Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
season 2. penerimaan kontrak kerja.


__ADS_3

Daniel menekuk satu kakinya seraya berkata, "Eren, bisakah kau menjadi bagian dari keluargaku?"


Eren terkejut bahkan wajahnya tampak sedih, ia bingung harus bagaimana, menyakiti juga tidak ingin, Eren menatap kearah Daniel yang sedang berjongkok di hadapannya serta membawa bunga.


sementara Ethan masih menyaksikan interaksi keduanya dari pintu.


"Daniel." Eren tampak berpikir dan membuang nafas. "Ketika aku pergi ke Australia untuk pertama kalinya, aku tidak bisa melakukan apa-apa ... atau memikirkan apa pun. saat itu, kau tidak pernah buru-buru memaksaku, kau hanya tinggal denganku diam-diam."


Eren tersenyum kecil. "Kau diam-diam berbagi rasa sakitku denganmu ... dan menungguku, jadi aku pikir." Eren menghela nafas panjang.


Ethan mulai menutup pintu lalu pergi dari tempat tersebut, ia tidak jadi memberikan gaun bayi itu, pergi dengan rasa penuh luka karena melihat wanita yang ia cintai di lamar pria lain di depan matanya.


"Aku harus baik padamu juga, dan juga jika aku menjadi keluarga seseorang lagi ... pasti dengan dirimu."


Eren semakin merasa tidak enak hati. "Tapi ... aku masih belum yakin ... apa perasaanku untuk daniel ... adalah rasa syukur atau cinta."


Eren menatap dalam kearah Daniel dan semakin merasa bersalah. "Aku seharusnya tidak begini padamu, kau memintaku menikahimu dengan ketulusan ... jadi kau berhak mendapatkan jawaban dari hatiku."


"Baik." Daniel tersenyum. "Aku mengerti yang coba kau katakan."


Eren menundukkan kepalanya. "Maafkan aku."


Daniel tersenyum melihat tingkah Eren, meski hatinya sakit mendapat penolakan dari Eren, namun ia tidak ingin memaksa.


Daniel lalu membawa Eren ikut berdiri dari duduknya. "Jika begitu mulai sekarang aku akan mendekatimu sebagai pria yang menyukaimu, dan tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan, dan tetaplah disini selama dua tahun." Daniel menatap dalam bola mata Eren.


Eren mengangguk menyetujui.


sementara di tempat lain.


Ethan tampak melamun di ruang kerjanya seraya menatap gaun bayi, ucapan Daniel terus teringat di pikirannya, ingin tidak bersedih namun kenyataannya susah untuk ikhlas dan merasa begitu sakit.


keesokan harinya.

__ADS_1


perusahaan Benz company.


"Tuan." sapa asisten Leo setelah masuk di ruang CEO, lalu ia mendekati tuannya seraya memberikan dokumen Collaboration.


Ethan mengambil dokumen tersebut lalu membuka lembar per lembar, dan raut wajahnya nampak bertanya. "Kenapa desainer Eren tidak ada ?" Menatap asisten Leo.


"Tuan, kan tuan yang bilang bahwa tuan tidak menginginkan desainer Eren dalam Collaboration ini." Leo memberi tatapan menyelidik. "Atau jangan-jangan tuan?"


"Hah, kau begitu cepat menyimpulkan bila aku menolaknya." Namun ucapannya lirih hampir-hampir tidak terdengar oleh asisten Leo.


"Tuan bilang apa barusan?" Seraya sedikit memajukan telinganya.


"Ah tidak, bukan apa-apa." Ethan menjawab cepat, ethan tampak berpikir. "Emm, soal untuk Collaboration nanti saya akan Kabarin kamu."


"Baik tuan."


di tempat lain.


"Terimakasih Nona Eren sudah mau menyempatkan waktu untuk menemui saya," ucap tuan Bagas seraya menjabat tangan Eren.


"Sama-sama tuan Bagas, karena saya sudah mengenal baik anda sejak di Australia." Eren tersenyum lalu mempersilahkan tuan Bagas untuk duduk.


dan setelah keduanya duduk, tuan Bagas memulai bicara sesuai tujuannya.


"Kedatangan saya kemari ingin mengajak anda bekerja sama lagi." Tuan Bagas menyerahkan sebuah berkas ke tangan Eren.


Eren menerimanya lalu ia membaca isi berkas tersebut, namun matanya tiba-tiba membola saat ia membaca kali ini harus bekerja sama dengan perusahaan Benz company."


"Benz company?" Eren menatap ke tuan Bagas.


tuan Bagas tersenyum. "Iya, dan anda cukup memberi tanda tangan kontrak saja."


Eren terkekeh masam. "Bila saya menunjangnya lebih dulu, apakah tidak masalah.

__ADS_1


"Baiklah." Tuan Bagas setuju, lalu akhirnya ia pergi meninggalkan Eren.


setelah kepergian tuan Bagas Eren berinisiatif untuk menemui Ethan. dan kebetulan kini kedua bertemu saat Eren sedang keluar dari minimarket.


"Kau." Eren sedikit terkejut namun beberapa saat ia tersenyum sinis. "Kebetulan sekali saya bertemu anda disini."


"Oh ya." Ethan menanggapinya dengan santai.


"Ya, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, dan langsung saja!" Nanda bicaranya Eren terdengar ketus.


"Apa anda masih menyukai saya!" Eren berbicara tegas.


hahaha.


"Menyukai tentu tidak mungkin." Ethan terkekeh.


"Jika tidak, kenapa anda menggunakan agen saya untuk mengajak kerjasama!" Eren semakin terdengar emosi.


"Ya, itu aku yang meminta dia ... untuk melakukan itu." Ethan sedikit terbata saat menjelaskan.


Eren membuang nafas kasar seraya tersenyum masam. "Untuk melakukan itu ... kenapa harus aku? ... bukan desainer lain?" senyumnya menghilang berubah tatapan tajam.


"Ya karena ..." Ethan nampak berpikir, "Perusahaan saya memilih anda dan hasil keputusan ini tidak diambil saya sendiri tetapi oleh semua pihak untuk memilih anda."


Ethan mengambil nafas panjang untuk lebih tenang. "Bila anda menolak berati anda pecundang karena berlari dari tanggung jawab." Ethan menatap dalam bola mata Eren.


Eren terkekeh. "Tanggung jawab ... bahkan saya belum tanda tangan kontrak, dan anda sudah bilang tanggung jawab."


"Semua terserah anda." Ethan mulai melangkah pergi tidak jadi masuk ke minimarket, namun beberapa langkah ia menghentikan.


"baik, saya akan bekerja sama dengan perusahaan anda." Eren berjalan mendekati Ethan yang berdiri memunggunginya. "Dan saya bukan orang yang menghindar seperti yang ada ucapkan." menatap tajam untuk beberapa saat kearah Ethan.


setelah itu Eren pergi meninggalkan Ethan yang masih diam berdiri melihat punggung Eren yang terus berjalan, hingga menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2