
"Elang" Sapa ayah Hana, saat melihat Elang yang saat ini sedang duduk seorang diri di ruang tamu.
"Ayah, hm pak." Ucap Elang yang canggung, karena baru untuk pertama kalinya ia bertemu secara langsung dengan ayah Hana.
"Duduklah." Kata sang ayah. "Kau sedang menungguh Zakira?" tebaknya.
"Iya pak. Zakira sedang tidur. Jadi aku menunggunya." Jawab Elang.
Ya, setelah Zakira makan. Hana langsung membersihkan tubuh Zakira dan membawanya untuk tidur siang. Dan sampai saat ini Zakira belum juga keluar dari dalam kamae, padahal jam sudah menunjukkan sore hari. Tapi Elang, tidak menyerah, ia tetap saja dengan sabar duduk menunggi seorang diri.
"Tidur?" gumam ayah Hana. Karena biasanya di sore hari Zakira sudah rapi, dan juga sudah terbiasa untuk duduk di teras depan rumah. Bermain di temani oleh Hana, atau juga Kana.
"Sejak kapan kau di sini?"
"Baru saja." Bohong Elang.
"Baru atau dari tadi pagi?" tanyanya?
"Hm. itu.." Elang merasa canggung.
"Tunggu sebentar." Ucap ayah Hana, sambil berdiri dan ingin beranjak dari sana. Namun langkah kakinya terhenti, kala Elang berkata.
"Maaf."
"Maaf, karena telah melukai hati bapak, maaf karena aku telah menikahi anak bapak tanpa restu. Maaf.."
Ayah Kana, langsung menoleh dam berjalan menghampiri Elang yang juga sudah berdiri. Lalu ayah Hana menepuk pundak Elang, sambil tersenyum.
"Maaf." Kata itu kembali keluar dari bibir Elang.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan melihat Zakira di kamar."
••••••
Aron yang mengetahui jika sang adik saat ini sedang berada di rumah Hana. Langsung memutuskan untuk datang.
"Masih di sini?" tanya Aron sambil tersenyum tipis.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya balik Elang.
"Aku? Yah tentu untuk bertemu dengan Zakira lah." Jawab Aron santai.
"Jangan jadikan anakku menjadi alasan." Ucap Elang.
"Dan jangan juga jadikan anakmu menjadi alasan." Balas Aron sambil tersenyum.
Ayah Hana, tersenym sambil menggelengkan kepalanya melihat adik kakak yang dengan sabarnya menunggu anak-anaknya. Menunggu dengan sabar. Sedangkan Kana dan Hana sekarang sedang gelisah di dalam kamar. Karena kedua pria ini masih saja setia berada di rumah mereka dengan alasan ingin bertemu dengan Zakira.
"Pak, ayah." Ucap Aron dan Elang secara serentak.
Elang langsung menoleh ke arah Aron, karena mendengar Aron memanggil ayah Hana dengan sebutan 'ayah'
"Ayah, dimana Zakira. Hari ini aku belum melihatnya sama sekali." Kata Aron, sambil berjalan mendekati ayah Hana.
"Masih di dalam kamar. Mungkin sebentar lagi akan keluar."
"Aku sudah tidak sabar ayah untuk bertemu dengan Zakira." Ucap Aron.
Lagi dan lagi. Elang terus membulatkan matanya melihat ke dekatan Aron dan juga ayah Hana.
__ADS_1
Lalu ketiga pria ini, sibuk bercengkrama. Banyak sekali pembahan yang mereka katakan. Elang merasa bahagia, karena kehadirannya dapat di terima baik oleh ayah Hana.
••••
"Sampai kapan kita akan berada di sini?" Tanya Hana sambil menggendong Zakira.
"Keluarlah. Aku mau tidur." Ucap Kana.
"Kak. Ayah belum makan malam. Kita belum masak kak."
"Sini, biar aku jaga Zakira. Kau masakan ayah makanan saja."
"Tidak! Kakak saja yang masak. Aku yang jaga Zakira."
"Oh tidak bisa Hana. Bagian menjaga itu tugasku. Dan tugasmu siapkan ayah makanan."
"Tapi kak.."
"Mam, mam, mam."
"Lihatlah, Zakira mungkin juga sudah lapar. Jadi cepat buat makanan."
"Lebih adil kalau kita berdua yang menyiapkan makanan." Ide Hana.
"Terus? Siapa yang akan menjaga Zakira."
"Ada ayah, dan uncle Aron nya. Tentu pasti Zakira aman." jawab Hana.
"Oh yah jangan lupa, kalau ada papanya Zakira juga." timpal Kana, sambil tertawa
__ADS_1