
"Maafkan aku." Tubuh Ethan meluruh ke bawah terduduk di lantai, sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. merasa tidak berarti dan tidak bisa melakukan apa-apa di situasi seperti ini.
"Ethan, ayo bangun, kau harus ganti baju dulu, lihatlah baju yang kau pakai berlumur darah."
ibu Lusi menghampiri Ethan seraya mengelus puncak kepala sang putra.
Ethan yang baru menyadari bahwa pakaian yang ia pakai banyak bercak darah, kini menghela nafas panjang dan kembali teringat Eren yang berada di dalam sana.
"Tuan." Leo datang membawa paper bag.
"Ayo bersihkan tubuhmu dulu!"
ibu Lusy meraih paper bag yang Leo bawa lalu memberikannya kepada Ethan.
dan akhirnya Ethan memilih untuk membersihkan tubuh lebih dulu.
"Nona Megy apa anda ingin pulang?" Leo menatap kearah Megy, yang tampak terlihat lelah.
"Iya Nak, kau pulanglah, makan dan istirahat."
ibu Lusy tersenyum lembut seraya mengusap lengan Megy.
"Dan kakimu belum sembuh total, pulang dan istirahatlah." Ibu Lusy beralih menatap kakinya Megy.
"Apa ini masih terasa sakit?"ucapnya penuh perhatian sambil menyentuh kakinya Megy.
"Sedikit." Megy berucap pelan hampir-hampir tidak terdengar.
ibu Lusy yang mengerti rasa kekhawatiran yang dimiliki Megy, ia langsung memeluk Megy seraya berkata, "kakak pasti baik-baik saja, tenanglah."
setelah beberapa kali dibujuk akhirnya Megy mau pulang juga dan diantar oleh Leo.
tidak lama setelah kepergian Leo dan Megy, kini Ethan kembali dengan aura lebih fresh dan rileks, berjalan dengan langkah lebar menuju ruang operasi.
Ethan yang baru tiba, ia langsung menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
Ibu Lusy meraih tangan Ethan. "Ayo duduk."
__ADS_1
"Kita semua belum makan, dan kau juga belum makan." Ibu Lusy menatap kedua prianya satu per satu.
"Mama beli makan dulu." Ibu Lusy mulai mau berjalan keluar tiba-tiba langkahnya terhenti karena sebuah suara.
"Kopi ma ... satu." Tuan Erland bicara sambil mengangkat lima jarinya.
ibu Lusy menengok kebelakang menatap balik tuan Erland.
"Minta kopi satu, yang diangkat lima jari." gerutunya sambil terus melangkah.
waktu terus berputar, jam berganti menit, menit berganti detik. ahirnya yang tengah di tunggu-tunggu sedari tadi kini telah selesai, Ethan melihat lampu operasi kini sudah padam, tidak lama setelah itu salah satu dokter membuka pintu ruang operasi.
melihat hal itu Ethan dan tuan Erland langsung mendekat.
"Apakah semua berjalan lancar dokter?" ucapnya penuh kepanikan.
dokter tersebut tersenyum. "Alhamdulillah, semua berjalan lancar."
Ethan dan tuan Erland merasa lega mendengar jawaban dari sang dokter, keduanya sama-sama mengambil nafas panjang seolah untuk mengeluarkan sesak yang sebelumnya penuh di dalam dada.
"Sebentar lagi pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat." Jelas dokter berikutnya, lalu setelah itu dokter mohon ijin untuk berlalu.
Eren sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
dan setelah mendapat ijin dari dokter, Ethan masuk ke ruang rawat tersebut.
kini Ethan duduk di samping Eren, menatap lekat-lekat wajah cantik yang kini tampak terlihat pucat.
Ethan membuang nafas panjang, mengingat wanita yang saat ini tengah berbaring tidak berdaya, mengingat awal mula bertemu dengannya dua tahun lalu, Eren bekerja sebagai sekertaris pribadinya, lalu malam panas yang di lakukan Eren, hingga berujung harus terpaksa menikah dengannya.
dan tibalah saat ini menjadi sosok bagian yang sangat penting di dalam sana, entah mulai sejak kapan rasa itu hadir dan entah harus seperti apa dalam menggambarkan, untuk menunjukan betapa pentingnya kini dia dalam hidupnya.
yang dulunya benar-benar bukan siapa-siapa, menganggapnya hanya sekedar seorang bawahan, yang tidak memiliki arti penting sedikitpun dalam hidupnya, berbicara hanya hal penting yang menyangkut pekerjaan, bahkan jarang sekali menatap mukanya, dan bahkan tidak jarang selalu membentaknya bila kinerjanya salah di matanya.
hingga menjadi istrinya pun masih memberikan kehidupan yang jauh dari semestinya, bahkan bisa dibilang kehidupan neraka, mungkin dirinya tidak pernah melihat wanita yang ada di hadapannya itu menangis, dan ini menjadi nilai plus untuk wanita itu, kini dirinya mengakui bahwa wanitanya seseorang yang hebat.
di tengah banyaknya masalah, harusnya ia memberikan bahunya untuk sandaran, namun yang diberikan hanyalah luka, kata kasar, tidak ada perhatian.
__ADS_1
Ethan kembali menghela nafas panjang mengingat itu semua, kini ia menggenggam tangan wanitanya, menatap wajah wanitanya yang baru ia akui bahwa sangat cantik, ia meraih tangan wanitanya lalu mencium-cium terus punggung tangan itu, lidahnya Kelu tidak mampu berkata-kata hanya tubuhnya yang terlihat bergetar menahan tangis namun air mata itu tetap keluar tanpa permisi.
sejatinya seorang laki-laki itu tidaklah mudah untuk menangis, kecuali dalam hal-hal tertentu yang benar-benar membuatnya harus menunjukan sisi kelemahan meski seorang laki-laki dikenal sebagai mahluk Tuhan paling kuat. dan kata maaf seolah tidak cukup untuk membayar semua kesalahannya.
keesokan harinya.
Ethan kembali ke ruangan Eren, setelah ia selesai membersihkan diri dan sarapan pagi.
waktu menunjukan pukul sembilan pagi, hari ini Ethan belum bisa mengurus pekerjaannya di kantor, karena ia ingin wajahnya yang pertama kali di lihat Eren ketika sadar nanti. disisi lain karena ia ingin memastikan sendiri kondisi Eren.
kini Ethan duduk di sebelah ranjang pasien, menatap wanitanya yang belum juga membuka matanya, Ethan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit ruangan seraya menghela nafas.
"Ethan ..."
sebuah suara yang terdengar begitu lemah, membuat Ethan segera melihat kearah sumber suara.
"Eren ... Eren kau sudah sadar." Ethan meraih tangan Eren lalu mencium punggung tangan itu berulang kali, terlihat jelas bahwa ia sangat Bahagia mendapati wanitanya kini sudah siuman. hingga sebuah pertanyaan membuat senyum itu redup seketika.
"Anak kita baik-baik saja kan ... dia baik-baik saja kan?" Eren membalas genggaman tangan Ethan seraya menatap dalam kearah pria itu.
"Aku ... aku, aku sudah memintanya untuk pergi." Ethan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"A ... apa maksudmu, jangan ... jangan bilang anakku." Eren menyentuh perutnya sendiri dengan rasa bercampur takut, namun saat telah menyadari perkataan Ethan, Eren langsung menangis histeris.
"Aaaaaaaaaa, tidak ini tidak mungkin huhuhu."
teriaknya sambil menangis.
"Eren aku mohon jangan seperti ini ... aku mohon Eren." Ethan langsung memeluk tubuh Eren yang sedang menangis histeris.
"Kembalikan anakku Ethan ... kembalikan anakku, huhuhu." teriak Eren seraya terus memberontak dalam pelukan Ethan.
"Tenang Eren tenang, maafkan aku." Ethan terus mengeratkan pelukannya meski Eren terus memberontak.
hingga beberapa suster dan dokter masuk ke ruangan tersebut, lalu memberikan suntikan penenang untuk Eren.
Ethan bernafas lega setelah kini melihat Eren tidur kembali.
__ADS_1
suster dan dokter telah pergi, kini menyisakan Ethan dan Eren dalam suasana keheningan.