
"Maafkan aku. Maaf.. Dan terima kasih sudah merawat Zakira dengan penuh cinta."
"Boleh kah aku di sini? Bermain dengan Zakira? Aku janji tidak akan mengganggumu, dan tidak akan membuat Zakira menangis." Ucap Elang penuh dengan harapan. Harapan agar Hana mau mengiyakan permintaannya agar bisa tetap bersama dengan Zakira.
Tanpa sepatah kata pun yang keluae dari bibir Hana. Ia justru berjalan menjauh dari Elang dan juga Zakira.
"Sayang. Sepertinya ibumu mengizinkan papa untuk di sini bersama mu." Ucap Elang dengan lembut.
•••
"Di mana Zakira? Tumben kau tidak membawa Zakira ke dalam kamarku?" Tanya Kana saat Hana masuk ke dalam kamarnya.
Hana hanya diam, dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kau kenapa? Aku bertanya di mana Zakira, tapi kau hanya diam saja. Ada apa? Ayo cerita."
"Dia datang. Sekarang sedang bersama Zakira." Ucap Hana dengan lesu.
"Elang? Serius? Elang datang ke sini? Sama siapa? Ibunya? Atau Aron?" tanya Kana yang sangat penasaran.
"Sendiri." Jawab Kana. Lalu menarik bantal dan menutupi seluruh wajahnya.
__ADS_1
Dengan sangat penasaran, Kana langsung berjalan dengan sangat cepat keluar dari kamar dan melihat Elang dan Zakira yang kini sedang asyik bermain di atas karpet.
Zakira terlihat sangat bahagia, begitupun dengan Elang. Lalu Kana kembali masuk ke dalam kamar.
"Zakira aman dengan Elang. Padahal Zakira bukam tipe anak yang mudah akrab dengan orang baru. Apa mungkin karena hubungan darah?"
"Kak diamlah." Ucap Hana saat melepaskan bantal dari wajahnya.
"Jangan bahas dia di hadapanku. Dan tolong tanyakan padanya agar segerah pulang."
"Tidak! Aku tidak mau. Biarkan Zakira bersama ayahnya lebih lama."
"Kak..." Mohon Hana.
Hana kembali menutup wajahnya dengan dengan bantal. Sungguh, Hana ingin sekali menolak permintaan Elang tadi, namun hanya saja Hana tidak mampu berkata, karena Hana mendengar tawa Zakira. Dan Hana tidak ingin karena ke egoisannya membuat tawa di wajah Zakira memudar.
"Hadapi saja. Biarkan waktu yang menentukan. Anggap saja ini seperti air yang mengalir." kata Kana, sambil tertawa pelan.
Satu jam kemudian. Kini Hana berjalan mondar mandir bagaikan sebuah setrika.
"Sudah jam makan siang. Zakira harus makan." Gumam Hana, " Tapi,.." Hana menghentikan langkahnya kala mengingat Elang masih ada di luar sana.
__ADS_1
"Kalau aku tidak keluar, yang ada anakku tidak makan." Ucapnya lalu membuka pintu kamar. Namun Hana membulatkan matanya kala Elang sudah menyuap Zakira.
"Apa yang kau berikan pada anakku?" tanya Hana sambil merampas sendok yang akan di suapkan ke mulut Zakira.
"Ini.." Ucapan Elang menggantung kala Zakira langsung memanggilnya.
"Pa. Pa. Pa. Mam. Mam. Mam."
"Maaf aku memberi Zakira makan tanpa memberi tahukanmu lebih dulu. Makanan itu di buat oleh ibuku dan di bawa oleh Roy ke sini." Jelas Elang, namun Hana diam karena baru kali ini Hana mendengar kata lain yang keluar dari bibir mungil Zakira.
"Sayang lapar?" tanya Hana.
"Mam. Mam." Celoteh Zakira sambil meraih sendok yang di pegang oleh Hana.
"Biar aku saja." tawar Elang.
"Sayang, papa minta sendoknya. Biar papa yang suap Zakira yah." Dan seperti terhipnotis Zakira pun langsung memberikan sendok yang ia ambil tadi dari Hana.
"Anak pintar."
Ada perasaan sedih dan juga bahagia. Bahagia karena Zakira semakin pintar, dan sedih karena kehadiran Elang membuat Zakira seperti lupa akan dirinya.
__ADS_1
"Ibu. I-ibu. Ayo sayang panggil ibu." Ajar Hana pada Zakira yang saat ini sedang menyantap makanan yang di suapkan oleh Elang.