
Seminggu berlalu..
Sudah seminggu ini Elang tak kunjung juga datang menemui Zakira. Bukan karena Elang marah, karena belum mendapatkan jawaban atas permintaannya pada Hana. Tapi Elang sangat sibuk, sehingga selama seminggu ini ia belum bisa datang.
Dan selama seminggu ini, entah kenapa, Hana merasakan ada sesuatu yang berbeda. Di mana, di setiap harinya Hana harus bertemu dengan pria yang ia benci. Tapi seminggu ini, jangan kan untuk melihat pria itu, tapi kabarnya pun Hana tidak tahu sama sekali.
"Apa dia marah?" Batin Hana.
"Atau jangan-jangan dia sibuk? Atau? Hmm, dasar pria. Tidak ada satupun omongannya yang dapat di pengang. Katanya akan selalu ada untuk Zakira tapi buktinya." Hana terus saja menatap ke arah luar melalui jendela. Melihat apakah Elang akan datang hari ini.
"Kau sedang menunggu siapa?" Tanya Kana yang memang sejak tadi memperhatikan Hana yang terus memandang arah luar.
"Tidak!" Bohong Hana.
"Jangan bohong aku tahu kau sedang menunggu seseorang"
"Ya, kau benar. Aku memang menunggu seseorang. Dan kau tahu siapa dia?"
"Ya, aku tahu. Siapa lagi jika bukan papanya Zakira" jawab Kana penuh dengan keyakinan.
'Hahahahahhaha' Hana tertawa mendengar jawaban sang kakak.
"Kak, aku memang menunggu seseorang tapi bukan dia. Asal kakak tahu, aku sedang menunggu tukang sayur keliling." Ucap Hana.
"Untunglah kau ada di sini kak. Jadi tolong lihat tukang sayurnya. Kalau ada, panggil dan beli sayur untuk makan siang dan malam." Ucap Hana sambil menepuk pundak Kana.
"Kau pasti berbohong. Jangan masukkan tukang sayur dalam penantianmu itu" Ejek Kana.
"Lihatlah ibumu nak. Dia memiliki ego yang amat tinggi. Melebihi tingginya tiang listrik." Kata Kana sambil duduk di hadapan Zahara.
Zahara diam memandang wajah Kana, sambil tersenyum.
"Anak cantik." Ucap Kana sambil memeluk Zahara.
•••••
__ADS_1
"Sekarang kita ke rumah Hanaya." Pinta Elang saat dirinya kini duduk di kursi mobil belakang.
"Tapi tuan, ini sudah jam sepuluh malam." Ucap Roy. Sembari melirik tuannya dari kaca spion tengah.
Elang melihat jam yang melingkar di lengan kirinya. Yang memang benar sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Mungkin saja, nona Zakira sudah tidur tuan." Kata Roy mengingatkan.
"Kau benar juga Roy." Ucap Elang.
"Tapi, tetap saja bawa aku ke sana Roy." Pintanya yang tidak ingin terbantahkan lagi.
Dan tanpa banyak kata, Roy langsung merubah haluan, dan melaju menuju rumah Hanaya.
Beberapa saat kemudian. Roy teleh menepikan mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Elang.
"Tuan, apa anda yakin?" Tanya Roy saat Elang sudah keluar dari dalam mobil.
"Ya." Ucap Elang sambil merapikan lengan kemejanya.
Elang mengetuk pintu, beberapa kali, tapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Tak mau menyerah, Elang pun kembali mengetuk pintu, namun tetap saja tidak ada jawaban.
"Tuan. Sepertinya semua orang sudah tertidur lelap." Kata Roy, yang masih setia menemani Elang.
"Pulanglah Roy. Biar aku di sini."
"Tapi tuan."
"Pulanglah, dengarkan perkataanku."
"Baik tuan."
Hana terbangun, karena stok air untuk susu formula Zakira telah habis. Dan sambil menahan ngantuk Hana keluar dari dalam kamar. Saat Hana hendam berjalan menuju dapur, samar-samar Hana melirik ke arah ruang tamu. Di mana Hana dapat melihat ada pantulan seperti banyangan yang lewat melalui jendela.
Hana berjalan menuju ruang tamu dan menyalakan lampu.
__ADS_1
Perasaan Elang di luar sana, langsung lega kala menyadari jika lampu telah menyala.
Tok, tok, tok.
Lagi, Elang kembali mengetuk pintu. Tapi tetap saja, tidak ada jawaban dari dalam sana.
Hana yang sempat mengintip melalui jendela, dapan melihat dengan jelas siapa yang kini berada di luar sana.
Lalu Hanaya kembali memadamkan lampu.
Dan kali ini, Elang pun pasrah. Ia dapat menebak jika yang ada di dalam rumah saat ini adalah Hanaya. Dan tidak mungkin bagi Hana untuk membukakan pintu. Toh, ini sudah larut dan Zakira sudah tidur dan tidak ada lagi alasan baginya untuk bisa mampir.
Dengan mengembuskan nafas secara kasar. Elang pun mulai pasrah, dan beranjak pergi dari rumah Hananya.
Hana yang berada di dalam sana. Dapat melihat Elang yang kini sudah melangkahnya kakinya berjalan menjauh.
Dan....
Ceklek.... Bunyi suara pintu terbuka. Tapi tetap saja Elang masih terus melangkah, hingga beberapa saat langkah kaki Elang berhenti kala mendengar suara yang sangat ia hapal siapa pemiliknya.
"Tiga minggu. Hanya tiga minggu aku beri kau waktu." Kata Hana saat pintu terbuka.
Elang langsung menolehkan badannya. Dan langsung berjalan mendekat pada Hana.
"Hanaya." Ucap Elang.
"Hanya tiga minggu. Besok kau bisa datang untuk menjemputku dan Zakira." Ucap Hanaya dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Hanaya langsung menutup pintu.
Di luar sana, Elang merasa sangat bahagia. Jangankan tiga minggu, satu haripun Elang pasti sangat bahagia. Dan Elang sangat tidak menyangkah jika Hana mau memberikan kesempatan baginya, untuk membuktikan jika dirinya akan selalu ada untuk Hana dan juga Zakira.
"Hanaya. Aku akan membuktikan jika aku bisa." Teriak Elang yang masih dapat di dengar oleh Hana.
"Besok. Pagi-pagi sekali, aku akan datang menjemput kalian."
Di dalam rumah, Hanaya duduk sambil bersandar di daun pintu. Ia tidak menyangkah jika barusan ia telah memberikan kesempatan pada Elang. Dan mendengar perkataan dari Elang, membuat Hana menjadi merasa ada sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
Benarkah ini cinta? Atau hanya karena merasa iba? Atau hanya karena merasa jika Zakira butuh sosok figur seorang ayah? Entahlah, perasaan Hana, hanya dirinya lah yang tahu. Bagaimana dan mau di bawa kemana perasaan itu.