Wanita 500jt

Wanita 500jt
Bab 52


__ADS_3

"Auuhhhh.." Ringis Hana, yang merasakan sakit di kakinya saat dirinya membuka pintu dan langsung melangkah tanpa memperhatikan serpihan pecahan.


"Hana." Panggil Atira. "Hati-hati. Karena banyak serpihan pecahan."


Hana menganggukkan kepalanya.


"Hana. Tuan Elang mengatakan jika kau harus membersihkan semua serpihan pecahan ini."


"Baiklah." Kata Hana, lalu mulai membersihkan satu persatu serpihan kaca yang berserakan di lantai.


Walau bagaimana pun, Hana sudah sangat hati hati, namun tetap saja, telapak tangan Hana tergores oleh serpihan pecahan. Namun Hana tidak terpengaruh dengan itu, ia tetap saja melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai. Hingga sejam berlalu, sungguh waktu yang sangat lama, bagi Hana untuk membersihkan serpihan itu.


"Apa yang terjadi Atira? Kenapa semua piring dan juga gelas pecah?"


"Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja tuan memecahkam semuanya."


"Elang memecahakan semuanya?" Tanya Hana dan Atira menganggukkan kepalanya.


"Ada apa dengan Elang? Apa dia ingin memberiku hukuman dengan cara seperti ini." Batin Hana. "Sayang sekali piring dan gelasnya."

__ADS_1


"Tuan Elang ada di ruang kerjanya. Tadi, kakinya sempat terluka akibat terkena serpihan pecahan." Jelas Atira.


"Apa lukanya sudah di obati?" Tanya Hana yang saat ini sedang memberikan plaster pada luka di tangannya.


"Tidak. Aku sudah menawarkan akan memanggilkan dokter tapi tidak ada jawaban dari dalam ruangan kerjanya. Sepertinya tuan sedang tidak ingin di ganggu."


Hana lalu berdiri dan merapikan kotak p3k.


"Mau kemana??"


"Aku akan mengobati luka Elang, sebelum luka itu infeksi." Kata Hana.


"Tapi bagaimana jika tuan marah."


Hana pun langsung berjalan menuju ruang kerja Elang. Dan saat Hana sudah sampai di depan pintu, Hana langsung mengatur nafasnya, dan mengusap perutnya.


"Sayang. Apapun yang nanti terjadi di dalam, aku harap kau bisa kuat, dan tetap bertahan di perut ibu." Gumam Hana. Dan untuk pertama kalinya Hana merasa terharu dengan ucapannya sendiri. 'Ibu' kata yang terucap dari bibirnya dan di dengar langsung oleh kupingnya. Membawa rasa bahagia di hidup Hana.


Hana mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Sehingga membuat Hana memutuskan untuk membuka pintu. Untung saja pintu ruang kerja Elang tidak terkunci jadi Hana bisa membuka pintu dan masuk kedala. Perlahan Hana masuk, lalu mata Hana mencari keberadaan Elang.

__ADS_1


Saat mata Hana sudah menemukan apa yang ia cari. Kemudian Hana memberanikan dirinya untuk mendekati Elang.


"Elang." Panggil Hana, karena saat ini Elang sedang duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi sambil menutup matanya.


"Apa kau tidur?" tanya Hana, sambil menunduk melihat kaki Elang yang masih berdarah. Lalu Hana berjongkong.


"Atira bilang padaku. Jika kakimu sedang terluka. Jadi aku langsung datang membawakan obat untukmu." Jelas Hana, dan mulai memengang lembut kaki Elang.


Saat Hana mengusap luka Elang, tiba-tiba saja Elang menyentakkan kakinya dan berkata.


"Hentikan" Elang langsung membuka matanya dan memperbaiki posisi duduknya.


"Kakimu terluka. Bahaya jika di biarkan seperti itu."


"Apa pedulimu? Bukan kah kau suka jika aku mati? Jadi kau bisa bebas."


"Tidak, jangan mati. Setidaknya hiduplah agar anakku bisa memiliki ayah. Walau sebenarnya kita tidak akan mungkin bersama." Batin Hana.


"Keluar kau sekarang juga." Pinta Elang dengan sangat keras.

__ADS_1


"Tidak! Sebelum aku mengobati lukamu."


"Haa.. Berapa yang kau minta??" Tanya Elang dengan sinis melihat wajah Hana.


__ADS_2