Wanita Tangguh Tuan Muda

Wanita Tangguh Tuan Muda
S2. Ethan mencintai Eren.


__ADS_3

Acara amal sudah selesai.


Ethan menatap mobil Daniel yang membawa pergi bersama Eren.


"Tuan."


Asisten Leo menyadarkan lamunan Ethan.


"Mari tuan." Asisten Leo mempersilahkan Ethan untuk masuk ke dalam mobil.


Dan setelah sampai di mansion keluarga Benz. Ethan yang baru menginjak di ruang utama, papa Erland menghampiri.


"Ethan, Papa mau bicara."


Kini keduanya sudah berada di balkon kamar Ethan.


Angin malam yang sejuk menerpa wajah keduanya, seolah sedikit menyapu rasa lelah seorang pria yang baru pulang kerja.


dua laki-laki yang berbeda usia kini keduanya sedang menatap ke luar, dalam beberapa saat keduanya berada dalam pikiran masing-masing, sebelum akhirnya Papa Erland buka suara.


Papa Erland menghela nafas, masih dengan menetap ke luar. "Jika kamu masih mencintai Eren ... sebaiknya kamu perjuangkan ...."


Papa Erland tampak memikirkan sesuatu. "Tolong kamu pikirkan ... jangan sampai kamu menyesal, minta maaf lah." Papa Erland menepuk pundak Ethan, setelahnya berlalu pergi.


Ethan mengusap wajahnya dengan kasar, seraya membuang nafas panjang berkali-kali.


Ethan ahirnya memilih untuk membersihkan diri lebih dulu dan setelah lima belas menit berada di dalam kamar mandi, kini Ethan keluar dengan aura tampak lebih segar.


Ethan mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah, hingga membuat air di rambutnya berjatuhan di lantai seperti gerimis.


Setelah menggunakan kemeja tidur, Ethan duduk di atas ranjang dan nampak sedang memainkan handphonenya.


Ethan tampak sedikit ragu mau menghubungi seseorang, namun ucapan papa Erland mengingatkan dirinya.


Sambungan telepon terhubung namun tidak diangkat.


Hingga tiga kali Ethan mengulangi untuk menghubungi, namun juga tidak diangkat.


Ethan menghela nafas. "Akan aku coba besok lagi." Ahirnya Ethan memilih untuk istirahat.


Di Apartemen.


Eren yang melihat handphonenya berdering beberapa kali, namun ia enggan untuk mengangkat setelah melihat nama yang tertera di layar handphone.


Bahkan Eren belum mengganti nama itu, ia masih menyimpan dengan nama Nona Nur.


Yang akhirnya kembali mengingatkan dirinya, saat Ethan telah membohongi dirinya dengan menyamar sebagai Nona Nur.


"Maafkan aku." Eren mematikan handphonenya, lalu ia hendak tidur.


Dua hari telah berlalu.


Dan selama dua hari ini Ethan terus mencoba menghubungi Eren, namun hasilnya tetap nihil. Eren belum mau mengangkat telepon darinya.


Ethan mengusap wajahnya dengan kasar seraya menatap langit-langit ruang kerjanya.


Ethan meraih ganggang telepon. "Leo tolong keruangan aku."


Ethan membuang nafas kasar seraya memijit pelipisnya.


Tidak lama setelah panggilan telepon, Asisten Leo pun datang. "Tuan." Melangkah mendekati Ethan.

__ADS_1


Masih dalam posisi berdiri menatap tuannya yang terlihat banyak pikiran.


"Leo, duduklah."


Asisten Leo mengikuti perintahnya.


"Leo apa yang harus aku lakukan ... dia tidak mengangkat telepon dari aku sejak dua hari lalu aku mencoba menghubunginya." Menatap Asisten Leo seolah meminta jawaban.


Asisten Leo tampak berpikir. "Tuan, apakah anda mau saya mengundangnya secara resmi ... untuk makan malam."


"Secara resmi." Ethan mengulang kata, dan tampak memikirkan solusi itu.


"Boleh kau coba, tapi harus berhasil."


"Tuhkan tuhkan tuhkan dia kumat, baru mau dicoba sudah diminta harus berhasil," batin Asisten Leo mengumpat.


Di tempat lain.


Di Boutique.


Eren baru saja menerima paket undangan makan malam yang dikirim Asisten Leo.


Eren terkekeh masam. "Apa maksudnya ini?" membaca surat undangan yang berada di tangannya.


drrtt drrtt.


Eren mengangkat telepon.


"Nona, saya tahu ... mungkin setelah membaca Nona tidak akan mau datang."


Terdengar helaan nafas panjang dari orang di sambungan telepon. "Tolong dipikirkan lagi Nona ... diselesaikan tanpa ada kesalahan pahaman."


Tut Tut.


Eren keningnya tampak berkerut. "Baiklah aku akan datang ... hanya sekedar menghargainya ... tidak lebih." Namun auranya berubah sendu saat mengucap kata tidak lebih.


Eren kembali sibuk dengan pekerjaannya hari ini, hingga tiba makan siang Daniel datang.


Kreekk.


"Kerja keras boleh ... tapi jangan lupakan makan." Bersamaan pintu terbuka, Daniel melangkah masuk dengan membawa makan siang.


"Hemmm, wangi sekali aroma masakannya." Eren tersenyum hingga terlihat gigi rapihnya.


"Habiskan! itu aku yang masak khusus untukmu." Daniel tersenyum.


"Hanya untuk dihabiskan ... baiklah aku habiskan." Keduanya tertawa bersama.


Waktu terus berputar. Detik berganti menit hingga berganti jam.


Eren sudah rapih dan siap akan berangkat menghadiri undangan makan malam dari Ethan.


"Mengapa jantungku berdegup kencang ya." Eren meletakkan tangannya di dadanya.


"Ah, tidak ... aku tidak gugup." Menyemangati diri.


Setelah itu Eren keluar dari Apartemennya, lalu setelah sampai loby ia langsung mengendarai mobilnya.


Setelah beberapa menit, mobil pun sampai di lokasi yang Ethan kirim.


"Mengapa sepi?" Eren keluar dari dalam mobil seraya menatap ke seluruh tempat restoran, yang tanpa mobil satu pun di halaman.

__ADS_1


"Aku tidak salah." Eren mengecek kembali alamatnya.


Eren akhirnya putuskan untuk tetap masuk, dan setelah ia sampai di pintu masuk, Eren dibuat kaget membaca sebuah tulisan di kertas.


"Silahkan ikuti tangkai bunga mawar merah ... dan ambil bunganya." Eren bukannya terpukau, namun ia malah tepuk jidat.


Mentang-mentang memiliki kekuasaan, bahkan sampai rela memboking satu area restoran, pikir Eren sampai geleng-geleng.


Eren mengikuti saran dari tulisan tersebut, kini ia mulai melangkah mengikuti arah tangkai bunga mawar merah yang ada di lantai, seraya mengambil bunga itu, dan kini menjadi sangat banyk di dekapan Eren.


"Huh, merepotkan harusnya sudah sampai sejak tadi," umpatannya, berhenti sebentar di anak tangga menuju roff top restoran.


"Hah, sejak kapan manusia batu itu berubah jadi romantis." Eren tersenyum geli.


"Ah, paling juga asisten Leo yang merencanakan ini." Eren melangkah lagi seraya mengambil tangkai bunga mawar merah.


Dan ....


Bersamaan Eren sampai di roff top, terdengar sebuah musik biola 🎻. Alunan musik yang begitu syahdu menambah suasana indah di tempat itu.


Eren tampak sangat mengagumi pemandangan keindahan tempat itu, yang sudah disulap menjadi luar biasa indahnya.


Di tambah lukisan alam yang nyata, bintang dan bulan di langit tampak memancarkan cahaya terangnya. Dan gedung-gedung pencakar langit yang berada di sekeliling roff top, benar-benar menambah menjadi luar biasa.


Angin malam menerpa wajah cantiknya yang mengiringi langkahnya, bersamaan Eren duduk, tampak bunga-bunga api mulai bermekaran di langit.


"Kita berhasil." Asisten Leo tampak sembunyi bersama pria lain.


Eren tersenyum menatap langit.


"Apa kau suka."


Sebuah suara mengalihkan pandangannya. Kini Eren menoleh kearah sumber suara.


Kini matanya bertemu dengan sosok pria yang sudah ia tunggu sedari tadi.


Ethan melangkah mendekat, lalu menarik kursi untuk duduk.


Beberapa wanita cantik berseragam datang membawa minuman dan makanan.


Dan setelah lima belas menit keduanya menghabiskan makan malam, kini saling diam masih dalam pikiran masing-masing.


Suara musik biola masih terus berlangsung.


"Eren maafkan aku." Ethan ahirnya membuka suara.


Eren nampak mengerutkan keningnya. "Untuk?"


"Semua kesalahanku dimasa lalu." Pandangannya lurus kearah Eren.


Eren tersenyum getir. "Aku sudah maafkan."


Keduanya kembali saling diam.


Beberapa saat kemudian. "Bila tidak ada yang ingin di bicarakan lagi maka saya akan pergi."


Eren berdiri dari duduknya lalu mulai berjalan beberapa langkah.


"Tunggu ..."


Eren berhenti.

__ADS_1


Ethan berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Eren. "Aku mencintaimu ... aku mohon beri aku kesempatan." Membalikkan tubuh Eren untuk mengarah kepadanya, Ethan menatap lekat bola mata Eren.


__ADS_2