
"Kau yakin dengan apa yang kau lihat?" Tanya Elang saat sambungan ponselnya terhubung dengan asistenya.
"Saya yakin tuan. Tingga hanya ingin memastikan saja." Kata Roy di seberang sana.
"Ya, untuk saat ini kau harus berhati-hati agar tidak sampai ketahuan oleh siapa pun."
"Baik tuan." Ucap Roy, dan Elang langsung memutuskan sambungannya.
Elang bisa bernafas dengan lega, ia berharap semoga apa yang sedang ia selidiki saat ini benar adanya. Elang berharap hal itu akan bisa membuatnya bersatu di kemudian hari dengan Hana. Entah itu kapan, yang jelas, Elang akan menunggu dengan sabar waktu itu tiba.
•••••
"Kau yakin akan pergi sekarang?" Tanya Kana yang sudah melihat Hana rapi sambil membawa uang yang berada di dalam amplop cokelat.
"Yakin." Jawab Hana dengan mantap.
"Tapi bagaimana, bagaimana jika...." Ucapan Kana terpotong kala Hana menyelah.
"Kau tidak usah takut kak. Percayalah padaku." Kata Hana
__ADS_1
Lalu berjalan keluar dari kamar.
"Hana." Panggil sang ayah hingga membuat Hana menghentikan langkahnya lalu menoleh ke ayahnya.
"Ayah." Sapa Hana sambil mendekati ayahnya.
"Kau mau pergi nak? Mau bertemu dengan pria itu lagi?" Tanya sang ayah, dan Hana pun menganggukkan kepalanya.
"Keputusan apa pun yang kau ambil, maka itulah yang terbaik. Dan ayah yakin, kau sudah memikirkan sangat lama keputusan itu. Tapi, apa kau tidak ingin memberikan satu kali kesempatan saja?"
"Ayah" ucap Hana lalu memeluk tubuh ayahnya.
Ayah mengusap pundak belakang Hana dengan lembut, seakan memberika kekuatan pada Hana.
"Yang terbaik untukmu adalah yang terbaik untuk ayah. Jadi kuatlah." Kata sang ayah.
Lalu Hana melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang ayah. Kini ayah Hana mengusap air mata di pipi mulus Hana.
"Semoga setelah ini, tidak ada lagi air mata kesedihan."
__ADS_1
Kana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian kembali memeluk tubuh ayahnya.
Aron dapat melihat keluarga kecil ini sangat bahagia dan saling melindungi. Hana yang ingin mecari tahu kenapa Kana bisa seperti itu, dan Hana yang rela menikah hanya demi untuk mengobati ayahnya dan Kana, rela meminjam uang padanya untuk melepaskan tali pernikahan adik kesayangannya. Sungguh sangat sempurna keluarga yang saat ini saling berpelukan di depan Aron.
Aron merasa bahagia, sekaligus merasa bersalah. Karena dirinya lah Hana dan Kana mendapatnya masalah seperti ini, hingga membuat keduanya saling berputar di roda kehidupan yang sangat menyedihkan untuk mereka lalui.
"Maaf karena aku dan adikku sudah membuat kalian menderita." Batin Aron lalu melangkah pergi meninggalkan Hana, Kana dan juga ayah mereka yang saling berpelukan.
"Namun aku janji, setelah ini hanya ada air mata kebahagian yang akan mengalir di pipi kalian. Aku janji." Batin Aron.
Kaki Hana seperti kehilangan kekuatan untuk berpijak. Kenangan yang membuatanya kehilangan salah satu buah hatinya kini kembali terbesit, kala Hana sudah berdiri tepat di depan rumah Elang. Kenangan itu, kenangan yang begitu membawa pilu untuk dirinya.
Hana menutup matanya, lalu kemudian mengepal kuat kedua tangannya.
"Hanya selangkah lagi." Batinnya untuk menguatkan dirinya sendiri.
Elang yang mendapatkan kabar dari para pengawal jika Hana sedang berada di rumanya, langsung terburu-buru berlari menuruni anak tangga.
"Hanaya." Teriak Elang dengan perasaan bahagia. Elang merasa kini Autor telah berbaik hati padanya dengan cara menghadirkan Hana dengan sendirinya datang ke rumahnya. Padahal sudah sebulan lebih lamanya Elang menunggu di depan gerbang, namun tak sedikit pun celah untuk Elang agar bisa bertemu dengan Hana.
__ADS_1