Wanita 500jt

Wanita 500jt
Bab 39


__ADS_3

"Hahahahahahah.." Elang tertawa mendengar penuturan Hana. "Wanita seperti mu hanya memikirkan uang, dan uang saja. Jadi sudah hal yang lumrah jika kau melakukan ini, pasti ada maunya." Ucap Elang sambil berdiri tepat di hadapan Hana, dan menatap tajam Hana.


Lalu sesaat kemudian Hana menunduk dan kemudian mengangkat kepalanya menatap wajah Elang.


"Bagaimana jika aku tulus?" Tanya Hana,


Mendengar perkataan Hana, Elang terdiam menelisik kedalam mata Hana melihat apakah ada kebohongan di dalamnya.


"Apa mau mu?" Tanya Elang, sambil mencengkram kedua pipi Hana dengan sangat kerasnya.


Hana menggelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan Elang.


"Katakan apa maumu?" Teriak Elang bertanya lagi, dan tetap saja Hana menggelengkan kepalanya.


"Sial!" Umpat Elang sambil mendorong tubuh Hana hingga Hana terjatuh di lantai.


"Aku tulus Elang, sangat tulus. Aku ke sini hanya ingin memberikan makan siang untukmu. Tanpa minta bayaran. Aku ke sini hanya karena ingin memperhatikan dirimu saja." Ucap Hana, sambil menahan sakit di telapak tangan kanannya yang lecet akibat terjatuh.


"Diam!!" Bentak Elang dengan suara yang menjulang tinggi memenuhi isi ruangan.


Hana menelan salivanya secara kasar, karena merasa takut mendengar teriakan Elang yang menyuruhnya untuk diam.

__ADS_1


Lalu sesaat kemudian Hana berdiri, dan menghampiri Elang. Berdiri tepat di belakang Elang.


"Aku tulus. Terserah kau mau berkata apa. Mau kau makan atau tidak, itu tidak masalah. Yang jelas aku tulus." Ucap Hana lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Elang, sambil meringis menahan sakit di telapak tangan kanannya.


Sepeninggalan Hana, Elang langsung memegang da*danya. Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyeruak di dalam dirinya. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan, seakan ingin melompat dari tempatnya.


"Tidak! Tidak!" Ucap Elang. "Ingat semua wanita sama saja." Kata Elang, lalu Elang duduk di kursi kebesarannya.


Mata Elang terus tertuju pada kotak belal yang kini berada di atas meja.


••••••


"Nona.." Panggil Roy, namun Hana tak juga menoleh, Hana terus saja jalan.


"Kasihan kamu nona." Gumam Roy, lalu ponsel Roy berdering,


"Ke ruanganku sekarang!" Titah Elang saat sambungan terhubung.


"Baik tuan."


Roy tidak menghiraukan Hana lagi karena mendapatkan telpon dari tuan nya. Sedangkan Hana setelah mengantar bekal ia pun memutuskan untuk pulang. Pulang ke rumah Elang, rumah yang bagaikan penjara. Setiap apa yang Hana lakukan selalu di anggap salah. Tapi Hana tidak memperdulikan itu semua.

__ADS_1


"Singkirkan makanan itu dari meja kerjaku." Titah Elang saat Roy sudah berada di dalam ruangannya.


"Tapi tuan."


"Tidak ada tapi. Cepat! Lakukan perintahku."


"Baik tuan." Ucap Roy dengan cepat lalu mengambil kotak bekal itu di meja kerja Elang. "Jadi mau saya apakan bekal ini tuan?" Tanya Roy dengan polosnya.


"Buang saja." Kata Elang.


"Tapi tuan, sayang kalau di buang. Bagaimana kalau di makan saja."


"Terserah mau kau apakan yang jelas hilangkan kotak bekal itu dari hadapanku, sekarang juga!"


"Baik tuan." Jawab Roy dengan sangat cepat, lalu keluar dari ruangan Elang, sebelum dirinya kena masalah karena kemarahan Elang.


Elang memijat keningnya karena merasa pusing seketika melihat tingkah Roy yang sangat menyebalkan. Belum lagi fikiran Elang juga terus mengigat perkataan Hana.


"Tulus?" Gumam Elang sambil tersenyum dengan sinis. "Tidak ada kata tulus untuk seorang wanita yang rela menukar apapun demi uang." Ucap Elang.


Elang yakin, jika di dunia ini tidak ada wanita yang tulus dalam mencintai. Wanita hanya mau dengan pria yang kaya, mapan dan tampan. Dan bagi Elang, wanita mana pun sama saja. Mereka hanya ingin menikmati malam dengan uang yang mereka dapatkan dari pria-pria kaya raya.

__ADS_1


__ADS_2