
Satu tahun berlalu.
"Pa. Pa, pa, paa.." Kata yang terus saja terlontar dari bayi mungil yang imut, yang kini sedang duduk dengan mainan yang banyak mengelilingi dirinya.
"Sayang.." Ucap Hana sambil tersenyum di hadapan Zakira.
Bayi yang satu tahun lalu yang lahir dengan keadaan yang sangat lemah dan mungil kini telah tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan. Bayi yang sempat di rawat dengan waktu yang cukup lama, kini telah tersenyum dan sanggat-sangat lucu.
Pa.pa, pa, pa.
Kata itu, hanya kata itu yang telus saja terucap dari bibir mungilnya. Entah itu hanya kebetulan, atau karena mungkin saja baby Zakira sedang rindu pada sosok yang ia sebut. Ya, mungkin saja.
"Mama. Ma, ma, ma." Kata Hana sambil bertempuk tangan di hadapan Zakira. Hana berharal Zakira bisa menirukan apa yang Hana katakan, namun tetap saja Zakira hanya berkata pa, pa, pa.
"Mungkin dia merindukan ayahnya." Timpal ayah Hana.
"Ayah." Ucap Hana sambil menoleh ke arah ayahnya.
__ADS_1
"Jangan pernah membasah tentang pria itu."
"Sampai kapan?" Tanya sang ayah. "Sampai kapan kau akan hidup dengan penuh dendam? Kau tidak kasihan dengan Zakira? Zakira butuh sosok ayah."
"Ada ayah dan juga Aron yang bisa menjadi sosok ayah untuk Zakira." Kata Hana.
"Hana. Bahkan ayah dan Aron tidak akan mampu menggantikan Elang sebagai ayah kandung dari Zakira."
"Stop ayah. Jangan bilang nama itu lagi di hadapanku." kata Hana lalu menggendong tubuh Zakira, dan membawa Zakira masuk ke dalam kamar.
Ayah menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat Hana yang sangat sulit untuk di beri pengertian. Bahwa betapa pentingnya sosok ayah dalam peran pertumbuhan Zakira.
"Zakira semakin hari semakin tumbuh. Bagaimana jika kelak dia bertanya mana ayahnya? Apa yang harus kita katakan? Apakah kita harus membohongi anak yang tidak tahu apa-apa?" tanya sang ayah.
"Aku yakin Hana sudah memikirkan baik-baik tentang Zakira dan tentang hidupnya kedepan." Jawab Kana.
Kana pun tidak bisa terlalu memaksakan kehendak sang ayah pada Hana. Karena Kana tahu, bagaimana rasa sakitnya, jika kehidupan kita yang sudah tertata dengan rapinya di hancurkan oleh seseorang. Dan paling parahnya, Hana harus mengikhlaskan kehilangan salah satu bayinya.
__ADS_1
Hana berjalan masuk ke dalam kamar Kana.
"Jangan jadikan ucapan ayah, menjadi beban pikiranmu." Kata Kana, sambil menghampiri Hana.
"Aku pernah merasakan sakit. Tapi aku tahu, rasa sakitku tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan. Dan aku bersyukur, karena kau mampu melewati rasa sakit mu tidak seperti diriku."
"Kak.." Ucap Hana
"Aku tidak ingin memaksamu untuk memaafkan pria itu. Tapi, bagiku kesampingkan egomu pertemukan lah Zakira sesekali dengan ayahnya. Walau hanya sekali." kata Kana sambil mengambil alih menggendong Zakira.
•••••••
Sudah satu tahun lamanya, hidup Elang beranntakan. Tidak menentu dan tidak terarah. Perusahaan mulai terombang ambing, untung saja ada Roy yang siap siaga menjalankan semuanya.
Elang hanya menghabiskan hari-harinya dengan penuh penyesalan, sambil terus memperhatikan foto-foto Hana yang sudah memenuhi ruang kamarnya.
"Maafkan aku." Lirih Elang, dan hanya kata itu yang sering saja terucap dari bibirnya.
__ADS_1
Maaf, kata yang entah sudah berapa kali Elang katakan dalam setahun ini. Maaf, kata yang tak kunjung dapat menyelesaikan masalahnya. Ketika kata maaf itu terus saja terucap, namun tidak dapat balasan, yang ada hanya penyesalan semata.
Penyesalan, karena telah melukai hati wanita yang entah sejak kapan bertahta di dalam hatinya. Menyesal, karena telah kasar hingga membuat calon bayinya harus pergi untuk selama-lamanya.