
..."Orang yang dulu pernah trauma di masa lalu karena cinta. Bisa kembali mencintai dengan tulus.. Tapi! dia tidak akan pernah percaya bahwa dia di cintai."...
...R.A...
"Kau bisa membeli apapun dengan tubuhmu itu."
"Elang apa maksudmu?" Tanya Hana yang tidak mengerti dengan perkataan Elang.
Sreeettttt.. Elang melemparkan sejumlah uang tepat di wajah Hana.
"Elang." Ucap Hana sambil memegang perutnya.
"Kau menikah dengan ku, tapi kau megandung anak orang. Bukan kah itu hal yang sangat tidak wajar bagi wanita?"
"Oh iya aku lupa, kau adalah wanita malam yang bekerja di kelab dengan pakaian minim. Entah sudah berapa banyak pria yang sudah mencicipi tubuhmu itu."
"Elang.." Teriak Hana dan ingin menampar pipi Elang, namun Elang dengan sigap menahan tangan Hana. Sungguh Hana sangat tidak suka dengan apa yang Elang katakan barusan.
"Benarkan kata ku? Haaa." Ucap Elang dengan tatapan tajam sambil menaikkan satu sudut bibirnya. Elang seperti sedang menertawakan Hana.
"Jangan banyak bicara jika kau tidak tahu kebenarannya." Ucap Hana.
"Kebenaran? Justru aku sadar sekarang. Hampir saja aku jatuh cinta pada wanita sepertimu. Untung saja aku dengan cepat mengatahui topengmu." kata Elang sambil menghempaskan tangan Hana dengan sangat kasar sehingga Hana oleng mundur kebelakang. Dan kaki Hana tersandung membuat Hana terjatuh.
__ADS_1
"Auhhhh..." Ringis Hana.
"Tidak usah pura-pura untuk menarik simpatik dariku." Kata Elang. Lalu pergi meninggalkan Hana seorang diri yang saat ini sedang kesakitan.
Hujan pun turun, jatuh membasahi tanah. Hana masih berada di luar rumah dengan posisi yang baring duduk di tanah, Hana menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Wajah Hana kini sudah mulai pucat.
"Sayang. Tolong bertahanlah." Ucap Hana sambil mengusap perutnya. Hana sudah tidak dapat berdiri lagi, karena rasa sakit itu membuat Hana kehilangan kekuatan.
"Bayiku.." Lirih Hana. Saat melihat darah sudah bercucuran keluar dari selah kedua kakinya.
"Atira.." Panggil Hana, dengan suara yang pelan
"Tolong selamatkan bayiku." Lirih Hana dengan pandangan yang mulai gelap.
•••••••
Sudah beberapa bulan ini Aron mencoba menyakinkan Kana, mencoba terus dan menerus meminta maaf pada Kana, namun tetap saja upaya Aron selalu saja gagal. Lagi, dan lagi, Kana terus menolak Aron. Kana masih ingat jelas apa yang Aron lakukan padanya. Dan pada saat itu, kenapa Aron meninggalkan dirinya seorang diri. Dan lebih parahnya lagi, Adit dengan santainya mengancam Kana, untuk tidak lagi berhubungan dengan Aron.
"Maafkan aku." Teriak Aron di bawah guyuran hujan.
"Kana. Please maafkan aku. Aku tahu aku salah, aku tahu aku pantas mendapatkan hukuman, maka hukumlah aku, tapi tolong maafkan aku." Ucap Aron membuat Kana memutsukan niatnya untuk masuk ke dalam rumah.
"Kana. Aku mencintaimu, sungguh. Aku serius dengan apa yang aku katakan."
__ADS_1
Kana memutar tubuhnya dan melihat Aron yang saat ini sedang berdiri di halaman rumah dengan keadaan basah kuyup.
"Aku mencintaimu Kana." Teriak Aron kembali.
Lalu Kana berjalan mendekati Aron.
Plakkkk.. Plakkkkk.
"Cinta? Kau bilang cinta? Setelah apa yang kau lakukan padaku, lalu kau gampang sekali bilang cinta?"
"Maaf."
"Maaf kau bilang?"
"Kana. Maafkan aku, sungguh aku menyesal."
"Aron. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Ucap Kana.
"Tidak Kana, tidak."
"Kau bilang kau mencintaiku?"
"Ya, aku mencintaimu."
__ADS_1
"Kalau benar kau mencintaiku, maka jangan pernah lagi tunjukkan mukamu padaku."