Wanita 500jt

Wanita 500jt
Bab 53


__ADS_3

Hana tetap bersikeras untuk mengobati luka Elang. Dan Elang yang tadinya terus membentak Hana kini terdiam. Dan pasrah saat Hana mengobati lukanya.


Secara perlahan Hana mengusap dan membersihkan luka Elang. Elang yang duduk di kursi sesekali menunduk melihat wajah Hana.


"Kenapa? Kenapa harus Aron." Batin Elang.


"Sudah selesai. Sekarang kau tidak perlu khawatir akan infeksi." Ucap Hana lalu berdiri.


"Berapa yang kau minta?" Tanya Elang tanpa menatap wajah Hana sama sekali.


"Tidak ada." Jawab Hana.


"Hahahahahah. Dasar perempuan licik. Pintar sekali kau bermain tarik ulur padaku." Kata Elang lalu menatap tajam pada Hana.


"Berapa? Berapa yang Aron bayarkan sampai kau memberikan tubuhmu?"


"Apa maksudmu?" Tanya Hana sambil berjalan mundur.


"Jangan pura-pura bo*doh. Aku tahu kau merayu kakakku dengan tubuh mura*hanmu itu."

__ADS_1


Plakkkkkkk


Dengan spontan tangan Hana langsung menampar pipi Elang.


"Kenapa kau selalu berfikir negatif padaku? Kenapa kau selalu menuduhku yang tidak-tidak. Kau tahu, karena mu hidupku hancur. Dan karena mu apa yang aku jaga selama ini telah hilang. Dan kau! Kau tega sekali mengatai aku dengan sebutan itu. Kau jahat Elang. Kau pria terjahat yang aku temui. Kau egois, kau hanya memikirkan dirimu. Tanpa memikirkan perasaan orang yang kau sakiti dengan kata-katamu." Ucap Hana dengan nada yang mulai meninggi.


"Berani sekali kau." Kata Elang sambil melayangkan tangannya di atas udara, siap untuk menampar pipi Hana.


"Tampar.. Ayo tampar." Tantang Hana. "Tampar aku, ayo.. Kalau itu yang bisa buat kamu bahagia. Ayo.."


"Diam." Bentak Elang


"Ku kira kau pria yang memiliki hati nurani, tapi ternyata tidak sama sekali." Kata Hana lalu memutar tubuhnya membelakangi Elang, namun dengan cepat Elang menahan tangan Hana agar Hana tidak melangkah keluar dari dalam ruangan.


"Lepaskan aku. Jangan pernah menahan tanganku."


"Kau lupa siapa aku? Kau lupa utangmu padaku?"


Hana lalu memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Tidak. Aku sama sekali tidak lupa dengan apa yang aku pinjam padamu." Ucap Hana sambil menatap wajah Elang.


Kini air mata Hana mulai membendung di pelupuk matanya. Namun berusaha Hana tahan agar tidak terjatuh. Agar Hana tidak menangis di depan Elang.


Elang pun terdiam. Mata mereka berdua saling pandang, hingga membuat keduanya saling terdiam satu sama lainnya. Hingga beberapa saat kemudian. Mereka tersadar saat Atira mengetuk pintu di luar sana.


"Tuan. Sudah waktunya makan malam."


Baik Hana maupun Elang, keduanya langsung tersadar. Dan mereka pun saling membalikkan tubunya hingga mereka saling membelakangi. Hana pun langsung memutuskan keluar dari ruangan kerja Elang. Dan saat Hana sampai di depan pintu, Hana langsung menyandarkan tubuhnya di dinding dan kakinya langsung terasa lemas.


"Hana, kau baik-baik saja?" Tanya Atira yang panik melihat Hana keluar dari ruangan tuannya.


Atira sengaja memutuskan untuk mengetuk pintu, karena sadar jika Hana sudah berada di dalam ruangan kerja tuannya sangat lama, sehingga membuat Atira memutuskan untuk mengetuk pintu. Karena Atira tidak ingin sesuatu terjadi apalagi jika bayi di dalam kandungan Hana sampai kenapa-kenapa.


"Atira..." Hana memeluk tubuh Atira, air mata yang sejak tadi ia bendung kini telah terjatuh membasahi pipi mulusnya.


"Atira, hikksss,hikkksss,hikkksss. Aku lelah, aku muak, aku ingin menyerah Atira. Sungguh aku sudah tidak tahan." Kata Hana sambil menangis histeris di dalam pelukan Atira.


Atira hanya diam sambil mengusap pundak belakang Hana memberikan kekuatan lewat usapan tangannya.

__ADS_1


Dan tanpa mereka sadari, ternyata Elang mendengar semua perkataan yang Hana katakan. Entah kenapa hati Elang merasakan sakit mendengar ucapan Hana.


__ADS_2