
Pagi hari.
Gedung Benz Company.
"Tuan ... tuan."
Sekertaris Leo berjalan mendekat kearah Ethan.
"Berisik sekali pagi-pagi." Ethan memberi tatapan kesal.
"Haha, maaf Tuan ... hari ini nona Eren sudah menyelesaikan proyek kerja samanya, Tuan."
Deg.
Ethan terkejut, ada rasa sedih di dalam hatinya mendengar bahwa Eren sudah selesai.
"Dan sekarang saya membawa nona Eren untuk masuk menemui anda Tuan."
"Hah, benarkah?" Ethan terlihat bahagia.
"Benar tuan."Sekertaris Leo meyakinkan.
"Buruan suruh dia masuk." Ethan mendorong Seketaris Leo untuk segera membukakan pintu.
"Iya Tuan iya." Seraya berjalan kearah pintu.
Tiga puluh menit berlalu.
Kini Eren sudah berada di ruang kerja Ethan.
Ethan memegang hasil karya yang Eren buat. Auranya tampak sedih seolah tidak ingin Eren cepat-cepat menyelesaikan proyek kerja sama ini.
"Lumayan." Ethan mengomentari.
"Aku akan memberitahu tim pemasaran ... untuk mulai mengerjakan iklan dengan konsep ini."
Jelas Ethan dengan meyakinkan.
Eren tersenyum. "Baguslah kau menyukainya."
"Proyek ini sudah benar-benar selesai sekarang, setelah kami menerima konsep final iklan ... maka akan benar-benar usai." Ethan menunduk dengan wajah datar namun sorot matanya memancarkan kesedihan.
"Ya, akan usai."
Ethan langsung menatap Eren. Keduanya saling pandang dengan tatapan mengunci untuk beberapa saat.
Eren mengalihkan tatapannya. "Terimakasih atas kebaikanmu selama ini." Terkekeh masam.
"Yeah." Ethan memutus pandangannya.
"Terimakasih atas pekerjaanmu selama ini ... Nona Eren." Perlahan Ethan kembali menatap Eren.
Aura keduanya tampak terlihat sama-sama sedih.
Keesokan harinya.
Semua orang petinggi perusahaan Benz Company, tampak berkumpul di sebuah ruangan studio untuk menyaksikan iklan dengan hasil konsep dari Eren.
Layar mulai menyala dan menampakkan sebuah iklan.
Sebuah kupu-kupu yang terbang masuk ke rumahnya.
Sepatu indah yang tidak sengaja ditemukannya.
Tiba-tiba hujan turun.
Bunga indah yang mekar.
Seorang gadis yang hidup di dalam hati setiap wanita.
__ADS_1
Benz Company.
Iklan selesai, tepuk tangan meriah dari semua orang untuk Eren.
Nampak tiga wanita sedang membawa sebuah file Langsung berjalan mendekati Eren dan memberikan pujian.
Sekertaris Leo maju ke depan. "Ini kolaborasi pertama kita dengan desainer Nona Eren."
"Beri tepuk tangan yang meriah!"
Tepuk tangan meriah kembali diberikan kepada Eren.
"Kurasa kita menemukan hal yang tepat ... untuk menarik pikiran wanita." Sekertaris Leo kembali bicara.
"Yang terakhir ... tolong sedikit kata-kata, Presdir."
Eren menengok kerah Ethan.
"Silahkan," ucap Sekertaris Leo.
Ethan berdiri seraya merapikan jasnya, lalu melangkah ke depan.
"Ini dia Presdir Ethan."
Tepuk tangan kembali meriah.
Ethan berdiri menghadap kesemua orang. "Perusahaan Benz Company akan memiliki ... bermacam-macam kolaborasi dengan banyak desainer dan seniman yang berbeda."
"Aku sangat senang bahwa ... kita bisa menyelesaikan proyek ini bersama Nona Eren dengan lancar ... tanpa sedikit masalah pun."
Ethan menghela nafas. "Terimakasih." Ethan kembali ketempat semula.
Tepuk tangan kembali meriah.
Eren tersenyum seraya memberi tepuk tangan.
Ethan tampak mengikuti Eren dari belakang. "Tunggu."
Eren menghentikan langkahnya, lalu menatap kearah Ethan. Keduanya saling menatap tanpa senyum.
"Sekarang benar-benar selesai ... aku ingin mengajakmu makan malam terakhir kalinya." Ethan menatap dalam kearah Eren.
Eren tersenyum. "Aku ada acara makan malam dengan seseorang."
Ethan tampak mengangguk. "Tidak apa-apa, lagi pula kita sudah menyelesaikan kolaborasi dengan baik ... hanya ada ucapan baik-baik." Ethan tersenyum kecil seraya menatap Eren.
Mendengar ucapan Ethan entah kenapa hati Eren menjadi merasa sedih.
Eren memaksa diri untuk tersenyum. "Kau juga ... selamat tinggal." Eren menunduk memberi hormat.
Ethan tersenyum, lalu menunduk memberi hormat.
Eren melangkah masuk kedalam lift. "Ini benar-benar akhirnya, jaga dirimu Ethan." Auranya sangat sedih.
Lift berjalan membawa Eren ke lantai dasar.
Malam harinya.
Di sebuah ruang kamar tampak seorang pria sedang memandang sebuah gaun kecil dengan aura sangat sedih. "Aku harus benar-benar melepaskan."
Ethan tampak menarik nafas dalam-dalam lalu ia melangkah keluar dengan membawa gaun tersebut.
Ditempat lain.
Di dalam mobil.
Eren tampak mencari sesuatu di dalam tasnya. "Hah, sepertinya ketinggalan," gumamnya.
Eren meraih benda pipih lalu melakukan sambungan telepon dengan seseorang.
__ADS_1
"Halo Daniel, sepertinya aku sedikit terlambat."
"Baiklah aku tunggu."
Suara Daniel di sambungan telepon.
Tut tut.
"Pak tolong putar balik ya, mobilnya."
"Baik Nona."
Di sebuah ruko.
Ethan tampak berjalan masuk, lalu membuka pintu ruang tersebut yang tidak terkunci. "Apa apaan dia ... kalo ada maling masuk gimana."
Ethan nampak melihat sekeliling tempat ruang Eren bekerja selama ini, dimana banyak sekali gaun-gaun yang sudah jadi bahkan ada juga yang belum sepenuhnya jadi.
Tidak lama dari Ethan masuk ke ruang kerja Eren.
Di bawah sana Eren sudah menaiki tangga dan akan memasuki ruang kerjanya.
Namun alangkah terkejutnya saat sampai di dalam ruang kerjanya, Eren melihat Ethan ada di dalam ruang kerjanya.
Eren dan Ethan sama-sama terkejut, namun perlahan pandangan mata Eren mengarah pada sesuatu yang dibawa oleh Ethan.
Dengan wajah yang nampak sangat kecewa disertai tatapan mengintimidasi. "Apa kau adalah Nona Nur."
Ditanya seperti itu secara tiba-tiba oleh Eren tentu membuat Ethan langsung gugup. Namun karena tidak ingin ada yang ditutupi lagi, akhirnya Ethan memilih mengatakan yang sebenarnya.
"Ya." Mengangguk kecil dengan wajah datar.
Eren terkekeh masam seraya membuang muka dan tampak beberapa kali membuang nafas kasar.
"Maaf, aku tidak maksud ...."
"Cukup! keluar ..." Potong Eren cepat.
"Baiklah aku kan keluar." Ethan meletakkan gaun bayi yang dibawanya di atas meja, lalu ia melenggang pergi keluar.
Sementara Eren di dalam sana masih sangat terkejut dengan apa yang barusan ia lihat.
hatinya masih sulit untuk percaya, bahwa seseorang yang selama ini dirinya ajak bicara itu adalah Ethan mantan suaminya, bahkan ide yang dirinya cantumkan di iklan itu juga inspirasi dari Ethan.
"Kenapa dia melakukan ini padaku." Eren menangis merasa dipermainkan oleh Ethan.
Sementara di luar sana, Ethan terduduk di anak tangga. "Maafkan aku." Menghela nafas, seraya memikirkan Eren di dalam sana.
Dan setelah beberapa saat Ethan duduk dan termenung, kini ia memutuskan untuk kembali pulang.
Ethan tampak terus melamun dalam mengendarai mobilnya, terdengar beberapa kali bunyi klakson mobil di belakangnya yang seolah meminta untuk berjalan lebih cepat.
Dan setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini mobil Ethan telah terparkir di garasi mobil di mansion keluarga Benz.
Cit cit.
Suara bunyi mobil di kunci.
"Baru pulang Brother?"
Ethan terlonjak kaget mendengar sebuah suara secara tiba-tiba dari arah belakangnya.
Ethan balik badan lalu ia melihat bayang-bayang yang berjalan kearahnya, karena lampu disebagian arah telah dimatikan, membuat wajah orang tersebut tidak kelihatan.
Ethan mendesah kesal. "Kau mengagetkan aku." Setelah tahu siapa orang yang menyapanya tadi adalah Chen.
Ethan langsung berlalu pergi.
"Yeah, gue deketin dia kabur." Chen akhirnya ikut masuk ke dalam mansion.
__ADS_1