
Hingga beberapa saat kemudian, kini Aron telah tiba di rs, bersama dengan Widia dan juga Hana.
"Bagaimana keadaan adikku???" tanya Kana
"Atira, kenapa bisa Hana seperti ini." tanya Widia, karena jelas sekali tadi Widia sempat bercengkrama bersama Hana membahas bayi yang sedang aktif-aktifnya di dalam kandungan.
"Hana terjatuh." jawab Atira sambil menunduk.
•••••
Dengan penuh emosi, Aron mengendari mobilnya menuju rumah Elang.. Aron mencengkram stir mobil dengan sangat keras, saat teringat kembali perkataan Atira saat berada di rumah sakit.
Flashback
"Apa yang terjadi?" Tanya Aron saat saat dirinya sudah berdua dengan Atira. "Bukan kah aku katakan jaga Hana dengan baik-baik"
"Maaf tuan." Ucap Atira sambil menunduk.
"Katakan."
"Selama Hana hamil, cuman sekali dia periksa ke dokter. Dan tuan Elang, selalu memperlakukan Hana seperti biasa. Dan.." Ucapan Atira terpotong, Atira meremas kedua tangannya.
"Dan apa?" Tanya Aron yang sangat penasaran dengan apa yang Atira katakan.
"Dan tuan Elang, mengira jika anak yang Hana kandung adalah anak dari tuan."
"Apa?" Teriak Aron tidak percaya.
"Iya tuan."
__ADS_1
Flashon
"Elang..." Teriak Aron saat membuka pintu rumah.
"Tuan ada apa?" Tanya sang penjaga, karena baru kali pertama sang penjaga melihat tuan Aron yang masuk ke dalam rumah sambil teriak.
"Minggir." Kata Elang, dan langsung masuk ke dalam.
"Elang.." Panggil Aron sambil berlari menaiki anak tangga menuju kamar Aron.
Brangggkkkk.. Aron membuka pintu kamar dengan sangat keras.
"Elang." Teriak Aron, namun Elang tidak berada di dalam kamar, lalu Aron kembali berjalan menuju ruang kerja Aron.
Brangggkkkkk. Aron kembali membuka pintu ruangan kerja Elang, dan mendapati Elang yang saat ini sedang berdiri di dekat jendela.
"Elang." Panggil Aron lalu mendekat
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Elang sambil menahan pukulan yang entah keberapa kalinya dari Aron.
"Kau breng*sek. Kau sangat tega. Aku tidak menyangka bisa memiliki adik seperti mu." Aron menghempaskan tangan Elang.
"Kau yang breng*sek. Sudah mencintai orang lain tapi menghamili wanita lain pula."
Bukkhhhhh... Satu bogeman mentah kembali mendarat di wajah Elang.
"Dia anakmu. Anak kandungmu."
"Hahahahahah." Tawa Elang, tidak percaya.
__ADS_1
"Kau sudah membunuh anakmu, darah dagingmu." Ucap Aron lalu kembali memukuli Elang. Elang sudah tidak dapat berkutik lagi, ia hanya pasrah dengan pukulan yang terus mendarat di wajah dan tubuhnya.
"Kau sudah membuat Hana hamil. Kau sudah mengambil harta yang ia jaga dalam ketidak sadaranmu. Dan kau! Juga sudah membunuh anak kandungmu sendiri."
"Jangan pernah berani menampakkan wajahmu di hadapan Hana lagi." Ucap Aron lalu pergi meninggalkan Elang yang kini terbaring dilantai marmer rumahnya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Hana." Lirih Elang sambil menitihkan air mata.
"Hana." Lirihnya kembali, sambil mengingat beberapa bulan belakang ini, dimana dirinya selalu saja mengalami mual dan sakit kepala. Dan hanya harum tubuh Hana yang mmapu meredah apa yang Elang rasakan.
"Anakku." Ucapnya kemudian sambil mencoba berdiri.
••••••
"Bayiku." Kata Hana saat telah sadar.
"Hana.." Ucap Widia dan Kana secara bersamaan.
"Dimana bayiku? Apa yang terjadi?" Tanya Hana sambil mengusap perutnya.
"Hana.." Sapa Kana sambil duduk di tepi brangkar.
"Atira. Bukan kah aku sudah bilang selamatkan bayiku dan jangan memperdulikan aku." Kata Hana sambil menitihkan air matanya.
"Hana tenang lah." Kata Kana sambil mengusap pundak belakan Hana.
Hana terus saja menangis di dalam pelukan Kana.
"Hana sabarlah." Kata Widia.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tenang? Bagaimana aku bisa sabar?" Tanya Hana sambil menatap Kana dan Widia secara bergantian. "Kenapa kalian menyelamatkan ku? Kenapa?" Tanya Hana kemudian dengan air mata yang membasahi pipinya. "Baru pertama kali aku merasa bahagia karena akan menjadi seorang ibu, tapi..." Hana kembali menangis. Membuat Kana, Widia dan juga Atira ikut bersedih..