
"Hana." Panggil Elang dengan suara yang mulai melemah.
Kondisi Elang saat ini sangat memprihatinkan. Aron sudah mengambil alih Hana, dengan membawa Hana dan juga orang tua beserta Kana ke rumah pribadinya. Dan tentunya para penjaga terus berdiri di depan gerbang dan tidak memberikan cela sedikit pun untuk Elang agar bisa masuk ke dalam rumah Aron.
"Sampai kapan?" tanya Widia yang terus menatap ke arah luar jendela. Widia dapat melihat dengan jelas raut wajah Elang yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Bagaimana tidak. Semenjak Hana keluar dari rumah sakit. Elang terus saja menunggu Hana di depan gerbang rumah Aron, dan hanya pulang jika ingin mandi saja, itupun sangat jarang.
"Tutup tirainya." Kata Hana. Dan Widia pun langsung menutup tirai sesuai dengan permintaan Hana.
"Hana, kau tidak ingin melihatnya walau hanya sekali?" tanya Widia. Karena jujur Widia pun juga turun ikut prihatin dengan tampilan Elang yang sangat kacau.
"Aku tidak ingin membahasnya." Ucap Hana.
Sedangkan ayah Hana yang juga tinggal di rumah Aron, merasa tidak enak. Karena sudah menjadi beban untuk Aron.
"Kana, lebih baik kita pulang." Ucap sang ayah. "Bagaimana pun kecilnya rumah kita, tapi tetap itu rumah kita. Ayah tidak ingin membebani siapapun." Kata sang ayah.
"Ayah." Ucap Kana sambil menggenggam tangan ayahnya.
__ADS_1
"Kana tahu, tapi kita tunggu sampai keadaan Hana benar-benar membaik."
"Baiklah, kalau begitu ayah keluar dulu."
"Mau kemana?" tanya Kana.
Namun sang ayah hanya diam, dan terus saja berjalan. Hingga kaki ayah terhenti saat sudah sampai di depan pintu gerbang.
"Buka pintunya." Kata ayah.
Para penjagan saling tatap.
Elang yang berada di luar sana, langsung merasa senang saat pintu gerbang terbuka. Pikiran Elang saat ini, mungkin saja sudah ada lampu hijau untuknya. Untuk meminta maaf pada Hana tentang apa yang ia perbuat selama ini.
"Ayah." Ucap Elang.
Dan ayah Hana pun langsung memberikan bogeman mentah ke pipi Elang. Elang hanya diam, ia tidak melawan sama sekali. Karena Elang pun sadar perbuatannya sudah sangat keterlaluan dan ia pantas mendapatkan hukuman dari orang tua Hana.
"Jangan panggil aku ayah." kata ayah Hana.
__ADS_1
"Maaf." Lirih Elang sambil menatap wajah ayah.
"Aku diam, bukan berarti aku tidak tahu perbuatanmu. Aku diam, karena kami hanya manusia yang miskin yang seenak jidak bisa kau tindas dengan uangmu." kata aya.
"Maaf."
Bukkkhhhh
"Kau sudah berhasil menghancurkan anakku. Kau sudah berhasil memporak porandakkan kehidupan anakku. Dan dengan gampang kau bilang maaf?"
Bukkkkhhhhhh
Lagi dan lagi. Ayah terus saja memberikan bogeman mentah ke arah wajah dan juga badan Elang. Dan tetap saja Elang tidak melawan. Elang hanya terus berkata 'maaf' hingga ayah Hana berhenti memukul Elang.
"Maaf mu tidak akan aku terima dengan semuda itu. Kau tahu, aku membesarkan putriku dengan kasih sayang, dengan segenap jiwaku dan kau!..." Ayah tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.
"Jangan pernah mencoba mendekati Hana, ataupun memperlihatkan dirimu di hadapan Hana." Ucap Ayah lalu melangkah masuk namun langkahnya terhenti kala Elang berkata.
"Aku tidak akan meyerah, sampai kapan pun. Aku akan tetap berjuang sampai Hana dan juga Ayah mau memaafkan ku."
__ADS_1