
"Dimana anak itu." Kata seorang wanita yang baru saja masuk di dalam rumah Elang.
Atira yang melihat sosok wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik di usianya, langsung dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Nyonya besar." kata Atira.
"Dimana pria nakal itu?" tanya Monara
"Tuan ada di kamar." Jawab Atira.
Monara, ibunda Elang yang selama ini tinggal di luar negeri, datang dengan amarah yang membeludak saat Roy tak henti-hentinya memberi kabar tentang kondisi perusahaan yang goyah karena Elang hanya berdiam diri di dalam kamar.
Monara melangkah dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamar Elang.
"Apa yang kau lakukan di sini???" tanya Monara saat membuka pintu kamar.
Elang, tidak menjawab ia hanya duduk di lantai sambil bersandar di tempat tidur.
Monara menhembuskan nafas dengan kasar sambil menggelengkan kepalanya. Lalu Monara berjalan menuju jendela dan membuka gorden agar cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
"Lihatlah dirimu sekarang? Kau sudah tidak ada bedanya dengan gembel di luar sana." Omel Monara sambil menarik lengan Elang agar berdiri.
__ADS_1
"Bangunlah, ayo bersihkan dirimu."
"Bun.." Lirih Elang sambil menoleh ke arah Monara.
Mata Elang berkaca-kaca menampakkan raut wajah kesedihan yang amat mendalam. Monara yang melihat wajah sang anak, langsung memeluk tubuh sang anak.
Perasaan Monara seperti runtuh seketika saat anak yang selama ini ia pikir tegar, kuat dan tak terkalahkan kini malah sebaliknya.
"Bunda.." Lirih Elang, tagis yang sejat tadi tertahan kini telah keluar tumpah tak terhenti.
"Hikkksss, hikkkkkss, hikkkks, Bunda." Ucap Elang sambil menangis.
Monara menepuk pundak belakang Elang.
"Bun, aku menyesal sangat menyesal. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi agar Hana mau memaafkan aku, Bun."
"Aku lambat menyadari jika aku jatuh cinta padanya. Aku menyesal bun."
Ucapan Elang terhenti. Yang terdengar kali ini hanya suara tangis saja. Monara pun hanya diam sambil mengusap lembut pundak belakang sang anak agar bisa memberikan kekuatan.
"Aku salah bun. Aku sudah membuat anakku pergi. Aku salah, aku tidak layak mendapatkan apa pun. Aku berhak di hukum."
__ADS_1
Pria yang dulunya terkenal sangat kejam dan dingin ini, kini sedang menangis sejadi jadinya. Meluapkan segala apa yang ada di dalam benaknya. Pria yang dewasa ini, kini telah menjelma, seperti seorang anak kecil yang menangis sejadi jadinya. Dan mengadu kepada orang tuanya.
"Bunda, hiksss,hikkkss,hikkss." Tangis pilu terus saja keluar dari bibir Elang.
Sang bunda pun menangkup kedua pipi anaknya. Dan menatap tajam-tajam pada wajah sang anak.
"Sudah cukup. Sekarang bersihkan dirimu." Kata Monara, namun Elang menggelengkan kepalanya, menolah perkataan sang bunda.
Karena bagi Elang, tidak akan ada lagi maaf untuk dirinya setelah apa yang ia lakukan pada Hana. Dan beginilah cara Elang menghukum dirinya sendiri. Dengan merenungi penyesalannya seorang diri di dalam kamar sepanjang hari.
"Dengarkan perkataan bunda. Pergilah bersihkan dirimu, dan urus kembali perusahaanmu. Setelah itu temui Hana dan juga anakmu."
Perkataan Monara mampu membuat Elang terdiam, sungguh perkataan yang membuat Elang menjadi kebingungan.
"Ma-aksud bunda?" tanya Elang dengan terbata.
"Hana, temui dia minta maaflah. Lalu jadilah cinta pertama untuk putrimu."
"Bunda aku tidak mengerti maksudmu."
Monara tersenyum lalu menarik lengan Elang hingga Elang berdiri.
__ADS_1
"Rubalah penampilan mu. Jangan buat bunda malu dengan penampilanmu yang seperti ini. Kau persis dengan gembel di luar sana. Nanti bunda akan certikan semuanya."