
"Selamat bu, anda hamil."
"Tidak mungkin. Tidak!" Ucap Hana sambil menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dokter dimana dirinya di nyatakan positif sedang mengandung.
"Selamat Hana, kau hamil." Ucap Atira dengan sangat bahagia.
"Atira." Hana memeluk tubuh Atira sambil menangis. Bukan Hana tidak terima dengan pemberian Tuhan padanya. Hanya saja Hana belum siap dan juga tidak menyangkah jika kejadian pada malam itu, langsung membawakan hasil yang kini bersemayam di dalam rahim miliknya.
"Jangan menangis Hana." Ucap Atira sambil mengusap pundak belakang Hana.
"Tapi perlu ibu ketahui. Jika kandungan ibu sangat lemah, jadi sebaiknya ibu harus menjaga kondisi agar bayi yang ada di dalam kandungan ibu bisa bertahan hingga sembilan bulan ke depannya" jelas dokter membuat Atira menganggukkan kepalanya. Karena saat ini Hana hanya bisa menangis saja.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu dok. Dan terima kasih." Ucap Atira
Flashback
Plakkkkkk... Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Hana.
"Jaga ucapan mu jika kau masih ingin hidup." Ancam Elang sambil menatap wajah Hana.
Tatapan mata mereka berdua bertemu. Keduanya saling menatap tanpa kata. Hingga beberapa detik kemudian Hana langsung berkata dengan lirih.
"Bunuh saja, jika itu bisa membuat mu bahagia"
Mendengar perkataan Hana entah mengapa membuat hati Elang seakan teriris dan bagaikan tertusuk tombak. Melihat mata Hana, membuat Elang merasakan getaran yang amat mendalam sehingga membuat Elang langsung membelakangi tubuh Hana. Sungguh Elang tidak mampu menatap mata itu lagi. Mata yang membuat getaran yang sulit untuk Elang jabarkan.
__ADS_1
Hana berdiri, sambil memengang perutnya yang terasa sangat keram.
"Aku tunggu waktu dimana kau akan membunuhku." Ucap Hana.
"Keluar!" Teriak Elang menggemah seisi kamar.
"Keluar sekarang juga."
Dan tanpa banyak kata, Hana pun keluar dari dalam kamar Elang, sambil terus memengang perutnya yang terasa sangat keram. Hingga Hana sampai di kamar, ia langsung berbaring dan menekan-menak perutnya agar rasa nyeri hilang, namun tetap saja rasa nyeri itu selalu datang dan bahkan semakin terasa sakit.
"Atira." Lirih Hana memanggil nama Atira.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Atira saat mendapati Hana yang sudah menangis sambil memegang perutnya. "Hana kau baik-baik saja?"
"Atira, perutku sakit. Apa kau punya obat? Tolong berikan padaku."
Beberapa saat kemudian, meskipun sudah meminum obat, namun nyeri yang Hana rasakan tak kunjung hilang juga. Malah semakin terasa sakit. Dan wajah Hana pun mulai tampak pucat.
"Atira. Tolong bawa aku ke rumah sakit." Pinta Hana yang sudah tidak dapat menahan sakit yang ia rasakan. "Tolong"
"Oke." Atira langsung membantu Hana berjalan menuju mobil. Namun sayang saat Hana berada di mobil, pengawal yang menjaga melarang keras Hana untuk keluar dari rumah, karena itu adalah perintah dari Elang.
Hingga Atira pun terpaksa masuk ke dalam rumah, dan meminta izin kepada tuan nya, dan setelah mendapatkan izin dengan di kawal oleh beberapa orang, akhirnya Atira dan Hana pergi ke rumah sakit.
Flashon
__ADS_1
Setelah keluar dari ruangan dokter Hana langsung memegang tangan Atira.
"Berjanjilah padaku Atira. Jangan katakan apapun pada Elang tentang kehamilanku."
"Tapi Hana.."
"Please, jangan katakan apapun tentang bayi yang ada dalam kandunganku." Ucap Hana memohon.
"Apa bayi itu, bayinya tuan Elang?" Tanya Atira
"Ya." Jawab Hana sambil menganggukkan kepalanya. "Kau ingat malam pertama di mana aku tidur di tempatmu." Ucap Hana. "Lupakanlah, tolong jangan katakan apapun Atira."
"Baiklah, percaya padaku." Ucap Atira lalu menuntun Hana kembali ke mobil.
••••
Saat Atira pergi membawa Hana, Elang terus mondar mandir di balkon kamarnya. Menunggu kedatangan mobil yang membawa Hana ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi?" Gumam Elang yang merasa khawatir dan juga merasa sedikit bersalah kepada Hana.
Elang kembali memutar fikirannya ke beberapa menit sebelum Hana di bawa ke rumah sakit. Elang dapat melihat dengan jelas wajah, dan tatapan Hana. Tatapan yang kini menghantui pikiran Elang.
"Tunggu! Kenapa aku harus mencemaskan wanita itu? Toh dia bukan siapa-siapa." Ucap Elang. Namun sifat dan fikirannya berbeda. Kini Elang meraih ponselnya dan menghubungi salah satu pengawal yang bertugas mengantar Hana ke rumah sakit.
"Hanya sakit perut" ucap Elang saat mengetahui kebenaran jika Hana hanya mengalami sakit perut.
__ADS_1
Elang kini bisa bernafas dengan lega, dan tidak perlu khawatir lagi mengenai Hana,.