Wanita 500jt

Wanita 500jt
71


__ADS_3

"Tuan anda yakin?" tanya Roy, sambil memperhatikan Elang dari kaca spion tengah.


Kini Roy, dan juga Elang berada di dalam mobil, yang terparkir di depan rumah Hana.


"Tuan." Sapa Roy.


"Hm."


"Apa anda sudah siap, tuan?" Ulang Roy.


"Tentu." Ucap Elang dengan mantap.


Semalaman Elang berfikir, benarkan keputusannya untuk menemui Hana adalah hal yang terbaik? Ya, karena selama beberapa hari ini, setiap hari Roy mengantar barang hadiah pemberian Elang, Roy selalu saja memberikan kabar dan bahkan setiap hari Roy selalu berjaga, dan mengirim foto tentang aktifitas Hana. Dan dari wajah Hana yang tersenyum membuat Elang bahagia. Dan itulah sebab kenapa Elang belum siap untuk bertemu. Karena Elang takut, senyum di wajah Hana akan memudar dengan kemunculan dirinya di hadapan Hana.


Dengan langjah tegap, Elang melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Hana.


Dak,. Dik,. Duk

__ADS_1


Suara detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Seakan ini adalah pertemuan pertama dengan wanita yang ia cintai.


"Ayo Elang, santailah." Batinya sambil menghembuskan nafas secara perlahan.


Tok. Tok. Tok..


Suara ketukan pintu yang terdengar dari luae membuat Hana yang berada dari dalam rumah, langsung segera menghampiri.


"Iya tunggu." Ucap Hana, dan terus berjalan.


"Hana," gumam Elang.


Hana membuka pintu secara perlahan. Dan ketika pintu terbuka, keduanya saling berpandangan dan saling melihat satu sama lainnya dalam diam. Hingga beberapa detik kemudian, Hana langsung mengedipkan kedua matanya. Berbeda dengan Elang, ia justru tetap fokus melihat Hana.


"Pa..pa..pa.paa" Celoteh Zakira membuat Hana menoleh, dan langsung berjalan menghampiri Zakira yang saat ini sedang duduk di atas kareot, sambil bermain.


Dan Elang, langsung melihat ke arah sumber suara. Sungguh hati Elang merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ini. Pandangan matanya fokus tertuju pada seorang gadis cilik yang kini tersenyum kepadanya.

__ADS_1


Perlahan, Elang masuk ke dalam rumah. Dengan mata yang tetap fokus melihat. Namun kini mata Elang, sudah mengeluarkan air mata. Air mata bahagia, bersalah, semua bercampur menjadi satu.


"Zakira anakku." Lirih Elang, dan langsung memeluk tubuh Zakira dengan penuh cinta dan kelembutan. Air mata Elang pecah seketika. Elang yang dulu terlihat kuat, kini sudah raput saat ini. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


"Pa. Pa pa pa." Kata itu terus terlontar dari bibir nungil Zakira.


"Ya sayang, aku papamu. Dan kau putriku." Kata Elang sambil menggendong Zakira dan terus saja mencium seluruh wajah, bahkan tubuh Zakira.


"Maafkan papa sayang. Maafkan papa." Ucap Elang.


Hana hanya diam, memperhatikan Elang dan juga Zakira. Zakira terlihat bahagia di dalam gendongan Elang. Seakan Zakira tahu, jika yang menggendongnya saat ini adalah benar ayah kandungnya. Tak ingin berlama-lama berdiam diri di situ, Hana memutuskan untuk pergi ke dapur.


Baru dua langkah Hana berjalan, tiba-tiba Hana menghentikan langkahnya kala Elang berkata.


"Maafkan aku. Maaf.. Dan terima kasih sudah merawat Zakira dengan penuh cinta."


"Boleh kah aku di sini? Bermain dengan Zakira? Aku janji tidak akan mengganggumu, dan tidak akan membuat Zakira menangis." Ucap Elang penuh dengan harapan. Harapan agar Hana mau mengiyakan permintaannya agar bisa tetap bersama dengan Zakira.

__ADS_1


__ADS_2