....." Pikiran Widia sudah berkelana menebak mungkin saja pria yang ada di hadapannya ini adalah pria yang telah merenggut kebahagian Kana. Dan telah menghancurkan masa depan Kana.
Aron menelan salivanya secara kasar, saat Widia menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Diam mu berarti iya bagiku." Ucap Widia penuh dengan emosi. Lalu menarik lengan Aron menuju salah satu rumah makan yang berada di luar dari gang rumah Kana.
"Mana ktp dan juga ponselmu." Pinta Widia, saat sudah berada di salah satu rumah makan
"Aron. Wao nama yang bagus, namun sayang sifatmu tak sebagus namamu."
"Maaf."
"Apa? Kau bilang maaf padaku? Bod*oh!!! Kau bo*doh. Simpan maafmu itu dan sampaikan langsung pada Kana."
__ADS_1
Aron terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Aku benci melihat pria kaya sepertimu. Kalian hanya bisa menggunakan uang dan ketampanan untuk memainak perasaan wanita saja."
"Ma-.."
Byuuuurrrrrr.
Belum sempat Aron kembali berucap maaf, Widia langsung mengguyur muka Aron dengan segelas air yang berada di atas meja.
"Aku akan tanggu jawab."
"Hahahahahhaha. Pandai sekali kau bilang tanggung jawab? Setelah apa yang kau lakukan pada Kana, dan setelah apa yang Kana lalui, dengan gampangnya kau bilang ingin tanggung jawab"
"Sunggu aku akan tanggung jawab semua perbuatan ku pada Kana. Sungguh, kau boleh mengambil identitasku, jika aku berbohong kau boleh melaporkan aku ke kantor polisi."
"Gampang sekali kau berucap. Kau tahu, karenamu bukan hanya Kana yang menderita. Tapi adiknya juga. Hana menderita karenamu, dia terpaksa bekerja di kelab malam itu hanya ingin mencari tahu apa yang terjadi pada kakaknya." Jelas Widia dengan penuh penekanan.
__ADS_1