
"Hoeek, Hoeek," Elang kembali merasakam mual, saat mencium menu makanan yang ada di meja makan.
"Tuan, ada sakit?" Tanya Atira yang juga saat ini berada di samping Elang.
Elang mengangkat tangannya agar Atira berhenti berucap.
"Atira mulai sekarang, jangan pakai parfum itu lagi. Mengerti!" Kata Elang,
"Parfum? Maksud tuan?" Atira tidak mengerti dengan apa yang Elang katakan. Parfum? Atira sama sekali tidak pernah mengganti parfumnya dan parfum yang Atira pakai tidak pernah mendapatkan teguran dari tuannya. Tapi, kenapa hari ini tiba-tiba saja tuannya menyuruhnya untuk tidak memakai parfum.
"Mulai hari ini. Umumkan kepada semua penjaga di rumah ini, agar tidak memakai parfum, kalau tidak? Maka aku akan memecat mereka."
"Baik tuan."
Elang langsung berdiri dari duduknya.
"Dimana dia?" Tanya Elang yang menyadari tidak ada Hana di sana.
"Maksud tuan, Hana? Nona Hana ada di kamar tuan."
Elang menautkan satu alisnya mendengar penuturan Hana. Karena tumben sekali Hana berada di dalam kamar padahal ini baru jam makan malam. Biasanya Hana selalu ada di sampingnya melayani jika Elang hendak makan.
"Katakan pada wanita itu, untuk ke kamar ku sekarang juga." Titah Elang, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya.
"Baik tuan." Jawab Atira lalu kemudian pergi memanggil Hana di kamar.
••
"Elang memanggilku?" Ucap Hana saat Atira mengatakan jika Elang memanggil Hana untuk masuk ke dalam kamar. "Tapi untuk apa Elang memanggilku? Bukan kah semua tugasku sudah selesai."
__ADS_1
"Aku tidak tahu Hana."
"Perasaan aku tidak punya salah sama sekali. Tapi kenapa dia memanggilku?" Gumam Hana. Lalu Hana berjalan menuju kamar Elang.
Setelah mengetuk pintu, kini Hana masuk ke dalam kamar Elang, Hana dapat melihat dengan jelas raut wajah Elang yang sangat lelah. Dan kini Elang sedang duduk di kursi sambil menyandarkan kepalanya dengan mata yanh terpejam.
"Kau memanggilku?" Tanya Hana.
"Ya." Jawab Elang tanpa membuka matanya.
"Ada apa? Apa aku membuat kesalahan? Kau mau menghukumku? Silahkan, jika itu bisa membuatmu bahagia." Ucap Hana dengan pasrah nya, toh hampir setiap hari selama dua bulan lebih Hana selalu mendapatkan hukuman meski tidak melakukan kesalahan, namun bagi Elang, apapun yang Hana lakukan adalah kesalahan di matanya.
Elang membuka matanya saat mendengar penuturan dari Hana.
"Kau ingin mengurungku di gudang? Atau tidak memberiku makan sehari? Atau membersihkan seluruh taman? Atau mungkin kau mau menyuruhku untuk...." Ucapan Hana terpotong kala Elang menyelah.
"Pijat? Hahahha kau bercanda?" Tanya Hana sambil tersenyum sinis.
"Pijat sekarang juga."
Dan tanpa banyak kata, Hana pun langsung mendekati Elang dan memijat kepala Elang. Pijatan Hana membawa ketenangan untuk Elang, sakit kepala yang Elang rasakan kini mulai reda. Dan mual yang sejak tadi pagi Elang rasakan pun, tiba-tiba hilang saat mencium aroma tubuh Hana.
"Kau memakai parfum apa?" Tanya Elang
"Tidak, aku tidak memakai apapun."
"Katakan! Kalau tidak, maka aku akan..."
"Akan menghukumku? Akan memukulku? Menamparku? Silahkan!" Tantang Hana
__ADS_1
Elang membuka matanya dan menatap wajah Hana dari arah bawah. Lalu Elang berdiri dan menarik tubuh Hana hingga mendekat ke arahnya. Lalu Elang mencium aroma tubuh Hana yang membuatnya tenang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hana
"Katakan, kau memakai parfum apa?"
"Tidak ada. Aku tidak memakai apapun. Lepaskan apa yang kau lakukan." Ucap Hana saat Elang memeluk tubunya.
"Harum sekali." Batin Elang.
"Apa yang kau lakukan Elang. Kenapa kau memelukku? Kenapa kau memeluk wanita yang kau katakan murahan? Apa kau lupa, jika kau sangat tidak suka padaku?" Ucap Hana sambil memberontak di dalam pelukan Elang.
Kata-kata Hana mampu menyadarkan Elang, dan langsung mendorong tubuh Hana hingga Hana terjatuh di lantai.
"Auhhh," ringis Hana sambil memegang perutnya yang terasa kram.
"Keluar sek!arang juga." Ucap Elang dengan nada yang mulai meninggi. "Jangan harap kau bisa merayu diriku."
"Merayu kau bilang?" Tanya Hana tidak terima
"Bukan kah kau sendiri yang memanggilku? Bukan kah kau sendiri yang memeluk tubuhku? Lalu di mana letaknya kalau aku merayumu Elang? Jangankan merayu, menatap mu saja aku tidak suka!"
Plakkkkkk... Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Hana.
"Jaga ucapan mu jika kau masih ingin hidup." Ancam Elang sambil menatap wajah Hana.
Tatapan mata mereka berdua bertemu. Keduanya saling menatap tanpa kata. Hingga beberapa detik kemudian Hana langsung berkata dengan lirih.
"Bunuh saja, jika itu bisa membuat mu bahagia"
__ADS_1