
Elang mengusap air matanya dan menguatkan dirinya untuk berdiri. Lalu berjalan keluar dari rumah dengan keadaan yang kacau balau. Wajah yang penuh luka dan juga darah segar masih mengalir di sudut bibir dan juga di pelipis matanya. Belum lagi, kancing baju kemeja yang ia ke sudah hilang beberapa. Membuat penampilan Elang sangat berantakan.
"Tuan." Sapa salah satu penjaga di rumah. Namun Elang tidak menjawab, dan langsung masuk ke dalam mobil. Menyetir mobilnya dengan penuh kecepatan.
Sepanjang perjalanan, Elang terus mengingat hal yang terjadi beberapa bulan belakang ini. Dirinya amat sangat-sangat menyesali apa yang telah ia lakukan pada Hana. Pada wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya namun ego yang tinggi mampu mengalahkan rasa cinta yang sudah tumbuh entah sejak kapan. Dan rasa cemburupun membuat Elang menutup mata, hati dan telinga. Elang hanya terus saja menyalahkan Hana tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang paling Elang sesali. Kenapa? Kenapa ia tidak sadar sama sekali, jika bayi yang berada di dalam kandungan Hana adalah bayinya darah dagingnya.
"Maafkan aku." Lirih Elang sambil terus menitihkan air matanya.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Elang terus berucap kata maaf. Dan hanya satu harapan yang Elang inginkan, semoga apa yang ia lakukan pada Hana bisa mendapatkan maaf.
"Hana.." Ucap Elang saat turun dari mobilnya. Dan dengan cepat Elang berjalan masuk ke dalam rumah sakit, mencari kamar tempat di mana Hana berada.
"Hana.." Panggil Elang saat membuka pintu kamar ruang inap Hana.
Hana yang sedang menangis sambil menggendong bayinya langsung menoleh. Hana hafal betul dengan suara yang baru saja memanggil namanya..
"Maafkan aku." Kata Elang sambil berjalan dengan lesu mendekat ke arah Hana.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Widia sambil menarik tangan Elang.
__ADS_1
"Pergi kau. Pergi dari sini." Teriak Hana dengan histeris sambil memeluk tubuh bayinya dengan erat.
"Maafkan aku" lirih Elang dengan air mata yang juga jatuh menetes. Elang dapat melihat Hana yang saat ini sedang menangis sambil menggendong bayi.
"Maafkan aku." Timpal Elang.
"Pergi." Teriak Hana.
Plaaakkkkkkk.
Kana mendekati Elang lalu menampar pipi Elang dengan sangat kasar.
Elang seketikan duduk bersujuh.
"Maafkan aku. Tolong biarkan aku melihat bayiku dan juga meminta maaf pada Hana."
"Pergi. Pergi kau. Aku tidak ingin melihat pria pembu*nuh." Teriak Hana.
Dan kata-kata Hana bak tombak yang tajam yang tertancap tepat di jantung Elang. 'Pembu*nuh'.
__ADS_1
"Pergi kau" teriak Hana lalu sesaat kemudian Hana kehilangan kesadaran karena masih terlalu lemah setelah menjalankan operasi.
"Hana.." Ucap Elang lalu berdiri mendekati Hana, namun Widia terus menghalangi.
"Kau tuli? Atau pura-pura tuli? Kau dengan sendiri apa yang Hana katakan kan?" ucap Widia namun Elang tidak menggubris dan tetap mendekati Hana. Bahkan Elang menggenggam tangan Hana.
"Sadarlah Hana, sadarlah. Jangan tinggalkan aku." Kata Elang.
•••••
"Aku janji, akan terus menjagamu sampai kau bisa kembali di dalam pelukan ibumu." Gumam Aron sambil menatap bayi mungil yang kini berada di dalam ruang inap.
"Tuan." Sapa sang asisten.
"Ada apa?" tanya Aron.
"Tuan Elang saat ini sedang berada di ruangan Hana. Dan nona Hana saat ini sedang pingsan." kata asisten.
Aron dengan cepat melangkah menuju ruang inap Hana.
__ADS_1