Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
bab 14. mendatangi markas dalang pembunuhan.


__ADS_3

Eren memandangi wajah tampan dan semakin terlihat tampan ketika pria yang ada di sampingnya itu dalam keadaan tidur.


waktu menunjukan pukul enam pagi, Eren sudah terbangun sejak lima belas menit yang lalu, namun masih betah memandangi wajah tampan yang masih terlelap di sampingnya.


ya, tadi malam setelah selesai acara pesta, Ethan membawa Eren untuk menginap di salah satu kamar presiden suit.


Eren menarik selimutnya hingga ke leher, pipi Eren berubah merona ketika mengingat pergumulan panas tadi malam bersama Ethan.


ditambah lagi sentuhan lembut yang diberikan oleh Ethan benar-benar mampu membuatnya seperti terbang ke nirwana.


dan bahkan mereka berdua melakukannya berkali-kali sudah seperti orang kelaparan yang tidak bisa makan selama satu bulan.


satu ranjang berdua, di bawah satu selimut berdua, adalah keinginan kecil yang diharapkan oleh Eren.


namun Eren sadar bahwa ini tidak akan selamanya, cepat atau lambat mereka pasti akan berpisah, dan disaat hari itu tiba, Eren akan berusaha menguatkan hati untuk tidak menengok kebelakang.


cinta itu murni, ia tidak akan pernah bisa memaksakan Ethan untuk harus mencintainya. mencintai yang sebenarnya adalah membebaskan bukan mengekang bukan juga karena alasan, itulah kenapa cinta itu murni.


cinta dan mencintai itu beda tipis terkadang banyak orang terbelenggu disini, banyk orang yang jatuh cinta tapi belum tahu sebuah arti mencintai.


cinta bisa jadi terobsesi dan berbuat lebih memaksa supaya cintanya di balas. sedangkan mencintai itu sakit dan lebih keikhlas dan gelar yang didapat adalah kebodohan, bodoh karena mencintai orang yang tidak mencintainya.


tapi dibalik itu semua ada hati yang begitu tulus sangat sayang jika hanya sekedar dilukai, hati yang pemiliknya tidak pernah tau akan jatuh cinta pada siapa, dan menjadi sebuah ungkapan inilah takdir.


cup.


Eren mengecup kening Ethan sekilas lalu ia beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi.


setelah selesai mandi, Eren terus pergi meninggalkan Ethan yang masih terlelap di dalam kamar.


"Halo ketrin, aku sedang menuju lokasi, tunggu aku," ucap Eren pada seseorang yang berada di dalam sambungan telepon.


"Kali ini kau harus lebih waspada," ucap Chen, sambil tangannya mengecek pistol.


"Kenapa cuma aku, kau juga." Ketrin tidak mau kalah.


Chen menghela nafas panjang. "Kau tidak perlu khawatir denganku."


"Karena kalo kau tertangkap, aku juga yang repot." Chen menatap ketrin sekilas lalu kembali fokus dengan pistol yang ia pegang.

__ADS_1


"Kau juga tidak perlu meremehkan aku, kita liat siapa yang lebih dulu menghabisi musuh." Ketrin semakin tidak mau kalah, hatinya panas tidak terima dengan ucapan Chen.


sambil menunggu kedatangan Eren, mereka berdua terus berdebat tidak ada yang ingin mengalah salah satu diantaranya.


"Chen, ketrin!" teriak Eren ketika sudah sampai lokasi dimna ketrin dan Chen menunggunya.


"Apa kalian sudah siap." Eren bergantian memandang ketrin dan Chen.


"Sangat siap." Ketrin menjawab sambil memasukan pistol ke dalam saku celananya.


"Pertanyaan konyol." Chen mendengus kesal.


"Hei, apa kau belum minum kopi." Eren nampak mencandai.


Chen menghela nafas panjang sambil melirik Eren.


"Lihat, lihat ini, kita harus melihat lokasi tersebut sebelum kita berangkat." Chen mengangkat kertas gambar denah lokasi seraya menunjuk-nunjuk supaya lawan bicaranya paham.


setelah itu Eren, ketrin dan Chen mulai berdiskusi, dan setelah mantap dengan hasil rencananya, mereka terus langsung berangkat.


Bandung.


Eren, Chen dan ketrin. ketiganya sudah siap dengan pistol yang di genggam masing-masing.


meski Eren tidak sehebat ketrin dan Chen dalam menggunakan senjata api, namun buat berjaga diri ia pun juga membawa.


di sebuah bangunan rumah. dan itu terlihat seperti markas.


"Antoni tidak salahkan memberi alamat ini." Chen menatap Eren seolah memastikan jawaban.


"Di dalam banyak orang, kita harus mulai penyamaran." ucap Chen kemudian seraya mengingatkan.


mereka bertiga langsung masuk ke markas tersebut, dan benar saja orang-orang di dalam sana langsung berdiri siap dengan senjata mereka masing-masing karena merasa ada orang asing masuk ke markas bosnya.


"Tidak perlu setegang ini bro." Chen tersenyum miring, tangannya meraih kursi yang tidak jauh dari ia berdiri lalu duduk dengan santainya.


salah satu pria bertubuh kekar, yang sepertinya adalah ketua di markas ini, ia mengangkat tangannya sehingga para temannya menurunkan senjatanya.


"Ada perlu apa, kalian bertiga datang kesini?"

__ADS_1


nada pria itu terdengar santai tapi begitu menusuk.


hahahaha.


Chen tertawa sebelum ahirnya ia berucap.


"Temukan kami dengan bos kalian."


Chen berbicara sebuah permintaan tapi terdengar seperti perintah.


hahahaha.


kini pria itu yang gantian tertawa.


"Bos kami sudah mempercayakan semua kepada kami, silahkan bicara apa kepentingan kalian, tidak perlu bertemu dengan bos kami."


Chen memandang pria tersebut dengan sorot mata seperti kilatan petir yang mampu menyambar dan langsung membuat siapapun yang balik menatap akan terbakar.


pria bertubuh kekar tersebut juga tidak kalah memberi tatapan membunuh.


selang beberapa detik, terdengar suara bunyi dentingan sebelum bom meledak.


"Hei, apa yang kalian lakukan disini!" pria bertubuh kekar marah, jarinya menunjuk Chen.


Chen tersenyum. "Cukup simpel, beritahu bos kalian, atau akan mati bersama-sama di tempat ini."


"Kurang hajar!" umpat pria tersebut.


lalu setelah itu pria bertubuh kekar bersama teman-temannya sudah mulai bersiap untuk bertarung melawan Chen, Eren, dan ketrin.


namun disaat mereka semua baru mau saling menghajar, sebuah suara menghentikan tindakan mereka semua.


"Berhenti ..." sebuah suara laki-laki berucap begitu lantang.


Deg.


Eren yang melihat sosok yang kini datang, seketika jantungnya bagai berhenti berdetak.


matanya berubah panas, bahkan ia sudah tidak bisa menunggu lagi untuk segera mengetahui apa alasannya di balik semuanya.

__ADS_1


__ADS_2