
"Jika kau mencintai seseorang, maka ungkapkan lah rasa cintamu itu. Jangan hanya kau pendam, yang akan membawa penyesalan dalam hidupmu kelak."
Lima bulan berlalu, semenjak hari itu, hari dimana Hana mengobati luka Elang. Hana bisa sedikit bernafas dengan lega, karena Elang tidak menyiksanya seperti dulu lagi. Dan kini perut Hana yang awalnya masih rata, kini sudah mulai membuncit keluar. Hampir setiap saat Hana selalu mengusap perutnya. Sungguh kehadiran bayi dalam perut Hana membawakan kakuatan untuk diri Hana.
"Sebentar lagi sayang." Kata Hana sambil mengusap perutnya.
Duk. Duk.
Tendangan bayi dari dalam perut dapat Hana rasakan.
"Sayang, kau dengar ibu?"
Duk..
"Sayang, baik-baik di dalam sana. Ibu sudah tidak sabar ingin melihat mu." Kata Hana lalu tersenyum bahagia sambil mengusap perutnya.
Elang yang berada di atas balkon kamar dapat meliat langsung tawa bahagia di wajah Hana.
__ADS_1
"Atira. Tolong berikan ponselmu." Pinta Hana yang kebetulan melihat Atira yang sedang berjalan.
"Untuk apa?"
"Aku ingin menelpon Widia. Aku ingin memberi kabar tentang bayiku."
"Ini..."Ucap Atira sambil memberikan ponselnya pada Hana. "Lebih baik kau menelpon Widia di dalam saja. Cuaca sedang mendung, sebentar lagi hujan." Kata Atira sambil menatap langit.
Begitu pun dengan Hana ia juga menatap langit yang memang saat ini sudah sangat gelap.
"Aku di sini saja. Sepertinya bayiku suka dengan udara di sini."
Saat Atira pergi, Hana pun langsung menelpon Widia dan memberikan kabar jika bayi yang ada di dalam kandungannya sangat aktif di ajak interaksi.
Hana terus saja tertawa dan terus bertukar cerita pada Widia. Dan Elang yang berada di atas sana terus menatap Hana dengan tatapan mata yang sangat tajam, seakan ingin menerkam Hana yang berada di bawah sana.
Prangggkkkk.. Hingga gelas yang berada di genggaman Elang pecah karena Elang memegang sangat erat gelas tersebut.
__ADS_1
Hana masih sibuk mendengar Widia yang terus bertanya tantang bayi di dalam kandungan Hana, hingga Hana tidak sadar jika saat ini Elang sudah berdiri tepat di belakang Hana.
"Aku sangat senang karena tinggal menunggu beberapa bulan lagi bayiku akan lahir." Ucap Hana sambil mengusap perutnya.
"Dan sebentar lagi, aku pun akan terbebas dari rumah yang seperti penjara ini." Timp Hana kemudian.
Lalu tiba-tiba Hana kaget, saat ponsel yang ia genggam dan menempel di kupingnya langsung di tarik paksa oleh Elang, dan Elang lansung melempar ponsel tersebut ke tanah hingga ponsel itu hancur tak berbentuk lagi.
"Elang. Apa yang kau lakukan?" Tanya Hana yang tidak terima ponsel milik Atira yang rusak di banting di hadapannya oleh Elang.
Elang tidak menjawab. Dia hanya terus menatap tajam pada Hana. Berbeda dengan Hana, ia justru berjongkong mengambil ponsel Atira yang sudah hancur berserakan.
"Kenapa kau menghancurkan ponsel Atira." Ucap Hana sembari menungut ponsel Atira. Lalu Hana berdiri dan menatap wajah Elang.
"Kenapa hanya diam saja. Kau tahu, ini ponsel Atira yang kau rusak, kalau sudah begini bagaimana caraku menggantinya."
"Kau bisa membeli apapun dengan tubuhmu itu."
__ADS_1
"Elang apa maksudmu?" Tanya Hana yang tidak mengerti dengan perkataan Elang.
Sreeettttt.. Elang melemparkan sejumlah uang tepat di wajah Hana.