
Tiap hari, ada saja hadiah yang di kirim oleh Elang untuk sang anak. Untuk bisa membahagiakan anaknya dengan cara memberikan apa pun agar Zakira sang putri bisa memiliki apa pun, dan tidak kekurangan satupun hal yang di butuhkan oleh putrinya.
"Apa lagi kali ini?" Tanya Hana yang sudah merasa pusing melihat barang kiriman tiap hari yang selalu saja datang. Dan sudah menumpuk entah mau di simpan di mana lagi.
"Kebutuhan harian Zakira." Jawab Kana, saat melihat isi dari kemasan yang di bawah oleh Roy.
Hana menepuk jidatnya. Karena semua keperluan Zakira, sampe mungkin lima tahun mendatang tidak akan habis. Karena tiap hari Elang selalu saja memberikan keperluan Zakira. Bahkan saat ini pakaian Zakira sudah menggunung, dan banyak yang belum sempat Zakira pakai.
"Di sumbangkan lagi?" Tanya Kana, yang sudah tahu persis pikiran sang adik.
"Ya, mau bagaimana lagi. Semua kebutuhan Zakira sudah terpenuhi. Kalau pun di simpan yang ada bakalan expired, jadi mending kita sumbangkan saja." Jelas Hana.
"Baiklah."
"Sekalian, yang di dalam kamar juga. Zakira belum pakai sama sekali. Jadi sumbangkan semuanyan"
"Hm, oke."
__ADS_1
Kana kini berjalan menghampiri Zakira yang kini sedang duduk di kelilingi oleh mainan pemberian dari Elang.
"Kau sangat beruntung sayang. Ayahmu sangat menyayangimu." Ucap Kana, sambil mencium seluruh wajah Zakira, sehingga membuat Zakira menangis.
"Kak Kana..." Teriak Hana.
••••••
Kini Elang lebih banya menghabiskan waktunya untuk belajar mengenai bagaimana caranya agar bisa menjadi ayah yang baik untuk sang buah hati..
"Apa Hana sudah siap?" Tanya Elang, sambil meletakkan bukunya di atas meja.
"Kau sendiri?"
"Aku sudah siap. Hanya saja..." Ucapan Elang menggantung.
"Kau takut jika kau mendapatkan penolakan? Kau takut, jika Zakira tidak mengenalmu? Sampai kapan kau akan takut?"
__ADS_1
"Aku tidak takut. Hanya saja, aku tidak ingin merusak kebahagian Hana, dengan kehadiran diriku. Aku hanya ingin memberikan waktu bagi Hana, itu saja."
"Bagaimana jika waktu itu, tidak bisa merubah semuanya? Bagaimana jika waktu berlalu, kemudian Hana menemukan pria lain yang bisa menjadi ayah sambung yang baik untuk Zakira."
"Tidak!" Ucap Elang dengan sangat keras dan lantang.
"Tidak ada yang bisa menjadi ayah Zakira. Karena hanya aku, satu-satunya ayah Zakira. Jadi jangan pernah katakan hal itu lagi."
Aron tersenyum tipis melihat sang adik yang langsung emosi tidak terima dengan apa yang dia ucapkan tadi.
"Kalau begitu, temui Hana dan Zakira sekarang juga."
Elang menelan salivanya secara kasar. Bukan takut, tidak! Elang sama sekali tidak takut dengan pertemuan ini. Hanya saja, Elang tidak ingin merusak kebahagian Hana dengan kehadiran dirinya. Ya, walaupun Elang harus menahan kerinduan pada Hana dan juga pada putri tercintanya.
"Kalau kau mencintai Hana, maka berjuanglah. Perjuangkan rumah tangga yang kau bangun dulu atas dasar paksaan, kini bangunlah kembali atas dasar cinta." Kata Aron, membuat Elang terdiam.
"Aku tahu, aku belum layak dan belum bisa menjadi seorang kakak yang bisa kau contoh. Karena kisah cintaku pun masih belum mulus. Tapi aku tidak pernah mau berhenti berjuang, berjuang untuk mendapatkan maaf dan mendapatkan cinta. Dan aku rasa, kau pun bisa seperti diriku, yang juga mau memperjuangkan itu." ucap Aron
__ADS_1