Wanita 500jt

Wanita 500jt
Bab 80


__ADS_3

Hana menatap takjub pada pemandangan sekitar. Menempuh jarang kurang lebih 4 jam, terbayarkan dengan pemandangan yang begitu indah. Dimana bangunan rumah yang di desain dari kayu, yang tersusun dengan rapi, dan ada danau yang melentang begitu juga dengan area samping vila. Dimana area itu di sulap sedemikian rupa hingga menjadi taman bermain. Ada ayunan, perosotan dan masih banyak lagi jenis mainan lainnya.


"Apa kau bahagia sayang?" Tanya Elang, spontan Hana menoleh ke arah Elang.


"Zakira apa kau suka?" Ulang Elang.


"Ini semua untuk kau dan juga Zakira. Semoga kau suka dengan tempat ini."


"Tentu aku suka." Ucap Hana.


"Kalau begitu kita masuk dulu." Ajak Elang.


Lalu Hana membuka bagasi mobil.


"Aku akan mengambil barang dulu."


"Tidak usah. Biar aku saja. Masuklah dulu, istirahatlah" kata Elang sambil meraih tangan Hana. Dan Hana pun mengikuti langkah Elang masuk ke dalam rumah.


"Itu kamar mu dan itu kamar ku." Tunjuk Elang, kamar mereka berdua berdampingan.


"Jadi jika butuh sesuatu langsung ketuk saja pintu kamarku."


"Baiklah."


"Zakira aku baringkan di kamar ku dulu. Nanti kalau bangun baru pindah di kamarmu."


Hana tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Elang tunggu." Panggil Hana saat Elang membuka pintu kamar.


"Ya, ada apa?"


"Terima kasih." Ucap Hana lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamarnya.


••••


Malam harinya.


"Biar aku yang mengurusmu dan juga Zakira. Ini sudah menjadi tugasku." Kata Hana yang saat ini sedang berada di dapur.


"Oh yah, sejak kapan bahan makanan ada di kulkas ini? Apa sebelumnya memang ada yang tinggal di vila ini?" Tanya Hana yang sangat penasaran.


"Tidak pernah ada yang tinggal di sini. Kau dan Zakira orang yang pertama aku bawa ke tempat ini."


"Lalu? Dari mana semua bahan makanan ini ada? Bukan kah kita tidak membawa bahan makanan?"


"Itu aku yang mengurusnya. Aku tidak ingin kau dan Zakira merasa tidak nyaman di tempat baru. Makanya aku mempersiapkan semuanya."


Lagi-lagi Hana tersenyum.


Elang merasa lega, karena Hana hari ini lebih banyak tersenyum dan tidak lagi menghidar darinya. Perasaan Elang sangat bahagia. Karena setidaknya kini Hana mau sedikit lebih lama berbicara dengannya.


"Hanaya."

__ADS_1


"Ya, ada apa?"


"Terima kasih." Kata Elang.


Dan satu hari pun berlalu. Elang merasa begitu sangat bahagia, karena perlakuan Hana yang begitu hangat pada dirinya. Hana begitu memperhatikannya. Sehingga Elang merasa jika keluarga mereka akan segerah membaik dengan terbuktinya perlakuan Hana pada dirinya.


"Elang." Panggil Hana.


"Ya, ada apa?"


"Hari ini sudah tepat tiga minggu." Kata Hana mengingatkan Elang.


"Maaf, aku lupa." Kata Elang.


Sungguh Elang tidak menyangkah jika tinga minggu lamanya terasa begitu sebentar. Apalagi ini, Elang baru merasakan kehangatan dari perilaku Hana, dan ternyata waktunya telah habis. Elang hanya bisa menghembuskan nafas secara perlahan. Dan berharap kepada Autor agar Hana mengambil keputusan yang terbaik. Yaitu keputusan agar bisa tetap bersama dirinya dan menjadi istri yang selalu ada mendampingi dirinya.


"Jadi bagaimana? Apakah aku sudah bisa membuat mu jatuh cinta? Jadi apa keputusanmu?" tanya Elang dengan hati yang sangat was-was. Elang takut mendengar jawaban dari Hana, namun, Elang juga sangat penasaran dengan jawaban yang akan keluar dari bibir Hana.


"Apa boleh kita menginap lebih lama di sini? Mungkin satu minggu lagi." Pinta Hana membuat Elang membulatkan matanya.


Elang tidak menyangkah jika jawaban yang keluar dari bibir Hana adalah untuk memintanya tinggal lebih lama. Apakah mungkin Hana sudah jatuh cinta padanya? Atau apakah mungkin pilihan Hana adalah untuk hidup terus bersama dirinya.


"Jika tidak bisa. Tak mengapa." Ucap Hana yang sejak tadi menunggu jawaban dari Elang.


"Bisa. Tentu bisa. Seminggu, sebulan, setahun, bahkan hingga selamanya. Kita bisa tinggal disini." Jawab Elang dengan sangat bahagia.


Hana tersenyum.


"Hanya seminggu." kata Hana.


Elang merasa sangat bersyukur karena Hana begitu sangat memperhatikan dirinya. Dan sudah tidak canggung lagi berada di dekat dirinya.


•••••


Tiga hari berlalu.


Hana berdiri di tepi danau menghirup udara segar, sambil menutup matanya.


"Hay, kau sedang apa?" tanya Elang yang baru saja datang dan berdiri di samping Hana.


Hana lalu membuka matanya.


"Dimana Zakira?" tanya Hana.


"Dia sedang tidur. Tadi aku mencarimu, dan saat aku melihatmu di sini. Maka aku datang menghampiri." Kata Elang.


Dan Elang langsung menautkan tangannya dengan tangan Hana. Hana tidak menolak ia hanya diam saja, saat merasakan genggaman tangan Elang.


"Hanaya terima kasih. Atas waktu dan perhatianmu." Ucap Elang.


"Aku yang berterima kasih karena sudah menuruti perkataanku."


Keduanya saling memandang satu sama lainnya.

__ADS_1


"Elang.." Panggil Hana.


"Ya."


"Maaf. Maafkan aku." Kata Hana.


"Maaf untuk apa? Kau tidak punya salah sama sekali. Jadi jangan pernah minta maaf padaku. Justru aku yang harus meminta maaf padamu."


"Kita harus akhiri semua ini."


Duarrrrrrr, bagai di sambar petir di siang sore hari.


Elang mendengar kata yang sangat tidak ia sukai.


"Hana." Ucap Elang. Dengan jantung yang seakan ingin berhenti berdetak.


"Selama tiga minggu ini aku sudah mencoba. Mencoba untuk jatuh cinta padamu. Tapi aku tidak bisa Elang. Dan, maka dari itu aku meminta satu minggu ini, tapi tetap aku tidak bisa." Ucap Hana.


"Tapi Hana ini belum seminggu. Tolong pertimbangkan lagi. Masih ada waktu empat hari lagi." Ucap Elang.


"Maaf. Tapi bagiku ini sudah cukup Elang. Kau dan aku, kita bertemu dengan dengan tanpa sengaja, dan kau menikahiku hanya karena keterpaksaan, hanya ada hitam di atas putih tanpa ada cinta."


"Tapi aku mencintaimu Hanaya. Percayalah, disini." Kata Elang sambil memengang da*danya. "Hanya ada kamu, tidak ada yang lain."


"Aku menikah dengan mu karena bayaran atas uang yang telah kau berikan padaku. Dan selama aku menjadi istri kontrakmu, tidak pernah ada cinta yang tumbuh. Karena mungkin perlakuan mu, aku tidak tahu. Yang jelas aku sudah berusaha menyakinkan diriku, menyakinkan hatiku dengan mempertimbangkan kebaikan mu perhatianmu, tapi tetap saja. Hati ini belum bisa sepenuhnya terbuka untukmu." Jelas Hana.


Spontan Elang langsung memeluk tubuh Hana. Air mata Elang kembali jatuh, ia tidak sanggup harus kehilangan wanita yang ia cintai. Wanita yang sudah sangat lama ia perjuangkan.


"Hanaya." Lirih Elang.


"Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi." Kata Elang sambil menitihkan air matanya.


Keduanya saling diam, menyelam ke dalam pikiran mereka masing-masing.


Lalu beberapa saat kemudian. Hana melerai pelukannya. Dan menatap wajah Elang yang matanya masih menitihkan air mata.


"Maafkan aku." Kata Hana, sambil menghapus air mata di pipi Elang.


"Maaf karena aku tidak bisa memaksakan hatiku."


Lalu Elang kembali memeluk tubuh Hana.


"Elang. Maaf.Maaf" Lirih Hana yang juga ikut menangis.


Hana menangis karena merasa sangat bersalah. Ia sudah berusaha mencoba, tapi tetap saja belum bisa menerima.


"Apakah kesempatan itu masih ada?" Tanya Elang saat pelukan mereka sudah terlepas.


"Aku tidak tahu. Yang jelas untuk saat ini, aku hanya fokus pada zakira."


"Hanaya. Ingat kata-kataku ini. Sampai kapan pun, aku akan tetap jatuh cinta, lagi dan lagi hanya kepadamu. Jadi aku akan tetap sabar menunggu sampai kau siap. Jadi jika saat ini kau memilih untuk berpisah maka aku rela." Kata Elang sambil mengatur nafasnya.


"Tapi! Aku tidak akan pernah menyerah untuk membuktikan kalau aku mencintaimu. Dan, di hatiku cuman ada kami, kamu dan kamu. Dan tetap hanya kamu selamanya."

__ADS_1


..."Tamat"...


__ADS_2