
Elang langsung meraih ponselnya dan menghubungi sang ibunda.
Banyak sekali perntayaan yang Elang lontarkan, mengenai baby Zakira yang menangis saat mendapatkan hadiah dari dirinya. Ibunda Elang, hanya bisa tersenyum mendengar kekhawatiran dari sang anak, yang terlalu mencemaskan tentang sang buah hati yang menangis karena ulah dari hadiah yang ia berikan.
"Bunda. Anakku baik-baik sajakan? Apa bayi menangis akan berdampak bahaya? Bunda, bagaimana kalau sakira sakit karena ulahku? Bunda bagaimana ini?" Tanya Elang yang tidak memberikan kesempatan pada ibundanya untuk menjawab pertanyaan yang terus ia berikan.
"Bunda. Bagaimana kalau anakku tidak ingin lagi menerima pemberianku? Apa yang harus aku lakukan bunda?"
"Elang, kapan bunda bisa berbicara jika kau terus bertanya?" Tanya sang ibunda menyelah Elang untuk terus bertanya.
"Bunda, tunggu aku. Aku akan pulang dan bertanya langsung pada bunda." Ucap Elang dan langsung memutuskan sambungannya.
"Roy, laporkan saja padaku semua pekerjaan hari ini. Aku akan bekerja dari rumah." Ucap Elang dan langsung meraih jasnya dan berjalan keluar dari ruangan.
"Apa segitunya reaksi seorang ayah, jika putrinya menangis?" Tanya Roy, yang sejak tadi memperhatikan Elang, yang terlihat begitu sangat khawatir tentang baby Zakira.
"Rupanya dia sudah sadar dan tahu.." Kata Aron saat melihat semua hadia yang di bawah oleh Roy, yang memenuhi seiri ruangan tamu Hana.
__ADS_1
"Sejak kapan kau ada di sini." Ketus Kana, melihat Aron yang saat ini sedang duduk di kursi.
"Jangan membawa Zakira untuk menjadi alasan agar kau bisa datang ke sini."
"Aku?" Tunjuk Aron pada dirinya sendiri. "Aku memenag ingin datang melihat keponakam cantikku. Dan itu bukan alasan tapi kenyataan. Aku rindu padanya."
"Jangan mencari alasan, aku tahu kau datang karena ingin melihatku."
Aron berdiri, dan langsung berjalan mendekat Kana, membua Kana membulatkan matanya.
"Jangan mendekat." Kata Kana, namun Aron justru tetap berjalan. Membuat Kana, menutup matanya.
"Kesayangan uncle." Ucap Aron sambil mengambil alih Zakira dari gendongan Hana.
Hana tertawa melihat Kana yang mematung, begitu pun dengan Aron, ia pun ikut tertawa melihat tingkah lucu Kana.
Kana membuka matanya, karena mendengar Aron yang terus berceloteh pada Zakira. Dengan perasaan malu Kana berjalan sambil menyentakkan kakinya dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Lucu sekali bukan? Aunty mu sangat lucu. Dia sangat menggemaskan." Kata Aron sambil sesekali mencium Zakira.
"Dia sudah tahu tentang Zakira." Kata Hana, saat duduk berjarak dengan Aron.
"Ya, aku tahu. Aku bisa lihat semua hadiah ini." Ucap Aron. Sambil terus bermain dengan Zakira.
Hana terdiam, entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Siap atau tidak. Kau harus siap, karena aku yakin suatu saat Elang pasti akan datang menemuimu." Kata Aron, membuat Hana menoleh ke arah Zakira dan juga Aron.
"Tidak mungkin, Elang mengambil Zakira." Ucap Aron yang tahu, jika saat ini Hana sangat khawatir jika Elang datang dan merebut Zakira dari dirinya.
"Aku jamin, Elang tidak akan mungkin sekejam itu. Dia sudah sadar dan benar-benar ingin menebus kesalahan yang telah ia perbuat."
"Tapi..." Ucap Hana terpotong, kala Aron menyelah.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Biar waktu yang menjawab semuanya." Ucap Aron menenangkan Hana.
__ADS_1
"Aku hanya minta padamu. Beri ruang sedikit untuk Elang, agar bisa bertemu dengan Zakira. Agar Elang bisa merasakan menjadi sosok ayah yang seutuhnya dan Zakira bisa merasakan pelukan ayahnya."