Wanita 500jt

Wanita 500jt
49


__ADS_3

Widia membantu Hana bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit. Karena hari ini Hana sudah di perbolehkan keluar dan di haruskan untuk beristirahat di rumah, tidak boleh bekerja, sampai benar-benar keadaan membaik. Dan Hana pun di anjurkan agar selalu meminum obat penguat kandungan agar bayi di dalam kandungannya bisa tetap aman.


"Tumben pria itu tidak ada." Kata Widia sambil menatap sekeliling.


"Roy?" Tanya Hana, karena memang selama ini kemana pun Hana, pasti ada Roy, namun kali ini berbeda, semalam Hana berada di rumah sakit tak sekalipun Roy datang berkunjung.


"Apa dia tidak mencariku?" Batin Hana, sambil memikirkan Elang. Karena biasanya Elang melarang keras Hana keluar dari rumah. Hana ingat dulu saat ayahnya sakit, Roy selalu saja menyuruhnya untuk pulang karena perintah dari Elang.


"Tapi baguslah. Jika dia tidak mencariku." Batin Hana.


"Kau harus sabar, tinggal beberapa bulan lagi." Kata Widia sambil menatap wajah Hana yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Hana. Kau baik-baik saja." Widia menyentuh tangan Hana sehingga membuat Hana tersadar dari lamunannya.


"Iya Widia. Oh ya, kau bilang ada seseorang yang ingin menemuiku? Siapa dia?" Tanya Hana

__ADS_1


"Dia sudah menunggu kita."


Hana terus saja terdiam sambil menatap ke arah luar jendela kaca mobil taxi. Widia yang melihat pun hanya bisa menggenggam tangan sahabatnya, memberikan kekuatan. Widia tahu, apa yang Hana pikirkan. Widia tahu, jika Hana pasti memikirkan ayahnya, memikirkan saudaranya dan memikirkan bayinya. Bayi yang semakin hari akan semakin tumbuh di dalam rahimnya, bayi yang mungkin nantinya akan lahir tapi tidak memiliki seorang ayah.


Widia menghelah nafas.


"Kasihan sekali kamu Hana. Banyak sekali beban yang harus kamu pikul." Batin Widia.


Hingga tak terasa taxi yang mereka tumpangi tiba di salah satu taman yang terdapat hamparan danau yang luas. Widia sengaja memilih tempat ini, agar Hana bisa menghirup udara dan bisa menenangkan sedikit dirinya sebelum berhadapan dengan Aron.


"Widia. Dimana dia?" Tanya Hana saat sudah turun dari taxi.


"Baik dek."


"Jangan mencarinya dulu. Lebih baik kita ke sana dan menikmati pemandangan." Ajak Widia ke tepi danau.

__ADS_1


Hana tersenyum melihat ke arah danau.


"Aku tidak tahu, kapan terakhir kali aku liburan." Gumam Hana.


"Kau tenang saja. Sekarang ini kita liburan. Dan nanti! Setelah kau keluar dari penjara itu. Aku janji akan membawamu untuk liburan."


Hana tertawa mendengar perkataan sahabatnya. "Aku sudah tidak bisa kemana mana. Karena ada baby nantinya." Ucap Hana sambil mengusap perutnya yang masih datar.


"Ya baby nya kita ajak jugalah, masa ia di tinggalin. Oh yah, apa baby mau makan es cream?" Tanya Widia sambil mengusap perut Hana lalu mendekatkan kupingnya ke perut Hana. "Hana, baby mau. Kalau begitu kau tunggu di sini dulu." Ucap Widia dan Hana menganggukkan kepalanya.


Saat Widia pergi. Tiba-tiba saja Aron datang menghampiri Hana, dan Aron langsung duduk tetap di samping Hana.


"Hana." Ucap Aron.


"Kau! Kau pria pantai." Ucap Hana saat melihat wajah Aron.

__ADS_1


"Ya." Jawab Aron. "Hana, ada yang ingin aku katakan padamu."


"Tunggu! Dimana Widia?" Ucap Hana lalu berdiri dari duduknya dan menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Widia, namun sejauh mata Hana melihat, tidak ada tanda Widia sama sekali. Hana kembali mengingat perkataan Widia saat di rumah sakit, jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan dirinya.


__ADS_2