
"Bau apa ini?" Tanya Elang saat berada di dalam mobil. "Kau pakai farfum apa Roy?" Tanya Elang dengan tatapan yang tajam.
"Saya? Memakai parfum seperti biasanya tuan." Jawab Roy.
"Keluar sekarang! Aku tidak suka dengan bau parfum mu itu." Ucap Elang dengan tegas.
"Tapi tuan. Siapa yang akan membawa mobil ini jika saya keluar?"
"Aku saja." Kata Elang. Lalu keluar dari mobil bersiap untuk bertukar dengan Roy. "Aku tunggu kau di kantor. Tapi ingat! Ganti bajumu dan jangan pakai parfum itu lagi."
"Baik tuan."
Setelah Elang pergi, Roy lalu mencium ketiam kiri dan kanannya. "Tidak ada bau. Justru ini sangat harum. Tapi, kenapa tuan menyuruhku untuk ganti baju?" Ucap Roy.
"Ahh entahlah. Tuan Elang kan memang aneh."
••••••••
"Apa yang terjadi?" Tanya Roy saat dirinya sudah berada di dalam perusahaan. Roy kaget melihat para staf yang berdekatan ruangan dengan Elang. Semua parfum ruangan di hilangkan dan mereka semua sibuk mengatur ruangan.
"Tuan Elang melarang parfum di ruangan ini, dan juga di dalam ruangannya."
Roy menautkan satu alisnya mendengar penuturan salah satu karyawan.
"Lalu? Kenapa meja ini kalian geser?"
"Tuan Elang tidak suka melihat meja ini, jadi kami di suruh untuk menyingkirkannya."
"Oke." Kata Roy, lalu berjalan kembali menuju ruangan Elang.
Sesampainya di ruangan Elang, Roy kaget saat masuk ke dalam. Kini Elang sedang menutup hidungnya dengan sapu tangan.
"Tuan apa anda sakit? Apa perlu kita ke dokter?"
__ADS_1
"Tidak! Aku hanya tidak suka dengan bau ruangan ini."
"Bau ruangan? Bukan kah ruangan ini sangat harum tuan? Lalu di mana letak baunya?" Tanya Roy.
"Perintahkan kepada semua karyawan agar tidak memakai parfum saat ke kantor. Jika ada yang sampai ketahuan maka pecat dia."
"Tapi tuan?"
"Ini perintah! Kerjakan."
"Baik tuan."
"Sepertinya ada yang salah pada tuan Elang. Selama aku bekerja padanya baru kali ini aku melihat tuan Elang seperti ini" Batin Roy
Seminggu berlalu. Keadaan Elang semakin parah, penciumannya semakin sensitif. Jika ada aroma sedikitpun yang tercium oleh hidungnya maka ia akan merasakan mual. Dan bahkan pernah satu hari saat Elang sedang rapat di luar perusahaan ia sampai muntah-muntah karena tidak sanggup mencium aroma dari resto tempat ia rapat. Dan juga, segala macam menu makanan selalu membuat Elang muntah.
"Tuan, anda benar-benar sakit" ucap Roy yang merasa prihati terhadap Elang.
"Tidak. Aku sehat hanya saja aku tidak bisa mencium aroma selain...." Elang terdiam sesaat memikirkan satu aroma yang tidak membuatnya mual.
"Selain apa tuan." Tanya Roy penasaran dengan kondisi tuannya.
"Tidak ada." Jawab Elang yang tidak ingin memberitahukan kepada Roy tentang apa yang ia rasakan jika dekat dengan Hana.
•••••
"Oh jadi pria ini teman sih burung Elang." Kata Hana saat sudah mendapat informasi yang sangat susah dari beberapa pengawal yang menjaga kediaman Elang. Butuh waktu sebulan lebih Hana mendekati para pengawal dan mencari tahu siapa pria yang berfoto dengan burung Elang.
"Ternyata mereka semua sama saja. Lihat saja, jika aku menemukan pria ini maka akan ku hancurkan." Ucap Hana dengan penuh emosi.
"Nyonya, apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Atira yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang Hana.
Hana yang terkejut tanpa sengaja menjatuhkan foto yang ia pegang.
__ADS_1
"Bukan kah ini tuan Elang, Aron dan juga Adit." Kata Atira sambil melihat foto tersebut.
"Atira. Aku tahu kau mengenal mereka. Dan aku tahu kau bekerja sebagai bawahan Elang,. Tapi bolehkan aku bertanya padamu?"
"Selagi aku bisa menjawab maka akan aku jawab semuanya."
"Ceritakan padaku tentang mereka bertiga." Pinta Hana.
Atira yang sudah sedikit tahu tentang Hana di rumah ini, yang hanya di jadikan istri kontrak, langsung menarik tangan Hana dan menceritakan tentang ketiga pria yang berada di foto. Tapi bukan cerita yang tidak baik. Melainkan Atira bercerita tentang kebersamaan ketiga pria tersebut.
"Tapi sekarang mereka tidak lagi serinh bersama." Kata Atira di akhir cerita indahnya tentang Aron, Adit, dan juga Elang.
"Kenapa? Bukankah kau bilang jika mereka sangat susah untuk di pisahkan?"
"Iya, tapi semenjak kejadian yang lalu. Mereka bertiga sudah jarang bertemu. Kecuali tuan Elang dan tuan Adit."
"Memang apa yang terjadi?" Tanya Hana dengan sangat penasaran.
"Aku tidak tahu yang pasti apa yang terjadi. Tapi semenjak peristiwa itu. Tuan Aron bagaikan kehilangan arah dan semangat, lalu kemudian tuan Aron hilang bak di telan bumi. Dan saat kembali, tuan sudah jarang sekali datang ke rumah ini"
"Tunggu Atira. Bukan kah tadi kau bilang Aron dan Elang adalah saudara? Lalu Adit adalah sepupu sekaligus sahabat mereka?" Tanya Hana dan Atira menganggukkan kepalanya.
"Apa ini ada hubungannya dengan kaka Kana?" Batin Hana.
"Nyonya Hana" panggil Atira saat Hana melamun.
"Hana, panggil Hana saja Atira. Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah karena terus memanggilku dengan sebutan nyonya."
"Tapi.."
Hana lalu menggenggam tangan Atira. "Aku bukan nyonya di rumah ini, karena..." Hana tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena tidak mungkin Hana menceritakan kepada Atira tentang kontrak pernikahannya dengan Elang.
"Karena kau hanya istri kontrak" batin Atira
__ADS_1
"Baik Hana." Ucap Atira sambil tersenyum. Atira sudah tahu yang sebenarnya terjadi antara Hana dan juga tuannya. Namun Atira hanya bisa diam, karena tidak ingin mendapatkan masalah dari tuannya.