
"Setiap hari kau semakin bayak melamun saja." Ucap Adit saat melihat Elang. "Sebenarnya apa yang kau fikirkan? Kau ada masalah?"
"Tidak" jawab Elang. "Oh yah Dit, apa yang kemarin malam terjadi saat aku minum dan mabuk?"
Adit terdiam sesaat mengingat apa yang terjadi saat dirinya dan Elang minum bersama. "Seperti biasa, kau selalu saja mabuk. Untng saja ada asisten ku yang mengantarmu."
"Tidak ada hal yang lain?" Tanya Elang lagi sambil menatap wajah Adit
"Memangnya kau mengharapkan apa?"
"Tidak ada."
"Hahahahah, kau semakin aneh saja."
"Lalu kenapa tubuhku penuh dengan cakaran kuku? Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Elang.
••••••
Sebulan kini telah berlalu. Kini Hana tepat sudah dua bulan lamanya berada di rumah Elang, dan tiap harinya meskipun Elang memperlakukan Hana dengan tidak baik, tapi Hana tetap saja berlaku baik pada Elang. Meski kebaikan Hana selalu saja di anggap negatif dari Elang, tapi Hana tidak pernah menanggapi itu. Dan seperti pagi ini, Elang kembali bertingkah saat melihat menu makanan di atas meja.
__ADS_1
"Apa ini? Kenapa makanan ini bisa sebau ini?" Tanya Elang sambil menutup hidungnya.
"Buang semua makanan ini" titah Elang, pada Atira.
"Baik tuan." Jawab Atira tanpa bantahan sedikitpun.
"Kenapa harus di buang? Makanan itu tidak basi." Timpal Hana yang baru saja membawa semangkuk sup.
"Kalau aku bilang buang yah buang. Di sini aku majikannya bukan kau!" Sentak Elang dan mangkuk sup yang di bawa oleh Hana terjatuh di lantai, membuat kaki Hana terkena air sup.
"Auuuhhhh." Rigis Hana lalu mencoba berjalan dan kakinya menginjak serpihan kaca.
"Nyonya.." Teriak Atira secara spontan melihat kaki Hana yang mengeluarkan darah segar.
"Hana kau baik-baik saja?" Tanya Atira mencoba mendekati Hana, sambil menarik kursi agar Hana bisa duduk.
"Aku baik-baik saja." Jawab Hana tanpa membuka matanya.
"Tunggu nona bair aku ambilkan kotak p3k." Ucap Atira.
__ADS_1
Lalu sesaat kemudian Hana meringis merasakan perih saat serpihan kaca yang menusuk kakinya di tarik keluar.
"Hussstttt." Elang memberikan kode pada Atira agar diam saja di tempatnya.
Dengan sabar dan sangat hati-hati, Elang membersihkan darah yang menenpel di kaki Hana, lalu kemudian membalut luka Hana dengan plaster.
"Jangan katakan apapun." Bisik Elang saat dirinya sudah membereskan luka Hana.
Atira menganggukkan kepalanya.
"Nyonya sudah beres." Ucap Atira saat Elang sudah berlalu dari sana.
"Terima kasih Atira. Terima kasih sudah menolongku." Kata Hana dengan tulus.
"Buka saya nyonya. Tapi tuan Elang yang menolong anda." Batin Atira.
Hana dapat melihat dengan jelas pundak belakang Elang yang berjalan semakin menjauh.
"Tega!" Satu kata yang keluar dari bibir Hana.
__ADS_1
Elang berjalan sambil memegang dadanya. Perasaan itu? Entah perasaan apa yang selalu saja timbul. Dan kali ini perasaan itu semakin saja memuncak. Ada perasaan bersalah dan ada perasaaan yang sangat sulit untuk Elang artikan. Entah itu perasaan apa yang jelas Elang menepis perasaan itu. Karena baginya, tidak mungkin ada perasaan pada wanita yang hanya rela menukar apapun demi uang.
"Tidak mungkin." Batin Elang, menepis perasaan pada dirinya. Elang lalu mengusap wajahnya menghilangkan kekhawatiran yang ada dalam dirinya.