
Pagi yang dinginnya mencengkram hingga ke tulang-tulang membuat dua insan yang saat ini berada di bawah selimut, terasa enggan untuk bangun dari tempat tidur.
Ethan sudah terbangun lebih dulu, ia mengeratkan pelukannya, hingga membuat tubuh Eren semakin membentur dada bidangnya.
Ethan tersenyum seraya mengecup puncak kepala Eren yang saat ini kepalanya tenggelam di dada bidang Ethan.
Tangannya mengusap punggung Eren yang polos, dan hal ini memberi sensasi ternyaman buat Eren.
Ethan melirik jam dinding, kini waktu menunjuk pukul enam pagi, namun di luar masih terdengar suara gemercik air hujan, yang sepertinya hujan turun sejak semalam.
Ethan sedikit menurunkan kepalanya lalu mencium bibir Eren sekilas, jemari tangannya menyentuh pipi Eren lalu mencubit pipi itu dengan gemas.
Eren terbangun merasa pipinya sakit, namun tiba-tiba begitu malu saat mendapati kini tubuhnya begitu intim.
Eren menutup wajahnya, menjerit dalam hati, bayang-bayang kegiatan panas tadi malam berputar-putar di ingatannya.
"Kenapa?"
Suara lembut Ethan semakin membuat jantung Eren berdegup kencang.
Ethan meraih tangan Eren yang menutupi wajahnya, lalu memegang dagu Eren untuk menatap balik wajahnya.
Ethan tergelak tawa saat melihat wajah Eren bersemu merah.
Hahaha.
"Apa kau ingin mengulangi yang tadi malam, hem?"
Eren memukul dada bidang Ethan, seraya mengerucut bibirnya.
Hahaha.
Ethan kembali tertawa, merasa gemas melihat bibir Eren.
Pagi itu terlewati dengan Ethan yang terus menggoda Eren, dan hari ini keduanya akan pulang ke rumah baru, rumah yang lebih tepatnya adalah Mansion yang sudah Ethan beli untuk hadiah pernikahan bersama Eren.
Eren menatap tidak percaya saat membaca surat pernyataan bahwa Mansion ini atas nama miliknya.
"Ini berlebihan."
Ethan merangkul bahu Eren lalu mengecup kening Eren sekilas. "Untukmu, ini tidak berlebihan."
Ethan mengajak Eren untuk masuk ke dalam Mansion.
Di tempat lain.
Seorang wanita cantik yang sedang menggunakan baju kebaya pengantin, ia berlari menghindar dari kejaran beberapa pria berjas hitam yang mengejarnya.
Wanita itu menyelinap dari satu mobil ke mobil yang satunya.
Dari arah sebuah gedung, Chen dan Scarlett baru ke luar habis bertemu klien. Keduanya berjalan ke arah parkiran mobil.
__ADS_1
Cit. cit.
Bersamaan dengan suara bunyi mobil, wanita cantik yang sedang melihat orang berjas hitam berjalan ke arahnya, ia langsung membuka pintu mobil milik Chen.
Bruk!
"Hei, siapa kau!"
Chen yang baru duduk di kursi belakang sangat terkejut saat tiba-tiba ada wanita berpakaian pengantin masuk ke dalam mobilnya.
Dan Chen semakin terkejut saat wanita itu dengan beraninya membungkam mulutnya seraya berkata kepada Scarlett, "Kak, tolong jalankan mobilnya." Wanita itu menoleh kebelakang.
Scarlett yang melihat beberapa orang berjas hitam melalui spion mobil, ia sudah paham bahwa gadis yang di dalam mobilnya kini meminta bantuan.
Scarlett langsung melajukan mobilnya dengan cepat kilat, hingga membuat orang-orang tersebut berjatuhan yang tadi sempat mau mendobrak mobilnya.
Tangan wanita itu yang menutup mulut Chen sangat kuat, hingga membuat Chen mengumpat dalam hati.
Chen menatap wanita yang wajahnya terus menoleh kebelakang, bola mata berwarna biru yang terlihat sangat ketakutan.
"Nona, lepaskan tangan Anda, sekarang Anda sudah aman." Scarlett melirik ke belakang sekilas lalu kembali fokus mengemudi.
Wanita itu gelagapan, ia baru sadar bahwa belum melepas tangannya.
"Maaf." Hanya itu yang mampu keluar dari bibir wanita itu.
Chen berdecih, lalu mengusap bibirnya yang bekas tangan wanita itu.
Scarlett mulai membawa mobilnya minggir, wanita yang melihat mobil itu mau berhenti ia langsung buka suara dengan panik.
"Jangan berhenti, mohon jangan berhenti." Wanita itu menggenggam tangan Chen, kini Chen bisa merasakan bahwa tangan wanita itu terasa dingin dan gemetar.
"Saya tidak ingin ketangkap Daddy saya, saya ... saya tidak mau dipaksa menikah."
Hahaha.
Mendengar suara tawa pria di hadapannya membuat wanita itu mendongakkan kepalanya yang tadi sempat menunduk takut.
Dengan kening berkerut wanita itu meminta penjelasan mengapa pria di hadapannya tertawa, karena menurutnya tidak ada yang lucu.
Mobil Scarlett sudah menepi, ia menoleh ke kursi belakang sekilas tanpa mau ikut campur.
Chen berhenti tertawa, ia menelisik wajah wanita di hadapannya, cukup cantik batinnya.
"Kau tahu ini." Chen menunjuk atap mobil. "Adalah mobil mahal, kau tidak gratis hanya sekedar menumpang, dan harus sesuai imbalan."
Perhitungan sekali.
Bukan wanita itu yang mengumpat, tetapi Scarlett, namun sedetik kemudian ia juga ikut terkejut saat melihat sesuatu yang di keluarkan dari dalam tas kecil milik wanita itu.
"Aku akan membayar pakai ini." Wanita itu menunjukkan black card miliknya, sebuah kartu tanpa limited.
__ADS_1
Chen tampak kagum, ia pikir wanita di hadapannya ini adalah putri konglomerat.
"Tolong aku, sembunyikan aku."
Ah ....
Wanita itu menjerit ketakutan dan sembunyi di bawah antara kursi belakang, saat matanya menangkap mobil yang sama milik Dednya.
Chen melihat tubuh yang bergetar hebat itu, ahirnya ia memutuskan untuk menolong gadis itu lalu mengajaknya tinggal di Apartemen miliknya.
Mobil kembali melaju setelah mendapat perintah.
Wanita itu mulai sedikit tenang setelah tahu pria di sebelahnya mau menolongnya.
Chen yang tadi ingin kembali ke perusahaannya jadi di batalkan dan lebih milih langsung pulang ke Apartemennya.
Chen langsung masuk ke Apartemen bersama wanita itu setelah mobil sampai, namun Scarlett diminta untuk membeli pakaian buat wanita itu.
Kreekk.
Chen membuka pintu dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk lebih dulu.
Chen menunjukan kamar untuk wanita itu istirahat selama tinggal di apartemennya.
Kreekk.
"Ini kamar kamu."
"Terimakasih." Wanita itu tersenyum.
Saat kaki wanita itu sudah melangkah masuk, ia kembali membalikkan badannya untuk menatap pria yang sudah baik hati padanya, walau awalnya ketus.
"Kita belum berkenalan, nama saya Audrey."
Petingkah nama kamu buat saya, batin Chen menyepelekan.
Tapi ujungnya Chen juga menerima uluran tangan Audrey. "Saya Charlson Benz, biasa dipanggil Chen."
Audrey tersenyum seraya menyelipkan anak rambut ke belang telinga, lalu mengangguk kecil.
Chen membiarkan Audrey istirahat dan ia menuju dapur untuk mengambil minuman dingin lalu kembali ke ruang tamu sambil nonton TV.
Tidak berselang lama, Scarlett datang membawa dua paper bag, Chen memerintahkan Scarlett untuk masuk menemui Audrey.
"Nona, ini untuk, Nona. Bila butuh apa-apa silahkan hubungi saya, ini nomor handphone saya." Scarlett meletakkan paper bag tersebut di ranjang samping Audrey duduk, serta menyerahkan kartu nama pada Audrey.
Audrey tersenyum dan mengucapkan terimakasih, setelah itu Scarlett ke luar, lalu Audrey membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian.
Tiba malam hari Audrey merasa lapar, namun tiba-tiba ia mencium aroma masakan, ia berjalan ke luar dan kaget saat sampai di meja makan ia melihat pria yang tadi menolongnya sedang menyiapkan makan malam.
"Makanlah, ini nasi goreng buatan aku, bila tidak lezat mohon maklumi." Chen menyengir kuda lalu menarik kursi untuk Audrey duduk.
__ADS_1