Wanita 500jt

Wanita 500jt
Bab 56


__ADS_3

"Hana.." Teriak Atira saat melihat Hana dari dalam rumah melalui pintu kaca yang lebar.


"Hana..." Lalu Atira berlari keluar, dan mendekati Atira. "Hana, sadarlah.. Jangan menutup matamu." Ucap Atira sambil memanggu kepala Hana.


"Bayiku.. Selamatkan bayiku" Lirih Hana.


"Tolong. Tolong. " Teriak Atira hingga membuat beberapa penjaga rumah datang mendekat.


"Bantu aku membawa Hana ke rumah sakit."


"Hana sadarlah. Jangan memejamkan matamu." Kata Atira saat dirinya sudah berada di dalam mobil.


"Atira. Apa pun yang terjadi, selamatkan bayiku. Jangan pikirkan aku." Lirih Hana, sambil menitihkan air mata.


Atira juga ikut menitihkan air matanya, melihat Hana yang kini merasakan sakit.


Hingga beberapa saat kemudian, kini mobil telah sampai di rs terdekat..


"Pinjam ponselmu." Pinta Atira pada pengawal yang mengantarnya saat Hana sudah masuk ke dalam ruangan.


"Ini."


Atira masih mondar mandir, ia pun bingunh harus menghubungi siapa. Hingga beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan.


"Dok, bagaimana keadaan Hana."

__ADS_1


Sang dokter menunduk.


"Katakan dok."


"Kita harus menjalankan operasi. Dan keluarga harus memilih antar ibu atau sang bayi."


"Dok.." Ucap Atira sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Tidak mungkin." Timpal Atira kemudian.


"Dimana suaminya?"


"Suaminya? Tunggu dok." Atira langsung menghubungi Aron, dan langsung memberikan ponsel ke dokter.


"Baik pak. Baik." Kata dokter saat berbicara ke pada Aron.


"Suaminya telah setuju dengan operasi ini." Kata Dokter sambil mengembalikan ponsel ke Atira lalu dokter tersebut kembali masuk ke dalam ruangan.


"Baik tuan." jawab Atira


•••••••


"Sudah aku katakan. Jangan pernah muncul di hadapan aku lagi." Bentak Hana saat melihat Aron yang saat ini sudah berada di depan pintu rumah kontrakannya.


"Maafkan aku. Tapi ini keadaan darurat." Ucap Aron.


"Jangan banyak alasan. Aku tahu kau hanya ingin membohongiku saja."

__ADS_1


"Saat ini Hana sedang berada di rumah sakit, ia sendang menjalani operasi persalinan." Ucap Aron sehingga membuat Kana, tidak jadi menutup pintu rumahnya.


"Apa maksudmu?"


"Hana menjalani operasi persalinan."


"Jangan berbohong. Kau tahu, aku sangat benci seorang pembohong."


"Aku serius. Saat ini Hana sedang tidak sadarkan diri."


"Kak Kana..." Teriak Widia sambil berlari masuk ke dalam pekarangan rumah Kana.


"Ayo kita pergi." Ajak Widia, sambil menarim lengan Kana.


"Ayah." Ucap Kana yang mengkhawatirnya ayahnya yang saat ini hanya seorang diri di dalam rumah.


"Kau tenang saja. Aku sudah menyuruh orangku untuk menjaga ayah." Timpal Aron.


Di dalam mobil Kana terus saja menangis saat mendengar semua cerita tentang adiknya yang harus rela menikah dengan seorang pria karena ingin membayar biaya operasi sang ayah. Dan Kana pun menyesali apa yang terjadi. Dan karena dirinya lah Hana harus bekerja di kelab malam, dan membuat Hana harus terlibat dengan adik dari pria yang juga telah merebut harta yang telah ia jaga.


"Hana." Lirih Kana menangis sambil bersandar di pundak Widia.


"Semua sudah terjadi. Kita hanya perlu berdoa agar Hana dan bayinya bisa selamat" kata Widia menenangkan Kana.


Aron sesekali menatap lewat kaca spion tengah. Dalam hati, ia merasa sangat-sangat bersalah, karena dirinya lah awal dari semua ini bisa terjadi.

__ADS_1


"Maafkan aku." Batin Aron.


__ADS_2